
Seorang pria tampan, berusia 26 tahun, Terlihat sudah sangat mabuk berat. tapi ia tetap saja menambahkan wine ke dalam gelasnya. Ia adalah Adrian Evander Abraham, pewaris Abraham farm.tbk. perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan dan obat-obatan.
Beberapa tahun terakhir ini, hidupnya hancur. ia dihadapkan pada perceraian ke dua orang tuanya, dan setelah itu, ia kehilangan ibunya akibat serangan jantung.
Ayahnya menikah lagi dengan Indri, yang tak lain adalah bekas sekretaris Suhendi Abraham, ayah dari Adrian.
Di saat itu pula, ia memilih hidup sendiri di sebuah apartemen mewah di ibu kota, kehidupannya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ia keluar masuk club' malam, memiliki banyak kekasih. Dari kekasih yang satu ke kekasihnya yang lainnya.
"Bro, sudah bro, Erwin memindahkan gelas wine yang akan di teguk Adrian kembali.
"Ayo bro, kita pulang, Lo udah nggak kuat lagi," ucap Erwin sambil memapah tubuh Adrian yang sudah sempoyongan dibantu oleh kedua bodyguard club' menuju ke Lamborghini Aventador merah milik adrian.
"Gue mau minum, jangan bawa gue pergi," teriak Adrian dengan suara parau. Hal yang selalu menjadi kebiasaan Adrian akhir-akhir ini, Menghabiskan malamnya di club.
Setelah sampai di parkiran, Adrian masih saja meronta-ronta." Lepasin gue."
Namun tampaknya Erwin tidak mempedulikan keinginan Adrian. Erwin membuka pintu mobilnya kemudian memasukkan tubuh Adrian lalu menutupnya. Setelah itu ia berlari mengitari mobil dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi
Erwin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi sahabatnya itu.
Erwin mengemudi mobil tersebut mengantarkan adrian kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Erwin kembali memapah Adrian menuju ke unit apartemen milik adrian. Belum sempat masuk ke unit apartemen milik Adrian, Adrian sudah memuntahkan isi perutnya.
Hoek..Hoek.
Erwin membuang Nafasnya dengan berat.
"Lo Sungguh menyusahkan bro," ucap Erwin kepada sahabatnya, sambil memapah tubuh Adrian kembali.
Dia Erwin, asisten Adrian pada waktu jam kantor. dan setelah jam kantor selesai dia adalah sahabat Adrian.
__ADS_1
Setelah sampai di depan unit apartemen milik Adrian, Erwin lalu memencet menekan kode PIN digital door lock dan pintu seketika terbuka.
Erwin lalu membawa Adrian menuju ranjang dan membaringkannya di sana. Dan Dengan telaten ia mengurus sahabatnya itu, hanya Erwin satu-satunya sahabat terdekat yang Adrian bisa percaya.
Setelah Adrian tertidur, Erwin kemudian berjalan ke arah sofa yang tidak jauh dari ranjang, ia mendudukkan tubuhnya disana, Erwin menatap sahabatnya, terima kasih bro, hanya ini yang dapat gue lakukan untuk membalas semua kebaikan Lo,
Flashback
Enam tahun lalu, sebuah kecelakaan hebat terjadi di ruas tol Cawang - Pluit. Kecelakaan tunggal yang menewaskan hampir seluruh penumpang yang ada di dalam mobil tersebut. Ya mobil itu, mobil keluarga Erwin. Orang tua, kakak dan adiknya tewas akibat kecelakaan maut itu, hanya Erwin satu-satunya penumpang yang selamat.
Saat itu, Adrian yang melintas di jalan tersebut menyaksikan bagaimana mobil avanza hitam itu terpental dan menabrak pembatas jalan tol.
Adrian berhenti, dan turun dari mobilnya, ia mendekat ke arah warga yang berkerumun. Salah satu warga yang ada disana berteriak, " tolong, tolong, masih ada satu korban yang masih hidup." Adrian mendekat, ia menyaksikan bagaimana darah mengalir keluar dari mulut Erwin. Adrian dengan sigap memapah tubuh Erwin menuju mobilnya, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Sebagai seorang yang menekuni ilmu kesehatan, ia sangat paham kondisi Erwin. Ia tak bisa menunggu, jika tidak nyawa Erwin akan melayan.
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menerobos beberapa pengguna jalan, dan tidak sampai beberapa menit, akhirnya Adrian sampai dirumah sakit.
Setelah kejadian Naas itu, Erwin mengalami trauma berat, kerjanya hanya melamun. dan setiap hari Adrian datang menjenguknya dan menanggung semua biaya pengobatan Erwin. perlahan kesehatan Erwin membaik, ia dinyatakan pulih dan diizinkan pulang oleh Dokter, Adrian lalu mengajaknya tinggal bersama dan memberinya pekerjaan.
***
"Bagaimana, Nay." Bi asi dan pak Darwis menatap wajah keponakannya sambil menunggu jawaban dari bibir Anaya.
Wajah polos, dengan senyum indah yang biasa terbit dari bibir gadis dua puluh enam tahun itu tampaknya pudar, Sehingga bi asi dan pak Darwis sudah bisa menebak jika interview Anaya tidak berjalan lancar.
Anaya yang semula menundukkan kini mengangkat wajahnya menatap dua orang yang merupakan pengganti kedua org Tuanya.
Ia lantas tersenyum dan memberikan sebuah amplop kepada bibi dan pamannya.
"Ini apa, Nay?" Tanya bi asi.
__ADS_1
" Bibi buka saja, bi."seru Anaya.
Mendengar ucapan Anaya, perlahan bi asih dan pak Darwis mulai membuka isi amplopnya dan langsung membaca setiap rentetan tulisan di dalam surat itu. Setelah itu kedua orang itu mengangkat wajahnya, menatap Anaya yang duduk di seberangnya dengan tersenyum.
"Kau lulus, Nay?"
Anaya mengangguk dan tersenyum. Bibir Nya yang semula tertutup kini menampilkan senyum terindah.
Melihat anggukan dan senyum Anaya, Bi asi langsung bangkit dan memeluk tubuh keponakannya.
"Selamat, sayang. Bibi bangga padamu, bekerjalah dengan giat, agar semua yang kau impikan dapat terkabul dengan baik." Ujar bi asi. Ia terlihat sangat bahagia dengan pencapaian keponakannya. Walaupun Anaya bukan anak kandungnya. Namun ia selalu berusaha untuk selalu mendukung Anaya apapun yang dilakukan gadis itu.
Sedangkan pak Darwin yang sejak tadi duduk memandangi kebahagiaan istri dan keponakannya tampak berdiri, kemudian menghampiri Anaya." Selamat Nay, bekerjalah dengan baik." Ujar pak Darwis ia menepuk punggung keponakannya memberi semangat pada Anaya.
Anaya mengangguk dan langsung tersenyum.
Setelah acara makan malam selesai, Anaya kembali ke kamarnya, ia akan mempersiapkan segala keperluannya malam ini, besok adalah hari pertamanya Bekerja, ia harus berpenampilan terbaik dari sebelumnya. Walaupun ia hanyalah karyawan biasa tapi ia harus berpenampilan baik di depan semua rekan kerjanya.
Saat sibuk mempersiapkan keperluan, tiba-tiba sesuatu terjatuh dari tasnya. Ia kemudian mengambil benda itu dan duduk di ujung ranjang. Ia menggenggam kota bludru yang diberikan Rio tadi siang. Ia membuka kotak itu, dan memandang isinya. Sebuah cincin dengan bertahtakan berlian di atasnya. Tadi setelah acara makan siang, Rio memberikan kotak itu pada Anaya, awalnya Anaya menolak, ia baru akan menerima kotak itu jika ia sudah mengantongi restu dari ibunda Rio. Namun Rio tetap kekeh untuk memberikan kotak itu pada Anaya, kotak itu sebagai pengikat cinta mereka. Setelah memberikan cincin itu pada Anaya, Rio pamit pada Anaya, ia ditugaskan untuk mengelola perusahaan keluarganya yang ada di Singapura.
Lama memandang cincin pemberian Rio, Anaya kemudian menutup kotak itu. Ia tersenyum getir mengingat hubungannya dengan Rio yang tak memiliki restu dari kedua orang tua Rio. Anaya Berdiri dan langsung berjalan ke arah lemari. Menyimpan kotak itu. Ia tidak mungkin Memakai cincin pemberian Rio, barang itu terbilang mahal, lagi pula apa arti sebuah cincin jika hubungan yang di jalani tak tahu akan di bawa kemana.
Setelah pintu lemari tertutup, Anaya menyandarkan tubuhnya di sana, ia memejamkan matanya sesaat, ada setetes cairan bening yang keluar dari kelopak matanya. Namun dengan cepat ia menyekanya. Hubungannya dengan Rio terlalu rumit, ia juga tidak ingin bermimpi terlalu tinggi yang akan membuatnya terjatuh dan sakit.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mampir.