Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 128. season 2.


__ADS_3

Hati-hati." Ujar Anaya saat Adrian keluar dari apartemennya. Ini kali pertama mereka saling melepas kepergian. Biasanya Adrian pergi tanpa berpamitan pada Anaya.


Adrian mengangguk dan tersenyum kemudian meninggalkan Anaya yang masih berdiri di pintu apartemen mereka


Setelah Adrian pergi, Anaya Langsung menutup pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar. Ia harus segera bersiap. semalam, ia sempat mengirimkan pesan pada Tia adik Rio. Awalnya Tia tidak mau memberikan informasi pada Anaya tentang di mana Rio saat ini. Namun, Anaya terus memohon pada Tia agar ia memberi tahu di mana Rio. Dan setelah Anaya terus memohon akhirnya Tia memberi tahukan tentang di mana keberadaan Rio sekarang.


Setelah beberapa lama bersiap. Anaya kini keluar dari kamar. Ia melihat jam di pergelangan tangannya." Sudah pukul sembilan, mungkin Rio sudah berada di kantor." Ujar Anaya dan langsung keluar dari apartemen.


Hampir dua jam membela jalan ibu kota, akhirnya mobil yg di kendarai Anaya sampai di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi, berlogo RW.Grup.


Anaya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi yang ia tumpangi." Terima kasih, pak." Ujar Anaya setelah keluar dari mobil dan di ikuti anggukan oleh supir taksinya.


Setelah mobil yang di tumpangi Anaya pergi. Ia melihat bangunan di depannya dan kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu melangkah masuk ke dalam gedung.


Saat sampai di depan meja resepsionis, Anaya kemudian bertanya. Resepsionis pun mempersilahkan Anaya masuk. Karena sebelumnya, anaya pernah datang ke RW. Grup bersama dengan Rio. Itu sebabnya resepsionis mengizinkan Anaya untuk masuk.


Anaya kemudian melangkah masuk ke dalam lift. Jantungnya terasa berpacu dua kali lipat saat lift akan Sampai di gedung tertinggi perusahaan ini, di mana terletak ruangan Rio di sana.


Setelah lampu indikator panah di lift menunjukkan lantai tertinggi. Anaya kembali meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan pintu besi itu kemudian bergeser. Anaya keluar.


Anaya berjalan ke arah meja sekretaris, ternyata di meja sekretaris tak ada orang. Mata Anaya kemudian melirik ke arah ruangan Rio. Ia tampak ragu untuk melangkah. Namun, ia mengingat jika ia harus menyelesaikan kesalahpahaman ini Segera. Ia tidak mau masalah ini terus berlarut-larut. Akhirnya Anaya memberanikan diri untuk berjalan ke ruang Rio. Saat sampai di depan ruangan Rio. Samar-samar ia mendengar suara ******* dari dalam ruangan itu. Dengan ragu Anaya memberanikan diri memegang knop pintu, kemudian memutarnya. Mata Anaya Seketika membulat saat melihat Rio sedang mendudukkan sekretarisnya di atas meja dengan posisi saling berhadapan. Terlihat Rio ******* kedua benda bulat sekretarisnya.


Baru saja Anaya akan menutup pintu itu kembali. Namun tanpa sengaja mata Rio menangkap sosok Anaya di Depan pintu. Ia melepaskan Lumatannya." Kau tunggu di sini." Ujarnya pada sekretarisnya dan langsung keluar dari dalam ruangannya. 


"Anaya." Panggil Rio saat Anaya baru saja masuk ke dalam lift. Anaya melihat. Namun ia tidak menggubris panggilan Rio.

__ADS_1


Melihat Anaya yang sudah berada di dalam lift, Dengan cepat Rio berlari dan menyusul Anaya masuk ke dalam lift yang sama dengan anaya.


Setelah mereka berdua berada di dalam lift. Mereka sama-sama terdiam sampai pintu lift terbuka. Anaya tetap melangkah keluar di ikuti Rio di belakangnya. Setelah mereka sampai di depan gedung, Anaya kemudian memutar tubuhnya karena ia tahu sejak tadi Rio mengikutinya.


"Aku ke sini hanya untuk mengembalikan ini." Anaya memperlihatkan kotak cincin yang Tempo hari Rio berikan padanya." Dan…. Ingin menjelaskan semuanya. Namun, sepertinya kau sedang sibuk. Jadi aku akan pulang."


"Nay, tunggu. Kita bisa bicara baik-baik." Rio menahan Anaya untuk tidak pergi. Sejujurnya saat ini Anaya sedang kecawa dengan apa yang ia lihat barusan di ruangan Rio. Lelaki itu sedang bercinta dengan sekretarisnya padahal baru seminggu mereka berpisah. 


"Baik. Di mana kita akan bicara?" Tanya Anaya datar.


"Di kafe biasa yang sering kita datangi." Balas Rio.


"Ok, kau tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil terlebih dahulu." Ujar Rio.


Tak lama mobil Lamborghini Veneno berwarna hitam berhenti tepat di depan Anaya, Rio membuka pintu dan mempersilahkan Anaya untuk masuk. Setelah Anaya masuk. Anaya tetap menatap datar pada Rio. Ia tidak berbicara sepatah kata apapun dan tatapannya tak beralih dari jalanan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mobil yang di kendarai Rio berhenti di sebuah cafe berbintang lima yang ada di Jakarta timur. Anaya keluar dari dalam mobil di ikuti Rio.


Saat sampai di dalam kafe. Anaya Langsung duduk di salah satu meja kosong yang ada disana di ikuti Rio yang juga mendudukkan tubuhnyanya di sana.


Setelah duduk, seorang whiters datang ke meja mereka. Anaya hanya memesan jus jeruk dan Rio memesan secangkir kopi. Mereka terdiam cukup lama hingga minuman mereka datang.


"Bicaralah." Ujar Rio setelah menyeruput kopi yang ada di depannya.


Anaya tersenyum getir kemudian mengeluarkan kotak cincin yang Rio berikan beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Aku kesini ingin mengembalikan ini, sepertinya aku sudah tidak berhak menyimpan kotak ini." Anaya mendorong sebuah kotak cincin ke hadapan Rio.


"Kenapa? Apa karena kau sudah mendapatkan pria kaya? Hah?"tuding Rio.


Anaya mengeleng." Kau salah. Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan."


"Lalu, apa? Kau menolak aku saat aku ingin melamarmu. Namun, kau justru menikah dengan pria lain, atau jangan-jangan kau berselingkuh di belakang ku." Lanjut Rio.


Dengan cepat Anaya menggeleng"Semua yang kau tuduhkan salah besar. aku menikah karena waktu itu aku sudah sangat terdesak. Paman dituduh menggelapkan uang dan harus Mengganti kerugian perusahaan. Aku tidak punya pilihan lain…. Kecuali menikah dengan Adrian."balas Anaya.


"Cckkk, itu hanya bualanmu saja, aku bisa memberimu lebih dari itu, kenapa kau tidak datang pada ku?" Seru Rio.


Anaya menangis, dadanya terasa sakit.


"Aku sudah mencoba menghubungimu, tetapi ponselmu susah untuk di hubungi. Kau tau sendiri bukan, orang tua mu tidak segan-segan menghina ku jika aku datang hanya untuk mencari pinjaman." Balas Anaya tersenyum getir mengingat semua hinaan yang selalu dilontarkan ibu Rio padanya.


Rio meremas rambutnya kasar. Kemudian menatap Anaya. Ya, Rio pun menyadari semua perlakuan orang tua Rio pada Anaya. Tetapi selama ini, ia sudah berusaha meyakinkan orang tuanya agar mau menerima anaya. 


Rio kemudian meraih tangan Anaya yang tergeletak di atas meja." Kembalilah pada ku, aku akan Mengganti semua uang yang kau ambil dari Adrian."


Anaya terdiam tidak menjawab ataupun mengiyakan ajakan Rio. 


Namun terlihat dari jauh, sepasang mata elang sedang memperhatikan mereka dengan sangat murkah.


 

__ADS_1


__ADS_2