Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 135. season 2


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua Siang. Tak ada terik matahari, hanya ada mendung yang menyelimuti langit. Adrian melajukan motornya, Sesekali ia menggenggam tangan Anaya yang saat ini berpegang pada pinggangnya. Namun gadis itu tidak menanggapi apapun yang dilakukan pria itu. Ia tetap fokus pada pikirannya. Hubungan pernikahan yang dilandasi tanpa adanya cinta dan restu orang tua dari sang pria yang menikahinya, membuat Anaya bagaikan butiran debu di antara Kilauan berlian di sebuah emas.


Entah bagaimana pernikahannya dengan Andrian kedepannya, dan sampai kapan pernikahan mereka berlanjut. Anaya tidak tahu, mungkin saat Adrian sudah bosan?, atau saat Adrian menemukan wanita yang tepat yang akan mendampinginya kelak.


Suara gemuruh beserta kilat yang saling beradu membuat Anaya semakin mengencangkan pegangannya. Samar-samar pria itu tersenyum dan mencari tempat berteduh untuk mereka berdua karena butiran hujan sudah mulai terjatuh dari langit.


"Kita berteduh di sini dulu." Adrian memarkirkan motornya di sebuah ruko yang terlihat usang. Ruko itu tertutup, sepertinya sudah lama tidak difungsikan. Terlihat dari banyaknya lumut di dinding serta beberapa saran lebah di sudut atap ruko itu.


Anaya bergidik. Ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Adrian." Kau kenapa? Adrian menatap Anaya yang tiba-tiba mendekat padanya.


Anaya menggeleng." Aku hanya kedinginan." Ujar Anaya. Padahal saat ini ia ngeri melihat toko tua yang saat ini ia tempati berteduh. Suara gemur serta kilat yang menyambar, menambah kesan seram pada bangunan tua itu.


Namun tak lama Adrian langsung memeluk tubuh Anaya dari belakang. Bukannya berterima kasih Anaya malah menyuruh Adrian untuk melepaskan pelukannya." Apa-apaan kau, ini tempat umum. Banyak yang melihat." Potong Anaya dan kembali memeluk tubuhnya menggunakan tangannya sendiri.


"Siapa yang akan melihat, kita hanya berdua. Tak ada siapa-siapa." Ujar Adrian dan kembali memeluk tubuh Anaya.


Setelah menunggu kurang lebih tiga jam dan hujan tak kunjung reda. Adrian lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Erwin, ia akan meminta asistennya itu untuk mengirimkan mobil padanya.


Tak lama sebuah mobil hitam metalik berhenti di sebuah ruko, seorang supir keluar dan bertukar kunci dengan Adrian, sedangkan Anaya, ia langsung masuk ke dalam mobil setelah Adrian membuka kunci otomatis mobilnya.


"Mengapa kau duduk di belakang? Memangnya aku supir mu?" Tanya Adrian saat ia sudah duduk di jok kemudian."cepat pindah!" Pinta Adrian. 


Anaya melongos. Ia kemudian keluar dari pintu belakang dan masuk ke jok depan. Ia duduk di kursi samping Adrian.


Adrian tersenyum. Kemudian mengusap-usap kepala Anaya." Beginikan bagus."


Bukannya tersenyum karena mendapatkan perhatian dari Adrian, Anaya malah memutar bola matanya. Ia menatap keluar jendela. Melihat tingkah Anaya, Adrian lalu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya, entah bagaimana caranya ia bisa menaklukkan hati wanita ini, apapun yang Adrian lakukan, Anaya selalu bersikap biasa, berbeda dengan wanita-wanita di luaran sana, saat Adrian memberi mereka perhatian, mereka akan langsung tersipu dan malu-malu.


Adrian kemudian menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu, sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara hanya deru mesin kendaraan yang terdengar. Adrian menoleh ke arah Anaya, melihat Anaya sudah tertidur Adrian tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mobil yang di kendarai Adrian akhirnya sampai. Ia keluar dari mobil dan menutupnya dengan pelan, ia berlari kecil membuka pintu depan penumpang dan langsung menggendong Anaya keluar dari mobil Menuju ke unitnya.


***


Anaya mengerjap saat waktu menunjukkan pukul tujuh. Samar-samar Anaya langsung membuka matanya. Ia menyadari jika saat ini ia sudah berada di kamarnya. 


Perlahan Anaya bangun dan duduk di tepi ranjang sambil menurunkan kedua kakinya. Ia mengikat rambutnya, berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, Anaya langsung keluar. Tak ada siapa-siapa. Ia lalu berjalan ke arah meja makan. Anaya mengernyit saat membuka tudung saji di sana sudah ada beberapa potong ayam crispy dan sayur sup.

__ADS_1


"Siapa yang masak?" Batin Anaya. Ia kembali menutup tudung sajinya. Setelah itu ia berjalan ke arah kamar Adrian, hendak mengajak Adrian makan. Ia mengetuk beberapa kali Namun tak ada sahutan. Dengan terpaksa Anaya memberanikan diri untuk masuk. Ini kali pertama Anaya masuk ke ruang kerja Adrian yang sekarang di jadikan kamar oleh pria itu.


Anaya mengendarakan pandangannya, ia kemudian berjalan dan mendapati Adrian sedang meringkuk di atas ranjang di bawah selimut tebal. Terlihat dari wajahnya, Adrian sepertinya sedang kesakitan.


Anaya mendekat kemudian duduk di tepi ranjang. Ia meraba dahi Adrian, seketika matanya membulat saat merasa dahi Adrian terasa panas. 


"Adrian." Panggil Anaya, ia menepuk-nepuk pipi Adrian. Namun pria itu tidak bergerak. Ia masih memejamkan matanya sambil mengigau.


Melihat Adrian yang tak bergerak, Anaya bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju pantry. Setelah Anaya sampai di pantry, ia mengambil wadah kecil mengisinya dengan air kemudian mengambil handuk lalu kembali ke kamar. Dengan cekatan ia mengompres dahi Adrian menggunakan handuk kemudian memeriksa suhu tubuh Adrian.


Setelah sejam manunggu dan suhu tubuh Adrian belum juga turun, akhirnya ia memberanikan diri membuka ponsel Adrian. Ia harus menghubungi Dokter pribadi keluarga Adrian. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada adrian. Entah mengapa, ia merasa sedih saat melihat Adrian terbaring lemah seperti ini.


Hampir sejam Anaya menunggu. Akhirnya dokter Haryadi tiba di apartemen Adrian. Anaya buru-buru membuka pintu dan mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa kondisi Adrian.


"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Anaya.


"Tidak ada hal serius, pak Adrian hanya kelelahan, ia hanya butuh istirahat. Sebentar lagi beliau akan siuman." Dokter itu berucap. Kemudian menyerahkan beberapa bungkus obat pada Anaya," jika terjadi apa-apa dengan Pasian anda segera hubungi saya." Ujar dokter itu. Kemudian pamit untuk pulang.


***


"Apa sudah agak mendingan?" Tanya Anaya 


Adrian mengangguk lesu, pria di sampingnya terlihat sangat pucat. Anaya lalu mengambil bubur yang ada di atas meja dan merubah posisi duduknya, hingga sekarang mereka duduk saling berhadapan. 


"Aakkk." Anaya menyuapkan sesendok bubur ke mulut adrian. Adrian mengeleng." Nanti saja, aku masih kenyang. Lagi pula aku sangat merasa mual." Ujar Adrian.


"Kau tidak akan merasa mual, ini bubur hangat. Sesuap saja, setelah itu kau minum obatmu." Bujuk Anaya.


Adrian tetap menggeleng.


"Plis, sesuap saja. Kau harus makan lalu meminum obat." Dengan malas, akhirnya Adrian membuka mulut. Dengan pelan dan telaten Anaya mulai menyuapkan sesendok demi sesendok masuk ke dalam mulut Adrian.


"Ternyata seperti ini rasanya, saat ada yang merawat." Batin Adrian.


Setelah beberapa suap masuk ke dalam mulut Adrian. Adrian langsung mengeleng." Sudah, aku sudah kenyang." 


Anaya mengangguk dan menyimpan mangkuk itu ke atas meja. Ia lalu mengambil segelas air dan memberikan Adrian beberapa tablet obat.

__ADS_1


"Kau tidurlah, aku akan kembali ke kamar." Pamit Anaya. Tetapi dengan cepat Adrian menahan pergelangan tangan anaya.


"Temani aku, nanti setelah aku tertidur kau boleh kembali ke kamar mu." Titah Adrian.


Anaya mengangguk pasrah, ia juga tidak tega meninggalkan Adrian sendiri. Anaya  lalu merebahkan tubuhnya dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan yang dipakai Adrian kemudian memutar tubuhnya membelakangi Adrian.


Adrian tersenyum saat Anaya mengikuti keinginannya. Adrian memutar tubuhnya dan langsung memeluk Anaya dari belakang. Seketika tubuh Anaya menegang saat Adrian memeluk tubuhnya. Hembusan nafas hangat Adrian, terasa begitu dekat, hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Setelah lama berpelukan, bukannya tertidur, Adrian malah merasakan sesuatu yang ada di bawa sana menegang. Ia memejamkan mata frustasi. Mengapa di saat seperti ini, adik kecilnya menegang. Padahal ia hanya ingin tidur sambil memeluk tubuh Anaya.


"Nay?" Panggil Adrian


"Hmmm." Anaya hanya berdehem.


"Apa kau belum tidur." 


"Belum, ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu? Biar aku ambilkan." Ujar Anaya. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Namun Adrian menahannya.


"Iya, aku menginginkan sesuatu, tapi….kau tidak perlu bangun untuk mengambilnya karena yang ku inginkan ada di sini."ucap Adrian. Anaya mengeryit alisnya saat Adrian mengucapkan kata-kata Yang bermakna implisit.


Anaya lalu mengendarakan pandangannya ke beberapa sisi, mencari apa yang di cari oleh Adrian.


"Yang ku cari bukan di tempat lain, melainkan ada padamu." Adrian kembali memeluk tubuh Anaya. Tangannya dengan lancang menyelinap masuk ke dalam benda bulat Anaya. Sudah lama sekali ia tidak menyentuh benda itu, ia rindu bermain-main dengan benda itu.


Anaya berusaha menarik tangannya adrian." Kau sedang sakit, kau perlu banyak istirahat." Anaya mencari alasan agar Adrian tak melakukan lebih.


"Aku sudah jauh lebih sehat, karna kau ada di sini." Bisik Adrian di telinga Anaya."Jadi bolehkah aku meminta hak ku, aku sudah tidak bisa menahannya." Dengan lancang Adrian menarik tangan Anaya dan meletakkannya tepat di benda keramat Adrian. Anaya seketika menegang merasakan benda keras berurat yang menonjol kuat di bawah sana.


"Jadi, bolehkah aku melakukannya?" Pinta adrian dengan wajah memelas.


Anaya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Adrian. ia juga tidak bisa menolak ke inginan Adrian. tak terasa setetes cairan bening keluar dari kedua sudat mata Anaya. walaupun ini bukan pertama bagi Anaya, tetapi tetap saja ia merasa takut. terakhir kali Adrian melakukannya dengan cara kasar tanpa perasaan, Anaya bahkan masih mengingat betapa perihnya bagian bawah Anaya saat Adrian terus menancapkan benda keramatnya pada milik Anaya dengan begitu kasar dan brutal.


melihat wajah Anaya yang seolah takut, Adrian paham. ia lalu mendekat dan berbisik pada Anaya.


"aku janji, aku akan melakukannya dengan perlahan dan lembut, kau tidak akan merasa kesakitan, kau hanya akan merasakan kenikmatan hingga kau akan meminta lebih. jadi bolehkah aku melakukannya?"


.

__ADS_1


__ADS_2