Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 145. season 2


__ADS_3

Nay, maafkan aku Nay." Ujar Adrian sesaat setelah ia masuk ke dalam. Mobil.


Anaya tidak menjawab, ia masih menatap keluar jendela tanpa merespon perkataan adrian. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. untuk apa memulai sebuah ikatan jika di dalamnya masih belum ada kepercayaan satu sama lain.


Adrian mengusap wajahnya kasar. sungguh, ia sangat emosi sampai ia tidak menyadari perkataannya barusan yang dapat melukai hati Anaya.


"Nay, maafkan aku." Ujar Adrian. Ia meraih tangan Anaya, Namun buru-buru ditepis oleh Anaya.


Setelah cukup lama berkendara, akhirnya Adrian sampai di parkiran kantor, setelah terdengar suara kunci mobil terbuka. Anaya buru-buru keluar dari mobil tanpa memperdulikan Adrian.


Sesampainya Anaya di lobi, semua karyawan terlihat menunduk hormat padanya. Berbeda dengan tadi pagi, semua karyawan tidak ada yang menatapnya ataupun hormat padanya.


"Selamat, siang Bu." Ucap salah seorang karyawan yang berpapasan dengan Anaya.


Anaya hanya mengangguk menanggapi dan terus berjalan hingga sampai di depan lift. Saat Anaya sampai di depan lift. Ia tidak langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan, melainkan ia menunggu lift khusus karyawan terbuka.


"Nay, tunggu." Teriak Andrian di belakang Anaya. Ia terlihat ngos-ngosan saat mengejar Anaya.


Anaya tidak peduli, saat pintu lift khusus karyawan terbuka dengan cepat Anaya masuk. Ia tidak mau jika Adrian terus mengikutinya. Namun baru saja pintu lift akan tertutup. Buru-buru Adrian masuk dan bergabung dengan para staf yang ada di dalam lift.


Semua mata karyawan terlihat melihat  menatap Andrian dan Anaya dengan tatapan aneh. Tidak biasanya petinggi perusahaan mau masuk di lift ini bergabung dengan karyawan lainnya

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah semua staf, Adrian dengan tidak tau malunya merangkul bahu Anaya dan kembali menatap lurus ke depan." Maaf, tadi kami sempat kejar-kejaran dan tidak sengaja masuk ke lift yang salah." Ujar Adrian dengan expresi datar. 


Sesekali terlihat Adrian memejamkan mata." Bisa-bisa pamornya jatuh di depan karyawan jika ia tidak berbohong." Batin Adrian.


Anaya melirik ke layar digital kecil yang menampilkan angka urutan lantai yang tertera di layar itu. Berulang kali ia menghembuskan nafas kasar, Entah mengapa seolah waktu begitu lambat bergerak. Ia ingin cepat-cepat keluar dari lift ini. Rasanya gerah lama-lama berdekatan dengan Adrian.


Setelah pintu lift berdenting. Anaya buru-buru keluar dari lift, padahal lantai yang akan mereka tuju berada di lantai teratas." Nay, masih tiga lantai lagi." Teriak Adrian. Ia kembali mengejar Anaya. Anaya yang melihat Adrian mengejarnya, buru-buru melepaskan sepatunya. Dengan kaki yang tak Memakai alas, Anaya lari ke tangga darurat. Saat Adrian sudah mengejar Anaya, tiba-tiba semua karyawan yang masih ada di dalam lift seketika Tertawa. Ia tidak menyangka jika pria yang terkenal arogan dan pemarah bisa melakukan hal konyol seperti saat ini.


"Nay, kau mau kemana?" Teriak Adrian lagi.


"Kau jangan mengikutiku, aku akan tetap lari jika kau terus mengikuti ku."


"Baiklah. Aku tidak akan mengejarmu, tapi ku mohon berhenti. Kita bisa bicarakan semua ini baik-baik." Seru Adrian. Ia menekuk kakinya. Menetralkan nafasnya yang saat ini sedang naik turun.


"Nay,  kita bisa bicara baik-baik, aku bisa menjelaskan semuanya, maafkan aku, aku tadi emosi." Ujar Adrian. ia berdiri sambil memegang perutnya. Ia tak pernah berlari seperti ini.


"Tidak perlu, mas. Jelas kau tidak mempercayai ku."balas Anaya. Tak lama Anaya tersadar jika saat ini, ia sedang jadi bahan tontonan para karyawannya. Buru-buru Anaya mendekat dan mengapit lengan Adrian sambil nyegir." Ayo, mas." Ujar Anaya. Ia memejamkan mata saat menyadari jika sejak tadi semua karyawan menatapnya." Kalian jangan salah paham, kami sedang beradu akting." Ucap Anaya. Setelah itu ia kembali menarik tangan Adrian untuk masuk ke dalam lift. 


***


Setelah sampai di lantai teratas. Anaya langsung melepas tangan Adrian dan duduk dikursi kerjanya.

__ADS_1


"Nay, ikut aku." Titah Adrian ia menutup berkas yang baru saja di buka Anaya, kemudian Ia menarik tangan Anaya masuk ke dalam ruangannya.


"Apalagi, mas." Anaya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adrian.


Setelah mereka sampai di dalam ruang, Adrian kemudian menutup pintu ruangannya. Kemudian mendudukkan Anaya di kursi kerjanya." Maafkan aku, Nay." Adrian berjongkok di depan kursi yang saat ini di duduki Anaya.


"Untuk apa meminta maaf mas, besok juga kau akan melakukan hal sama. Kau tidak pernah mempercayai ku, kau hanya mengutamakan egomu. Aku bersumpah, setelah kita menikah, aku berusaha membuang jauh-jauh perasaan ku pada Mas Rio, walaupun sulit. Kau tahu sendiri bukan, aku dan Mas Rio menjalin hubungan kurang lebih enam tahun. sedang kau, mas. kita menjalin ikatan masih seumur jagung, belum genap sebulan. kita memang saling mengenal. Berawal saat aku tanpa sengaja menabrak kekasih mu dan aku terikat kontrak bodoh dengan mu tapi kita tidak punya hubungan. Jadi ku mohon mas, jangan terus-terusan menuduhku yang bukan-bukan." Ujar Anaya. Ia menyeka air matanya. Entah sampai kapan pria itu akan selalu menuduhnya.


Mendengar ucapan Anaya. Adrian kemudian Mengenggam tanggan Anaya, maafkan aku Nay, tadi aku emosi. Aku janji, tidak akan mengulangi hal yang sama." Adrian memohon pada Anaya. Ia menengelamkan kepalanya di atas pangkuan Anaya. Entah mengapa setiap kali bertemu dengan Rio. Emosinya selalu memuncak. Padahal tadi setelah menikmati makan siang mereka, Adrian sangat bahagia bahkan sangat bahagia.


Setelah mereka lama terdiam, Adrian kembali mulai berucap. jadi, bagaimana, Nay? Apa kau mau memaafkan ku?" Ujar Adrian. Ia memohon pada Anaya agar Anaya memanfaatkannya.


"Aku tidak bisa menjawab sekarang mas, kita lihat saja nanti sampai di mana usahamu." Lanjut Anaya.


"Nay, mas janji, tidak akan berbuat di luar kendali mas lagi." Adrian terus memohon. Terlihat jelas kesedihan di wajah tampannya yang biasa terlihat garang di hadapan semua karyawan.


Anaya menarik nafas dalam sungguh ia tidak tega melihat wajah Adrian saat ini." Baik, mas. Aku memanfaatkanmu."ucap Anaya.


Mendengar ucapan Anaya. Adrian langsung bangkit, ia mencium wajah Anaya secara bertubi-tubi kemudian mengucap syukur berkali-kali seolah saat ini ia sedang memenangkan lotre.


"Terima kasih, Nay." Ucap Adrian kemudian mengangkat tubuh Anaya dan memutarnya. "aku mencintaimu nay, sungguh sangat mencintai mu." teriak Adrian di dalam ruangannya. untung ruangan Adrian, ruangan yang kedap suara. jika tidak, pasti semua karyawan akan mendengar teriakannya.

__ADS_1


"Lepas, mas. Kepala ku pusing."seru Anaya. Ia memukul dada Adrian yang saat ini sedang Tertawa.


__ADS_2