
Noureen mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Menetralkan perasaannya. Lalu mencoba melepas lengan suaminya yang saat ini memeluk tubuhnya dengan erat. Ia kemudian memejamkan matanya mencari ketenangan.
"Bicaralah mas, aku akan mendengarnya," Noureen berucap setelah ia merasa cukup tenaga.
"Sayang, aku memang bersalah padamu, karena melanggar ucapanmu. Tapi percayalah, mas, melakukan semua itu demi keselamatanmu," Cakra berucap dengan wajah yang memelas.
"Mas tau? bagaimana perasaan ku? Aku tidak akan bisa mengandung lagi, mas. Aku tidak bisa memberimu anak lagi." Ucap Noureen menatap suaminya dengan air mata yang terus mengalir.
"Reen, percayalah! itu semua tidak masalah bagiku. Aku mencintaimu. cukup Devano yang menjadi putra satu-satunya. Kalau kau ingin memiliki putri, kita bisa mengadopsinya dari panti asuhan," Cakra berucap. Wajahnya tampak serius. tak ada sedikitpun kebohongan dari sorot matanya.
Noureen menatap suaminya. Mencari kebenaran dari netra yang saat ini menatapnya. Dan Noureen bisa melihat di mata suaminya tak ada sedikitpun kebohongan.
Cakra kemudian menangkup kedua pipi Noureen.
"percayalah! mas begitu sangat menyayangimu. Aku tidak pernah mempermasalahkan tentang keturunan. Kita sudah memiliki Devano. Untuk apa memiliki putra lagi. Cukup Devano yang akan menjadi putra kita. Jika kau Mau memiliki putri, aku siap mengantarmu mencarinya di panti asuhan." Cakra berucap dengan penuh keseriusan.
Setelah mendengarkan semua penuturan sang suami, akhirnya Noureen mengangguk.
Cakra terlihat bernapas lega. Tersenyum menatap sang istri, lalu kembali membenamkan wajah istrinya di dadanya.
***
Setelah semua kebutuhan administrasi telah diurus Cakra, kini mereka melangkah keluar dari gedung rumah sakit mount Elizabeth Singapura.
Di depan rumah sakit, sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Selamat siang, tuan." Orang itu menunduk setelah mengucapkan salam.
"Siang." Balas Cakra dengan wajah yang terlihat datar.
"Mari tuan, mobilnya ada di sana,"
Cakra mengangguk, Kemudian mengikuti langkah orang itu Menuju ke mobilnya dengan menggandeng tangan Noureen.
Saat sampai di sana mereka bertiga pun masuk kedalam mobil. Menyalakan mesin mobil lalu melaju meninggalkan parkiran Rumah sakit.
Hampir empat puluh menit menyusuri jalan di kota singa itu, akhirnya mereka sampai di sebuah basement sebuah apartemen mewah.
Ya, Cakra menyewa sebuah unit apartemen untuk mereka tempati untuk sementara. Mengingat usia Devano yang belum genap sebulan untuk menaiki sebuah pesawat, mengharuskannya untuk tinggal disana selama baby Devano sudah benar-benar diizinkan kembali ke negara asalnya yaitu Indonesia.
"Mas, kita akan tinggal disini," tanya Noureen dengan menatap bengunan mewah di depannya.
" Iya, sayang." Cakra menjawab singkat tanpa melepas tangannya dari pinggang sang istri.
"Bagus, mas!" Noureen menatap sekelilingnya.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanya Cakra.
Noureen mengangguk dan tersenyum.
"Sampai kapan kita akan tinggal disini, mas?"lanjut Noureen menatap wajah sang suami.
"Sampai bayi kita berusia sekitar 40 hari." Noureen mengangguk saat mendengar ucapan sang suami.
Mereka pun kini melangkah memasuki sebuah lift menuju lantai 4 dimana saat ini baby Devano sedang bermukim.
Sesampainya mereka di lantai 4. Noureen keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemen.
Saat sampai di depan pintu unit apartemen yang mereka sewa. ternyata pintunya tidak tertutup. Bu citra dan Bu Ratna serta baby Devano sudah menunggu kedatangan mommy nya tepat didepan pintu.
Tadi sewaktu di basement Cakra sudah lebih dulu memberi kabar Mereka, sehingga saat ini mereka manunggu Noureen.
Noureen tersenyum menatap Bu citra yang saat ini menggendong bayi. Ia kemudian berjalan menghampiri Bu citra.
"Bu, ini anak Noureen?"Noureen bertanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, sayang. Ini putra mu." Jawab bu citra tersenyum menatap putri.
"Boleh Noureen gandong?"
Seketika Noureen menunduk. Cakra kemudian memegang kedua pundak istrinya, lalu berucap.
"Kau bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, kasihan bayi kita. Kita habis dari luar, bisa saja tadi ada bakteri atau virus yang menempel.
Noureen mengangkat wajahnya, lalu menatap Cakra dengan wajah berbinar.
"Maaf, mas. Aku sampai lupa saking kesenangannya." Cakra tersenyum." Tidak apa-apa, sayang. Cepat bersihkan tubuhmu." Lanjut Cakra.
Noureen mengangguk dan langsung berjalan ke arah kamar mandi.
***
Sejam berlalu, Noureen datang menghampiri Cakra yang sedang menidurkan bayinya di box bayi dengan masih memegang sebuah botol susu yang berisi Asi.
"Dia sudah tidur, yah mas?" Noureen bertanya dengan mata yang tak pernah berpindah dari box bayinya.
"Iya, sayang." Jawab Cakra.
"Dia mirip denganmu, mas," ucap Noureen.
"Benarkah?" Cakra menjawab dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Noureen.
__ADS_1
"Mas, jangan seperti ini, nanti dilihat ibu," Noureen berucap.
"Tidak apa-apa, sayang. Siapa juga yang mau melarangku, kau istriku," ucap Cakra mempererat pelukannya.
"Bukan seperti itu, mas. Aku hanya malu jika Dilihat ibu."
"Itu tidak masalah, sayang. Mereka paham jika mas sangat merindukanmu."
Noureen tersenyum, wajahnya tampak bersemu merah.
Tak lama tangan Cakra meraba-raba bagian paha Noureen, tangannya menelusup masuk. Meremas disana. Saat sensasi tersebut making bertambah Noureen melepaskan tangan suaminya.
"Kenapa sayang?" Cakra bertanya dengan alis yang berkerut.
"Aku masih dalam masa nifas, mas." Noureen menunduk, wajahnya terlihat tampak malu saat mengucapkan itu.
"Mas, tahu itu," jawab Cakra singkat.
"Kalau mas tahu, kenapa mas melanjutkannya? Tanya Noureen, ia mengangkat sedikit kepalanya menatap suami.
"Mas hanya ingin melepas rindu, sudah lama mas tidak menjenguknya," lanjut Cakra mengulum senyumnya.
Saat sibuk berselancar di balik pakaian Noureen, tiba-tiba saja deveno menangis. Dengan cepat Noureen melepas tangan Cakra lalu mengangkat bayi mungil yang ada di box bayinya sebelum Bu Ratna dan Bu citra masuk ke dalam kamar. Ia tidak ingin mertua dan ibunya berpikir yang tidak-tidak. Pasalnya saat ini Noureen terlihat tampak berantakan. tanda bekas merah akibat ulah suaminya hampir memenuhi seluruh bagian dadanya.
"Cup cup cup, tayang, tayang, vano kenapa, nak,"Noureen menggendong bayinya sambil mengelus-elus punggung bayinya. Namun, bayi itu tetap saja menangis.
"Mungkin dia haus sayang," ucap Cakra bangkit dari kasur.
"Mungkin, iya, mas."
Noureen kemudian berjalan ke arah kasur. Mendudukkan pinggangnya lalu mulai belajar menyusui bayi Devano. Ini kali pertama Devano meminum ASI-nya langsung dari ****** ibunya.
Bayi itu terus saja mendorong ****** ibunya. Namun, Noureen tetap saja berusaha agar sang bayi mau minum ASI-nya.
Dan perlahan bayi Devano dituntun oleh sang mommy mulai belajar menghisap ****** ibunya.
Cakra yang duduk di samping Noureen tampak meneguk ludahnya kasar. Pasalnya saat ini Noureen menyembulkan kedua benda favorit suaminya itu keluar.
Mata Cakra tak berkedip sedikit pun ia tampak berbinar menatap kedua benda yang sangat menggugah seleranya. Milik Noureen tampak terlihat sangat bertambah besar dan kenyal. itu yang membuat Cakra meneguk ludahnya. Ingin rasanya ia menerkam istrinya saat itu juga.
"Mas mau?" tawar Noureen saat melihat suaminya memandangi benda bulat yang saat ini ada di depannya. seketika Cakra mengangguk.
__ADS_1