Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 168. season 2.


__ADS_3

Setelah mendaftar dan mengambil nomor antrian, Anaya melangkah mendekati Adrian yang duduk di kursi tunggu.


"Apa sudah selesai." Tanya Adrian. Adrian bangkit dan mengajak Anaya duduk di sampingnya.


Anaya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Anaya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kau kenapa?" Tanya Adrin lagi saat melihat Anaya yang terlihat murung.


"Nay."panggil Adrian lagi saat Anaya tidak menjawab ucapannya.


Seketika Anaya tersadar.


"I...ya, mas. Ada apa?"jawab Anaya terbata.


"Kau kenapa? Apa ada masalah?"tanya Adrian 


"Tidak, mas. Aku hanya kelelahan." Elak Anaya. Anaya bangkit dan mengajak Adrian menuju poli kandungan.


Sesampainya mereka di poli kandungan, jantung Anaya kembali berdetak dua kali lipat. Anaya berhenti sejenak, ia ragu untuk melangkah, ia takut menerima kenyataan jika dia hamil, mengingat Adrian pernah berkata jika ia tidak ingin memiliki anak dari perempuan sepertinya. Walaupun saat ini hubungan mereka membaik. Tetapi Anaya tetap saja ragu untuk hamil. Saat ini, Anaya mutuki dirinya, kenapa ia tidak pernah meminum alat kontrasepsi yang diberikan Adrian padanya dulu.


"Ayo, Nay." Ajak adrian saat Anaya kembali terdiam.


"Oh iya, maaf mas." Ucap Anaya saat tersadar. Ia kembali melangkah.


Saat mereka sampai di depan ruangan poli kandungan. Mata Adrian Membulat. Di sana sudah berjejer wanita dengan perut buncit ditemani oleh suaminya masing-masing.


Adrian lalu mengajak Anaya duduk di kursi tunggu yang masih kosong.


"Apa kau tidak salah memilih poli?" Tanya Adrian.


"Tidak mas. Petugasnya merekomendasikan untuk ke sini." Jawab Anaya.


Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya." Memang kalau masuk angin harus kepoli kandungan?" Tanya Adrian.


Anaya hanya menaikkan ke dua bahunya.


Adrian mengulum senyumnya, niatnya untuk mengoda Anaya tidak ditanggapi oleh Sang istri.


Saat sibuk menunggu, ponsel Adrian  berdering. Adrian bangkit dan menjauh dari Anaya.


Karena bosan, Anaya mengambil ponselnya. Tiba-tiba seorang wanita hamil yang duduk disampingnya bertanya usia kandungan Anaya. Namun, Anaya hanya bisa tersenyum, ia tidak tahu harus menjawab apa, wanita itu berbahasa Belanda. Sedangkan Anaya hanya bisa jika memakai bahasa Inggris.


Saat wanita itu terus bertanya dan Anaya hanya menjawab dengan senyum, Adrian datang dan langsung menjawab pertanyaan wanita itu.


"Kami baru pertama kali kesini, bum tahu jika istri saya hamil atau Belum." Jawab Adrian dengan bahasa yang sama dengan wanita hamil itu.


Wanita hamil itu mengangguk." Oh, semoga istri bapak mengandung." Balas wanita itu.


Anaya yang melihat interaksi wanita itu dan suaminya hanya bisa melongo tanpa tahu apa yang di ucapkan adrian dan wanita itu.


Tak lama, wanita itu di panggil untuk masuk, setelah berpamita pada Anaya dan Adrian, ia melangkah masuk ke ruang pemeriksaan.


"Mas, kau tadi bicara apa?" Tanya Anaya.


Adrian hanya tersenyum dan kembali menatap ponselnya.


"Mas, kalian tadi mengobrol apa?" Tanya Anaya lagi.


"Biasa, mas hanya ngomong kalau istri mas sangat cantik." Kata Adrian.


Mendengar ucapan Adrian, Anaya memanyunkan bibirnya. di saat ia serius bertanya, suaminya malah menjawab dengan nyeleneh.


"Nay, kau marah yah?" Tanya Adrian saat melihat Anaya membuang wajahnya ke tempat lain.

__ADS_1


Adrian terkekeh. Ia meraih tangan Anaya." Maafin, mas. Mas hanya bercanda. Tadi wanita itu bertanya tentang kandungan mu, jadi mas jawab kalau ini kali pertama kita ke sini." Kata Adrian.


Setelah pasien sebelumnya sudah keluar, kini nama Anaya yang di panggil. Anaya bangkit di ikuti Adrian di belakangnya.


Mereka masuk ke dalam ruangan pemeriksaan dan di sambut oleh seorang dokter Wanita.


"Silahkan duduk, tuan." Ucap dokter itu.


Adrian mengangguk dan duduk di kursi yang ada di seberang dokter.


Dokter itu terlihat membaca rekam medis Anaya dan kembali melihat kedua pasangan suami-istri di depannya.


"Kalau boleh tahu, tuan dan nyonya sudah menikah berapa lama?" Tanya dokter itu dengan berbahasa Belanda.


"Adrian menjawab jika mereka menikah sudah enam bulan."


Dokter itu kembali bertanya kapan terakhir Anaya datang bulan.


Adrian terlihat gelagapan, ia tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ia bertanya pada Anaya.


"Kapan kau terakhir datang bulan?" Tanya Adrian.


Anaya lalu mengingat-ingat.


"Terakhir haid bulan lalu, kalau bulan ini belum." Jawab Anaya.


Dokter itu tersenyum.


"Ayo nyonya, naik ke brankar. Saya akan memeriksa kandungan ibu." Ucap dokter itu.


Mau tidak mau Anaya menurut dan mulai membaringkan tubuhnya. Jantungnya berdetak tidak karuan, ia takut jika dokter mengatakan jika ia hamil.


Setelah Anaya berbaring, salah satu perawat mulai menyibak pakaian Anaya lelu menaruh gel di bagian perut Bawah Anaya.


Dokter itu mulai menggerakkan alat transduser di bagian perut Anaya.


Adrian melihat sesuatu bergerak-gerak di layar monitor. Namun ia tidak mengetahui apa itu.


Setelah beberapa kali menggerakkan alat transduser, Dokter itu tersenyum. Dan mengklik beberapa bagian. 


"Istri anda mengandung, usia kandungannya memasuki lima Minggu. Janinnya masih sebesar jagung. Dokter itu mulai mengukur dan mengklik beberapa bagian.


Adrian tampak tercengang mendengar ucapan dokter. Sedangkan Anaya menunggu reaksi Adrian.


"Tuan " panggil dokter. 


Adrian langsung tersadar." Maaf, dok."


Ia menghampiri brankar Anaya dan langsung mengecup pucuk kepala Anaya. Air matanya keluar ia tidak menyangka jika ia akan menjadi seorang ayah.


Sedangkan Anaya yang terus memandangi reaksi Adrian, belum bisa memastikan apakah Adrian benar bahagia atau hanya berpura-pura di depan dokter.


Setelah Adrian membantunya turun dari brankar, Anaya kembali duduk di depan dokter.


Dokter memberikan hasil USG, kemudian menjelaskan kondisi kandungan Anaya yang sehat. Adrian hanya mengangguk, sesekali ia tersenyum bahagia. Sedangkan Anaya masih diam seribu bahasa.


Setelah dokter meresepkan obat penguat kandungan dan beberapa vitamin, mereka keluar dari ruangan pemeriksaan menuju ke apotek.


Saat mereka sampai di apotek, Anaya masih terdiam, pikirannya mengembara tentang apa yang akan terjadi setelah ini.


"Nay, kau tunggu di sini dulu. Aku akan mengambil vitamin mu." Pamit Adrian.


Anaya mengangguk.

__ADS_1


Adrian lalu berjalan ke loket pengambilan obat. Sedangkan Anaya bangkit dari kursinya dan berjalan keluar rumah sakit, ia berjalan tidak tentu arah, pikirannya kosong hingga ia berhenti di sebuah taman yang tidak jauh dari lokasi rumah sakit, Anaya mendudukkan dirinya di sebuah Garden bench.


Air matanya jatuh seiring Isak tangisnya yang semakin terdesak. Anaya memegangi perutnya, kemudian meremas pakaiannya. Ia bingung benar-benar bingung. Apakah kali ini Adrian akan meninggalkannya seperti sebelumnya? Memikirkan itu tangis Anaya semakin pecah.


Di sisi lain, Adrian baru selesai mengambil obat di apotek, ia berjalan kekursi yang tadi Anaya duduk. Namun, Anaya tidak ada di sana. Adrian lalu menyusul ke toilet, lama menunggu di depan toilet akhirnya Adrian masuk. Tapi sebelum itu Adrian meminta izin terlebih dahulu agar tidak terjadi ke salah pahaman.


Toiletnya kosong. Adrian lalu meninggalkan toilet, ia berjalan keluar dari rumah sakit. Ia mencari Anaya di luar rumah sakit. Namun hampir sejam Adrian berputar di area rumah sakit, Anaya tak kunjung ketemu. Akhirnya ia.kembali ke apotek, ia bertanya pada orang yang ada di sana, dan benar saja orang yang ada di sana mengatakan jika tadi Anaya berjalan keluar.


Adrin semakin mengusap wajahnya, ia benar-benar khawatir, entah kemana Anaya. Pasalnya ini bukan Indonesia.


Setelah lama berkeliling mencari Anaya, akhirnya ia meminta petugas rumah sakit untuk memperlihatkan kamera CCTV.


Adrian menatap layar yang ada di depannya. hingga ia melihat, tepat saat ia meninggalkan Anaya untuk mengambil obat, Anaya juga keluar dari dari lobby rumah sakit, setelah itu Adrian kembali mengklik layar CCTV yang ada di depan pintu masuk rumah sakit. dia kembali melihat Anaya keluar dari rumah sakit dan berjalan ke arah kiri.


"Terima kasih, tuan." Ucap Adrian setelah ia selesai melihat rekaman CCTV yang ada di rumah sakit.


"Sama-sama, tuan.' balas petugas CCTV.


Adrian melangkah keluar rumah sakit, dan mengikuti arah kemana Anaya pergi. Adrian mengitari tempat itu, bertanya pada beberapa pengguna jalan, Namun tampaknya mereka tidak melihat Anaya, hingga saat Adrian melihat sebuah taman.


Adrian lalu memutuskan mencari Anaya di taman. Adrian masuk ke dalam taman. Ia mengendarakan pandangannya mencari Anaya, satu persatu tempat bermain Adrian lewati. Tetapi Anaya tidak ada dimana-mana. Hingga Tanpa sengaja pandangannya beralih pada gadis yang duduk di sebuah Garden bench sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Adrin perlahan melangkah, bibirnya tertarik ke atas saat menyadari bahwa wanita itu adalah Anaya.


Dengan pelan ia mendudukkan dirinya di ujung kursi. Adrian Diam memandangi Anaya yang masih dengan posisi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Anaya yang sedang terisak, belum menyadari jika ada seseorang yang ikut duduk  disampingnya.


Setelah lama, Adrian mulai tak mendengar isakan tangis Anaya.


Adrian lalu mendekat." Apa kau sudah puas menangis?" Tanya Adrian. Ia menggeser duduknya mendekat pada Anaya.


Anaya yang menyadari suara di sampingnya, seketika mendongak dan mendapati Adrian sudah duduk di sampingnya.


"Mas." Ucap Anaya


Belum menjawab, Adrian langsung membawa Anaya ke dalam pelukannya.


"Aku mencarimu kemana-mana, kenapa pergi tanpa meminta izin. Nay, ini bukan Indonesia." Ucap Adrian.


Adrian melepas pelukannya, menangkup kedua pipi Anaya."bicara jika kau ada masalah." 


Anaya kembali menggeleng. Kemudian mundur.


"Jangan sentuh aku, Mas." Ucap Anaya dengan penuh emosi.


"Nay, kau kenapa?" Tanya Adrian.


"Bukankah mas sendiri yang mengatakan jika mas tidak mau jika benih mas lahir dari wanita seperti aku." Jawab Anaya dengan emosi, air mata kesedihan mulai keluar dari kelopak matanya.


"Deg." Adrian Langsung tersadar jika perubahan sikap Anaya adalah karena ucapannya sendiri.


"Nay, bukan begitu. Maafkan mas atas semua ucapan kasar mas Dulu."


"Tidak usah mengelak lagi, mas. pasti setelah ini mas akan meninggalkan ku lagi kan? Seperti sebelumnya."ucap Anaya.


"Nay, mas bisa jelasin semuanya. Memang dulu mas perna mengatakan hal itu saat tidak mencintaimu, tapi sekarang mas sudah sangat mencintaimu." Adrian terus membujuk Anaya, meyakinkan sang istri jika saat ini ia sudah sangat mencintai anaya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2