
Sudah Empat hati Noureen dan Cakra di Paris. Namun mereka belum mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Paris. Hari pertama mereka di sana, Cakra menghabiskan waktunya dengan drama rumah tangga yang tak kunjung selesai. Ia terus mengurung Noureen di bawah kunjungannya. Hari kedua Noureen sempat menyasar dan tak tahu jalan pulang, akibatnya Noureen mengalami demam keesokan hatinya.
Dan pagi ini, Noureen sudah tampak segar.
"Reen, apa kau sudah siap?" Tanya Cakra.
"Bentar lagi, mas." Jawab Noureen yang masih duduk di meja rias sambil memperbaiki Make Upnya.
Cakra menggeleng mendengar ucapan istrinya, sudah dua jam Cakra menunggu di sofa. namun belum ada tanda-tanda Noureen selesai dengan urusan make up-nya.
Lama menunggu, akhirnya noureen berjalan menghampiri Cakra." Ayo, mas."ajak Noureen.
Cakra menoleh ke sumber suara. Ia tersenyum kala ia mengendus aroma harum dari tubuh Noureen. Ia lalu bangkit berjalan ke arah Noureen." Kau sangat wangi, sayang. Alangkah baiknya jika kita menghabiskan satu ronde sebelum kita berangkat." Canda Cakra.
Noureen Membulatkan matanya saat mendengar ucapan suaminya. Mana mungkin ia akan menghabiskan satu ronde lagi di ranjang sedangkan tadi ia bersiap hampir memakan waktu tiga jam.
Dengan cepat Noureen menggeleng." Tidak, Mas! Yang ada kita ngak jadi berangkat." Tolak Noureen.
Mendengar ucapan Noureen, seketika Cakra terkekeh.
"Satu ronde saja. Yah, yah, sayang?"
Noureen kembali mengeleng." Tidak, mas. Ayo cepat berangkat." Ujar Noureen mendahului Cakra keluar dari pintu.
Melihat istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu, mau tidak mau Cakra harus mengikutinya. Ia sudah berjanji akan mengajak Noureen berkeliling kota Paris selama dua hari sebelum Mereka kembali ke Indonesia.
Setelah keluar dari apartemen, Noureen merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar kota Paris.
"Akhirnya." Ucap Noureen.
Cakra menoleh dan tersenyum melihat tingkah laku istrinya.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Cakra.
"Hmmm, ada apa, mas?"
"Hari ini kau mau kemana dulu? Menara Eiffel, Arch de Triomphe, Place de la Concorde, Museum Louvre, atau Notre Dame Cathedral?" Tanya Cakra sambil membaca brosur yang saat ini ia pegang.
Noureen Tampak berpikir." Bagaimana jika kita ke Arch de Triomphe, gapura itu sangat terkenal. aku juga pernah mendengar jika di sana ada sebuah makam tantara saat peran dunia pertama." Ujar Noureen mengingat tentang gapura di Paris yang Pernah ia lihat di sebuah siaran tv.
Cakra mengangguk mendengar ucapan istrinya." Ayo." Ajak Cakra. ia meraih tangan istrinya kemudian mengenggamnya dan berjalan menyusuri trotoar.
Sepanjang jalan mereka bercerita, melemparkan senyum dan candaan kebahagiaan mereka. Dulu di awal pernikahan Noureen dan Cakra tidak pernah membayangkan akan berada di posisi saat ini. Berjalan bergandengan tangan serta saling memiliki satu sama lain.
Setelah berjalan cukup jauh, Cakra menyetop sebuah taksi Menuju ke gapura Arch de Triomphe.
***
Tiga puluh menit melintasi jalan, akhirnya taksi yang di kendarai Cakra dan Noureen berhenti. Ia keluar dari taksi setelah membayar beberapa lembar kepada sopir taksinya.
Lagi-lagi Noureen tersenyum. Matanya di buat takjub akan keindahan bangunan yang ada di depannya. Noureen mengambil Kamera yang ada di dalam tasnya kemudian memberikannya kepada sang suami.
Cakra mengangguk kemudian tersenyum lalu mengambil Kamera yang di berikan Noureen.
Noureen lalu mundur beberapa langkah berdiri di dekat patung yang ada disana kemudian berpose bersama patung. Setelah mengambil beberapa gambar dirinya, ia menarik tangan Cakra." Ayo foto berdua." Ujar Noureen dan meminta tolong kepada pengunjung di sana untuk memotret mereka berdua.
Setelah puas mengambil gambar dirinya dan sang suami kini Noureen beralih untuk mengelilingi tempat itu. Di depan gapura kemenangan, Noureen membaca sebuah tulisan( Arch de Triomphe, dibangun pada tahun 1806 ) ia sempat memotret, lalu berjalan masuk kedalam gapura.
Di dalam gapura terdapat sebuah air mancur dengan bentuk melengkung, di sana juga terdapat beberapa makam tentara peran dunia satu dan dua yang di atasnya terdapat sebuah lentera yang apinya tak pernah padam. Konon katanya api ini adalah api untuk mengenang jasa para tentara yang mati di saat peran dunia satu dan dua.
Setelah puas berjalan-jalan di area luar, kini Noureen dan Cakra beralih masuk kedalam gapura. Ia menaiki lift untuk menuju lantai teratas gedung yang terdapat sebuah museum di dalamnya.
Sesampainya di lantai teratas, lagi-lagi Noureen di buat takjub akan pemandangan dari atas jika melihat kebawah. Di atas Noureen kemudian berjala-jalan mengitari museum, Membaca rentetan sejarah di bangunnya gapura ini. Setelah itu Noureen kemudian melihat ke arah tangga yang terdapat di museum itu, tangga Menuju ke atap gedung itu. Disana ada 46 anak tangga yang bisa kita lalui jika ingin melihat keindahan gapura lebih jelas.
__ADS_1
Tiga jam Noureen mengitari area gapura Cakra mengajaknya ke suatu tempat.
"Kita mau Ke mana, Mas?tanya Noureen saat Cakra mengajaknya ke suatu tempat.
"Kau tidak usah banyak tanya, sayang. Pokoknya kau ikut kemana mas akan membawamu." Ujar Cakra ia berjalan mengitari trotoar dan menyuruh Noureen menunggu di sebuah garden bench yang ada di pinggir jalan. Tak lama Cakra datang dengan mengunakan sepeda motor.
Kening Noureen mengerut saat melihat Cakra mengunakan sepeda motor." Mas dari mana kau bisa mendapatkan ini?" Tanya Noureen. Noureen tampak heran dimana Cakra mendapatkan motor ini, pasalnya ini di Paris bukan di Indonesia. Mana mungkin suaminya memiliki kerabat atau teman di sini.
"Aku menyewanya pada seseorang." Jawab Cakra." Ayo Naik." Noureen tak bergeming. Ia belum bergerak sama sekali. Ia masih memandangi motor yang saat ini di gunakan oleh suami.
"Cepat Naik!" Ujar Cakra. Menyadarkan Noureen.
Tak lama Noureen mendudukkan tubuhnya tepat di belakang Cakra. Saat ini ia masih terdiam, belum berbicara sama sekali. Setelah Noureen Duduk dengan sempurna, Cakra mulai menyalakan mesin motornya menuju ke alamat yang ia akan tuju.
Angin berhembus menerpa wajah keduanya, Cakra meraih tangan Noureen agar mengeratkan pelukannya. Cakra kembali tersenyum saat merasa tangan Noureen melingkar begitu kuat di pinggangnya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya motor yang di kendarai Cakra berhenti di jembatan pont Des Arts bridge di mana terdapat banyak gembok Cinta yang terpasang di sana.
Noureen tersenyum saat melihat jembatan yang di bawah terdapat sungai Seine. Ia lalu menoleh ke arah ribuan gembok yang terpasang di jembatan itu.
"Mas," panggil Noureen saat melihat ribuan gembok itu.
"Hemm." Jawab Cakra. Ia berjalan ke samping Noureen setelah memarkir motornya beberapa meter dari tempat itu. Lantas mengeluarkan sebuah gembok dari dalam sakunya." Ini untuk apa mas?" Tanya Noureen. Walaupun ia sudah tau maksudnya, ia kembali bertanya kepada sang suami.
"Aku ini menggembok cinta kita di sini, agar tak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut." Cakra berjalan kepinggir jembatan sambil mengenggam tangan Noureen.
"Ucapkan permintaan mu." Ucap Cakra setelah memasang gembokmya di sisi jembata. Noureen mengangguk dan mulai memejamkan mata di ikuti Cakra di sampingnya. Sebenarnya Cakra dan Noureen tidak begitu percaya dengan hal semacam ini. Namun tidak ada salahnya jika hanya menaruh gembok dan mengucapkan permohonan cinta di sana.
.
.
__ADS_1
.
Selamat Membaca.