
Pria tinggi berparas tampan dan berkulit putih itu menaiki lift gedung tertinggi SS grup.
Ia tersenyum seraya menatap berkas yang ada di tangannya.
"Sebentar lagi kau akan hancur." Lirihnya lalu kembali menyunggingkan senyumnya.
Entah rencana apa yang telah ia buat. Namun yang pastinya ia masih menyimpan dendam pada keluarga Satrio.
Ya, dia memiliki dendam pada pamannya sendiri. Dendam keluarga yang membuat ayahnya meninggal akibat terkena serangan jantung.
Setelah terdengar dentingan, pintu lift seketika terbuka. Ia langsung keluar dan berjalan ke arah meja sekretaris.
"Apa tuanmu ada di ruangannya?"tanya pria itu.
"Ada tuan. Apa tuan sudah membuat janji dengan beliau?"Sinta mendongak menatap pria yang sedang berdiri di depannya.
"Aku belum membuat janji dengannya. Katakan saja pada bos mu. Tuan Candra ingin menemuinya," balas Candra dengan sikap angkuhnya
"Baik, tuan. Tunggu sebentar saya akan menghubungi tuan Cakra terlebih dahu."Sinta lalu mengambil telpon interkom yang ada di depannya. lalu menyambungkannya dengan telpon yang ada di ruangan Cakra.
"Silahkan masuk tuan. tuan Cakra sudah menunggu anda di dalam."Sinta berucap setelah mematikan sambungan teleponnya.
"Baiklah." Candra menjawab dengan senyum sombongnya.
Saat tiba di depan ruangan Cakra. Ia mengetuk dan setelah ia mendapatkan jawaban dari orang yang ada di balik pintu tersebut Ia langsung masuk dengan memutar knop pintu nya.
"Selamat siang, bro?" Sapa Candra berjalan ke arah kursi kerja Cakra. Sebisa mungkin ia harus bersikap sok akrab dengan sepupunya itu.
"Siang bro," Cakra menjawab dengan mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Ia tersenyum kemudian. Ia lalu menenggak duduknya dan langsung berdiri menyambut rekan kerjanya yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Saat tiba di depan kursi Cakra. mereka bersalaman. Setelah itu Cakra mempersilahkan sepupunya itu untuk duduk di kursi yang ada di depannya. Lalu kembali Duduk di kursinya sendiri.
"Ini berkas yang Lo minta. Silahkan Lo baca isinya. Semuanya sudah terlampir di sana,"Candra menyerahkan berkas yang ia bawa. lalu menyandarkan kembali punggungnya ke belakang.
Cakra mengangguk-anggukkan kepalanya saat membaca berkas yang saat ini ada di tangannya. Ia membuka lembaran demi lembaran.
"Baik, gue udah baca semua isinya dan gua bersedia bekerja sama dengan perusahaan yang Lo rintis. gua bersedia menjadi investor pertama Lo." Ucap Cakra lalu menandatangani surat kontrak kerjasama yang ada di dalam berkas tersebut. Kemudian menyerahkannya pada Candra.
"Yes, kena Lo sekarang."ucap Candra dalam hati setelah melihat Cakra menandatangani berkasnya.
"Terimakasih, bro" balas Candra.
__ADS_1
Cakra mengangguk.
Terdengar pintu diketuk. Sinta masuk dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya lalu meletakkan kopi itu di meja atasannya.
Saat melihat Sinta. Mata Candra menelisik penampilan Sinta dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Seketika itu bibirnya tersungging.
"Cantik juga," ucapnya dalam hati.
Saat Sinta keluar dari ruangan Cakra, mata Candra tak beralih sedikitpun.
"Woy, liatnya gak gitu juga kali," Cakra berucap membuyarkan lamunan Candra.
Candra tersenyum, ia menggaruk tengkuknya.
"Maaf bro. Sekretaris Lo cantik juga," balas Candra.
"Bukannya Lo udah punya istri," tanya Cakra.
" Gue udah pisah bro, dia mengugat cerai gue setelah melihat gue berselingkuh Dengan karyawan gue,"ia berucap tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Cakra menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sepupunya itu.
Pukul delapan malam Cakra sudah berada di rumah. Setelah menidurkan bayi Devano, ia menyusul ikut membaringkan tubuhnya di kasur.
Tepat saat Noureen bangkit, Cakra seketika mencegatnya. Ia memegang pergelangan tangan Noureen.
"Kau mau kemana?"Cakra memegang pergelangan tangan Noureen saat Noureen hendak bangkit dari kasur.
"Mau ke dapur mas, aku mau menyiapkan makan malam untuk kita," Cakra menarik kembali tangan Noureen dan menyandarkannya ke kepala ranjang, sedangkan ia bangkit dari berbaringnya dan ikut menyandarkan tubuhnya.
"Beristirahatlah, kau baru saja habis di operasi. Biar Bi Ima yang mengerjakan semuanya."
"Lalu aku ngapain mas, kalau kau melarangku untuk bekerja?" Tanya Noureen, bibirnya tampak mengercut saat Cakra melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah. Selepas Noureen di operasi Cakra tampak lebih posesif pada istrinya. Ia tak pernah mau membiarkan Noureen mengerjakan pekerjaan rumah. Kecuali melayaninya saat akan berangkat ke kantor dan saat di tempat tidur.
Cakra lalu meletakkan kepalanya di paha Noureen. Ia lalu memejamkan matanya. Menarik tangan Noureen untuk membelai rambutnya.
"Kau cukup melakukan ini setiap hari. Dengan cara ini rasa lelahku seharian di kantor seketika hilang," Cakra kembali berucap. Ya, ia tidak mau membuat Noureen kelelahan dengan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Baiklah," Noureen berucap. Ia mengikuti keinginan suaminya. Dengan perlahan dan lembut ia mengusap-usap kepala Cakra.
__ADS_1
Cakra tersenyum.
"Sayang," panggil Cakra. Matanya masih terpejam.
"Iya, mas."jawab Noureen.
"Apakah hari ini ada baby sitter yang datang kerumah? Aku sudah menelpon yayasan untuk mengirimkan baby sitter kerumah ini.
"Balum, mas, mungkin besok"jawab Noureen.
"Ya sudah tidak masalah, mungkin kriteria yang aku mau belum mereka dapatkan." Cakra berucap. Saat ini ia berusaha meraih tangan istrinya. Ia tersenyum saat teringat sudah hampir dua bulan ia belum menyentuh Noureen.
Saat tangannya meraih tangan Noureen, ia mengecupnya berkali-kali.
"Sayang," panggil Cakra, tangannya tak henti mencium- cium punggung tangan sang istri.
"Ada apa, mas?" Jawab Noureen.
"Sayang, sudah lama kita tidak melakukannya, apakah kita sudah boleh melakukannya?" Cakra berucap. Ia mendongak menatap wajah istrinya.
Mendengar itu Noureen seketika tersenyum. Ia sudah paham maksud perkataan suaminya.
"Sepertinya sudah boleh, mas." Noureen menjawab ia tersenyum sambil membuang wajahnya ke arah lain. Pasalnya saat ini wajahnya sudah sangat bersemu merah.
Sebenarnya saat ini, ia juga sangat menginginkan itu, pasalnya sudah lama juga ia tak mendapatkan sentuhan itu dari suaminya.
Seketika Cakra bangkit dari berbaringnya, ia mulai mengarahkan wajahnya ke wajah Noureen. Ia lalu ******* bibir merah bak delima yang ada didepannya itu. Tangannya terangkat menangkup pipi Noureen, sedangkan tangannya yang satu mulai melepaskan kancing piyama milik Noureen.
Saat kancing piyama milik Noureen sudah terlepas semua, dengan sangat perlahan ia langsung melepaskan piyama Noureen.
Setelah piama Noureen terlepas semua kini berganti cakra yang membuka piyama tidurnya.
Saat keduanya sibuk melakukan pemanasan. Terdengar suara baby Devano menangis.
Seketika Noureen mendorong tubuh Cakra dan langsung bangkit dari kasur, ia mengambil pakaiannya dan memakainya lalu berjalan ke arah box bayinya.
Cakra mengusap wajahnya frustasi. Belum juga tuntas hasratnya yang sudah terpendam selama dua bulan, semuanya kini berakhir dengan gangguan tangis bayinya.
"Ahhh, untuk melakukan itu saja sudah sangat susah," dengan raut wajah penuh kecewa, Cakra bangkit dari ranjang." Sayang, gagal lagi gagal lagi," ucapnya sambil melewati tubuh Noureen dan berniat masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskannya sendiri.
__ADS_1