
Mobil Adrian berhenti di sebuah butik yang sangat terkenal di Jakarta, butik yang menjual barang dengan brand ternama. tak jarang pejabat serta artis ibukota yang menjadi langganan butik ini.
"Ayo turung." Adrian membuka sabuk pengamannya kemudian mengajak Anaya untuk keluar dari mobilnya.
"Untuk apa kau mengajakku ke sini?"Anaya menatap Adrian meminta penjelasan.
"Kau ikut saja, tidak usah banyak protes." Adrian keluar dari dalam mobil meninggalkan Anaya yang masih diam mematung.
Dengan terpaksa Anaya membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari mobil mengikuti langkah Adrian masuk kedalam butik.
Saat tiba di dalam butik salah seorang karyawan butik menghampiri mereka.
"Ada yang bisa saya bantu tuan." Tanya karyawan itu dengan sopan.
"Tolong pilih gaun yang cocok untuknya, gaun terbaik di butik ini." Telunjuk Adrian mengarah ke Anaya.
" Baik pak." Karyawati itu mengangguk paham.
Anaya menatap Adrian, meminta penjelasan terhadap pria itu, sejak tadi ia tak tahu maksud dan tujuan Adrian mengajaknya ke sini. Ia benar-benar sangat bingung.
Adrian tak menghiraukan Anaya. Ia kemudian berjalan ke arah sofa sambil menunggu Anaya yang selesai memilih gaun.
Anaya menghela nafas, mau tidak mau ia harus mengikuti kemauan Adrian. Tanpa menunggu lagi, Anaya langsung beranjak dari tempatnya dan langsung mengikuti kemana karyawan itu membawanya.
Adrian mengulas senyum saat menatap punggung Anaya yang hilang di balik pintu. Rencananya kali ini tidak boleh gagal. Ia tidak mau bertunangan ataupun menikah dengan wanita macam Siska. Selama ini Adrian tahu bagaimana sepak terjang wanita di luaran sana, entah sudah berapa banyak pria yang menidurinya.
Setelah Anaya mengambil beberapa gaun yang sesuai dengannya. Ia kemudian berjalan masuk ke arah fitting room. Anaya mencoba satu persatu gaun yang diambilnya dan Pilihannya jatuh pada dres selutut, dress renda bunga crochet berwarna abu Dengan ikat pinggang gesper kulit berwarna coklat.
Anaya menatap pantulan tubuhnya di cermin lalu berputar beberapa kali. Ia tersenyum. " Cantik!" Ucapnya lalu mengusap permukaan kain dari dressnya.
Anaya keluar dari dalam fitting room, berjalan ke arah Adrian.
"Bagaimana." Tanya Anaya.
Adrian kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Anaya.
" Bagus! "Jawabnya singkat, lalu meminta kepada salah satu Karyawan untuk membungkus gaun pilihan Anaya.
Setelah memilih gaun, Anaya beralih ke rak penyimpanan hand heels. berbagai merek dan model ia coba dan pilihannya jatuh pada sepatu open toe dengan tinggi heel 8 cm berwarna coklat.
" Mbak saya pilih ini," ucap Anaya setelah mencoba sepatu open toe Pilihannya.
" Baik nona." Ucap karyawati yang melayani Anaya.
__ADS_1
Kini Anaya beralih ke rak penyimpanan tas, ia berjalan mengitari rak penyimpanan tas branded. Dan pilihannya jatuh pada Sling bag berwarna coklat.
Tiga puluh menit berselang, Anaya keluar dari dalam ruangan, ia menghampiri Adrian yang sibuk berselancar dengan benda pipih di tangannya.
Tanpa bicara Anaya mendudukkan bokongnya disalah satu kursi yang ada disana.
Ia menghela nafas.
"Adrian!" Panggil Anaya. Namun, Adrian tak menjawab. " Adrian!" Panggil Anaya lagi. Dan kali ini Adrian menoleh.
"Ada apa? Apa kau ingin barang yang lain?" Jawab Adrian. Namun Anaya mengeleng.
" Lalu?
" Aku bingung, sebenarnya apa tujuanmu mengajakku kesini! Sejak tadi aku seperti orang bodoh mengikuti semua perintahmu, tanpa tahu arah dan tujuannya." Tanya Anaya. Pasalnya sejak tadi Adrian tak berkata apapun, ia hanya mengikuti semua perintah Adrian.
" Nanti kau akan tau sendiri, ayo, ikut aku." Adrian berdiri dan langsung berjalan ke arah kasir untuk membayar semua barang yang dipilih Anaya.
Setelah Adrian membayar dan menerima paper bag yang diberikan oleh kasir, kini mereka keluar dari dalam butik Menuju mobil Adrian yang terparkir tepat di depan butik.
Mobil Adrian kini melaju menuju salon terbesar di kota Jakarta, salon kecantikan yang biasa menjadi langganan kalangan atas.
Saat mobil Adrian sampai di halaman salon, Anaya mengernyitkan keningnya. Lalu menatap ke arah Adrian.
"Tida usah banyak nanya, buruan turung!"
"Ngak mau! Jawab dulu, semua ini untuk apa?" Bentak Anaya, nada bicaranya naik satu oktaf, ia benar-benar bingung dengan semua ini.
Adrian tak menjawab, ia malah keluar dari mobil lalu berlari kecil membuka pintu mobil Anaya.
" Ayo, nanti akan ku jelasin semuanya."
Anaya tak bergeming.
"Aku hitung mundur, dimulai dari 3, kalau kau belum juga bergerak, jangan salahin aku jika kau harus membayar denda. Kau masih tidak lupa kan dengan surat perjanjian kontrak yang kau tanda tangani."
Anaya Menghela nafas.
" Ok, ok, aku keluar."
" Gitu donk, dari tadi kek."
Kini Anaya duduk didepan maja rias, dengan telaten seorang pegawai salon merias wajah anaya. Anaya hanya bisa pasrah dengan semua perintah Adrian, tanpa bisa menolak.
__ADS_1
Tiga jam kemudian, Anaya keluar dari ruangan dengan tampilan yang anggun, make up natural dengan dress renda selutut, rambut digerai berombak dengan sedikit hiasan.
Anaya menghampiri Adrian.
" Bagaimana?." Anaya berdiri di hadapan Adrian tanpa expresi.
Andrian menoleh menatap Anaya. Menatap anaya tanpa berkedip. Adrian kemudian memperjelas tatapannya, dan benar saja itu adalah Anaya, ia sempat terpesona dengan kecantikan Anaya. Namun, buru-buru ia menepisnya, ia tak ingin Berpikiran terlalu jauh.
Dan disinilah mereka, Adrian memarkirkan mobilnya tidak jauh dari kediaman Suhendi Abraham, orang tua dari Adrian.
Adrian mulai menjelaskan secara perlahan niatnya pada Anaya, ia meminta Anaya, untuk menjadi kekasih pura-pura nya, agar perjodohannya di batalkan oleh sang ayah. Namun, Anaya menolak, ia tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Adrian. Urusannya dengan Adrian hanya sebatas atasan dan bawahan sampai masa perjanjian kerja sama itu berakhir.
"Tidak! Aku tidak bisa! tolong jangan paksa aku." Anaya berusaha keluar dari mobil. Namun tangannya dicekal oleh Adrian.
" Plis, bantu aku, aku janji, setelah perjodohan ini batal, kau boleh meminta apa saja, aku akan menurutinya, termasuk membatalkan perjanjian kerjasama kita."
Saat mendengar ucapan Adrian tentang pembatalan kontrak kerja sama Mereka. Mata Anaya berbinar.
" Kau tidak bohong kan?
Adrian mengeleng." Aku tidak bohong."
"Ok aku mau, tapi kau harus berjanji, jangan sekali-kali ingkari"
"Iya, bawel banget sih."
Setelah mereka sepakat, Adrian kemudian melajukan mobilnya masuk ke pekaran rumah mewah bak istana milik Suhendi Abraham yang tak lain adalah ayahnya.
Sebelum keluar dari dalam mobil, Adrian bertanya," bagaimana? Apakah kamu sudah siap?
Anaya menarik nafasnya lalu membuangnya ia menatap Adrian, kemudian mengangguk pasti.
" Ayo," ajak Adrian saat anaya keluar dari dalam mobil.
Sebelum masuk Adrian merangkul tangan Anaya sambil berbisik.
"Ingat disini kita seolah sepasang kekasih."
" Iya, aku tau!"
Dari dalam rumah terlihat gadis kecil berlari diikuti seorang Baby sitter datang menghampiri Adrian sambil berteriak.
"Kakak!"
__ADS_1