Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 118. season 2


__ADS_3

Nay! Apa yang kau lakukan?"tanya Erwin, ia menarik tangan Anaya hingga Anaya terjatuh mengenai tubuhnya.


" Jangan menyentuhku! Kau jangan berani mendekat!" Anaya belum menyadari jika Erwin yang baru saja menarik tangannya.


" Nay! Ada apa denganmu? Sadar nay! jangan gila!" bentak Erwin, sambil memegang pundak Anaya kemudian mengguncang tubuh Anaya.


Anaya bukannya menjawab, ia malah menghambur memeluk tubuh Erwin sambil menangis. Saat ini, ia baru menyadari jika yang saat ini menolongnya adalah Erwin. Tadi pagi Erwin berangkat ke Bogor untuk menghadiri meeting dengan pihak Rw grup terkait pembangunan cabang Abraham di Bogor. Namun Adrian menghubungi nya jika ia tidak bisa menghadiri maeting itu dan menyuruh Erwin untuk mengantikannya.


Rasa kesal, sedih, jijik, benci, serta malu menyatu di dalam tubuhnya. Ia tak tahu harus melakukan apa setelah ini. Di pikirannya, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin.


Erwin membalas pelukan Anaya, ia mengusap lembut rambut panjang gadis itu." Kau kenapa, nay?" Tanya Erwin. Ia menatap Anaya heran, pasalnya beberapa hari yang lalu, ia melihat anaya baik-baik saja." lalu dimana Adrian, apa yang terjadi pada Anaya?"batin Erwin lagi. Namun, Anaya masih tidak menjawab pertanyaannya, Anaya masih terus saja menangis.


" Yah sudah kalau kau tak mau menjawab. Ayo masuk ke dalam mobil." Ajak Erwin, kemudian membawa Anaya masuk kedalam mobilnya. setelah Anaya masuk, ia kemudian menutup pintu mobilnya kemudian berlari kecil dan langsung masuk kedalam kursi kemudi.


Sejam membelah jalan, dari Bogor menuju Jakarta akhirnya akhirnya Erwin sampai di apartemennya, ia mengajak Anaya turun dan membawanya masuk ke dalam apartemennya. Tak ada pembicaraan keduanya, Anaya masih sibuk dengan pikirannya, begitupun Erwin.


Sesampainya di unit apartemennya, Erwin lalu menyuruh Anaya untuk duduk di sofa. sementara itu, Erwin masuk kedalam kamarnya untuk mencari pakaian ganti untuk Anaya. Beberapa lama kemudian Erwin keluar.


" Pakailah, ganti pakaian mu, nanti kau sakit," ujar Erwin saat menyerahkan pakaian ganti untuk Anaya.


Anaya menatap erwin kemudian mengangguk dan langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Anaya keluar dengan memakai kemeja longgar milik Erwin. Ia berjalan pelan Menuju sofa dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana.


 Erwin menatap Anaya, ia meneguk ludah nya kasar. Ada perasaan aneh yang dirasakan Erwin saat ia menatap Anaya. Anaya tampak menggoda saat mengenakan kemeja miliknya.

__ADS_1


Erwin kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain membuang pikiran buruk yang saat ini ada di otaknya. 


" Gimana nay? Cocok?" tanya Erwin, lalu kembali sibuk menuang air panas kedalam cangkirnya.


Anaya mengangguk," terima kasih, kau sudah dua kali menolong ku." Seru Anaya. ada rasa sungkan saat menerima kebaikan dari Erwin lagi. 


"Gak masalah, nay. kitakan partner. kalo kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk minta tolong pada ku."ucap Erwin kemudian menaruh secangkir teh tepat dihadapan Anaya.


" Terimakasih." Seru Anaya mengangguk dan langsung tersenyum setelah mendengar ucapan dari Erwin. Tak lama Erwin kembali bertanya.


" Nay, kau ada masalah apa? Bicaralah." Erwin menatap manik hitam yang juga sedang menatapnya.


Namun, Anaya mengeleng. Ia tak ingin menceritakan semua masalah yang menimpanya pada siapapun termasuk bibi dan Pamannya, sehingga ia memilih untuk bungkam.


" Oooo." Ucap Erwin sambil menyeruput secangkir teh yang ada ditangannya. Ia melirik Anaya sekilas, ia tersenyum miring mendengar Jawaban Anaya barusan. Erwin bukan orang bodoh yang gampan untuk di bohongi. Tentu saja ia tahu jika Anaya punya masalah. Namun pria itu memiliki tidak melanjutkan pertanyaan.


Ketika Erwin dan Anaya sibuk mengobrol, terdengar suara bel berbunyi. Erwin kemudian bangkit dari sofa lalu berjalan ke arah pintu.


Tak lama Erwin kembali dan menyerahkan sebuah paper bag pada Anaya. Anaya lalu menerima paper bag yang di berikan Erwin.


"Ini apa win?" tanya Anaya saat membuka paper bang yang di berikan Erwin Padatnya.


" Itu pakaian untuk mu,  tadi aku memesannya karena pakaian mu basah dan tidak memiliki ganti. tidak mungkin kau pulang dengan memakai kemeja ini kan? Ujar Erwin, lalu kembali mendudukkan tubuhnya di sofa kemudian menyeruput kembali teh yang ada di cangkirnya.


***

__ADS_1


Adrian baru saja sampai di apartemennya. saat pintu terbuka ia kemudian masuk lalu merebahkan tubuhnya di kasur, ia menyandarkan kepalanya ke atasan lalu membuka kancing kemeja bagian atasnya.


Saat ini, pikirannya hampa, ada perasaan yang tidak enak saat memikirkan nasib Anaya yang ia tinggalkan di hotel tadi. Namun, Adrian berusaha acuh, toh ia sudah memberikan Anaya beberapa lembar uang. Dan akhirnya ia bangkit dari sofa, kemudian mengulum lengan kemejanya sampai batas siku dan berjalan menuju minibar. ia harus meneguk beberapa botol wine untuk menghilangkan pikirannya tentang Anaya.


Setelah Adrian sampai di mini bar. Ia langsung membuka kulkas yang ada di sana. Mengambil sebotol wine dan gelas kemudian berjalan ke arah kursi. Adrian menuangkan cairan coklat kehitaman itu pada gelasnya, kemudian meminumnya hingga tandas. Tadi setelah ia berkeliling di Villa dan menenangkan perasaannya di sana. Adrian memutuskan untuk kembali.ke Jakarta.


***


Di kamar Anaya duduk diatas kasur  sambil menekuk kedua kakinya. Air matanya kembali mengalir saat mengingat perlakuan Adrian padanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan mengalami hal Buruk semacam ini.


Anaya yang saat ini duduk di kasur bergerak, ia menarik laci yang ada di nakas kemudian mengambil cincin yang tempo hari diberikan oleh Rio. Rasa bersalah memenuhi dadanya, ia benar-benar merasa bersalah pada Rio. entah bagaimana ia menjelaskan pada Rio tentang apa yang terjadi pada dirinya. Anaya memejamkan mata, tangisnya tak dapat dibendung lagi.


Lama menangis, akhirnya  ia memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dari perusahaan, ia sudah tak sanggup jika harus bertemu dengan Adrian, rasa jijik benci serta muak pada Adrian membuatnya tak ingin lagi bertemu dengan pria itu. Soal masalah denda yang nantinya akan dilayangkan oleh Adrian padanya, ia sudah tidak peduli lagi.


Keesokan harinya, pagi-pagi Anaya sudah berdiri tepat di depan ruangan direktur utama. Ia kemudian menarik nafas panjang lalu melangkah masuk kedalam ruangan, ketika sampai di depan meja direktur utama, anaya lalu mengambil amplop dari dalam tasnya kemudian langsung menaruhnya tepat di atas meja.


Setelah menaruh amplop coklat yang berisi surat pengunduran diri, Anaya kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan Adrian. Setelah ini, ia berniat ingin memulai hidupnya yang baru, ia tak ingin lagi hidup dengan bayang-bayang Adrian lagi.


.


.


.


Jangan lupa, like, komen, vote. Di akhir bulan ada gift untuk dukungan terbanyak.

__ADS_1


__ADS_2