
Sudah dua Minggu Noureen berada di ruang intensive care unit mount Elizabeth hospital Singapore. Namun, sampai detik ini, belum juga ada kemajuan tentang kondisinya.
Ya, dua belas jam pasca operasi, Noureen dinyatakan kritis akibat pendarahan hebat yang dialaminya pasca operasi pengangkatan rahimnya. Ia terpaksa harus di di rawat di intensive care unit mount Elizabeth Singapura hospital.
Di dalam ruang ICU terlihat Noureen terbaring di atas brankar dengan sebuah selang yang di sambungkan ke hidungnya melalui ventilator, sedangkan patient monitor memantau keadaan fisiknya.
Selama dua Minggu ini, Cakra tak pernah sedetik pun meninggalkan Noureen. Dengan setia, ia berjaga di sana. Cakra menyewa satu kamar untuknya beristirahat.
Sedangkan Baby Devano masih menunggu hasil pemeriksaan dari dokter anak yang menanganinya.
Cakra keluar dari ruang ICU. Ia baru saja menjenguk Noureen. Tiap hari ia datang ke ruang ICU untuk sekedar mengobrol dengan sang istri.
Sesampainya di depan pintu, seorang suster datang menghampirinya.
"Pak, dokter anak ingin bertemu dengan anda,"
"Ada apa, ya, sus?" Tanya Cakra.
"Kurang tau juga pak, silahkan anda bertanya langsung pada dokternya,"
Seketika Cakra mengangguk dan langsung berjalan Menuju ruang dokter yang menangani putranya.
Sesampainya di depan ruangan dokter, Cakra berhenti sejenak. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya takut jika ada hal buruk yang menimpa putranya.
Setelah ia rasa membaik, Cakra kemudian melangkah kembali masuk kedalam ruangan dokter.
"Selamat siang, dok," Cakra menyapa setelah tiba di dapan meja dokter lalu menyalaminya.
"Siang, silahkan duduk, pak."
"Ada apa, yah, dok?"
Dokter itu mengambil sebuah amplop di atas mejanya, dan langsung mengeluarkan isinya. Ia mulai membaca hasil tes untuk Baby Devano.
"Setelah saya membaca dan meneliti hasilnya, Bayi anda dinyatakan sehat dan hari ini juga, dinyatakan sudah boleh di bawa pulang," dokter itu tersenyum.
"Alhamdulillah." Cakra tersenyum dan mengucap syukur. Selama dua Minggu ini baby-nya di rawat dan ia di nyatakan sembuh.
Cakra berjalan keluar dari ruangan Dokter menuju ruang NICU. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan bayinya. Karena selama baby Devano lahir Cakra belum pernah menggendongnya walau sekali.
__ADS_1
Sesampainya di ruang NICU, Cakra terlebih dahulu mencuci tangannya, lalu menyemprotkan hand sanitizer ke tangannya kemudian mengganti pakaiannya lalu masuk ke ruangan NICU.
Saat masuk ke dalam, Cakra tersenyum saat perawat mulai melepaskan selang dari tubuh Baby Devano lalu memindahkannya ke box bayi.
Cakra kemudian mendekat ke box bayinya. Menyapa Baby Devano.
"Hay, jagoan papa." Cakra membelai pipi putranya."
"Maaf, karena hanya papa yang bisa menjengukmu saat ini. mommy masih di ruangan ICU. Ayo kita berdoa untuk mommy, agar mommy bisa segera sadar dari komanya." Seketika Cakra menengadahkan kepalanya ke atas. Menahan rasa sesak yang memenuhi seluruh rongga dadanya. Tangannya terangkat menghapus cairan bening di ujung kelopak matanya.
Lama menatap putranya, ia teringat sesuatu. Tidak mungkin jika bayinya akan ikut menunggu sang mommy di rumah sakit.
Dan akhirnya ia memutuskan menghubungi mama Ratna dan Bu citra yang ada di hotel karena sampai hari ini, mereka berdua masih berada di Singapura. Hanya pak Satrio yang pulang ke Indonesia untuk mengurusi perusahaannya. Walaupun di sana ada Alex, tetap saja ia butuh tanda tangan pemilik perusahaan untuk menandatangani semua surat pentingnya.
***
Dua jam kemudian. Bu citra dan mama Ratna datang untuk menjemput cucunya.
Sesampainya di ruangan bayi. Ia langsung mencari box Baby Devano. Tepat di box ke tiga paling sudut ia melihat box atas nama Ny. Noureen.
Seketika senyum mereka mengembangkan. Ia menghampiri box Baby Devano.
Baby Devano, hanya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, sesekali matanya melirik kesana sini. Lidahnya sesekali menjulur keluar, mengecal-ngecap ujung pergelangan tangannya.
Kini Pipinya terlihat sudah mulai menyembul. Ya, dua Minggu di dalam inkubator bobot tubuh Baby Devano bertambah. Buktinya hanya dalam kurung waktu dua Minggu, Baby Devano sudah dibolehkan pulang.
***
Setelah mengurus semua berkas-berkas kepulangan Baby Devano. Cakra lalu berjalan ke ruang Baby untuk bertemu dengan mama dan mertuanya.
Saat sampai di ruang bayi. Ia melihat mamanya sudah menggendong Baby Devano. Ia mendekap cucunya sambil menidurkannya.
Cakra kembali tersenyum.
Andai istrinya tidak mengalami koma, mungkin saat ini Noureen lah yang akan mendekap putranya.
Saat Cakra sampai di samping Mama Ratna. Ia kemudian menatap putranya yang kini sedang tertidur. Ia mengusap-usap pipi putih mulus putranya sambil tersenyum.
"Cak, udah cuci tangan belom? Kasian vanonya," mama Ratna menegur putranya saat Cakra terus saja mengelus pipi putranya.
__ADS_1
"Lupa, Mah," Cakra nyengir sambil menggaruk punggungnya yang tidak gatal.
"Ya, udah Cakra cuci tangan dulu." Cakra meninggalkan ruangan bayi menuju ke toilet.
Setelah mencuci tangannya Cakra kemudian kembali lagi ke ruang bayinya.
Saat tiba di sana, terdengar Bu Ratna dan Bu citra mengobrol tentang apartemen yang dekat dari mount Elizabeth.
Seketika ia lalu menghampiri mamahnya dan Mertua.
"Apartemen apa mah?" Tanya Cakra sesaat setelah tiba di ruangan bayi.
"Ini lho Cakra. Mama dan Bu citra berencana menyewa apartemen yang dekat dari sini. Kasian vano kalau kita harus tinggal di hotel. Setidaknya kita menyewa apartemen sampai vano berusia 40 hari, sampai ia bisa di bawa pulang kembali ke Indonesia."balas mama Ratna.
Cakra mengangguk," baiklah! Nanti aku akan menyuruh Alex untuk mengurus semuanya. Untuk hati ini vano di bawa ke hotel dulu. Semoga besok Alex sudah mendapatkan kontrakannya."
Bu citra dan mama Retna tersenyum menanggapi dan langsung mengangguk.
"Baiklah."
Setelah vano di bawa pulang oleh ke dua neneknya.
Cakra kembali berjalan ke ruang ICU, saat ia tiba di sana. Ia melihat dokter dan perawat berlari keluar, masuk dari ruang ICU. Seketika Cakra dilanda kepanikan.
"Sus, ada apa, ya?" Tanya Cakra dengan wajah datarnya.
"Ada Pasien kritis, pak."
"Siap sus?"
"Nanti yah pak, kami sedang sibuk," suster itu mendorong meja instrumen masuk kedalam ruang ICU.
Cakra mengusap wajahnya kasar. Punggung tangan, Ia taruh di mulutnya. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Semoga bukan, Noureen.
Jangan sampai itu istriku, ya tuhan.
Maaf hari ini author telat update, saya di perkebunan, susah dapat signal.🙏🙏
__ADS_1