Jodoh Pilihan Ayah

Jodoh Pilihan Ayah
JPA 156. season 2


__ADS_3

Suara burung terdengar saling bersahutan. Anaya mengerjapkan matanya, sayup-sayup ia mendengar suara dengkuran halus. Anaya bergerak berniat ingin menoleh kebelakang. Namun ia merasa ada sesuatu yang berat menimpah tubuhnya. 


"Aakkk." Anaya berteriak saat menyadari sebuah tangan kekar Sadang memeluk tubuhnya. Ia bangkit dan melompat turun dari ranjang. Ia langsung Memeriksa tubuhnya. Ia menghela nafas saat melihat pakaiannya masih utuh.


"Ada apa? Kenapa berisik sekali." Ucap Adrian yang saat ini duduk di kasur sambil mengucek matanya.


"Mas, Adrian" Anaya Membulatkan matanya saat melihat siapa yang ada di depannya. Dengan cepat ia mengeleng, ia belum sepenuhnya percaya jika pria yang saat ini sedang duduk di kasur adalah suaminya. Anaya kemudian penepuk-nepuk pipinya." Sadar, Nay. Sadar. Mas Adrian tidak mungkin ada di sini."lirih Anaya.


Mendengar ucapan Anaya. Adrian perlahan Bangkit dari kasurnya dan berdiri tepat di depan Anaya." Kau sedang tidak bermimpi sayang." Ucap Adrian. Ia meraih tangan Adrian.


Namun dengan cepat Anaya kembali menarik tangannya. Kemudian memutar tubuhnya menghadap keluar jendela." Untuk apa mas datang ke sini." Ucap Anaya datar.


"Tentu saja aku kesini untuk menyusul istri ku yang tiba-tiba menghilang dari apartemen."balas Adrian.


"Mas pulang saja. Untuk apa mas kesini? Bukankah sebenar lagi kita akan berpisah?"ujar Anaya. ia melipat tangannya di depan dada. Demi apapun hati Anaya kembali sakit, saat melihat Adrian lagi. Padahal beberapa hari ini ia sudah berusaha untuk melupakan Adrian.


"Nay, maafkan mas. Aku tidak akan pulang jika tidak bersama istri ku." Adrian maju beberapa langkah


"Jangan membual lagi, Mas. Sudah cukup, ini sudah yang ke berapa kalinya mas berucap manis dan pada akhirnya mas akan kembali seperti dulu lagi." Mata Anaya sudah berkaca-kaca. Sekali berkedip, pasti air matanya sudah menetes. Namun, Anaya berusaha menahannya, ia tidak ingin Adrian melihatnya menangis lagi.


Adrian menarik nafas dalam kemudian maju dan memeluk tubuh Anaya dari belakang." Maafkan mas Nay, mas janji. Mas tidak akan mengulang kesalahan mas lagi. Kemarin mas terdesak. Mas di jebak!" Adrian memohon sambil menengelamkan wajah ke celetuk leher Anaya. Terdengar Isak tangis Adrian. Namun Anaya tetap datar. Ia berusaha melepaskan pelukan Adrian. Tetapi Adrian terus mempererat pelukannya hingga Anaya menyerahkan dan tetap diam mendengarkan setiap untaian kata yang kuat dari Mulut Adrian.


Sejujurnya Anaya sudah lelah seperti ini. Adrian selalu saja seperti ini. Hari ini ia membuat kesalahan, besok meminta maaf dan akan mengulang lagi.


"Nay, maafkan mas. Mas janji tidak akan mengulangi kesalahan mas lagi." Adrian terus saja memohon dan tetap mendapatkan penolakan dari Anaya.


Tak lama terdengar seseorang mengetuk dari luar.


"Neng naya, makanannya sudah siap." Seru Bu darmi. Bu darmi adalah orang yang selama ini menjaga rumah eyang uti setelah eyang uti berpulang.


Anaya kemudian menyahut. Setelah itu ia berusaha melepaskan pelukan Adrian." Lepas, mas. Aku ingin ke toilet untuk membersihkan diri." Kata Anaya. 


"Tidak, Nay. Aku ingin  Mendengar jika kau memaafkan ku."pinta Adrian.


Anaya memejamkan mata." Iya mas, aku memaafkan mu tapi bukan berarti aku ingin kembali pada mu."Anaya kembali berusaha melepaskan pelukan Adrian.


"Tolong Nay, beri aku kesempatan." Adrian menekuk kakinya memohon agar Anaya memberinya kesempatan.


Tetapi Anaya tetap bersikap datar, ia tidak membalas ucapan Adrian dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Nay." Panggil Adrian. Tetapi Anaya tetap saja tidak menggubris penggilan Adrian.

__ADS_1


Hampir sejam Anaya membersihkan tubuhnya. Anaya keluar dengan tampilan rapi.


"Kau bersihkan tabuhmu mas, lalu kita sarapan. Setelah itu kau silahkan tinggalkan tempat ini."titah Anaya dan langsung meninggalkan Adrian yang masih duduk di kasur.


Setelah Anaya keluar. Adrian mengusap wajahnya kasar, entah bagaimana caranya ia menjelaskan semuanya pada Anaya. Jika Anaya saja tidak mau mendengarkannya. Adrian lalu bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mabdi.


***


"Silahkan di makan neng." Ujar Bu darmi.


"Terimakasih, Bu." Balas Anaya.


Setelah Bu darmi pergi, Anaya kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk. Adrian tersenyum. Ia mengira jika nasi yang di ambil Anaya untuk dirinya. Namun senyumnya seketika memudar saat melihat Anaya Duduk dan langsung memakan nasi yang baru saja ia ambil.


"Lho Nay, nasi untuk ku mana?" Tanya adrian.


"Mas punya tangan kan?" 


Adrian telihat mengangguk.


" Yah sudah, mas ambil saja sendiri." Ucap Anaya datar. Ia terus menunduk sambil menyiapkan semua makanan yang ada dipiringnya hingga habis.


Setelah menghabiskan sarapan mereka Anaya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Adrian yang.melihat itu tidak tinggal diam, ia berjalan dan langsung masuk ke dalam kamar kemudian menguncinya.


Ia lu berjalan ke arah Anaya." Nay aku mohon beri aku satu kesempatan, kita akan memulai semuanya dari awal tanpa ada gangguan ." Ucap Adrian..


Anaya masih tetap memilih bungkam.


Adrian terlihat menekuk kakinya dan menaruh kepalanya di paha Anaya." Nay, mas mohon, jangan begini. Mas tahu jika mas bersalah. Tapi ini semua diluar kendali mas. Jadi mas mohon, beri mas satu kesempatan. Mas terpaksa berpura-pura membencimu agar mas bisa mendapatkan informasi." Adrian terdenger terisak.


Anaya terlihat memejamkan matanya. kemudian, menghembuskan nafasnya.


"baik, Mas. aku akan memberimu kesempatan sekali lagi. tetapi.... tidak jika kau menyia-nyiakan kesempatan ini, maaf tidak ada maaf lagi untuk mu" ucap Anaya.


mendengar ucapan Anaya, Adrian menegadakan kepalanya, kemudian menghapus air matanya." kau serius memberiku kesempatan?"


Anaya terlihat mengangguk.


Adrian tersenyum, lalu bangkit dari duduknya Hendak memeluk tubuh Anaya tetapi pergerakannya di tahan.


"kau mau apa mas?"tanya Anaya.

__ADS_1


"ya memeluk istriku." jawab Adrian.


"peluk sama guling sana." anaya mengambil guling yang ada di belakangnya kemudian memberikan pada Adrian,"ni mas pelukan sama guling saja."Anaya bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela.


"Nay, kok sama guling? mas maunya sama kamu" tanya Adrian. ia menggaruk kepalanya,"untuk apa berpelukan dengan guling, Nay. ngak ada rasanya." pungkas Adrian. ia lalu melempar guling itu ke ranjang dan berjalan menghampiri Anaya yang saat ini berdiri di depan jendela."sayang." panggil Adrian. ia langsung memeluk Anaya dari belakang dan mencium tengkuk Anaya.


Anaya tidak merespon, saat ini pikirannya sedang mengembara.


"sayang, kau masih marah?" tanya Adrian.


Namun Anaya tidak merespon. Adrian tersenyum ia langsung mencium leher Anaya, mel*mat di sana hingga meninggal tanda merah di sana.


"mas, geli." ucap Anaya.


"bukankah sudah lama kita tidak melakukan ini?" tanya Adrian. saat ini ia sedang mengoda Anaya.


"apa-apaan kau mas!" balas Anaya. ia kembali berusaha melepaskan tubuhnya.


Namun bukannya terlepas, Adrian malah mengendongnya dan membawanya ketempat tidur.


"Nay, bolehkah aku melakukannya?" Adrian memegang tangan Anaya dan membawanya untuk memegang adik kecilnya." dia sudah lama tidak bertapa di goa miliknya, apa boleh dia bertapa?" tanya Adrian.


mendengar ucapan Adrian. pipi Anaya telihat memerah. sungguh demi apapun, saat ini Anaya sangat malu dengan ucapan Adrian.


"lapas mas, aku ingin bangun."seru Anaya.


Adrian menghela nafas berat. dan bangkit dari tubuh Anaya."baiklah jika kau tidak mau. aku akan ke kamar mandi dulu." dengan langkah lesu Adrian Berjalan ke kamar mandi. sungguh ia ingin sekali melakukan itu pada Anaya. sudah lama sekali ini tidak merasakannya.


Namun belum sempat ke kamar mandi, Anaya sudah memanggilnya.


"Mas."


Adrian menoleh."baiklah, ayo kita memulai semuanya dari awal." pungkas Anaya.


Adrian tersenyum dan berjalan menghampiri Anaya."jadi aku boleh melakukannya?" tanya Adrian. pasalnya ia belum yakin jika Anaya mau melakukannya.


Anaya terlihat mengangguk malu. Namun dengan cepat Adrian menyambar bibir merah yang sudah membuatnya rindu beberapa hari ini.


detik menit beradu. suara d*sa*an memenuhi ruangan itu. entah sudah ke berapa kali Adrian melakukannya. ia sepertinya tidak ada puasnya, mungkin karena sudah lama tidak merasakan kehangatan itu, sehingga sekarang ia melampiaskan dengan mengeluarkan seluruh tenaganya yang ada. Anaya yang berada di bawahnya Kungkungan sudah terlihat sangat kelelahan, Namun ia terus mengimbangi apa yang di lakukan Adrian. hingga Adrian tumbang di sisinya." terima kasih, Nay." Adrian mengecup kening Anaya dan di ikuti anggukan dan senyum dari Anaya.


setelah itu Adrian mengusap-usap pipi Anaya."aku mencintaimu." pungkas Adrian. ia menarik selimut dan langsung menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2