
"mas, bangun." Anaya menggoyang-goyangkan lengan Adrian
"Hmmm, ada apa, Nay. Mas masih mengantuk!"
Entah sudah keberapa kalinya Anaya membangunkan Adrian. Tetapi nampaknya Adrian masih ingin berlama-lama di kasur.
"Mas, bangun, nanti mas telat ke kantornya." Anaya berucap sambil terus menggoyang-goyangkan lengan Adrian.
"Lima menit lagi Nay, mas benar-benar mengantuk."
*Mas, ini sudah jam sembilan. Ayo mas." Anaya menarik tangan adrian. Mau tidak mau Adrian bangkit. Dia duduk di kasur dengan mata yang masih terpejam. Subuh tadi Adrian Baru bisa tertidur. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia mengajak Anaya bertolak ke Belanda untuk berziarah ke makam ke dua orang tuanya.
Dengan langkah gontai. Adrian Berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah sampai, dia langsung membuka bajunya, sesaat kemudian dia baru tersadar ternyata dia lupa membawa handuk.
"Nay,"
"Ada apa, mas?"
"Mas lupa membawa handuk."
"Tunggu mas, Nay ambilkan."
Tak lama, Anaya datang dengan membawa handuk." Mas ini handuknya." Anaya berdiri di depan kamar mandi.
Terdengar pintu terbuka, Anaya menyodorkan handuk pada adrian. Namun, bukannya mengambil handuk, Adrian malah menarik tangan Anaya masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas, aku sudah mandi tadi." Seru Anaya.
"Mandi dua kali tidak masalah kan, Nay. Kita sudah lama tidak mandi bersama."
Tanpa menunggu jawaban dari Anaya. Adrian sudah melucuti semua pakaian Anaya.
"Aauukk." Anaya terpekik kaget saat dia merasa tubuhnya melayang ke udara.
Dengan perlahan, Adrian menurunkan Anaya ke bathub dan adrian pun ikut turun. Adrian duduk di belakang Anaya.
"Mas, kau akan semakin terlambat jika kita berendam."
Adrian menaruh jari telunjuknya di depan bibir Anaya." Kau tidak usah banyak bicara." Mendengar ucapan Adrian mau tidak mau Anaya terdiam.
Anaya menarik tubuh Anaya kebelakang untuk bersandar di dadanya. Sedangkan tangannya menelusup ke dada Anaya.
Anaya me*desah.
"Mas." Anaya menggigit bibirnya saat Adrian semakin mengabsen setiap inci tubuhnya.
Adrian tersenyum.
"Kau tidak usah menahannya. Keluarkan saja."
Tak lama terdengar suara d*sahan terdengar lolos dari bibir Anaya.
Adrian kembali tersenyum. Dia memutar tubuh Anaya hingga saat ini mereka saling berhadapan.
Adrian lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Anaya. Adrian mecium bibir Anaya. M*lumatnya semakin dalam. Adrian menekan tengkuk Anaya sehingga ciuman mereka semakin dalam.
__ADS_1
*Aku mencintaimu." Seru Adrian. Dia menaikkan tubuh anaya ke pangkuannya.
Anaya terlihat tersenyum malu. Dia mengerti apa yang di inginkan Adrian. Tanpa di suruh, Anaya mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian.
Adrian tersenyum penuh kemenangan, baru kali ini Anaya ingin melakukan tanpa di suruh.
Adria kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Anaya." Sepertinya kau sudah pintar sekarang." Adrian mengoda Anaya.
Anaya kembali menunduk, pipinya sudah terlihat merona. Dia tersenyum. Kemudian memukul dada Adrian.
"Karna sekarang kau sudah pintar, jadi aku ingin kau yang mendominasi. Lakukan!" Titah Adrian.
Anaya tersenyum malu kemudian mengangguk.
Anaya mulai melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
Suara gemercik air mendominasi di dalam ruangan itu, menyalurkan hasrat kedua pasangan suami-istri yang sedang menikmati penyatuan mereka.
***
"Mas, hati-hati di jalan." Anaya mencium punggung tangan Adrian.
Adrian pun mencium kening Anaya." Kau juga hati-hati mengunakan motor."
"Iya, Mas. Mas tidak usah khawatir." Anaya tersenyum.
Adrian mengusap-usap pipi Anaya." Kau bersabar, Mas sudah mencari supir untuk mu."
Anaya mengangguk dan tersenyum. Adrian lalu berjalan meninggalkan Anaya yang masih berdiri di ambang pintu melihat kepergiannya.
Anaya lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin bersiap sebelum berangkat.
Setelah 30 menit berlalu. Anaya keluar dengan tampilan rapi. Anaya lalu mengambil kunci motornya. Lalu keluar dari dalam apartemen.
***
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Akhirnya dia sampai di sebuah mall yang cukup besar. Anaya langsung memarkirkan motornya. Kemudian berjalam masuk ke dalam mall.
Sesampainya Anaya di sebuah cafe yang ada di dalam mall. Anaya lalu menghubungi Noureen lewat pesan wa. Hanya menunggu beberapa detik, Noureen sudah membalasnya.
Anaya tersenyum mendapatkan pesan dari sahabatnya. Setelah itu, Anaya masuk ke dalam cafe. Dia berencana menunggu Noureen di dalam.
Hampir tiga puluh menit Anaya menunggu, akhirnya Noureen datang.
"Apa aku sudah lama membuatmu menunggu?" Tanya Noureen. Noureen menepuk punggung Anaya yang saat ini duduk di sofa sambil mengotak-atik ponsel.
Anaya menoleh, kemudian tersenyum."Tidak. Aku baru beberapa menit kok."
Anaya berdiri dari kursinya dan langsung memeluk sahabatnya.
"Ayo duduk, aku sudah memesan minuman kesukaan mu."
Anaya mengajak Noureen duduk di kursi yang ada di seberangnya.
Seorang waiters datang menghampiri mereka kemudian meletakkan dua cangkir kopi ke atas meja.
__ADS_1
Noureen mengambil cangkir kopi di depannya kemudian menyeruputnya.
Noureen tersenyum." Rasanya masih sama seperti dulu." Ucap Noureen.
Anaya tersenyum kemudian ikut menyeruput minumannya.
"Bagaimana hubungan mu dengan Adrian? Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Noureen.
Anaya tersenyum. Kemudian menganggu." Sudah, dia sudah jauh lebih baik. Dia memperlakukan ku dengan sengat baik."
Noureen kembali tersenyum." Aku turut bahagia mendengar jika hubungan kalian sudah membaik. Kapan-kapan aku ingin mengundang kalian untuk makan malam di rumah kami."
"Baik, aku pasti datang."
"Oh iya! Sekalian aku ingin memperkenalkan mu pada Delia."
" Delia?"
Anaya mengerutkan keningnya."siapa Delia."
"Adik Devano, aku baru saja mengadopsinya kemarin."
Noureen tersenyum." Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan bayi cantik itu di panti asuhan. Setelah meminta izin pada mas Cakra, dan mas cakra mengizinkannya. Aku langsung mengadopsinya menjadi anakku." Noureen terlihat bahagia saat menceritakan tentang Delia. Putri angkatnya.
Anaya ikut tersenyum mendengar Carita Noureen. Mereka mengobrol cukup lama.
Hingga Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Anaya melihat pergelangan tangannya.
"Kalau begitu, aku pamit. Lain kali kita mengobrol lagi."
Mereka sama-sama berdiri. Lalu berpelukan.
***
Setelah membeli semua kebutuhan rumah tangga, Anaya keluar dari mall menuju parkiran. Anaya lalu melajukan motornya meninggalkan area mal.
Dari jauh, tanpa dia sadari ada sebuah mobil yang mengikutinya.
Wanita itu tersenyum devil, ia mengertakkan giginya.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, berarti kau juga tidak." Seru wanita itu.
Saat jalanan mulai lengah. Wanita itu mempercepat laju kendaraannya, saat sampai di dekat motor Anaya. Dengan kecepatan tinggi ia menabrak motor Anaya. Hingga anaya terpental.
Setelah menabrak motor Anaya, wanita itu mempercepat laju kendaraannya. Sesekali dia menoleh, memastikan jika Anaya sudah dia tabrak.
Saat melihat beberapa warga yang datang menghampiri Anaya. Wanita itu semakin mempercepat laju kendaraannya. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan, akhirnya dia bisa menyingkirkan Anaya.
.
.
.
Pengumuman Gift di tanggal 1 untuk dukungan terbanyak. Terima kasih.
__ADS_1