Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 172. season 2 END


__ADS_3

Dua jam berlalu, Namun belum ada tanda-tanda bertambahnya pembukaan. Sedangkan rasa sakit Anaya semakin lama semakin terasa sakit.


"Nay, aku sudah tidak bisa melihatmu kesakitan." Adrian mengusap kepala Anaya.


"Sakit, mas." Eluh Anaya sambil meremas lengan Adrian.


"Aku harus mengambil keputusan, kau harus di operasi!" Terang Adrian saat melihat Anaya yang terus menerus kesakitan.


Anaya menggeleng. Walaupun rasa sakitnya semakin lama semakin bertambah, anaya tetap ingin berusaha melahirkan secara normal.


Seorang dokter masuk ke dalam ruang bersalin.


"Bagaimana sus, sudah pembukaan berapa?" Tanya dokter saat berjalan menghampiri brankar Anaya.


"Sejak tadi masih di pembukaan tujuh, dok. Belum ada kemajuan." Jawab suster yang terus mengekor di belakang dokter yang akan menangani Anaya.


Dokter itu lalu memeriksa pembukaan Anaya.


"Sudah pembukaan 10, Siapkah semuanya. Bayinya akan segera lahir." Titah Dokter saat memeriksa pembukaan Anaya.


Adrian yang mendengar itu seketika langsung tegang. Ia pernah melihat tayangan tentang proses melahirkan. dan seketika proses itu yang akan di jalani Anaya.


Setelah semua persiapan sudah siap. Dokter dan beberapa tim perawatan sudah bersiap di sana.


"Tarik nafas Bu, kemudian hembuskan dengan pelan." Titah dokter.


"Akkkk sakit, mas." Teriak Anaya.


"Dorong Bu."


"Huu...akkkkkk." 


"Sedikit lagi, Bu." 


"Sakit, mas." Anaya menangis sambil meremas tangan Adrian begitu kuat.


"Akkkkkk." Anaya terus mengerang.


"Sedikit lagi, sayang." Adrian terus memberikan semangat pada Anaya, tidak peduli dengan rasa sakit saat Anaya terus meremas kulitnya.


"Sedikit lagi, Bu. Kepalanya sudah terlihat."ucap Dokter


Anaya mengeram sangat kuat, hingga terdengar tangis bayi yang menggema di ruangan itu.


Adrian menjatuhkan tubuhnya ke lantai saat Anaya berhasil mengeluarkan bayinya, sedangkan Anaya lemas tak bertenaga.


Adrian bangkit lalu menatap bayi mungil yang cantik yang saat ini berada di dada Anaya, hasil dari buah cinta mereka berdua


Melihat wajah bayinya, tangis Adrian pecah, ia masih tidak menyangka akhirnya ia menjadi seorang ayah. 


"Terima kasih, Nay. Terima kasih sudah melahirkan putri kita." Adrian mencium seluruh wajah Anaya bertubi-tubi. 


Dokter yang saat ini menjahit bagian bawah Anaya tersenyum melihat kebahagiaan pasangan yang baru melahirkan sebuah bayi yang sangat cantik.


Anaya mengangguk kemudian tersenyum. rasa lelahnya seketika menghilang saat mendekap tubuh mungil putri cantik.


 

__ADS_1


Setelah membersihkan bayinya, seorang Suster membawa bayi mungil cantik itu, lalu memberikannya pada Adrian.


Adrian meraih bayinya menciumnya, lalu mengadzaninya. Setelah mengadzani baginya Adrian menatap wajah bayinya sambil tersenyum bahagia.


"Putri papa. Kau secantik ibumu. Amelia Diandra Abraham." Bisik Adrian.


Adrian menggendong bayinya lalu menidurkannya di samping Anaya.


"Nay, bayi kita secantik dirimu." Ujar Adrian.


Anaya tersenyum." Terima kasih, mas."


Adrian mendekat pada Anaya. Kemudian berbisik." Setelah ini kita harus membuat adik yang tampan untuk Amelia, harus setampan diriku.


Mata Anaya langsung membulat. Ia baru saja melahirkan bayi pertamanya. Suami Sekarang memikirkan untuk membuat adik untuk putrinya.


"Kenapa, Nay?" Tanya Adrian saat melihat expresi wajah Anaya yang berubah.


"Mas, aku baru saja melahirkan, sekarang kau sudah memikirkan membuat adik untuk Amelia."


"Tidak apa-apa, sayang. Kita harus membuat Anaya yang banyak. Aku sudah mempersiapkan kejutan untuk mu setelah kita keluar dari rumah sakit."


"Kejutan apa, mas."


"Rahasia, jika kau tau, itu namanya bukan rahasia lagi." Pungkas Adrian.


"Baik, mas. Aku akan menunggu hingga keluar dari rumah sakit." Balas Anaya lalu kembi tersenyum.


Pintu terbuka. Bi Asi dan pak Darwis masuk.


"Sudah mendingan Bu, Anaya sudah baik-baik saja."


"Syukurlah," Bu asih mengusap kepala Anaya, selamat, ya nduk. Pasti ibumu bahagia .


***


Setelah beberapa hari dirawat, Anaya dinyatakan sudah boleh keluar dari rumah sakit. Adrian tidak henti-hentinya tersenyum sambil mendekap tubuh mungil Anaya.


"Kita mau kemana, mas? Ini bukan jalan menuju apartemen." Ujar Anaya.


"Nanti kau juga akan tahu, kau tidak usah banyak protes." Balas Adrian. Ia tersenyum misterius


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di kendarai Erwin, Adrian, anaya beserta baby Amelia berhenti, mereka berhenti di sebuah  rumah mewah yang besarnya sepuluh kali lipat dari unit yang mereka tempati sebelumnya


"Rumah siapa, mas?" Tanya Anaya.


Adrian merengkuh tubuh mungil Anaya yang saat ini menggendong baby Amelia.


"Ini hadiah untuk mu, hadiah karena sudah melahirkan putri cantik untuk ku." Adrian mengecup pipi Anaya.


Anaya tercengang. Ia masih kaget dengan hadiah yang di berikan Adrian.


"Kenapa, sayang." Tanya Adrian saat melihat Anaya terdiam.


"Mas, apa tidak salah? Rumah ini sangat besar."


Adrian mengeleng." Tidak, sayang. Ini hadiah untuk mu, rumah ini tidak sebanding dengan perjuangan mu melahirkan bayi kita." Balas Adrian dan kembali mengecup pucuk kepala Anaya.

__ADS_1


"Terima kasih, mas. Aku tidak menyangka akan tinggal di rumah mewah seperti ini. Aku bersyukur Tuhan memberiku jodoh pria yang sangat baik seperti mu, walaupun kita menikah karena paksaan dari mu." Anaya tersenyum.


"He, em. Aku tahu, aku memang salah, memaksa kehendak, bahkan sebelum menikah aku sudah mengambil apa yang seharusnya tidak aku ambil." Ucap Adrian.


Mata Anaya melotot. Mengedarkan pandangannya ke beberapa orang yang tercengang saat mendengar ucapan Adrian.


"Apa benar begitu bro?" Tanya Erwin polos.


Anaya yang ada di sana . Memelototi Adrian dan Erwin.


"Sekali lagi kalian membahas itu, aku tidak akan berbicara pada kalian."tegas Anaya.


Adrian dan Erwin menciut." Maaf sayang, aku janji semua ini tidak akan di bahas lagi." Janji Adrian.


Anaya mengangguk." Ayo masuk, mas. Kasian Amelia."


"Tunggu dulu sayang, ada satu kejutan lagi."


"Kejutan apa lagi, mas" tanya Anaya.


"Pokoknya hal yang sangat kau inginkan selama ini." Pungkis Adrian.


Dari dalam rumah, keluar Bu asi dan pak Darwis. Adrian lalu memberikan bayinya pada Bi Asih.


"Apa apa, mas?"


"Kau tenang saja, sebentar lagi kau akan tahu."


Tak lama sebuah mobil berhenti di belakang mobil Adrian. Adrian memutar tubuh Anaya membelakangi mobil yang baru saja datang.


Dari dalam mobil, keluar Cakra, Noureen dan juga seorang pria berusia sekitar 60 tahun.


Semua orang di sana tersenyum saat pria berusia 60 tahun itu sudah berdiri di belakang Anaya.


"Nay, apa kau sudah siap?" Tanya Adrian.


Anaya mengangguk.


Adrian memutar tubuh Anaya dengan pelan hingga saat ini, Anaya berhadapan dengan pria tua yang usianya sudah menginjak 60 tahun.


Anaya tercengang saat Melihat pria yang ada di depannya.


Anaya lalu menoleh pada adrian mengisyaratkan dengan bahasa hati. Adrian mengangguk saat melihat tatapan Adrian.


Adrian memegang kedua Tangan pria itu, apa benar kau ayah ku?


Pria itu mengangguk. Anaya langsung memeluk erat tubuh ayahnya, ayah anaya kengen. Hiks..hiks..hiks. ayah kemana saja?" Tanya Anaya masih dalam dekapan sang ayah.


Setelah lama berpelukan. Pria tua itu menangkup wajah Anaya." Maafkan ayah, nanti ayah ceritakan." Pria itu kembali mendekap Anaya masih dengan tangis haru, Adrian maju dan ikut memeluk mertuanya.


Ya, setelah sekian lama mencari ayah mertuanya, Adrian mendapatkan info jika mertuanya jadi buruh pabrik di Taiwan. Ia bekerja tanpa digaji selama puluhan tahun, ia dipekerjakan oleh agen tak bertanggung jawab. Hingga akhirnya Adrian menebus ayah Anaya.



SELESAI -


__ADS_1


__ADS_2