
Puas berdiri di bawah guyuran shower, Adrian meraih handuk yang ada di sana, ia memakainya dan langsung keluar dari dalam kamar mandi menuju walk in closet.
Setelah memakai pakaiannya, Adrian langsung keluar. ia menghampiri ranjang.
" bangunlah. bersihkan tubuhmu. Lalu makan. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang. Aku harus berbicara pada paman dan bibi mu tentang pernikahan kita besok,"ucap Adrian. Berjalan keluar. Namun, langkahnya terhenti, ia kemudian menoleh. "aku menunggu mu dalam waktu 30 menit, jika kau belum juga keluar, maka aku tak akan memberimu uang sepeser pun." Lanjut Adrian lalu keluar dari dalam kamarnya.
30 menit kemudian Anaya keluar dengan menunduk. ia berjalan menuju meja makan, dimana sudah ada Adrian menunggunya disana.
"Makanlah," ucap Adrian datar. Ia duduk tepat di kursi seberang yang saat ini sedang di duduki Anaya. Ia membaca koran, sesekali ia menyeruput coklat panas yang ada dihadapannya.
Anaya mengangguk lalu mulai memakan makanannya, ia makan tanpa bersuara sedikitpun. Setelah makanan yang ada di piringnya habis, ia lalu meraih secangkir coklat hangat yang ada di hadapannya, ia meminumnya hingga tak tersisa sedikitpun.
"Sudah?" Tanya Adrian.
Lagi-lagi Anaya mengangguk.
Adrian bangkit dari kursinya dan langsung berjalan masuk ke kamar yang ada disamping kamarnya yang sudah disulap menjadi ruang kerjanya.
Tak lama Adrian keluar sambil membawa sebuah buku cek. Ia mendudukkan kembali tubuhnya ke kursi yang tadi ia duduki. Ia membuka buku cek itu, ia lalu menuliskan nominal uang yang Anaya butuhkan. Namun sebelum ia menyerahkan lembar cek itu, Adrian menyuruh Anaya menandatangani perjanjian yang mereka sudah sepakati.
Setelah Anaya menandatangani surat itu. Adrian langsung Menyerahkan lembaran cek itu tepat di hadapan Anaya.
"Ingat! besok kita akan menikah, jadi jangan coba-coba untuk kabur,"ucap Adrian dengan wajah datarnya.
Anaya tak menjawab, ia hanya terdiam. toh apapun itu, terserah Adrian akan melakukan apa, ia sudah pasrah.
***
Keesokan harinya Anaya sudah siap dengan kebaya putih sederhana, tak ada yang spesial dari kebayanya. Bi Asi yang ada di samping Anaya, memeluk erat keponakannya itu sambil menangis tergugu, sesekali ia mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.
"Bi, sudah, bi. Nay, baik-baik saja." Ucap Anaya berusaha kuat. Tak ada sedikitpun rasa sedih di wajah gadis itu. Ia tak ingin membuat bibi dan pamannya bersedih. Sebisa mungkin ia harus berusaha kuat dan pura-pura bahagia.
Tak lama terdengar seseorang mengetuk, pintu pun terbuka. Nampak seorang gadis berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
" Nona, apa anda sudah siap? Mempelai prianya sudah datang,"ucap gadis itu.
__ADS_1
"Sudah! sebentar lagi kami akan keluar,"ucap Anaya tersenyum di ikuti anggukan olehnya.
gadis itu mengangguk. tersenyum. lalu pergi meninggalkan Anaya. Anaya kembali menatap wajahnya dari pantulan cermin, ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya," kamu pasti kuat nay, Demi keluarga mu," lirih Anaya tanpa bersuara.
puas menatap pantulan wajahnya di cermin, ia bangkit dengan dibantu oleh Bi Asi berjalan menuju ruangan dimana ia akan melangsungkan ijab kabul bersama dengan Adrian.
Setelah sampai, Anaya di dudukan tepat di samping Adrian, dan acara sakral itu pun berlangsung hingga selesai.
***
Mobil Lamborghini Aventador milik Adrian berjalan dengan kecepatan tinggi membelah jalan ibukota. Saat ini ia sedang menyeringai menatap wajah Anaya yang sedang ketakutan di kursi penumpang.
Anaya mencengkeram kuat pegangan kursi yang sedang ia duduk, ia berpegangan sangat kuat disana.
"Tolong hentikan mobilnya, kita akan menabrak seseorang jika kau melajukan mobilnya terlalu kencang,"ucap Anaya dengan wajah piasnya.
Adrian tertawa mendengar ucapan Anaya. Ia kemudian menambahkan kecepatan mobil.
"Adrian! kau sudah gila,ya?" Bentak Anaya.
Hari ini Adrian berubah menjadi brigas setelah mendengar obrolan Anaya dan Rio setelah melakukan ijab kabul tadi. Semalam Adrian sudah berfikir panjang dan Adrian mencoba mulai ingin memperbaiki hubungannya dengan Anaya, tetapi setelah kejadian tadi pagi semuanya berubah.
Flashback on
Anaya menangis sesenggukan. Ia memeluk erat tubuh Rio yang saat ini diam membeku dengan membawa sebuket bunga.
"Mas! Maafkan aku, aku sungguh terpaksa melakukan ini, semua!" Ucap Anaya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Rio tidak menanggapi. hatinya hancur berkeping-keping saat mengetahui pernikahan Anaya hari ini. Tadi, setelah ia sampai di Bandara, bukannya pulang, ia malah langsung ke kediaman Anaya dan di sanalah ia mendapatkan kenyataan pahit, kalau kekasihnya akan melangsungkan pernikahan hari ini.
"lepas, nay! Pinta Rio. Ia berusaha melepaskan tangan Anaya yang memeluk erat pinggangnya.
"Mas, maafkan aku. Sungguh aku tak bisa ber….." sebelum Anaya melanjutkan ucapannya Rio sudah memotongnya.
"Cukup, nay! Semua sudah jelas sekarang, aku tidak mau lagi mendengar apapun alasanmu," pungkas Rio. Lalu berjalan meninggalkan Anaya. Tapi sebelum ia keluar ia membuang bunga yang ia pegang ke dalam tong sampah. lalu, berjalan meninggalkan anaya
__ADS_1
"Mas! Maafkan aku, aku mencintaimu," ucap Anaya langsung terduduk di lantai menangis sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
Dibalik pintu, Adrian berdiri sambil melipat tangannya di depan dada sambil setengah tersenyum, bibirnya terangkat keatas. Ia berjalan menghampiri Anaya.
"Dasar ******!"ucap Adrian. Ia berdiri tepat di hadapan Anaya.
Anaya mendongak ke atas, ia melihat Adrian yang sudah berdiri di hadapannya. Seketika Adrian langsung menariknya pergelangan tangan Anaya.
"Ikut aku,"Adrian menarik paksa tangan Anaya keluar dari gedung.
"Tapi, acaranya belum selesai, aku belum berpamitan pada Bi Asi."balas Anaya, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Adrian.
Adrian tidak menggubris, ia terus berjalan sambil menyeret Anaya masuk kedalam mobilnya.
Flashback end
***
Roda mobil Adrian berdecit keras, saat mobilnya berhenti tepat di dalam basement apartemennya.
Adrian lalu keluar, kemudian ia berlari memutari mobilnya. membuka pintu penumpang dan langsung menarik tangan Anaya Menuju ke unik miliknya.
"Aakkk,"pekik Anaya saat tangannya terus ditarik paksa oleh Adrian. Semua mata yang ada disana seketika memperhatikannya Saat mereka melewati basement menuju ke unit nya. Namun, Adrian tidak pedulikan hal itu, ia terus saja menyeret Anaya menuju ke unit.
Setelah mereka sampai di depan unit milik Adrian, Adrian lalu menekan kode pin digital door lock pintu unitnya, seketika pintu itu terbuka, Adrian kemudian masuk dan menyeret paksa Anaya menuju ke dalam kamar mandi. Saat mereka sampai di depan kamar mandi, Adrian lalu membuka pintu kamar mandi itu dan langsung menyeret Anaya masuk kedalam. Ia mendorong tubuh Anaya, hingga tubuh Anaya terpental kelantai.
"Aakkk," pekik Anaya kesakitan. Ia memegang pergelangan tangan yang terlihat tampak memerah. Air matanya mengalir, rasa sesak memenuhi seluruh rongga dadanya.
Adrian yang melihat itu, tersenyum puas
Adrian lalu maju dan langsung menyalakan kran air dengan temperatur tinggi. seketika air mengalir dari saluran shower. Anaya kemudian merinsuk mundur saat kulitnya terkena sapuan air panas yang mengalir dari shower.
Adrian kembali tersenyum. Ia lalu berjongkok. Mencengkram rahang Anaya.
"Ingat! Kau jangan berani macam-macam, aku sudah membeli harga dirimu seharga satu M," ucap Adrian dengan angkuhnya.
__ADS_1
Anaya diam, ia tidak membalas ucapan Adrian, tangisnya luruh. Saat ini, ia sudah pasrah, ia tidak peduli lagi tentang apapun yang akan dilakukan Adrian terhadapnya. Melawan Pun tak ada gunanya, toh memang benar Adrian sudah membeli harga dirinya seharga satu M.