Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 124. season 2


__ADS_3

Anaya keluar dari dalam kamar mandi lalu masuk kedalam walk in closet. Saat tiba di dalam, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi Yang ada disana. Ia meringis saat merasakan perih di kedua lengannya. 


Anaya lalu membuka laci hendak mencari kotak P3K. Namun, laci itu kosong. Anaya menghembuskan napas berat. Lalu bangkit Menuju koper miliknya.


Saat sibuk memilih baju yang akan ia kenakan. Terdengar derap langkah dari luar, Anaya kemudian menoleh.  Adrian masuk dengan membawa sebuah salep.


"Oleskan itu pada lukamu," Adrian melemparkan salep itu dan terjatuh tepat di hadapan Anaya. Ia lalu keluar tanpa melanjutkan ucapannya. Ya Adrian memberikan salep pada Anaya, Adrian masih punya hati untuk tidak membiarkan Anaya kesakitan. Tadi Adrian tersulut emosi hingga memberi pelajaran pada Anaya.


Anaya kemudian menunduk lalu mengambil salep yang tepat berada di bawah kakinya. Ia berjalan menuju kursi yang ada disana. Perlahan ia membuka salepnya dan langsung mengoleskannya kebagian yang memerah. Ia tersenyum getir, menatap kulitnya yang saat ini melepuh akibat terkena air panas.


***


Pukul tujuh malam, Anaya  keluar dari dalam kamarnya. Saat ini, ia benar-benar sangat lapar. sejak pagi perutnya belum terisi makan apapun. Ia lalu melangkah menuju pantry. Ia membuka kulkas yang ada di sana. Kulkas itu kosong. tak ada makanan apapun kecuali minuman beralkohol dan sekotak susu.


Anaya lalu mengambil kotak susu itu. Mengambil gelas, kemudian duduk di kursi. Dan langsung menuangkan susu itu ke dalam gelas lalu meminumnya hingga tandas.


Anaya  mengusap bibirnya. ia hendak bangkit untuk kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun, saat ia baru saja akan berdiri dari kursinya tiba-tiba pintu terbuka. Adrian masuk dengan menenteng sebuah paper bag berisi makanan tanpa menghiraukan Anaya yang masih berada di sana.


Adrian lalu mengambil dua piring. Menyajikan makanannya dan langsung memakannya dengan lahap.


Anaya yang masih berada di sana seketika memegangi perutnya. Meneguk ludah nya kasar. Saat mencium aroma makanan yang dimakan Adrian sangat menggoda.


Seketika Adrian mendongak.


"Tunggu apalagi, kenapa kau belum memakan makananmu."Adrian berucap dengan sinisnya. Walaupun ia marah, ia tetap memberi Anaya makan.

__ADS_1


Anaya masih terdiam.


Kenapa kau masih diam, cepat makan makanan mu.


mendengar ucapan Adrian, seketika Anaya tersadar." Ah i..ya. Maaf," balas anaya gugup ia lalu berjalan ke arah meja makan. Dan langsung menikmati makanannya sambil menunduk.


Setelah makanan Anaya habis, ia lalu berdiri berniat membersihkan piring. Namun sepertinya ia agak kesusahan karena tanganya masih terasa sangat perih. Anaya menghembuskan nafasnya, kerena mau tidak mau ia harus membersihkan piringnya.


Setelah Anaya membersihkan piringnya, ia langsung masuk ke dalam kamar. Anaya kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menatap keluar. Tiba-tiba rasa sesak memenuhi seluruh rongga dadanya. Air mata seketika keluar tanpa bisa ia tahan. ia menangis sambil memegangi mulutnya takut jika Adrian mendengarnya.


Entah kenapa takdir tidak pernah berpihak padanya, setelah kematian ibunya. ayahnya pergi tanpa ada kabar dan Sekarang cintanya harus kandas di tengah jalan. 


Puas menangis. Perlahan Anaya mengusap air matanya. Ia lalu berjalan ke arah nakas. Mengambil ponselnya kemudian mencoba menghubungi Rio.


Ia harus menjelaskan semua ini pada Rio, ia tidak ingin Rio salah paham tentang dirinya.


"Mas, kamu dimana!" Anaya berucap sambil memandangi ponselnya yang mulai meredup.


***


Anaya menatap jam dinding yang ada dikamarnya. sudah pukul 2 subuh. Namun matanya masih enggan untuk terpejam. Ia menoleh ke arah ranjang, ia melihat Adrian yang  tertidur di atas ranjang king size itu dengan sangat pulasnya. terbukti dari suara dengkuran halus yang terdengar dari mulutnya.


Perlahan Anaya bangkit dari sofa. lalu berjalan keluar dari kamar. Ia berniat menghubungi Rio. Sejak tadi.ia memikirkan Rio, ia harus menjelaskan semuanya pada Rio.


Setelah keluar dari kamar, Anaya langsung duduk di sofa. Ia lalu merogoh sakunya.dan langsung menghubungi Rio. 

__ADS_1


Tut...Tut... Tut.


Baru saja panggilannya tersambung, tiba-tiba dari belakang Adrian mengambil ponsel Anaya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Adrian menatap tajam ke arah Anaya. Ia lalu mengecek ponsel Anaya dan ternyata Anaya ingin menghubungi Rio.


Anaya menunduk, ia meremas jarinya."Maaf...kan aku, aku ingin menghubungi, Mas Rio. Aku harus menjelaskan semua ini pada Mas Rio, agar ia tidak salah faham pada ku." Jujur anaya.


Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap-usap rahangnya."jadi, maksud mu setelah kau menjelaskan semua ini, apa kau berniat kembali padanya?hah?seru Adrian.


Dengan celat Anaya mengeleng." Tidak seperti itu."sangah Anaya. Namun nampaknya Adrian tidak mendengarkan nya .


Adrian berjalan maju ke arah Anaya lalu berpindah menatap dua benda kembar Anaya. Ia tersenyum licik.


Lalu menyudutkan Anaya ke tembok. Seketika ia lalu mencium leher Anaya. Meremas kedua benda kenyal yang sejak tadi menggodanya. Anaya mendesah, ia mengigit bibir bagian bawahnya saat Adrian terus ******* kedua benda kenyalnya secara bergantian. Setelah melakukan itu ia lalu berbisik pada Anaya." Ini hukuman mu karna kau berani berhianat.


Setelah Adrian puas bermain disana, Adrian lalu membalikan tubuh Anaya, ia membuka semua pakaian yang dipakai Anaya. Ia lalu memutar tubuh anaya membungkuk, lalu memasukkan senjata miliknya dari belakang. Anaya terus mendesah saat Adrian terus memompa senjatanya semakin kuat hingga Adrian mengeluarkan lahar panasnya ke dalam gua milik Anaya.


Lama terdiam, Adrian belum juga mencabut senjatanya, hingga beberapa detik kemudian, senjatanya kembali menegang, dan akhirnya ia kembali memutar tubuh Anaya, menaikkan tubuh Anaya ke atas meja lalu mulai bermain disana.


Hampir tiga jam mereka bermain dengan berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya Adrian puas. Adrian lalu bangkit dari atas tubuh Anaya. Ia berjalan ke arah kulkas, mengambil segelas air minera lalu meminumnya hingga tandas. lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Anaya yang masih berada di pantry, perlahan bangkit dari berbaringnya. Tubuhnya sangat lemas, Adrian baru saja menguras Habis tenaganya hingga ia kembali tersenyum getir. meratapi nasibnya yang hanya sebagai pemuas laki-laki yang sudah membelinya. Lebih tepatnya suaminya, ya, suaminya!


Saat Anaya berusaha bangkit ia sedikit meringis, ia merasakan perih di bagian pangkal pahanya. Tadi Adrian melakukannya dengan sangat sangat kasar, sehingga saat Anaya bangkit ia merasakan perih di bagian pangkal pahanya.

__ADS_1


Setelah Anaya bangkit dari berbaringnya, ia lalu menyadarkan tubuh, ia menekuk lalu memeluk kedua kakinya, menenggelamkan kepalanya. Tiba-tiba saja bahu Anaya bergetar, ia menangis sejadi-jadinya, ia meratapi takdirnya yang harus bertemu dengan Adrian, hingga ia harus terjebak dalam ikatan pernikahan bersama laki-laki yang tidak ia cintai.


 


__ADS_2