Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 116. season 2


__ADS_3

Malam semakin larut. hembusan angin kian kencang menerpa pepohonan yang ada di sekitar area hotel. 


Setelah Adrian menidurkan Anaya di ranjang, ia kemudian duduk di sisi ranjang, lamat-lamat ia lalu menatap wajah Anaya kemudian Ia membelai wajah yang tampak terlihat damai itu, lalu menyelipkan anak rambut yang  menutupi wajah Anaya. Adrian tersenyum kala menatap wajah Anaya yang terlihat sama saat ia sedang tertidur.


"Maaf. Aku harus ngelakuin ini. Hanya ini cara satu-satunya agar kau mau menikah denganju."Ucap Adrian menatap wajah Anaya dan kembali membelainya.


Lama terdiam, akhirnya Adrian bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia harus membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum Anaya terbangun.


Sepuluh menit kemudian Adrian keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe. Ia melirik ke ranjang , ternyata Anaya belum sadar. pikiran Adrian mungkin obatnya belum bereaksi itu sebabnya Anaya belum sadar Sampai sekarang.


Sambil menunggu Anaya sadar, Adrian lalu berjalan ke mini bar, ia harus meneguk beberapa gelas wine untuk menghilangkan kesadarannya. 


Otaknya masih waras, ia tidak mungkin tega m*nyentuh Anaya jika ia dalam keadaan sadar. akhirnya Adrian meneguk wine. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi mini bar sambil memainkan gelas piala yang ada dihadapannya. Jujur saja ia tidak ingin menikah dengan Siska. Wanita murahan yang selalu menghabiskan malamnya dengan lelaki hidung belang. Namun tiap kali Adrian menjelaskan kelakuan Siska di depan Suhendi. Suhendi tidak pernah mempercayainya, Suhendi selalu menuding Adrian jika Adrianlah yang membuat-buat alasan agar ia tak di nikahkan dengan Siska. Sepertinya beberapa hari yang lalu, Suhendi kembali memaksa Adrian agar menikahi siska, padahal ia tahu sendiri ji Adrian tidak pernah menyukai Siska. Wanita ular itu selalu mencari muka. Di depan Suhendi agar Suhendi menikahkannya dengan Adrian.


Saat adrian, berniat menumpahkan sebotol wine ke gelasnya, seketika ada sebuah tangan dengan posesif m*meluk tubuhnya, ia mengecup-ngevup punggung Adrian.


Adrian menoleh melihat Anaya di belakangnya dengan beberapa pakaian yang sudah tertangal dari tubuhnya.


"Sayang." Lirih Anaya dengan suara yang super lembut.


Ya, ternyata saat ini, Anaya sudah sadar dan kemungkin obat yang diberikan pada Anaya tadi sudah mulai bereaksi. Buktinya, Anaya mem*luknya dengan Sangat posesif, tidak mungkin Anaya akan m*meluknya jika dalam kondisi sadar.


Adrian kemudian memutar kursinya, hingga saat ini mata mereka saling mengunci. Lama bertatapan, Anaya kemudian memeluk tubuh Adrian dengan sangat posesif, ia m*raba s*luruh tubuh Adrian, sesekali ia m*ncium dada kekar Adrian. Membisikkan kata-kata cinta yang tidak sepatutnya diucapkan oleh Anaya. Wanita itu sangat lembut bahkan selama ini ia selalu menjaga ucapannya jika ia berbicaralah dengan siapapun dan sekarang mulutnya mengucapkan kata-kata di telinga Adrian.


Kini tubuh Adrian mulai menegang saat mendapatkan sentuhan-sentuhan lembut dari tangan Anaya. Adrian kemudian menahan tubuh Anaya, hingga kini mereka bertatapan sangat dalam.

__ADS_1


"Why honay."tanya Anaya menatap Andrian dengan wajah yang dipenuhi gairah karena nefek obat yang di berikan Adrian tadi.


Tanpa menjawab, Adrian lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Anaya, ia berciuman dan ******* bibir  Anaya dengan penuh gairah, tak mau kalah Anaya membalas ciuman adrian dengan begitu posesifnya.


Perlahan Adrian menggerakkan tubuhnya, lalu bangkit dari kursinya, dan ia langsung mengangkat tubuh Anaya ala bridal style lalu berjalan Menuju ke ranjang.


******* keduanya pun Tak terbendung hingga memenuhi seluruh ruangan. Bulir bening keduanya pun menjadi satu. Hingga tiga jam mereka melakukannya, akhirnya Adrian tumbang di sisi Anaya.


****


Suara gemericik air terdengar begitu deras bersamaan dengan tangisan yang terdengar begitu memilukan. ya, pagi ini Anaya terbangun dari tidurnya dengan posisi tidur di bawah selimut yang sama dengan Adrian dengan posisi Adrian memeluk tubuhnya.


Dibawa guyuran air hangat yang keluar dari shower, Anaya terduduk sambil memeluk kedua kakinya. dengan sekejap semuanya hilang, impiannya untuk menikah dengan Rio langsung lenyap hilang begitu saja, apa yang harus ia katakan pada Rio tentang semua ini, apakah Rio akan marah dan langsung meninggalkannya. Ataukah Rio akan mencapnya sebagai wanita murahan. Mengingat itu semua, tubuh Anaya langsung lunglai, ia menangis sejadi-jadinya. Tangisnya pecah, ingin rasanya ia menghilang dan pergi sejauh-jauhnya.


Adrian duduk di sisi ranjang, netranya menatap pintu kamar mandi yang belum juga terbuka. Sudah hampir empat jam Anaya di dalam. Namun, ia tak kunjung keluar,  rasa khawatir tiba-tiba menyelimuti pikirannya, ia takut Anaya berbuat hal nekad. Ia kemudian bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandi.


"Nay! buka, nay." Teriak Adrian sambil mengetuk pintu begitu keras. Saat Anaya masuk dan belum keluar dari tempat itu, Adrian begitu sangat khawatir, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Anaya.


Tak ada jawaban dari Anaya. Akhirnya Adrian memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi itu.


Setelah pintu kamar mandi terbuka. Netranya langsung menatap ke arah Anaya. Dengan cepat Adrian berjalan mendekat. Namun, belum juga Adrian Mendekat Anaya tiba-tiba mengambil gunting dan menahan Adrian untuk tidak mendekat padanya.


"Stop! Jangan Mendekat." Ucap Anaya mengarahkan gunting itu pada Adrian.


" Sadar nay," ucap Adrian. Ia terus berusaha menenangkan Anaya, Agar Anaya meletakkan gunting yang saat ini di pegangnya.

__ADS_1


"Sadar… sadar, kau bilang? hah! Sekarang kau sudah puaskan? sudah puas menghancurkan hidupku. selamat, pak! Anda berhasil menghancurkan hidupku. 


"Nay kita bisa bicara baik-baik," Adrian berjalan mendekat ia perlahan berniat merangkuh tubuh Anaya.


"Stop! Kau bilang stop! Jika kau berani coba-coba mendekat dan menyentuh ku, aku tidak akan segan-segan membunuh mu" Teriak Anaya histeris.


tubuh Anaya menggigil hebat, ia sudah terlalu lama terkena guyuran shower, sesekali ia juga terlihat mengusap wajahnya.


Dan saat Anaya lengah, dengan cepat Adrian berlari kemudian mengambil gunting yang dipegang Anaya lalu merangkul tubuh Anaya. Anaya memberontak hebat. "lepasin aku  bajingan, lepasin aku, apa salahku pada mu sampai rela mengambil hak yang bukan milikmu " Anaya menangis histeris sambil memukul-mukul dada Adrian.


"Sudah nay, sudah! Maafin aku, aku akan menikahi mu secepatnya"


" Maaf! Maaf, kau bilang maaf? Setelah apa yang sudah terjadi Diantara kita? Kau egois Adrian!" Ucap Anaya tersenyum mengejek.


" Kau pria bajingan Adrian! Demi kepentinganmu, kau selalu menghalalkan segala cara. " Teriak Anaya.


Saat mendengar semua ucapan anaya, bibir Adrian terasa kaku ia tak dapat mengucapkan kata apapun. Adrian sadar ia memang salah, ia menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi, kepentingan agar ia tak jadi di jodohkan oleh papanya.


Perlahan penglihatan Anaya buram, tubuhnya terasa lemas, dan sekian detik, tubuh Anaya ambruk di pelukan Adrian.


.


.


.

__ADS_1


Like, komen, vote. Terima kasih.


__ADS_2