
Di rumah meeting Adrian sedang duduk sambil memperhatikan kliennya menjelaskan rencana pembangunan pabrik yang terletak di Bandung.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Adrian hanya melirik sekilas, Dia tidak berniat mengangkat panggilannya setelah melihat nomer yang tidak ia kenal tertera di layar ponselnya.
Hampir berkali-kali ponselnya berbunyi, tetapi Adrian terus saja mengabaikan panggilannya. Hingga sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Maaf, saya hanya ingin mengabarkan jika istri anda menjadi korban tabrak lari"
Mata Adrian membulat saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Dia menaikkan tangannya dan langsung keluar dari ruangan. Di luar ruangan dia langsung menghubungi nomer yang baru saja mengirim pesan Padanya.
"Bagaimana kondisi istriku." Adrian terlihat panik.
"Baik, aku akan segera kesana."
Adrian kembali masuk ke ruang meeting."win, tolong lanjutkan meetingnya, ku harus pergi sekarang."
"Ada apa, pak?"
"Istriku menjadi korban tabrak lari."
Mendengar ucapan bosnya. Semua karyawan yang ada di sana saling tatap.
Sedangkan Adrian berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan atasannya.
Setelah sampai di parkiran, Adrian masuk ke dalam mobilnya dan langsung meninggalkan area perkiran Abraham grup.
Adrian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil yang ada di depannya.
Terdengar beberapa penguna jalan mengumpat padanya. Namun Adrian tidak peduli. Dia tetap saja menyalip mobil yang ada di depannya.
Kurang dari satu jam, mobil Adrian sudah sampai di rumah sakit pelita harapan. Adrian kuat dari mobil dan berjalan ke customer servis.
" Pasien atas nama Anaya. Korban tabrak lari 3 jam yang lalu."
"Tunggu sebentar ya, pak."
Setelah membaca daftar Pasien, Suster yang ada di sana langsung melihat ke arah Adrian.
"Nyonya Anaya ada di UGD, pak." Ucap Suster dan menunjukkan adrian jalan menuju UGD.
Adrian mengangguk. Dia langsung berjalan sedikit berlari menuju UGD.
Sesampainya di UGD, Adrian langsung membuka pintu UGD cukup keras. Semua yang ada di sana menolah padanya.
Seorang suster datang menghampirinya."maaf anda mencari siap."
Nafas Adrian tersengal, ia memegang dadanya.
"Istri saya korban tabrak lari." Ucap Adrian.
"Bapak suami dari ibu Anaya?" Tanya suster memastikan.
"Benar, sus. Bagaimana kondisi istri saya."
__ADS_1
"Bapak tenang dulu." Ucap Suster itu saat melihat Adrian yang ngos-ngosan.
"Di mana istri ku!"
"Istri bapak tidak apa-apa, bapak tidak perlu khawatir. Hanya saja kaki istri bapak cedera. Nanti setelah dilakukan CT Scan, jika semua baik-baik saja, istri anda sudah diperbolehkan pulang." Ucap Suster yang berjaga di sana.
Suster itu kemudian mengajak Adrian menuju ke brankar Paling ujung, di sana Anaya tertidur sambil di sekat pembatas antara pasien yang lain.
Setelah Adrian sampai di brankar Anaya, dia langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang istri. Wajahnya terlihat meringis, ia ngilu melihat kaki Anaya yang saat ini di gipsum dan kening yang di perban.
"Maafkan mas, mas memang tidak becus menjaga mu." Adrian menatap nanar pada sang istri. Ia menyesal kenapa tadi dia membiarkan Anaya menaiki motor, padahal dia memiliki beberapa koleksi mobil di basement apartemen.
Adrian menggenggam tangan Anaya, kemudian mengecupnya. Merasa ada yang menyentuh tangannya, Anaya perlahan membuka matanya.
"Mas." Panggil Anaya saat dia tersadar.
"Yang mana yang sakit?" Adrian langsung bertanya pada Anaya, ia ingin mengetahui jika Anaya merasakan sakit atau tidak.
Anaya tersenyum saat melihat wajah Adrian yang terlihat sangat cemas.
"Mas, kau tidak usah cemas. Aku baik-baik saja." Anaya tersenyum saat mengucapkan itu.
"Mana mungkin kau baik-baik saja, ini pasti sangat sakit." Adrian memegang perlahan kaki Anaya.
"Sudah tidak sakit, mas. Kau tidak usah khawatir."
Anaya kembali tersenyum saat melihat kekhawatiran suami.
"Siapa yang berani melakukan ini? Apa kau lihat mobilnya." Tanya Adrian.
"Tidak mas, aku tidak sempat melihatnya."
Adrian mengepalkan tangannya. Dia harus mencari siapa yang berani menabrak istrinya.
"Nay, mas keluar dulu sebentar." Adrian pamit keluar.
Setelah sampai di luar, Adrian mengambil ponsel yang ada di sakunya.
Saat panggilannya sudah tersambung Adrian langsung berucap."Aku ingin kau mencari tahu siapa yang berani menabrak istri ku." Adrian berucap dengan mata elangnya. Dia sudah bertekad akan mencari tahu siapa yang berniat menabrak istrinya.
Setelah mengucapkan itu, Adrian lalu mematikan ponselnya dan kembali masuk ke dalam ruangan.
Saat Adrian berjalan menuju ke brankar Anaya, seorang suster datang menghampirinya." Maaf, pak. Dokter ingin berbicara dengan Anda."
Adrian mengangguk. Saat sampai di depan meja dokter, Adrian langsung duduk di kursi yang ada di seberang dokter setelah dia dipersilahkan untuk duduk.
Hening. dokter itu belum mengucapkan sepatah kata. Ia masih melihat hasil CT Scan Anaya.
Dokter itu tersenyum.
"Dari hasil CT Scan nya. Bu Anaya tidak apa-apa. Namun, untuk memastikan lagi saya harap Bu Anaya menginap semalam. Jika besok tidak terjadi apa-apa. Bu Anaya sudah bisa pulang." Ucap dokter yang menangani Anaya.
"Baik, dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya."
__ADS_1
***
" Sayang, apa masih sakit?" Tanya Adrian.
Anaya mengeleng. Tidak mas, sekarang sudah agak mendingan."balas Anaya. Ia terus memperbaiki posisi duduknya
Adrian yang melihat Anaya kesusahan, langsung bangkit dari kursinya dan memecent tombol indikator yang ada di brankar. Hingga otomatis Sandara brankar terangkat ke atas.
"Apa sudah nyaman?" Tanya Adrian.
Anaya mengangguk." Terimakasih, mas."
"Oh iya! Mas tau dari mana jika aku jadi korban tabrak lari?" Tanya Anaya.
"Tadi ada seseorang yang menghubungiku jika kau menjadi korban tabrak lari." Balas Adrian.
Seketika Anaya menunduk, wajah nya berubah menjadi sendu.
"Maaf kan aku, mas. Aku lagi-lagi mengganggu pekerjaan mu." Ucap Anaya.
Adrian tersenyum melihat wajah istrinya. Adrian lalu berdiri dari kursinya. Dia memegang dagu Anaya dan mengangkatnya.
"Kau tidak pernah mengganggu pekerjaan ku, kau tidak usah memikirkan perkejaan ku, ada Erwin yang akan menyelesaikannya." Ucap Adrian.
Anaya mengangguk mengerti.
Sedangkan di tempat lain.
Siska masuk ke dalam rumahnya dengan berjaln tergesa-gesa.
"Kau kenapa?" Tanya Mery, ibu Siska.
Siska hanya menggeleng dan masuk ke dalam kamarnya.
Ibu dan ayah Siska Saling tatap.
"Dad, ada apa lagi dengan putri mu." Tanya Bu Mery.
Pak sutoma hanya menaikkan kedua bahunya." Biasa, mom, Mungkin karena Adrian."
Bu merry terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah bagaimana jalan pikiran anak bungsunya.
Tak lama terdengar suara benda terjatuh dari dalam kamar Siska.
Bu Mery dan pak sutoma berdiri dari kursinya. Ia berlari menuju kamar Siska.
"Buka sayang, kau kenapa?" Tanya Bu Mery.
Bukannya membuka , Siska malah semakin histeris di dalam kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Gift akan di umumkan pada tgl 1. trimakasih.yang masih setia mengikuti.🙏