
"Apa semuanya sudah selesai?" Tanya Adrian yang saat ini duduk di kursi tunggu tidak jauh dari meja kasir. Ia menunggu Anaya yang selesai membayar semua belanjaannya.
"Sudah." Anaya membawa beberapa kantongan belanjaan mendekat ke arah Adrian.
"Sini, aku bantu." Adrian meraih kantong belanjaan yang tadi dibawa Anaya. Saat kantongan belanjaan itu sudah beralih ke tangan Adrian. Adrian lalu mengajak Anaya untuk pulang. Namun saat ia keluar dari supermarket. Seseorang tanpa sengaja menabrak Anaya. Anaya terhuyung ke belakang. Tetapi dengan cepat Adrian menahan tubuh Anaya." Maaf." Ucap seorang wanita paru baya berusia sekitar lima puluh tahun.
"Tidak, apa-apa." Ucap Anaya mendongak. Namun tiba-tiba matanya membulat saat melihat wanita yang ada di depannya.
"Kau." Seru wanita itu menunjuk wajah Anaya dengan tatapan menusuk.
"Maaf, Bu." Ujar Anaya. Ia berusaha tersenyum pada wanita paruh baya yang baru saja menabraknya.
"Makanya punya mata di pakai, jangan main tabrak sebarangan. Bagaimana jika pakaian ku lecek, atau aku terluka. Apa kau mampu Mengganti semua kerugian ku."seru wanita itu dengan tatapan tidak suka. Tak lama ia kembali menatap anaya." Aku yakin kau tidak mampu. Gadis miskin sepertimu tidak mungkin mampu Mengganti semuanya." Wanita itu terus saja menghina Anaya.
Terlihat tangan Adrian mengepalkan tangannya, sejak tadi ia terdiam. Ia ingin melihat sampai di mana penghinaan wanita ini pada Anaya. Tak lama Adrian maju dan langsung merangkul pundak Anaya dengan begitu erat." dia mampu Mengganti semua kerugian anda, anda sebutkan saja berapa total yang harus diganti oleh istri ku." Seru Adrian.
Mendengar ucapan istri ku. Anaya mendongak melihat wajah Adrian yang terlihat tenang. Ia bum percaya dengan ucapan Adrian barusan.
__ADS_1
Terlihat wanita itu membulatkan matanya saat Adrian mengatakan istri ku. Namun wanita itu dengan cepat menetralkan expresinya." Oh ternyata kau sudah mendapatkan pria kaya lain yang kau akan jadikan Mangsa setelah aku tak merestui mu bersama Dengan Rio." Hina wanita paru baya itu. Ya wanita di depan Anaya adalah ibu Rio. Tadi saat Adrian dan Anaya hendak keluar dari supermarket. Tiba-tiba ibu Adrian berjalan tergesa-gesa Memasuki supermarket.
"Aku tidak membutuhkan uang anda. Berikan saja pada wanita ****** yang ada di samping mu. Di lebih membutuhkan daripada diriku." Lanjut wanita itu, ia terus-menerus menghina Anaya. Hingga Tanpa sadar Adrian mengepalkan tangannya dan hendak menampar wanita bermulut ular di depannya. Namun dengan cepat Anaya menahannya." Jangan lakukan itu." Anaya menahan tangan Adrian untuk tidak menampar wanita tua di depannya. Adrian menjatuhkan tangannya.
Wanita itu tersenyum mengejek lalu hendak berjalan masuk ke dalam supermarket."aku tidak sudih berlama-lama dengan kalian di sini!" Ujar ibu Rio meninggalkan Adrian dan Anaya.
***
Sudah tiga puluh menit mereka diam duduk di mobil tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata apapun. setelah keluar dari supermarket Adrian mengajak Anaya untuk pulang, namun saat mereka sampai di mobil, bukannya melajukan mobilnya, Adrian malah diam duduk di mobil. Ia tahu saat ini hati Anaya sedang hancur. Namun wanita itu tetap diam dan menahan untuk meneteskan air mata.
Anaya mengeleng. Aku tidak apa-apa. Ayo kita pulang, tubuhku sangat lelah." Ujar Anaya. Ia berucap tanpa menatap wajah Adrian. Matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis untuk meluapkan sakit hatinya atas penghinaan orang tua Rio.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di basement apartemen. Anaya terlihat mengusap ujung kelopak matanya dan hal itu tertangkap oleh Indra penglihatan Adrian." Ayo, kita sudah sampai." Ujar Adrian. Tetapi Anaya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan langsung keluar dari mobil.
Ia berdiri di sisi mobil menunggu Adrian menurungkan semua belanjaan mereka. Setelah semua belanjaan telah dikeluarkan oleh Adrian, Anaya langsung mengangkat beberapa buah plastik dan berjalan menuju lift. Sisanya Adrian yang mengangkat.
Saat sampai di depan unit milik Adrian, Adrian langsung menekan kode PIN digital door. Pintu terbuka, Anaya masuk ke dalam menuju pantri guna menyimpan semua belanjaan mereka. Namun saat akan mengambil beberapa bahan makanan untuk dimasak, Adrian menahannya." Istirahatlah, biar aku yang memasak makan malam kita.
__ADS_1
Anaya mengernyitkan alisnya, tidak yakin dengan ucapan yang Adrian ucapkan barusan tatapi tetap disetujui olehnya. Bukan tanpa alasan, sejak keluar dari supermarket dada Anaya terasa sesak, hatinya bagitu hancur, sejak tadi ia ingin menangis tetapi urung ia lakukan karena takut Adrian melihatnya menangis.
Tanpa menunggu jawaban dari Anaya, Adrian mengambil sayuran yang saat ini dipegang oleh Anaya. Melihat itu, Anaya mengangguk pasrah dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Anaya sampai di dalam kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Ia menangis sambil mengigit bibirnya, ia tidak ingin Adrian mendengarnya. Hatinya berdesir perih mendengar setiap hinaan yang keluar dari mulut ibu Mantan kekasihnya itu. Biasanya Anaya berusaha bersabar dan mengambil hal positifnya. Namun saat tadi orang tua Rio mengatakan jika ia gadis murahan dan ******, hatinya seolah tidak menerima. Ia ingin menjelaskan semuanya pada orang tua Rio, tapi urung ia lakukan, ia yakin apapun yang akan keluar dari mulut nya wanita itu tidak akan pernah mendengarnya.
Lelah menangis, Anaya mengusap wajahnya. Ia mengambil kotak cincin pemberian Rio yang masih ia simpan di dalam tasnya. Ia kemudian menatapnya cukup lama." Besok aku akan mengembalikan mu pada pemilikmu." Gumam anaya dan menutup kotak itu dan langsung memasukkannya ke dalam tasnya.
.
.
.
.Terima kasih.
__ADS_1