
Cakra berjalan mondar mandir di depan ruang operasi, ia cemas dengan istrinya yang saat ini berjuang Antara hidup dan mati di dalam ruang operasi. Terlihat sesekali ia duduk lalu bangkit, berjalan mondar mandir tak lama ia mendudukkan tubuhnya kembali.
"Kamu bisa tenang tidak?" Ayah pusing melihatmu seperti ini.
Pak Satrio mengeleng dengan tingkah sang putra. Saat ini mereka juga cemas tetapi sebisa mungkin mereka semua bersikap tenang.
"Ayah, bagaimana Cakra bisa tenang, di dalam sana istri Cakra sedang berjuang Antara hidup dan mati." Cakra mengusap wajahnya frustasi.
Seketika Bu Ratna bangkit dari kursinya," Cakra! kami juga disini cemas. Tetapi kami masih bisa bersikap tenang. Memang hanya kamu sendiri yang cemas? Mama juga cemas dengan kondisi menantu dan cucu mama.
Setelah mengucapkan itu Bu Ratna menarik tangan putranya untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Operasi.
Dua jam kemudian, Cakra menoleh ke arah lampu indikator di depan ruangan Operasi. Namun, lampu itu masih tetap menyala. Ia kemudian bangkit kembali dari duduknya lalu berjalan ke arah depan pintu ruang operasi.
Ia lalu masuk ke ruang transfer pasien untuk bertanya pada seorang suster yang berjaga di sana. Saat Cakra melihat suster, ia langsung maju lalu bertanya kepada suster itu.
"Sus, kenapa operasinya begitu lama, sudah dua jam aku menunggu. Tetapi belum juga ada tanda-tanda Operasinya akan selesai" Cakra bertanya dengan expresi penuh khawatir.
"Mohon bapak tunggu di luar. Jika operasinya selesai lampu indikatornya akan mati secara otomatis." Perawatan itu menjelaskan. Dan setelah Cakra keluar dari ruang transfer, perawatan itu seketika langsung menggelengkan kepalanya."Baru kali ini ada keluarga pasien yang sangat tidak sabaran."
Setelah Cakra keluar dari ruang transfer seketika pintu ruang operasi terbuka.
" Bapak Cakra," suster itu memanggil
"Ada apa sus? Saya suaminya."
"Mohon ikut, ada hal yang ingin disampaikan oleh dokter. Suster itu kemudian membawa Cakra untuk berganti pakaian terlebih dahulu lalu masuk ke ruangan Operasi.
Di sana dokter lalu menjelaskan jika rahim Noureen rusak parah akibat plasenta akreta. ari-ari tidak bisa terlepas dari rahim. Itu hal yang sangat membahayakan untuk pasien. Jika Rahimnya tidak segera di angkat, pendarahan makin hebat akan terjadi.
Akhirnya dengan kebesaran hati dan keikhlasan Cakra, Operasi berlanjut dengan pengangkatan rahim selama 4 jam.
Di dalam ruangan operasi. Cakra menghampiri sang istri. Mencium kening Noureen sekilas.
" Terimakasih sayang," Cakra meneteskan air mata.
__ADS_1
Noureen tersenyum. Tak lama kesadarannya menghilang.
***
Cakra melangkah memasuki ruang NICU ( neonatal intensive care unit mount Elizabeth Singapura) dengan mata yang berkaca-kaca.
Pasalnya Bayinya terpaksa dimasukkan ke ruang NICU akibat bobot tubuh yang kurang, hanya 2,2 kg. Sedangkan normal bayi lahir adalah 2,5 kg.
Saat sampai di dalam ruang NICU. ia melihat incubator dengan nama Ny. Noureen.
Seketika Cakra mendekat ke arah incubator, di mana bayinya sedang tertidur dengan selang tipis yang tersambung ke hidung melalui alat continuous positive airway pressure.
Sedangkan di bagian mulut tersambung juga feeding tubes. Selang yang dimasukkan ke dalam perut bayi untuk menyalurkan air susu.
Sedang dii sisi tangannya tersambung selang infus dan monitor untuk menampilkan denyut Jantung, tekanan darah, pernafasan, suhu, dan kadar oksigen di dalam tubuh bayi.
Cakra tersenyum menatap bayinya yang tertidur di dalam incubator. Lama menatap. Ia kemudian mendekatkan wajahnya lalu mulai mengadzani bayinya.
Sesaat setelah mengadzani. Cakra kembali membelai sisi incubator.
Seketika ia menunduk. Ia menangis tergugu. Entah cobaan apa yang saat ini Tuhan berikan pada keluarganya sampai istrinya harus menanggung beban seberat ini.
Cakra keluar dari ruang neonatal intensive care unit dengan berjalan gontai. Tubuhnya terasa sangat lemas, kakinya sulit untuk digerakkan. Ia terduduk di lantai. Serentak ketiga orang tuanya berdiri menghampirinya.
"Ada apa Cakra?" Bu Ratna mengguncang tubuh putranya. Ia Melihat kondisi Cakra saat ini seperti orang yang kehilangan akal. seketika ia merasakan khawatir. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan menantunya saat ini.
Sekalian lagi.
Bu Ratna menguncang tubuh putranya kembali. Cakra masih tidak menjawab ia menatap lurus ke depan. Saat ini Cakra masih syok. Ia sangat terpukul. entah apa yang akan ia katakan nanti pada Noureen. Saat ini Noureen belum tahu jika Rahimnya akan di angkat.
Empat jam kemudian.
Seorang dokter keluar dari ruang operasi.
Secepat kilat, mereka semua serentak berdiri. Mereka ingin secepatnya mengetahui kondisi Noureen.
__ADS_1
"Dok gimana kondisi menantu saya." Bu Ratna bertanya mendahului semua orang, ia bertanya dengan wajah tampak serius.
Dokter itu terdiam. Ia menelan salivanya kasar.
"Ada apa, dok?tanya mereka.
"Kami berhasil mengangkat rahim ibu Noureen. Tetapi untuk sementara kita tunggu ibu Noureen sadar dulu. Jika dalam dua belas jam ibu Noureen belum juga sadar, itu artinya ibu Noureen mengalami kritis dan akan kami pindahkan ke intensive care unit"
Mendengar itu, emosi Cakra berkobar, Cakra berjalan kearah dokter yang menangani operasi Noureen. Ia menarik kerah kemeja dokter itu.
"Kenapa bisa seperti itu, ah…! bukan kah tadi kau mengatakan jika ini salah satu cara agar bisa menyelamatkan istri ku. Tetapi kenapa sekarang kau memprediksi jika istri ku akan mengalami kritis." Ucap Cakra dengan Nafas yang naik turun.
"Cakra jangan seperti ini," Bu Ratna berusaha melepas tangan putranya dari kerah kemeja sang Dokter.
"Ingat! jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan menuntut mu." Cakra melepas cengkraman tangannya dari kerah baju dokter itu. Lalu melangkah meninggalkan ruangan operasi.
Setelah Cakra pergi. Bu Ratna seketika meminta maaf atas apa yang sudah di lakukan putranya.
"Maafkan atas perlakuan putra kami, saat ini ia sangat emosional."
Dokter mengangguk dan tersenyum.
"Tidak apa-apa Bu, saya paham." Dokter itu tersenyum lalu kembali berjalan ke arah ruangnya.
Di ruang observasi Noureen masih setia memejamkan matanya. Entah sampai kapan baru ia akan sadar. Terdengar derap langkah dari luar. tak lama muncul wajah Cakra yang berjalan masuk ke dalam ruang observasi dan langsung mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada disana.
"Sayang," panggil Cakra yang saat ini duduk di kursi samping brankar.
"Sayang bangun," lanjut Cakra.
"Sayang buka mata mu,"
"Sayang, sayang, sayang…!"Cakra memanggil Noureen, tetapi masih tak ada respon dari Noureen.
Ia kemudian menegadakan kepalanya ke atas. Menahan air matanya yang sedikit lagi akan tumpah. Lalu mulai berbicara dengan Noureen.
__ADS_1
"Sayang, tadi aku sudah melihat bayi kita. Wajahnya tampan dia…….????