
Pukul sembilan malam Anaya menginjakkan kakinya kembali di apartemen Adrian. Setelah membuka pintu, Anaya dan Adrian langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Anaya tersenyum kala melihat kamarnya yang tiga hari ia tinggalkan.
"Ada apa?" Tanya Adrian saat melihat Anaya terdiam, kemudian tersenyum.
Anaya mengeleng." Tidak apa-apa, mas. Aku hanya tidak menyangka bisa kembali ketempat ini." Kata Anaya.
Adrian yang baru saja menyimpan pakaian Anaya. Langsung menghampiri Anaya, kemudian memeluk pinggang Anaya." Kau jangan berpikir lagi untuk bisa meninggalkan tempat ini. Kecuali bersamaku."Adrian berbisik di telinga Anaya dengan jarak begitu dekat hingga membuat Anaya meremang.
Setelah berbisik di telinga Anaya, Adrian kembali mengeratkan pelukannya." Kau harus janji, jika kau tidak akan meninggalkan tempat ini."pinta Adrian.
Seketika Anaya mengangguk."iya, mas."jawab Anaya dengan malu-malu.
Adrian yang melihat wajah Anaya yang bersemu kembali berbisik di telinga Anaya."jika kau berani pergi, maka aku akan menghukummu."kata Adrian
"Menghukum?" Ulang Anaya.
"Iya, aku akan menghukummu dengan membuat baby junior." Balas Adrian. Namun sebelum menjawab. Adrian sudah lebih dulu mengangkat tubuh Anaya hingga Anaya terpekik kaget." Mas, apa yang kau lakukan."tanya Anaya.
"Kau bertanya apa yang akan aku lakukan? Tentu saja aku akan mengajarimu bagaimana caranya menghukum seorang istri."jawab Adrian dan langsung membawa Anaya dan menidurkannya di ranjang.
Tanpa menunggu menunggu lama, Adrian langsung melucuti pakaian yang di pakai Anaya.
"Mas? Apa yang akan kau lakukan." Tanya Anaya. Padahal ia sangat paham apa yang akan dilakukan oleh Adrian. Ia hanya malu, Hinggap ia pura-pura bertanya.
"Kan sudah mas katanya, mas akan menghukum mu." Jawab Adrian lagi.
Namun saat Anaya ingin kembali bertanya. Adrian langsung menci*m bibir Anaya. Anaya tidak tinggal diam, ia ikut mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian hingga mereka berci*man sangat lama, menyalurkan cinta yang perlahan tumbuh di Antara Keduanya
__ADS_1
Setelah itu, Adrian kemudian melakukan hal lebih, ia memperlakukan tubuh Anaya Dengan baik. Hingga Anaya merasa terbang di udara.
Melihat Anaya yang terus memejamkan mata sambil meremas, membuat Adrian semakin menggerakkan lidahnya hingga Anaya mencapai puncak.
Adrian tersenyum melihat expresi wajah Anaya. Namun tak lama kemudian Adrian bangkit dan langsung menyatukan adiknya dengan milik Anaya.
Ia terus mengguncang adik kecilnya, saat akan melakukan pelepasan Adrian mengunci tangan Anaya ke atas hingga ia menyemburkan sesuatu yang hangat ke surga dunia para Lelaki.
Entah sampai pukul berapa mereka menyelesaikan pekerjaannya. Adrian tidak ada lelahnya, bahkan saat adik kecilnya sudah memuntahkan isi laharnya, adik kecilnya itu kembali bangkit dan ingin memuntahkan apa yang ada di dalamnya
***
"Nay, kau tidak usah Bekerja." Kata Adrian yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Tapi aku bosan, mas. Jika harus terus-menerus di apartemen."balas Anaya. Ia menoleh pada suaminya
"Jika kau bosan, kau boleh ikut ke kantor. Tapi tidak untuk bekerja. Kau hanya boleh menemani ku bekerja." Kata Adrian. Ia mencium pipi Anaya dan langsung duduk di kursi. Kemudian menyeruput kopinya.
Ia duduk di samping Adrian. Kemudian mengambil nasi dan lauk pauk Adrian.
"Terima kasih, mau." Kata Adrian setelah menerima piring yang diberikan Anaya.
"Sama-sama, mas." Balas Anaya.
"Oh iya. Mas Hampir lupa. Kau tidak usah membersihkan apartemen. Kau cukup memasak saja. Nanti ada bibi yang akan membersihkan apartemen dan mengerjakan semua pekerjaan rumah." Kata Adrian lagi.
"Lalu aku harus ngapain, mas. Jika semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan orang lain." Balas Anaya. Ia memanyunkan bibirnya sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Tentu saja kau menemaniku Bekerja di ranjang. Kau hanya butuh istirahat di siang hari dan bekerja di malam hari di ranjang bersama ku." Goda Adrian.
__ADS_1
Anaya yang mendengar ucapan Adrian. Ia langsung mengambil selada dan melemparkannya ke arah Adrian.
"Itu sih kesukaan, mas." Kata Anaya kemudian mengerucutkan bibirnya.
Melihat Anaya yang mengerucutkan bibirnya. Adrian langsung terkekeh.
Setelah menghabiskan sarapan. Adrian pamit meminta izin pada Anaya Untuk berangkat bekerja.
"Sayang, mas berangkat dulu. Nanti mas akan pulang lebih awal. Kau hati-hati."kata Adrian kemudian mencium pipi.
Anaya mengangguk dan mencium punggung tangan adrian.
***
Setelah Adrian sampai di kantor, bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum. Ia seolah sedang memenangkan lotre puluhan miliar.
" Lo kesambet apa bro?" Tanya Erwin yang baru saja mendudukkan tubuhnya di samping adrian.
"Enak saja. Ngatain gue kesambet." Ucap Adrian dan kembali fokus pada berkas di tangannya.
"Lalu kalau orang yang senyam senyum sendiri namanya apa kalau bukan kesambet." Tanya Erwin. Ia terkekeh setelah mengucapkan itu.
Melihat Erwin yang terkekeh, Adrian lalu menimpali." Lo ngak akan tau rasanya jika Lo belum memiliki istri." Kata Adrian.
"Maksud, Lo?" Tanya Erwin lagi.
Adrian tersenyum." Dulu hidupku rasanya hampa. Berangkat dan kembali ke apartemen rasanya malas. Tetapi sekarang.... saat sudah memiliki istri. Hal yang paling membahagiakan adalah saat pulang ada seseorang yang menunggu ku pulang kerumah." Jawab Adrian. Ia tersenyum menengadahkan kepalanya ke atas kemudian bernafas berat. Terakhir kali aku merasa sebahagia ini saat ibu masih hidup dan sekarang kebahagiaan itu kembali saat Anaya sudah berada di sisi ku.
"Apa kau mencintai Anaya?" Tanya Erwin.
__ADS_1
Adrian mengangguk." Ia, aku sangat mencintai gadis itu. Akupun tidak menyangka bisa jatuh cinta pada Anaya. Kau tentu tahu bukan, semua mantan kekasih ku begitu cantik. Jauh berbeda dengan Anaya." Pungkas adrian
Erwin terlihat tersenyum. Dia menepuk pundak Adrian." Cinta memang seperti itu. Selalu datang dan pergi tanpa di suruh."