
Setelah Adrian dan Anaya pulang dari pemakaman, ia tak langsung pulang, melainkan ia pergi ke kediaman papanya.
"Di mana Viona?" Tanya adrian pada bibi yang selama ini menjaga Viona.
"Di kamar den" bibi berucap dengan menunjuk kamar yang saat ini ditempati Viona.
Adrian lalu berjalan menuju kamar. Membuka pintunya dengan sedikit pelan. Di sana ia melihat Viona yang duduk sambil memeluk foto pak suhendi.
Adrian Berjalan mendekat dan duduk di samping Adiknya. Adrian mengusap rambut panjang Viona." Kau jangan bersedih lagi, ada kakak di sini."
Viona yang semula menunduk sambil menangis. Kini ia mendongak menatap Adrian." Kakak papa." Isak Viona.
Adrian kembali mengangguk dan membawa bocah itu ke dalam pelukannya." Kau tidak usah bersedih lagi, ada kakak yang akan selalu menanti mu."
Viona kembali mendongak. Kemudian wajahnya terlihat berubah sendu." Pasti kakak bohong." Viona kembali menunduk.
"Hai. Kakak tidak bohong, kakak janji, akan selalu bersama viona. Viona juga boleh jika ingin menginap di apartemen kakak."
"Apa boleh?" Viona kembali mendongak.
"Tentu boleh, di sana ada kak Anaya." Adrian kembali mengusap rambut panjang adiknya.
Viona terlihat kembali tersenyum." Terimakasih, kak."
Viona kembali memeluk tubuh Adrian.
__ADS_1
Tak lama pintu diketuk dari luar. Anaya masuk dengan membawa nampan di tangan.
"Viona makan dulu yah?" Anaya ikut duduk di samping Adrian.
Viona terlihat mengangguk." Aku tidak mau makan kakak."
"Viona harus makan. Kalau Viona tidak makan, viona bisa sakit. Viona kan ingin ke apartemen kakak." Bujuk Adrian.
Mendengar Adrian menyebutkan apartemen, viona kembali menatap sang kakak. Kemudian mengangguk.
"Baik kak, aku akan makan."
Dengan telaten Anaya mulai menyuapi Viona, sesekali ia mengusap bibir Viona yang tampak belepotan. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Adrian. Adrian tersenyum kemudian.
Adrian mengetuk beberapa kali. Tak lama, Tampak Bu Indri keluar dengan mata sembabnya.
"Tente, Adrian izin ingin mengajak Viona ke apartemen, besok saat acara tahlilan, aku dan Anaya akan mengantarnya pulang."
Tante Indri terlihat mengangguk. Tidak banyak yang ia ucapan. Ia masih syok dengan kejadian yang terjadi. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah Anaya, Viona dan dirinya sudah berada di dalam mobil, Adrian lalu menyalakan mesin mobilnya. Meninggalkan kediaman papanya.
Sesampainya mereka di apartemen. Viona mengendarakan pandangannya. Ini rumah Kaka?" Tanya Viona polos.
Adrian mengagguk.
__ADS_1
Anaya tersenyum melihat tingkah polos adiknya.
Adrian dan Anaya kemudian mengajak Viona untuk kekamarnya.
***
Sudah sepekan berlalu setelah meninggal pak Suhendi. Adrian kini berdiri menatap keluar gedung. Ia memandang bangunan tinggi yang ada di depannya.
Terdengar pintu terbuka. Seketika lamunan Adrian buyar.
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan bukti?" Tanya Adrian.
"Belum, tapi detektif yang sudah kita sewa sudah mulai mencari bukti."
Adrian terlihat mengangguk." Aku sangat yakin, Jika semua ini buka murni kecelakaan. Ada orang yang sengaja mencelakakan papa."
Adrian terlihat menghembuskan nafas. Kemudian memutar tubuhnya.
"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan bukti. Jika memang ada seseorang yang dengan sengaja mencelakakan papa. Maka, aku tidak akan memaafkan orang itu." Adrian terlihat mengepalkan tangannya.
Erwin terlihat mengangguk dan menghampiri bosnya." Gue akan berusaha, bro. Lo jangan terlalu khawatir." Erwin meyakinkan Adrian.
Sebenarnya semua ini, ia lakukan hanya untuk Viona. Bocah itu begitu terpukul atas kepergian papanya. Adrian pernah merasakan kehilangan orang yang sangat ia sayangi dan hal itu membuatnya terpukul hingga saat ini.
Walaupun hubungan dengan papanya tidak begitu baik. Tapi ia akan berusaha mencari siapa pun yang berniat melukai keluarga.
__ADS_1