Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 171. season 2


__ADS_3

"Mas, sakit." Eluh Anaya. Keringat dingin sudah mulai membasahi keningnya.


"Sabar, Nay." Adrian hanya bisa berucap, saat Anaya terus mengeluh kesakitan.


Adrian memandang ibah pada Anaya yang terus mengeluh kesakitan, mungkin jika rasa sakit Anaya bisa berpindah padanya, Adrian dengan sukarela akan menggantikan Anaya.


"Sus, bagaimana? apa bayinya sudah bisa Dikeluarkan? istriku sudah tidak kuat." Adrian menghampiri seorang suster yang berjaga di ruang persalinan.


"Sabar, pak. Bu Anaya masih pembukaan tiga." Balas suster.


"Harus menunggu berapa lama lagi, sus? Istriku sudah sangat kesakitan." Geram Adrian saat belum ada satu tenaga medis yang memberi tindakan pada istrinya.


Suster yang berjaga di sana seketika menciut." I..ini sudah prosedurnya, pak. Ha...rus menunggu sam..Pai pembukaan 10." Jawab perawatan itu gugup.


Adrian menghitung jarinya, Anaya masih pembukaan 3, berarti masih ada 7 pembukaan.


Mata Adrian langsung membulat." Sus, berarti istriku harus menunggu 7 pembukaan lagi?"


Sunter itu mengangguk.


Sontak membuat Adrian memukul meja yang ada di ruang operasi." Kalian semua tidak becus, apa aku harus melaporkan kalian semua pada direktur rumah sakit!" Bentak Adrian.


"Pa…" belum Adrian melanjutkan ucapannya, Anaya sudah memanggilnya.


"Mas, sakit." Ucap Anaya lagi.


Mendengar panggilan Anaya, Adrian langsung berlari menghampiri istrinya. Ia menggenggam tangan Anaya lalu mengecup pucuk kepala Anaya. Sungguh ini titik terandah yang di rasakan Adrian. Ia tidak sanggup melihat istrinya kesakitan. Tanpa sadar air matanya sudah mengalir membasahi wajah tampannya.


Anaya yang menyadari suaminya menangis langsung mendongak. Anaya memegang pipi Adrian, menghapus air mata Adrian menggunakan ibu jarinya." Aku baik-baik saja, mas. Mas tidak usah khawatir. Aku pasti bisa melahirkan anak kita." Kata Anaya dengan suara super Pelang.


Adrian tidak menjawab, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ia takut, sangat takut kehilangan Anaya, melihat Anaya yang kesakitan rasanya ia tidak sanggup untuk berdiri tegap.


"Mas, sakit." Anaya meremas lengan Adrian saat sakit di bagian bawah perut semakin menjadi-jadi. Anaya menggigit bibir.


"Tarik, nafas, Bu." Seorang bidan datang disamping brankar Anaya setelah suster yang tadi keluar. Suster itu pergi dan memohon pada rekan kerjanya agar menggantikannya di ruang bersalin. Nyalinya menciut saat seorang pria temperamental yang tak lain adalah Adrian membentaknya.


Bidan itu lalu menyuruh Naya menekuk kakinya." Maaf yah Bu, saya akan memeriksa pembukaannya."


Anaya tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil.


Bidan itu lalu memeriksa pembukaan.


"Bagaimana sus?" Tanya Adrin yang terlihat sudah tidak sabar.


"Masih pembukaan lima, pak. Bapak sabar, semoga secepatnya pembukaannya maju."

__ADS_1


Lagi-lagi Adrian mengusap wajahnya kasar. Tadi ia sudah meminta persetujuan Anaya untuk melakukan tindakan operasi. Namun, Anaya menolak, ia hanya akan melahirkan bayinya dengan cara normal.


"Ada cara lain tidak, Bu. Agar pembukaan istri saya lebih cepat maju?" Tanya Adrian.


"Kalau ibu masih kuat berjalan, ada baiknya, ibu berjalan-jalan agar pembukaannya cepat maju." Balas Bu bidan.


Adrian menoleh pada Anaya. Anaya mengaguk pertanda ia bisa melakukan itu.


Adrian kembali mendekat pada Anaya. Membantu Anaya untuk bangkit dari brankar.


"Apa kau masih sanggup?" Tanya Adrian ia memandang wajah Anaya secara intens.


"Masih, mas."jawab Anaya dengan suara super pelan.


Adrian membantu Anaya turun dari brankar, memeluk sang istri dengan penuh sabar." Jika kau tidak kuat, katakan. Kita beristirahat."


Anaya mengangguk.


Sambil berpelukan, Adrian membantu Anaya berjalan-jalan di sekitar area ruangan bersalin.


Anaya menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya saat perutnya semakin kram. Anaya mencengkeram pakaian Adrian saat rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi-jadi.


Tanpa malu dengan semua pengunjung rumah sakit yang sedang lalu lalang. Adrian duduk dan membawa Anaya ke dalam pangkuannya. Mengusap-usap perut Anaya sambil bergumam." De, jangan nakal, kasian mommy dia sudah sangat kesakitan. Keluar yuk." Lirih Adrian dengan wajah yang penuh khawatir.


"Apa masih sakit, sayang?" Tanya Adrian


"Mau jalan lagi, atau kita masuk. Jalan lagi mas, tapi aku mau pipis dulu."


"Ya sudah, ayo."


Adrian kembali membantu Anaya masuk kedalam kamar mandi. Setelah meminta izin pada petugas, akhirnya Adrian boleh masuk dan membantu Anaya. Aroma Persing, bau amis manjadi satu di ruangan itu, tapi Adrian tetap tidak peduli, menurutnya menjaga keselamatan Anaya di toilet jauh lebih penting ketimbang memusingkan hal yang tidak begitu penting.


"Mas, sudah ." Ujar Anaya.


Adrian kembali membatu Anaya keluar dari kamar mandi. Tepat saat keluar dari kamar mandi, Anaya kembali merintih kesakitan.


"Apa sakit lagi?" Tanya Adrian saat Anaya kembali memeluknya erat sambil meremas punggungnya.


Anaya mengagguk. Tak lama sakit perutnya menghilang.


"Ayo, mas. Rasanya sudah hilang. Sambil berpelukan, Adrian kembali membantu Anaya untuk berjalan-jalan di area ruangan inap, setelah sejam berjalan, Adrian kembali membawa Anaya ke brankar.


Petugas di sana langsung berjalan menuju brangkar Anaya. Ia kembali mengecek.


"Sudah pembukaan 7." Ucap bidan.

__ADS_1


"Kira-kira berapa lama lagi saya menunggu , Bu?"tanya Adrian.


Bidan itu melihat jam Tangannya. "Sepertinya lima jam lagi, pak."


"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk istri ku." Ujar Adrian.


Setelah bertanya pada bidan, Adrian kembali duduk di samping brankar Anaya. Menggenggam tangan Anaya dengan penuh cinta. Sedangkan tangan satunya sesekali mengusap perut Anaya.


"De, cepat keluar, Kasin mommy, dia sangat kesakitan." Lirih Adrian.


Dari luar seorang wanita dan pria sekitar 59 tahun-an masuk ke dalam ruangan bersalin. Ia menghampiri bidan lalu bertanya tentang pasien bernama Anaya.


Setelah mendapatkan informasi dari bidan, bi asih dan pak Darwis menghampiri brankar Anaya.


"Apa masih sakit nduk? Tanya Bi asih.


"Sakit Bi, tapi cuma sebentar." Ucap Anaya.


"Sabar yah nduk."Bu asih mengusap kepala Anaya. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa, sepanjang hidup Bi asih tidak pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan. Itu sebabnya ia hanya bisa mendukung Anaya.


"Akkk, sakit mas." Teriak Anaya. Mendengar teriakan Anaya, sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan bersalin menoleh padanya.


Dokter yang baru saja datang, langsung menghampiri Anaya.


"Maaf yah Bu." Ucap dokter itu saat memasukkan jarinya ke dalam jalan lahir Anaya.


Dokter tersenyum.


"Pembukaan sembilan. Siapkah semua peralatan medis!" Dokter Aminah berucap.


"Kira-kira berapa lama lagi ya dok." Tanya Adrian.


"kami tidak bisa memprediksikan pak, semoga secepatnya bayi anda lahir."


Adrian tersenyum mendengar ucapan dokter, ia berjalan mendekat dan duduk di samping brankar istrinya.


Adrian lalu mencium pucuk kepala Anaya. Setelah itu mencium seluruh wajah Anaya.


"Sabar yah ,sayang. Kau pasti baik-baik saja."


Anaya mengangguk sambil menggigit bibirnya. Rasa sakitnya semakin lama semakin bertambah sakit.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2