
Apa kalian sudah siap?"tanya Noureen setelah ia masuk ke dalam apartemen putranya.
"Sudah, mom." Jawab Vano sambil menyeruput kopinya
"Ayo." Ajak Noureen
"Tunggu dulu mom, kami masih sarapan." Balas Devano.
"Ya sudah, mommy tunggu lima menit lagi, jika kalian belum selesai juga, mommy akan menyeret Kalian."kata Noureen sambil memainkan kuku-kukunya.
Cakra yang baru saja masuk ke dalam apartemen putranya, langsung melenggang masuk. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada disamping Devano lalu menyeruput kopi Devano hingga tandas.
"Dad." Ucap Devano, mulutnya menganga saat melihat kopinya habis diminum cakra."dad, aku baru minum sedikit, daddy malah menghabiskannya."protes Devano.
"Daddy tadi tidak sempat sarapan, mommy sudah mengajak daddy ke sini." Eluh Cakra.
Noureen yang berdiri di depan pintu hanya tersenyum, ternyata suaminya sangat pandai beradu berakting dengannya. Tadi, sebelum mereka akan berangkat ke apartemen putranya, sebenarnya Noureen dan Cakra sudah sarapan di rumah.
"Tunggu apa lagi Vano. Cepat bersiap!" Titah Noureen.
"Mommy, bisakah acara honeymoonnya ditunda dulu, Vano banyak kerjaan." Kata Devano.
"Tidak! Tidak ada tawar menawar dengan mommy, pokoknya cepat bersiap!" Noureen bersedekap di depan pintu.
Vano mendengus, ia bangkit dari kursinya mengambil sisa barang bawaannya dan keluar dari apartemen di ikuti Amelia.
Sesampainya mereka di lobi apartemen, mereka semua langsung masuk ke dalam mobi.l namun saat Vano ingin masuk ke kursi depan. Noureen menahannya.
"Kau duduk di belakang bersama istrimu." Titah Noureen.
Lagi-lagi Vano mendengus kasar, entah mengapa ia merasa mommynya begitu menyebalkan sekaligus keterlaluan.
Dengan terpaksa Vano masuk ke kursi belakang lalu duduk di samping Amelia.
Noureen mengulum senyumnya sambil mengedipkan matanya pada Cakra. Setelah itu, ia kembali sibuk dengan ponselnya.
Noureen tersenyum licik saat membalas pesan dari seseorang. Entah apa yang saat ini akan ia rencanakan.
Setelah hampir dua jam membelah jalan, mobil Cakra berhenti di Bandara.
"Kalian hati-hati, jangan lupa buatkan cucu untuk mommy dan daddy." Kata Noureen
Amelia tersenyum sedangkan Vano mendengus kesal.
"Vano berangkat mom." Pamit Devano lalu masuk ke dalam bandara.
Devano masuk ke dalam bandara di ikuti Amelia.
Dari jauh sepasang mata sedangkan mengikuti pergerakan mereka berdua masuk ke dalam ruang tunggu.
"Mom, jaga jarak." Ujar Adrian.
"Sssttt berisik, daddy diam. Entar ketahuan." Balas Anaya.
***
Pesawat Devano mendarat di Bandara Ngurah Rai tepat waktu menunjukkan pukul 12 siang.
Seorang pria bertubuh jangkung langsung datang menghampiri mereka Berdua.
"Pak Devano, Bu Amel."panggil pria itu.
"Benar, bli. Ada apa, yah?"
"Saya disuruh pihak hotel untuk menjemput anda di bandara."
"Iya, aku sudah mengetahuinya."balas Devano.
__ADS_1
Amelia beserta Devano melangkah mengikuti pria jangkung itu Menuju mobil yang sudah di persiapkan pihak hotel.
Namun, baru saja Devano akan masuk ke dalam mobil, dia berhenti melangkah, Devano menoleh.
"Ada apa?" Tanya Amelia saat melihat Devano berhenti.
"Tidak, sepertinya ada yang mengikuti kita."
"Ah, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Mana mungkin mommy Noureen mengikuti kita, kau lihat sendiri mobil daddy tadi keluar dari bandarakan?"ucap Amelia.
"Ya, kau betul juga. Mungkin hanya perasaanku saja." Devano masuk ke dalam mobil kemudian menyuruh supir untuk berangkat.
Setelah mobil hotel itu berangkat. Adrian dan Anaya keluar dari belakang pilar besar yang ada ditangah hotel.
"Cepat dad, mobilnya sudah berangkat." Seru Anaya.
"Tunggu dulu mom."
"Apalagi dad?"
"Aku ingin ke toilet."
Anaya mengeleng..
"Kenapa tidak sejak tadi sih dad." Anaya mendengus saat melihat Adrian berlari ke toilet.
Setelah melaju cukup jauh, mobil yang di tumpangi Devano sampai di hotel.
Devano keluar di ikuti Amelia.
"Selamat siang pak." Ucap petugas hotel.
"Siang, bli."jawab Devano.
"Saya akan menginap di sini." Devano mengeluarkan kertas yang tadi diberikan Noureen.
Petugas itu membaca kertas yang di berikan Devano." Atas Nama pak Devano?"
"Boleh minta KTPnya?"
Devano mengeluarkan KTP dari dalam dompetnya.
"Tunggu sebentar ya, pak. Saya akan melakukan registrasi terlebih dahulu, Anda bisa menunggu di sana." Pria itu menunjuk sebuah sofa yang ada di lobby hotel.
"Baik." Devano mengangguk lalu berjalan menuju sofa.
15 menit kemudian pria itu datang dengan membawa kunci kamar untuk Devano.
"Silahkan, pak." Pria itu memberikan kunci pada Devano.
"Mari saya antar." Ucap pria itu.
"Tidak perlu, kami bisa sendiri." Balas Devano.
"Selamat malam, pak. Semoga anda menikmati kamarnya."pria itu memberikan sebuah kertas pada Devano.
"Ini apa bli?"
"Bapak baca sendiri, saya hanya di tugaskan untuk memberikannya pada bapak."
Adrian mengangguk lalu membuka kertas itu.
"Jangan lupa, buatkan cucu untuk Daddy dan mommy."
Adrian mengeleng, ia meremas kertas itu.
"Ada apa?" Tanya Amelia.
__ADS_1
Devano memberikan bulatan kertas itu pada Amelia. Amelia membuka bulatan itu dan membaca isinya.
"Amelia terkikik. Mommy mu selalu ada di mana-mana." Ejek Amelia lalu melangkah melewati Devano.
"Hai kopermu." Panggil Devano
"Mas yang bawa, aku sudah kelelahan."ujar Amelia lalu kembali melangkah.
Devano mengeram frustasi.
"Kenapa hidupku seksial ini, terperangkap di Pernikahan gila macam ini."
Devano mengeleng.
Setelah mereka sampai di dalam kamar. Devano meletakkan dompet beserta ponselnya di atas meja lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Amelia yang sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu duduk di sofa lalu menyalakan televisi.
Saat sibuk mencari Siaran TV, ponsel Devano berdering.
Amelia mirik ponsel Devano. Di sana tertera my lovely.
Amelia mengeleng, berusaha tidak memperdulikan panggilan dari ponsel Devano. Namun, ponsel Devano terus berdering.
Amelia melihat ke kamar mandi, tidak ada tanda-tanda Devano akan keluar. Akhirnya dengan terpaksa ia mengangkat panggilan dari kekasih Devano.
"Hallo," jawab Amelia.
"Mana Vano?" Tanya Cristin yang ada di seberang telepon.
"Devano lagi di kamar mandi." Jawab Amelia.
"Kau siapa?"
"Aku Amelia." Jawab Amelia to the point.
"Apa yang kau lakukan di kamar Devano?"
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya menonton tv." Jawab Amelia santai.
"Kau jangan bohong." Teriak Cristin.
"Untuk apa aku bohong. Sudah lah aku lelah nanti saja kau hubungi Devano." Ucap Amelia lalu mematikan ponselnya.
"Apa yang kau lakukan dengan ponsel ku." Devano menarik ponselnya dari tangan Amelia.
"Aku tidak melakukan apa-apa pada ponselmu." Jawab Amelia ketus.
"Lalu untuk apa kau memegangnya?"
"Tadi, my lovely kau menelpon, aku sudah berusaha mengacuhkannya, tetapi ponselmu terus berdering
"Jawab Amelia.
"Ini ponselku, ini barang pribadi ku. Kau jangan coba-coba menyentuh Banda milikku, kita bisa saja berbagi kamar, tapi jangan harap kau bisa mendapatkan lebih dari ini." Ujar devano lalu melangkah meninggalkan Amelia dengan rasa kesal.
Amelia tersenyum meris. saat ini, hatinya sakit mendengar ucapan Devano. Tidak ada penghargaan sedikitpun untuk nya sebagai seorang istri. Amelia merasa hidup bersama orang asing di atap yang sama.
***
Pagi menyapa, matahari telah nampak dari gadis cakrawala.
Amelia mengerjap, ia lalu membuka matanya. Ia menoleh tak menemukan Devano di sampingnya. Tapi ia tidak mau ambil pusing, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Pagi ini ia berencana berjalan-jalan di pantai.
Setelah menikmati sarapannya yang ada di atas meja, Amelia keluar dari hotel.
Sesampainya Amelia di pantai, ia berjalan sambil melepaskan sandalnya ia berjalan menyusuri pantai sambil tersenyum melihat ombak yang sesekali menyentuh kakinya.
__ADS_1
Setelah lama berjalan, Amelia melihat sebuah batang pohon besar. Amelia mendekat pada pohon itu lalu mendudukkan dirinya di sana. Amelia menatap lurus ke depan entah apa yang saat ini ia pikirkan.