Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 148. season 2


__ADS_3

Pukul 6 sore Adrian keluar dari resort dan langsung bergabung dengan beberapa orang penting yang ada di sana.


"Silahkan di nikmati pestanya. Pak." Ujar Tommy saat Adrian hendak masuk ke dalam.


Adrian mengangguk." Terimakasih, pak." Jawabnya kemudian melangkah meninggal Tommy yang masih di sana.


Setelah sampai di dalam, Adrian langsung duduk di kursi yang ada di sana. Ia tidak berniat bergabung atau berjoget dengan beberapa orang penting yang ada di sana.


Adrian kemudian menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Entah kenapa ia begitu malas datang ke parti, padahal biasanya ia paling semangat jika menyangkut masalah minum dan bertemu gadis-gadis cantik.


Setelah terdiam cukup lama, ia mengambil ponselnya. Kemudian menghubungi Anaya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Anaya mengangkat panggilannya." "Hallo mas." Sapa Anaya.


"Kau di mana?" Ujar Adrian ia meninggikan suaranya karena suara bising yang ada di sekitarnya.


" Aku di apartemen, mas. Ada apa?"


"Aku mungkin pulang agak larut. Acaranya baru di mulai." Ujar adrian.


"Oh. Tidak apa-apa mas."


"'kau tidurlah lebih dulu, tidak usah menungguku."seru Adrian.

__ADS_1


"Ya sudah, nay. Mas matikan telepon nya. I love you." Ucap Adrian.


Anya tidak menjawab." Nay, kok gak dijawab?"


"Jawab apa, mas?"


"Tadi, mas. Ngomong I love you."


"Iya , mas."


"Kok iya aja. Di jawab donk."


"Apa, nay? Aku tidak mendengarnya disana berisik sekali." Teriak Adrian." Coba ulangi lagi." Adrian tersenyum. Sebenarnya ia mendengar apa yang diucapkan Anaya barusan. Namun ia seolah-olah tidak mendengarnya.


" I love You too, mas." Teriak Anaya langsung mematikan panggilannya sepihak karena ia tahu jika Adrian saat ini sedang mengerjainya..


Setelah Ponsel Adrian mati, ia kemudian menyunggingkan senyumnya.


Dari jauh terlihat sepasang mata sedang mengikuti pergerakan Adrian, lantas wanita itu menyungingkan senyum misterius. Meminta segelas wine kepada pelayan. Ia kembali tersenyum saat di depannya telah tersaji segelas wine. Ia menaruh wine itu di atas meja, lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah, kemudian mencampur serbuk ke dalam gelas minuman itu, lalu mengaduknya. Setelah ia merasa serbuk itu sudah tercampur dan larut ke dalam gelas, lantas ia kembali berjalan.


Tubuh ramping, dan kaki jenjangnya menapaki lantai marmer bangunan itu. mengedarkan pandangannya ke segala arah, lantas mencari seorang yang bisa dimintai pertolongan agar membawa segelas minuman itu kepada pria yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


Saat sibuk mencari seseorang, tiba-tiba seorang pelayan lewat di hadapan." Permisi." Ucapnya.


Pelayan itu menoleh." Ada apa. Bu?"


"Boleh tolong saya?"


Pelayan itu mengangguk" bisa Bu, minta tolong apa yah?"


" Tolong antarkan minuman ini pada pria yang duduk di sana."ujar wanita itu.


"Tapi, Bu." 


"Kau tidak usah khawatir. Minuman ini tidak mengandung apa-apa," ujar wanita itu.


Pelayan itu terlihat ragu. Namun tak lama wanita itu mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya." Ini ucapan Terima kasihku. Kau cukup membawanya ke sana. Kau tidak usah mengucapkan apapun, kau letakkan saja di depannya kemudian pergi."


"Baik, Bu." Pria itu mengangguk patuh, menyungingkan senyum sekilas dan berjalan Menuju meja yang tadi di tunjuk wanita itu.


Dan benar saja, saat pelayan itu melewati meja Adrian, ia langsung menaruh gelas pialang itu di atas meja, dan langsung berlalu pergi.


Adrian yang saat ini sedang memainkan ponsel dan merasa kehausan karena belum makan ataupun minum sesuatu saat masuk ke ruangan ini, langsung mengambil gelas itu kemudian meminumnya hingga tandas.

__ADS_1


__ADS_2