
Lima tahun kemudian.
Matahari telah terbit, pantulan cahayanya menerobos masuk ke cela-cela jendela tanpa permisi di rumah sederhana di pinggiran ibu kota. rumah yang asri yang banyak ditumbuhi pepohonan yang rindang, walaupun terbilang sederhana tapi rumah ini terbilang nyaman.
"Bibi, bibi, biiii, suara teriakan gadis 26 tahun itu menggelegar di setiap sudut ruangan. gadis bermata bulat dengan senyum indah yang selalu menghiasi senyumnya.
"Author POV
dia adalah Anaya, sahabat Noureen, gadis malang, cantik, manis, pekerja keras, yang berusia 26 tahun. Ia selalu tampak ceria, tapi dibalik keceriaannya tersimpan sebuah luka yang sangat dalam. ia kehilangan sang ibu di usianya 10 tahun, untung saja ia memiliki seorang bibi dan paman yang sangat menyayanginya lebih dari anak kandung sendiri. dan sejak Anaya berusia 19 tahun, setelah pulang kuliah ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe milik temannya, awalnya Bu asi melarang tapi ia bersikeras ingin bekerja, ia tidak ingin terlalu membebani bibi dan pamannya untuk masalah biaya kuliahnya. ia selalu saja merasa sungkan jika akan meminta biaya kuliah ataupun membeli buku kepada bibi dan pamannya. dan sampai sekarang gadis malang itu pun tak tahu keberadaan sang ayah dimana, sudah beberapa tahun terakhir ini, ia mengorek-ngorek informasi tentang keberadaan sang ayah, tapi hasilnya nihil, ia tak tahu keberadaan sang ayah. Sampai sahabatnya Noureen pun ikut membantu mencari keberadaan sang ayah melalui tangan kanan kepercayaan suami dari sahabatnya itu, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Author POV end
"Iya, naya? ada apa lagi nduk?"tanya Bi asi.
"Bi, bisa bantu Naya ambilkan handuk Naya ngak." Ucap Anaya sambil nyengir.
"Tunggu sebentar bibi ambilkan."ucap bi asi sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Anaya.
Beberapa menit kemudian Anaya keluar dari dalam kamar mandi, Hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya.
"Eh bibi, masih nunggu disini yah bi." ucap Anaya kepada bi asi. Ia menghampiri bibinya itu kemudian memeluknya.
BI asi tersenyum, kemudian menepuk punggung tangan keponakannya."Nay bibi cuma berpesan, jadi anak gadis itu yang kalem, pantesan kamu belum punya pacar." Ujar bi asi. Ia selalu menyalurkan kasih sayang layaknya seorang ibu kepada putrinya.
"Sabar bi, Nanti juga kalau ketemu jodohnya pasti nyangkut," ucap Anaya. Ia terkekeh saat mengucapkan itu.
"Nay....nay...ditanya kok malah ngeyel." Bi asih menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban keponakannya itu.
"Cepat siap siap, lalu sarapan,Nanti kamu keburu telat interviewnya." Ucap bi asih sambil berlalu keluar dari kamar Anaya.
"Ia bi." Balas Anaya. ia memandang punggung Bi asih yang keluar dari kamarnya sambil tersenyum.
***
Anaya kini sudah siap dengan setelan kerjanya. rencananya pagi ini ia ada jadwal interview dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang farmasi.
"Nay, sarapan dulu nduk, sebelum berangkat." Ucap pak Darwis kepada keponakannya.
"Ia paman ." jawab Anaya.
Anaya kini menghampiri bibi dan pamannya di meja makan, dengan telaten bi asi menyiapkan sarapan untuk keponakannya itu.
__ADS_1
"Terima Kasih bi." ucap Anaya sambil tersenyum.
Mereka bertiga pun sarapan bersama.
Setelah semuanya selesai, Anaya pamit kepada paman dan bibinya.
"Bi, Paman. Anaya berangkat yah, doa'in Naya biar keterima." ucap Anaya sambil mencium punggung tangan pria paruh baya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Lancar ya nduk. bibi dan paman berdoa yang terbaik untukmu." Balas pak Darwis sambil memegang kepala keponakannya.
"Terimakasih, paman." ucap Anaya.
Setelah berpamitan kepada paman dan bibinya, Anaya kini melajukan motornya ke daerah Jakarta timur. hampir sejam membela jalan ibu kota, Anaya sudah sampai di parkiran gedung yang menjulang tinggi dengan logo Abraham farm.tbk.
Anaya terdiam cukup lama dengan perlahan ia mulai melangkah. Namun, Sebelum masuk Anaya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. Kemudian mengucapkan permohonan sebelum melanjutkan langkahnya ke meja resepsionis.
Setelah Anaya sampai di meja resepsionis ia tersenyum dan bertanya kepada wanita yang bertugas di meja resepsionis.
" Selamat siang, Bu."
"Saya mendapat panggilan interview hari ini." Anaya memberikan sebuah surat tanda bukti panggilan interview yang baru saja ia Terima semalam melalui pesan email.
Wanita itu tersenyum kemudian menerima surat yang diberikan Anaya, lalu membacanya. Tak lama wanita cantik itu menghubungi seseorang dengan memakai telepon interkom yang ada di depannya.
"Baik pak." Ucap wanita cantik dengan tinggi sekitar 170 cm dengan kemeja merah dan rok dengan panjang 5 cm dari atas lutut dengan belahan di sisi belakang.
Setelah mematikan panggilan interkomnya, wanita itu lalu mempersilahkan Anaya untuk naik ke ruangan tertinggi gedung ini untuk melakukan interview.
Anaya mengangguk dan langsung melangkah Menuju lift dengan menunduk setelah sampai di dalam lift, Anaya menghembuskan nafanya, pasalnya sejak tadi semua mata karyawan menatapnya. Entah apa yang aneh dari penampilannya sehingga semua mata tertuju padanya.
Anaya mengerjab dengan memegang dadanya. Ia belum sepenuhnya percaya jika hari ini ia di terima Bekerja di perusahaan besar yang memilih label bonefit.
Bibirnya tak henti-hentinya menyungingkan senyum manisnya. Sehingga seseorang yang baru saja lewat di depannya sempat menghentikan langkahnya dengan memandang aneh padanya.
Anaya tersenyum malu kemudian memperbaiki penampilannya. Ia berdehem beberapa kali sebelum melanjutkan langkahnya menuju pintu lift.
Setelah sampai di parkiran ia langsung menaiki motornya yang entah sudah berusia berapa abad. motor Antik yang sudah menemaninya sejak masa SMA. Baru saja ia akan menyalakan motornya, Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menyunggingkan senyumnya saat melihat siapa Yang menghubunginya.
"Ada apa, mas?" Tanya Anaya.
__ADS_1
"Apa kau ada waktu? aku ingin mengajakmu makan siang." Ujar Rio yang merupakan kekasih Anaya.
"Ada, mas. di mana?" Tanya Anaya.
"Di restoran xxxx, apa mau aku jemput?" Tanya Rio.
"Tidak usah, mas. Biar aku yang ke sana, kebetulan aku berada tidak jauh dari restoran itu. Aku baru saja melakukan interview di Abraham. Farm." Ujar Anaya.
"Ya sudah, kau hati-hati. Sampai ketemu di sana, nay."
"Iya, Mas. Mas juga hati-hati." Balas Anaya kemudian mematikan ponselnya dan menuju ke restoran.
Sudah hampir 6 tahun Anaya dan Rio menjalin hubungan, tetapi sampai detik ini hubungan mereka belum memiliki titik terang. Nyonya Erika yang merupakan ibu dari Rio belum memberikan izin pada putranya untuk menikahi Anaya. Lantaran Anaya bukan dari keluarga bangsawan.
Rio yang merupakan putra tunggal dari keturunan bangsawan Yogyakarta yang harus menikah dengan darah Bengawan juga. Hal itu yang membuat hubungan mereka terhalang restu.
" Kau sudah lama menunggu?"tanya Rio yang baru saja duduk di kursi yang ada di seberang Anaya.
"Beru kok, mas. Belum lama juga." Anaya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya." Kira-kira dua puluh menit yang lalu.
" Maaf, sayang. Sudah membuat mu lama menunggu." Ujar Rio memegang punggung tangan Anaya yg tadi ia letakkan di atas meja.
Anaya tersenyum." Tidak apa-apa, mas."
"Bagaimana interviewnya?" Tanya Rio.
Anaya menunduk, dengan wajahnya terlihat sesedih mungkin.
Rio kembali membelai punggung tangan Anaya." Tidak apa-apa, sayang. Mungkin lain kali kau akan lulus. Jangan putus semangat." Rio terus menyemangati Anaya. Namun, beberapa menit kemudian Anaya mengangkat wajah dan tersenyum.' aku lulus, mas." Anaya menyerahkan selembar surat yang tadi ia tanda tangani di Abraham. Farm.
"Selamat, sayang. Kau begitu pintar mengerjai, mas. Pokoknya hari ini mas ingin di traktir olehmu."
Seketika mata Anaya membulat mendengar ucapan Rio." Tapi jangan mahal-mahal ya, mas. Aku tidak punya uang." Jujur Anaya dan dibalas kekehan oleh Rio.
.
.
.
Saya selesaikan Carita Anaya dulu yah, setelah itu baru saya bagikan giftnya.🙏
__ADS_1