Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 139. season 2


__ADS_3

Setelah Adrian dan Anaya menikmati sarapannya, Anaya langsung menyuruh Adrian untuk bersiap.


"Kau tidak boleh tinggal lebih lama di apartemen, aku tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak ingin pak Suhendi marah dan melimpahkan semua kesalahan pada ku." Ujar Anaya, ia mendorong tubuh Adrian untuk segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap berangkat ke kantor. Namun saat mereka sampai di kamar, bukannya bersiap, Adrian malah mendorong tubuh Anaya hingga terjatuh tepat di atas kasur.


"Apa yang ingin kau lakukan." Tanya Anaya.


"Melakukan yang seharusnya kita lakukan." Ucap Adrian dengan senyum misterius.


"Kau harus ke kantor. Jangan macam-macam Adrian." Ucap Anaya menatap tajam Adrian.


Adrian bukannya takut dengan tatapan Anaya. Ia malah menindih tubuh Anaya. " Baiklah aku akan mengikuti perintah mu, tapi ada satu syarat?"ujar Adrian.


Anaya mengeryitkan keningnya." Syarat?"Anaya mengulang ucapan Adrian.


" Iya , syarat." Balas Adrian.


"Kau jangan macam-macam, Adrian."Anaya berusaha melepaskan diri dari Kungkungan, Adrian.


"Ya sudah, jika kau tidak mau, aku akan tetap di posisi ini." Ancam Adrian.


"Baiklah. Apa syaratnya."


"Kau jangan memanggilku dengan sebutan nama. Aku ingin kau memanggilku dengan sebutan berbeda. Seperti sayang, cinta, suamiku, honay, mas, kak. Atau semacamnya."pinta Adrian.


Anaya mengeleng." Tidak! Aku tetap akan memanggilmu Dengan sebutan seperti biasanya."tolak Anaya.


"Baiklah. Kalau itu maumu, aku tidak akan memaksa. Tetapi sampai seminggu kedepan aku tidak akan ke kantor dan kau harus melayani ku setiap waktu."


Mendengar ucapan Adrian. Mata Anaya langsung melebar." Tidak boleh seperti itu. Bagaimana nasib para karyawan mu, bagaimana nasib perusahaan jika kau membuatnya terbengkalai." Ujar Anaya.


Adrian kembali tersenyum mendengar penuturan Anaya." Jika kau tidak ingin semua itu terjadi. Cepat panggil aku dengan panggilan spesial." Titah Adrian. Ya adrian saat ini mengancam Anaya agar Anaya mau memanggilnya dengan panggilan sayang. Tentu saja hal itu hanya akal-akalan Adrian semata. Ia tidak mungkin membiarkan perusahaannya terbengkalai dan jatuh bangkrut. Perusahaan itu adalah salah satu peninggalan mendian  ibunya. Ia tidak mungkin membuat perusahaan ibunya bangkrut begitu saja. 


Anaya menghela nafas berat." Baiklah. Kau ingin aku memanggil mu dengan sebutan apa?" Tanya Anaya. Anaya lebih memilih mengalah dengan suaminya, dari pada memperpanjang masalah.


" Kau ingin apa?" Tanya Adrian. Ia memajukan wajahnya hingga saat ini, wajah mereka hanya berjarak dua senti. 


"Terserah." Balas Anaya.


Adrian tampak berfikir." Bagaimana jika kau memanggilku dengan sebutan, Mas." Titah Adrian.

__ADS_1


Anaya menarik nafas." Baiklah, mas." Ucap Anaya.


" Ulang! Wajah mu sepertinya tidak ikhlas. Aku ingin kau memanggilku sambil tersenyum." Titah Adrian.


"Mas, mas Adrian." Ucap Anaya di ikuti senyum


Adrian tersenyum." Iya, ada apa istriku." 


Mendengar apa yang di ucapkan Adrian. Seketika anaya terkikik geli. Sungguh rasanya bulu kuduknya berdiri mendengar ucapan Adrian barusan.


"Sudah kan? Cepat bangun." Pinta Anaya.


Bukannya bangun. Adrian langsung menyerang Anaya dengan ciuman wajah Anaya secara bertubi-tubi dan berakhir ******* bibir Anaya. Setelah melepaskan ciumannya, Adrian berbisik di telinga Anaya." Aku ini melakukannya, satu ronde, sebelum aku ke kantor, anggap saja itu sebagai bekal ku selama aku di kantor agar aku tidak merindukan mu." Pinta Adrian.


Anaya memutar bola matanya malas. Ia pasrah dan langsung mengangguk. Karena sekalipun ia menolak pria di depannya ini tetap akan merengek dan membuat urusan mereka bertambah Lebih lama lagi.


Suara Jarum jam berdetak, seirama hembusan nafas yang terdengar beradu di sebuah ruangan yang tidak begitu luas Namun begitu nyaman untuk di jadikan tempat beristirahat. 


Jamari lentik itu terlihat menekan saat tubuhnya terasa terombang ambing di bawah Kungkungan seorang pria yang membuatnya melayang hingga kelangit ke tujuh. 


"Aku mencintaimu." Tiba-tiba Adrian melontarkan kata cinta setelah mengakhiri permainan. Ia langsung merebahkan tubuhnya dan mengatur nafasnya yang saat ini sedang naik turun.


***


Pukul sembilan pagi, Adrian terlihat baru keluar dari kamarnya dengan jas berwana abu. Ia keluar dari dalam kamar dan menghampiri Anaya yang sedang duduk di sofa sambil memindahkan Chanel TVnya. 


"Nay, aku pamit." Ujarnya satelan mengambil kunci mobil yang ada di meja. 


Anaya menoleh dan langsung mengangguk.


"Hati-hati, Adrian." Ujar Anaya.


Seketika Adrian menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke arah Anaya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Anaya kemudian mengigit kuping Anaya.


"Akkk, sakit Adrian."Anaya memegang kupingnya yang baru saja di Gigit Adrian.


"Kau memanggilku apa tadi? Hah? Bukankah kau sudah berjanji?"


Anaya tersenyum." Maaf mas, aku lupa." Ujar Anaya tersenyum kecut. Ia berusaha menjauhkan wajahnya dari Adrian. Ia tidak ingin Adrian mengigit kupingnya atau meminta hal lebih.

__ADS_1


"Begitukan bagus." Tangan Adrian bergerak mengusap kepala Anaya. Setelah itu, ia bangkit dari tubuh Anaya dan memperbaiki jasnya.


"Aku pamit." Ujar Adrian. Menyerahkan tangannya pada Anaya. Anaya yang belum faham. Langsung menoleh pada Adrian." Apa lagi?" Balas Anaya.


"Kau tidak mau mencium tangan Suami mu?" Tanya Adrian.


Anaya menghembuskan nafas kasar. Kemudian meraih tangan Adrian dan langsung menciumnya.


Adrian tersenyum. tetapi langkahnya terhenti saat Anaya kembali memanggilnya." Adrian?"


Adrian menoleh"Ada apa Nay? Kau mau bilang jika kau melarang ku kekantor? Kau tidak mau jika aku meninggalkan kan mu sendiri di apartemen?"ujar Adrian. 


Dengan cepat Anaya mengeleng." Bukan itu, tapi...Bolehkah Aku kembali bekerja? Aku bosan jika harus berada di rumah seharian." Balas Anaya. Ia menatap Adrian dengan wajah melas, ia benar-benar bosan jika terus berada di apartemen sendiri.


Adrian menghembuskan nafas berat." Baiklah, nanti akan ku pertimbankan."pungkas Adrian.


Anaya mengangguk, seraya tersenyum bahagia.


Setelah itu Adrian pamit untuk berangkat.


***


Waktu menunjukkan pukul satu siang, Adrian yang saat ini berada di kursi kerjanya belum berpindah sama sekali. Ia masih memeriksa semua laporan yang sempat beberapa hari ini tertunda akibat ia tinggalkan karena asik bergelut di kasur dengan istri tercintanya.


Saat sibuk memeriksa berkasnya, Erwin masuk ke dalam ruang kerja Adrian  dan langsung menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada diseberang Adrian.


Adrian yang saat ini memeriksa berkasnya melirik sekilas lalu kembali fokus pada berkas yang ada di depannya.


"Bro, yuk keluar, gue lapar nih." Ujar Erwin. Ia memegang perutnya yang sejak tadi berbunyi.


"Lo duluan saja. Entar gue nyusul. Gue mau neyelesain pekerjaan gue agar bisa pulang lebih awal." Balas Adrian.


"Ayolah, bro. Gue lapar banget. Ngak asik makan sendirian.' ujar Erwin.


"Kalau Lo ngak mau makan sendiri, ya sudah nikah sana, biar ada yang nemenin."balas Adrian.


Erwin menghembuskan nafas kasar."Ayolah bro." Pinta Erwin terlihat sedikit memaksa.


Adrian yang masih sibuk memeriksa berkasnya melirik Erwin sekilas, Sungguh asistennya ini sangat menyebalkan. Dengan malas, Adrian menutup map di depannya dan langsung berdiri."ayo." Ajak Adrian. 

__ADS_1


Mereka lalu meninggalkan ruangan Adrian dan keluar menuju lift para petinggi perusahaan. Setelah sampai di lantai bawah. Mata Erwin seketika memejam, ia meremas tangan. Baru saja ia akan mengajak Adrian keluar agar terhindar dari Siska. Namun sebelum mereka keluar ternyata Siska lebih dulu berada di lobi.


__ADS_2