
Wanita cantik, tinggi, putih, rambut digerai serta kaki yang terlihat jenjang sedang duduk tidak jauh dari kursi yang diduduki pria itu. Ia menopang kakinya sebelah lantas menyunggingkan senyumnya, menunggu reaksi dari obat yang tadi di bawah pelayan itu.
"Yes, berhasil." Ucap wanita itu saat melihat pria yang tak lain adalah Adrian sudah tersandar di kursi sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Wanita itu berdiri dari kursinya, tersenyum dan langsung berjalan ke arah kursi Adrian." Apa ada yang bisa aku bantu?" Wanita itu menekuk kakinya dan duduk di samping kursi Adrian.
AdrianĀ Menyipitkan matanya menatap wanita yang saat ini duduk di depannya tanpa permisi." Tidak, Terima kasih. Kepalaku hanya pusing. Sebentar juga akan hilang." Ujar Adrian. Berulang Kali ia menggelengkan kepalanya, meraup kesadaran yang sepertinya akan menghilang.
Wanita itu tersenyum, lantas memegang paha Adrian." Apa anda ingin di bantu kembali ke kamar anda?"tanya wanita itu yang tak lain adalah Siska.
"Tidak. Terima kasih." lagi-lagi Adrian menolak bantuan Siska. Wanita itu telihat tersenyum tanpa ada rasa kecewa yang terlihat di sana saat Adrian kekeh pada pendiriannya.
__ADS_1
"Baik kalau begitu." Ucap wanita itu. Namun sebelum berdiri, ia sempat kembali mengusap paha Adrian sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Saat wanita itu baru akan beranjak tiba-tiba Adrian terjatuh, ia bersandar di punggung kursi. Saat ini kesadaran Adrian sudah mulai menghilang.
Lagi-lagi wanita itu menyunggingkan senyumnya, kemudian mengambil ponsel di saku tasnya." Hallo, sasaran susah pingsan, tolong bawa dia ke kamar 324, aku akan menunggunya di sana." Wanita itu berucap sambil berbisik kemudian mematikan ponselnya dan beranjak.dari tempat itu.
***
Seketika ia mengernyit, saat menyadari jika kamar ini bukan kamarnya lantas ia bangkit dari berbaringnya dan mendudukkan tubuhnya di kepalang ranjang. Matanya seketika membulat saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang, ia kemudian menoleh ke sampingnya, mendapati seorang wanita sedang tidur di sana, ia lalu menyadari jika wanita itu bukan Anaya.
Ia menyibak selimutnya. Betapa terkejutnya Adrian saat mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang yang melekat disana, ia menoleh dan mendapati wanita itu sama seperti dirinya.
__ADS_1
Adrian Menyipitkan matanya memandang wanita di sampingnya, betapa terkejutnya ia saat menyadari jika wanita itu adalah Siska. Adrian buru-buru turun dari ranjang dan memakai pakaiannya, bersamaan itu Siska mulai membuka matanya." Kau sudah bangun?" Tanya Siska tanpa tahu malu.
"Apa yang kau lakukan di sini?! Bentak Adrian.
"Bukankah kau yang mengajakku ke sini, lantas mengapa kau bertanya begitu?" Mata Siska tampak berkaca-kaca, ia mulai memerangkan actionnya.
"Tidak, tidak mungkin. Semalam aku ada di pesta, aku tidak bertemu dengan mu ataupun mengajakmu ke kamar.
"Adrian, jadi kau pikir aku wanita murahan? Yang masuk ke dalam seorang kamar pria tanpa permisi. Haa?
Siska bangkit dari berbaringnya, menarik selimut hingga batas dada kemudian mengeluarkan air mata. Ia terlihat menangis, berusaha mengeluarkan air matanya menyedihkannya.
__ADS_1
Adrian terduduk, ia merinsuk ke lantai, lantas mengusap kepalanya." Aku tidak mungkin melakukan ini!" Adrian terus meyakinkan dirinya. Ya memang, jika dulu Adrian akan berekspresi biasa saja saat tidur dengan beberapa wanita, tapi sekarang tidak. ia sudah menikah dan berjanji tidak akan melakukan itu lagi pada wanita lain kecuali Anaya.