Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 130. season 2.


__ADS_3

Setelah tertidur cukup lama, Anaya mengerjab, perlahan matanya terbuka. Ia langsung melihat jam yang terletak di dinding kamarnya."Sudah pukul empat." Gumam anaya. Ia memegang perutnya yang terasa perih. Ya sejak tadi Anaya hanya sarapan roti dan susu. dan sewaktu ia  di cafe ia hanya minum jus jeruk, itupun hanya seperempatnya saja. Ia tidak sempat memesan makanan, karena Adrian lebih dulu menghampiri mereka.


Perlahan Anaya bangkit dari ranjang. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit, Anaya keluar dari dalam kamar mandi, ia terlihat sudah lebih segar dari sebelumnya.


Dengan perlahan ia melangkah keluar dari kamar. Ia melihat sekeliling ruangan. Tak ada siapa-siapa, sepertinya Adrian sedang keluar. Namun saat ia sampai di pantry. Ia melihat Adrian yang tertidur di meja makan dengan lengannya yang menjadi tumpuhannya. 


Anaya perlahan mendekat. Ia memindahkan botol Vodka yang sudah kosong beserta gelasnya. Setelah itu, ia terdiam sejenak, memandangi wajah Adrian yang terlihat di penuhi luka lebam. Rasa bersalah tiba-tiba menghampirinya. Ia kemudian berjalan ke arah kulkas, mengambil wadah kecil lalu mengisinya dengan es batu beserta handuk kecil.


Setelah itu, Anaya berjalan mendekat. Mendudukkan dirinya tepat di kursi yang ada di samping Adrian. Dengan hati-hati ia mulai mengompres wajah Adrian yang terlihat hitam kebiruan akibat pukulan bertubi-tubi yang dilayangkan Rio tadi.


Namun, saat Anaya mengompres luka lebam di wajah Adrian, Adrian seketika meringis. Ia terbangun saat merasakan sebuah handuk menempel di pipinya.


Adrian seketika membuka mata, tiba-tiba mata Anaya dan Adrian saling mengunci. Anaya terdiam begitupun dengan Adrian. Tak lama mereka langsung tersadar dan membuat pandangan mereka ke arah lain, namun beberapa saat kemudian Anaya kembali mengompres wajah Adrian." Diamlah, aku akan mengompres lukamu." Ujar Anaya datar. Adrian yang saat ini di kompres pun tidak melawan, ia membiarkan Anaya mengompres wajahnya. Entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Seolah ada magnet yang membuatnya untuk tidak menolak Anaya.


Setelah Anaya selesai mengompres wajah Adrian, ia berjalan ke panty. Membuka laci, lalu mengambil salep yang ada di sana. Setelah itu ia kembali duduk di samping Adrian dan mengoleskan salep ke wajah Adrian.


"Akkkkkhhh." Adrian Meringis saat salep yang di pegang Anaya sudah menempel di permukaan kulitnya. Saat Adrian terlihat meringis Anaya Berdiri di samping Adrian. Mendekatkan wajahnya kemudian meniup-niup wajah Adrian agar salep yang diberikan Anaya cepat kering.


Saat Anaya sibuk meniup luka Adrian, Adrian malah sibuk menatap wajah Anaya. Namun tak lama Anaya tersadar. Ia terlihat salah tingkah dan berhenti meniup luka Adrian.


"Mungkin sudah kering." Ujar Anaya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pantry. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah itu ia mengambil bahan makanan yang ada di kulkas.


"Aku akan membersih tubuhku terlebih dahulu." Adrian berucap saat ia bangkit dari kursi. Namun Anaya terlihat tidak menggubris ucapan Adrian. Ia tetap terdiam dan melanjutkan aktifitas memasaknya.


Adrian melengos saat Anaya tidak menggubrisnya. Biasanya perempuan itu selalu menjawab ataupun mengangguk jika Adrian mengucapkan sesuatu. Tetapi kali ini, Anaya diam. Ia tidak menjawab ataupun mengangguk.


Dengan langkah gontai, Adrian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Saat ini, kepalanya terasa pening. Ia terlalu banyak meminum Vodka. Setelah sampai di dalam kamar, Adrian menghempas tubuhnya ke kasur. Ia memijat batang hidungnya.


Lama terdiam di kasur, Adrian bangkit dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus berendam untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya. Padahal tadi ia sudah minum obat penawar mabuk.


Setelah berendam dan merasa lebih rileks, Adrian keluar dari kamar mandi. Adrian tersenyum, kala mencium aroma lezat dari luar kamar. Tanpa menunggu lama adrian mengambil pakaiannya. Memakai Nya dan langsung keluar dari kamar.


"Sepertinya enak." Adrian berucap. Saat ia sampai di meja makan. Anaya tidak mengiris. Ia tetap fokus menikmati makanannya.


Adrian tersenyum kecut saat ucapannya tidak di gubris oleh Anaya. Ia kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Ia melihat makanan yang ada di meja makan. Anaya memasak chicken katsu beserta Saus tiram ditemani capcay kering.


Adrian kembali menyunggingkan senyumnya. Saat memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Makanan yang dimasak Anaya selalu enak, ia tidak pernah mendapatkan kekurangan dari masakan Anaya, padahal Anaya buka koki terkenal seperti yang ada di restoran bintang lima.

__ADS_1


Setelah sibuk menyiapkan makanan ke mulutnya. Bel terdengar berbunyi. Anaya yang sudah menghabiskan makanannya, bangkit dan berjalan ke arah pintu. Anaya membuka pintu, tampak Erwin yang Berdiri di sana.


"Nay, apa Adrian ada di rumah?" Tanya Erwin.


"Ada, pak. Dia sedang makan di pantry." Balas Anaya.


"Kebetulan, Nay. Aku juga lapar." Tanpa menunggu ucapan Anaya, ia langsung berjalan menghampiri Adrian.


"Sepertinya enak." Seru Erwin saat ia sampai di meja makan.


Tanpa menunggu persetujuan pemilik rumah, Erwin mengambil piring mengisi nasi dan beberapa lauk.


"Siapa yang menyuruhmu, makan?" Tanya Erwin.


Adrian nyengir." Tidak ada. Tapi tadikan aku sudah bilang, bos." Elak Erwin dan langsung menyiapkan nasi ke dalam mulutnya.


Seperti halnya Adrian, saat pertama kali menikmati masakan Anaya. Ia terdiam. Ia tampak takjub dengan rasa masakan Anaya. Mereka seolah berada di tengah-tengah keluarga hangat mereka.


"Kenapa, Lo?" Tanya Adrian tiba-tiba menyadarkan Erwin. 


"Tau gini dari kemarin gue makan di sini." Ujar Erwin tanpa malu.


"Enak saja. Makanya nikah, biar ada yang masakin."


Erwin tersenyum kecut mendengar ucapan bosnya." Tidak, gue belum kepikiran soal masalah itu." Pungkas Erwin dan kembali menikmati makanannya. Sebenarnya kemarin saat Erwin cuti dan berangkat ke Inggris dia mendapatkan fakta tentang wanita Yang ia cintai. Ternyata selama ini, Vita bergonta ganti pasangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang ingin selalu terlihat tampak mewah.


Adrian menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah tau jika Erwin sudah mengetahui fakta tentang Vita. Namun, ia tidak mau bertanya lebih lanjut. Biarlah masalah pribadi Erwin dia sendiri yang menyelesaikan. Ia tidak ingin terlalu ikut campur masalah asistennya.


Tak lama Erwin tersadar." Muka Lo Kenapa?" Tanya Erwin. Ia berusaha memegang wajah Adrian. Tetapi dengan cepat Adrian menghempaskan tangannya.


Adrian mendekat. Membisikkan sesuatu di telinga Erwin.


Erwin seketika terkekeh mendengar Adrian kalah talak dengan Rio mantan kekasih Anaya. Padahal Adrian begitu jago dalam hal bela diri. Tetapi mengapa Adrian bisa kalah?


Melihat Erwin yang terus menertawainya. Adrian menatap tajam." Tertawa, tertawa sepuasmu! Ingat besok gajimu akan aku potong sebesar lima puluh persen.


Mendengar itu, mata Erwin membulat." Tidak boleh begitu." Ujar Erwin.

__ADS_1


Namun bukannya menanggapi ucapan Erwin. Adrian malah berjalan ke sofa di mana Anaya sedang duduk di sana sambil menonton tv. Adrian menjatuhkan punggungnya dan langsung memeluk punggung Anaya. Seketika Anaya menegang. Jantungnya berpacu dua kali lipat. Ia menoleh pada Adrian. Adrian hanya mengedipkan mata. Lalu berbisik." Kita hanya pura-pura agar Erwin tidak curiga pada kita." 


Mendengar ucapan Adrian. Wajah Anaya langsung berubah menjadi sendu. Dadanya berdesir hebat mengingat jika pernikahan mereka hanya sebuah kepura-puraan.


Tanpa membalas ucapan Adrian, Anaya melepaskan tangan Adrian dari punggungnya dan langsung bangkit dari sofa dan berjalan Menuju kamarnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Adrian. Saat Anaya bangkit dari sofa.


"Aku ingin kekamar, tubuhku benar-benar sangat lelah." Jawab Anaya.


***


Setelah Erwin menghabiskan makanannya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah sofa. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di sana. Lalu mengeluarkan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh Adrian. Adrian menerima berkas itu, dan memeriksa satu persatu. Namun, ia tertarik pada satu map yang saat ini di depannya. Map itu berlogo RK grup. Perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Rio.


Adrian tersenyum misterius." Lo atur pertemuan gue dengan pemilik RK grop secepatnya." Ujar adrain. Dan kembali tersenyum misterius lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Entah apa yang saat ini direncanakan oleh Adrian.


Setelah semua berkas sudah diperiksa Adrian. Adrian menyimpan semua berkasnya di meja." Sudah selesai, kau pulang sekarang." Seru Adrian.


Erwin menatap jam di pergelangan tangannya." Cepat amat. Gua masih mau tinggal lebih lama di sini. Lumayankan, nanti malam bisa dapat jatah makan gratis." Balas Erwin sambil terkekeh.


"Enak saja. Pulang gak!" Titah Adrian. Ia menatap tajam pada asistennya. 


"Ok, ok. Gue pulang. Mentang-mentang pengantin baru" Erwin merapikan berkas-berkas yang ada di meja. Memasukkan ke dalam tas  dan berpamitan pada Adrian." ia mengangkat wajahnya sekilas menatap Adrian." bagaimana jika malam ini kita ke club' sudah lama sekali kita tidak ke sana." seru Erwin.


Adrian mengeleng." aku sangat lelah, aku ingin beristirahat malam ini. mungkin lain kali saja."


mendengar jawaban Adrian, Erwin kembali terkekeh. pasalnya, biasanya Adrianlah yang paling bersemangat jika menyebut tentang club'. Namun sekarang saat ia mengajak Adrian ke club', pria itu dengan terang-terangan menolaknya.


Setelah pintu tertutup. adrian kembali duduk di sofa. Tak lama Anaya muncul keluar dari kamar dan langsung berjalan ke arah meja makan guna memberikan sisa makanan yang di makan Erwin beserta Adrian barusan.


.


.


.


Terima kasih masih setia mampir. Gift pulsa 50k di awal bulan akan saya umumkan di tanggal 1 dan pulsanya masuk paling lambat tanggal 5. khusus dukungan terbanyak. 🙏

__ADS_1


__ADS_2