Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 144. season 2


__ADS_3

"Apa ada yang bisa kami bantu?" Seorang pria berpenampilan rapi, berseragam lengkap datang menghampiri Adrian dan Anaya.


"Kami ingin memilih cincin pernikahan. Aku ingin yang paling bagus dan paling mahal di toko ini." Ujar Adrian. Pria itu berdiri tegap dan masih menggenggam tangan Anaya sedangkan tangan satunya berada di saku celananya.


Pria itu mengangguk mengerti." Silahkan, pak." Ucap pria itu, memberi jalan pada Adrian dengan menaikkan satu tangannya.


Adrian dan Anaya kemudian berjalan ke lemari kaca yang berada di bagian kiri. Di sana semua terpajang cincin pernikahan yang harganya fantastis.


"Silahkan, pak." Ujar pria itu, memperlihatkan koleksi cincin mewah yang ada di toko mereka.


Anaya dan Adrian kemudian melihat. Saat melihat cincin sederhana dengan bertahtakan berlian, Anaya tersenyum dan menunjukkan cincin yang baru ia lihat." Mas, bagaimana kalau yang itu."


Adrian menolah, melihat Cincin yang dipilih Anaya, kemudian mengangguk.


"Saya ingin melihat yang itu." Ujar Adrian. Mengarahkan telunjuknya pada cincin yang menarik perhatian Anaya sejak tadi.


Pria itu kemudian mengeluarkan cincin itu, dan langsung menaruhnya tepat di depan Adrian. Adrian melihat-lihat cincin itu, dan menyerahkannya pada Anaya." Kau mau yang ini?"tanya Adrian.


"Anaya mengangguk."


Adrian lalu mengambil cincin itu kemudian menyenangkan di jari manis Anaya.


"Maaf pak, anda tidak boleh memakai cincinnya jika anda belum menyelesaikan transaksi." Ujar pria itu.


"Tapi aku akan membayarnya."


"Maaf, pak. Ini sudah peraturan di toko Kami."


Adrian melongos." Kau kira aku penipu? Bahkan toko ini bisa aku beli." Bentak  Adrian.


"Iya, pak. kami tahu. Tapi ini sudah keputusan dari toko kami, barang yang akan di beli tidak bisa di pakai jika pembeli belum menyelesaikan transaksi." Ucap pria itu. Ia menunduk sopan.


"Panggilkan manejermu sekarang."ujar adrian. Ia mengeluarkan kembali Cincin yang baru saja di Semangatkan Adrian pada jari jemarinya.

__ADS_1


"Mas, sudah." Anaya menasehati Adrian namun pria itu tetap terlihat emosi.


"Tak lama seorang pria berwajah oriental datang menghampiri Adrian." Ada yang bisa kami bantu, pak?" 


Adrian yang melihat ke arah lain, langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara dari arah belakang. Pria itu kemudian menyalami Adrian dan di sambut datar oleh Adrian


"Tolong anda ajari karyawan anda untuk mengutamakan pelayanannya. Saya tidak Terima. Saya seperti seorang pencuri." Ujar Adrian.


Manajer itu tersenyum." Maafkan atas kesalahan karyawan kami." Menejer itu menunduk hormat.


Anaya yang masih berdiri di samping Adrian kemudian mengusap punggung Adrian." Sudah, mas. Ikuti saja peraturan toko. Aku tidak mau terjadi keributan." Setelah mendengar permintaan Anaya, Adrian mengangguk.


"Baiklah, karena istriku memaafkan kalian jadi untuk saat ini aku tidak akan memperpanjang masalah." Ucap Adrian. Setelah itu Adrian mengeluarkan dompetnya dan memberikan black cardnya pada pria itu. 


Pria itu mengangguk dan meminta Adrian menekan kode PINnya. Setelah tagihan terbayar lunas. Pria itu kemudian memberik paper bag pada Adrian." Terimakasih pak. Maafkan atas kesalahan karyawan kami." Ucap pria itu ia menunduk hormat.


Setelah mendapatkan cincin pernikahan, Adrian mengajak Anaya keluar dari toko. Namun saat ia sampai didepan terdengar seseorang memanggil Anaya.


"Nay,"panggil seseorang.


Anaya membulatkan matanya, setelah itu ia menoleh pada Adrian seketika jantungnya berdetak dua kali lipat. Baru aja ia meredakan emosi Adrian, kini ia bertemu dengan Rio.


"Apa kabar, Nay." Tanya Rio.


Anaya tersenyum kecut, kemudian menjawab." A_aku baik."


"Kau mengikuti kami yah?" Tiba-tiba Adrian melontarkan pertanyaan pada Rio.


Rio tertawa renyah." Untuk apa aku mengikuti mu, kau kira aku pria yang kuran kerja sampai harus mengikuti kemanapun kau pergi." Seru Rio.


Adrian berdecik." Itu semua hanya akal-akalan mu sajakan? Halah jangan beralasan." 


Rio kembali terkekeh." Kau salah. Jelas aku berada di sini, aku pemilik toko perhiasan ini." 

__ADS_1


Seketika mata Adrian membulat mendengar ucapan Rio. Mana mungkin toko ini milik Rio. Bukankah perusahaan Rio bergerak dalam bidang desain interior. Mengapa sekarang ia berkata jika toko ini miliknya.


Adrin kembali berdecik." Kau tidak pandai dalam mengelabui seseorang."ucap Adrian.


Dengan sombong, Rio mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu nama pada Adrian." Ambil, setelah kau membaca kartu nama ini, mungkin kau akan percaya." Ujar Rio. Setelah itu ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya .ia tersenyum sambil menunggu perubahan ekspresi Adrian.


Ya toko perhiasan ini memang milik Rio. Ia membangun usaha ini dengan tangannya sendiri Tampa campur tangan kedua orang tuanya.


Adrian Membulat matanya seolah tak percaya setelah membaca nama yang tertera di permukaan kartu itu, di sana tertulis jika Rio ada founder dari perusahaan itu.


Rio membusungkan dadanya. Sambil tertawa nyaring. Aku tidak lebih kaya dari mu, bisa saja aku merebut kembali Anaya dari mu. 


Anaya yang saat ini ada di samping Adrian terus mengenggam tangan pria itu saat terlihat raut kemarahan di wajahnya.


"Kau seperti seorang pencuri, mencuri apa yang bukan milikmu." Rio kembali terkekeh setelah mengucapkan itu.


"Sudah, jangan kau dengar semua perkataannya." Anaya terus menahan tubuh Adrian agar pria itu tidak bertindak lebih. Namun perkataan Rio berusan membuat darah Adrian mendidih.


"Cepat atau lambat, dia akan kembali pada ku." Ujar Rio. Ia terus memanas-manasi Adrian, memancing kemarahan pria itu. 


Tak lama Adrian melepaskan tangan Anaya. Kemudian maju dan menghajar Rio secara membabi-buta. Tak ada perlawanan dari Rio. Rio sengaja tidak melawan.


"Bangun, Bangun bajingan." Seru Adrian. Ia memerangkap Rio. Rio yang saat ini sedang terkapar di tanah. Hanya tersenyum tanpa berniat membalas pukulan Adrian.


"Sudah, mas." Seru Anaya. Ia menarik tangan Adrian, agar Adrian bangkit dari posisinya. Ia tidak mau Adrian membunuh Rio jika terus menghajar pria itu.


"Lepas, Nay! Biarkan aku menghabisi bajingan itu." Ujar Adrian. Saat ini darahnya Adrian mendidih. Rio terus memanas-manasinya.


"Tidak, mas. Ayo kita pulang. Kau bisa membunuhnya jika kau terus menghajarnya." Anaya menarik paksa Adrian agar pria itu mau masuk ke dalam mobil.


"Lepas, Nay. Apa jangan-jangan kau masih mencintainya?" Tuding Adrian.


Mendengar ucapan Adrian, Anaya langsung melayangkan tamparan keras di pipi Adrian." Jaga ucapanmu mas! Aku tidak serendah itu, aku seorang wanita bersuami, tidak mungkin aku mencintai pria lain selain dirimu. Asal kau tau mas, aku sudah mati-matian melupakan Rio dan mulai mencintai mu tapi apa?hah? Kau masih saja menuduhku. Lebih parahnya kau tidak mempercayai ku." Seru Anaya. Terlihat air mata mengalir di kedua sudut matanya. Ia tidak peduli, walaupun saat ini mereka bertiga menjadi tontonan orang-orang yang ada di jalan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Anaya. Adrian kemudian tersadar, ia menarik tangan Anaya."Maafkan aku, Nay."


"Sudahlah." Potong Anaya. Ia masuk ke dalam mobil dan Duduk diam di sana.


__ADS_2