Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Selamat kak!!!


__ADS_3

Aku menyadari kecemburuan yang tergambar dari raut wajahnya saat itu...


Aku tahu dia paling tidak suka membahas Gian, tapi kali ini aku harus membahasnya. Supaya tidak ada kesalahpahaman diantara kami nantinya.


"Soal Gian, aku mau kasih liat kakak surat dari dia tapi aku takut kakak salah paham makanya mending sekarang aja aku liatin" kataku.


"Gak usah, dia ngirim salinannya ke aku ko" jawabnya.


"Hah? Salinan?" tanyaku kaget.


"Iya dia dm aku di stagram, dia bilang katanya kalian ketemu berdua dan kamu jujur ke dia soal kalian. Kamu kasih dia gantungan kunci custom terus dia kasih surat ke kamu juga aku udah tahu duluan, aku akuin dia gentle sih. Tapi gimanapun aku juga gak akan ngelepasin kamu." katanya.


"Iya iya, udah ya kak? Yang penting kan sama Gian clear?" kataku.


"Clear tapi dengan satu syarat" jawabnya.


"Apa?" tanyaku.


"Jangan berhubungan sama Gian kalau bukan urusan kampus" katanya.


"Oke" jawabku menyanggupi.


Setelah selesai, kamipun kembali ke Hotel.


Ibu sudah bangun dan sedang menonton televisi.


"Bu, lagi apa?" tanyaku.


"Ini sinetron kesayangan Ibu udah maen" jawabnya.


Aku dan Andreaspun tertawa mendengar jawaban Ibu.


"Bu, om sama tante palingan sampe pagi katanya barusan ngirim chat ke aku" kata Andreas.


"Yaudah, gapapa. Oya rain kamu udah ke salon kan?" tanya Ibu.


"Ngapain bu ke salon?" tanya Andreas.


"Booking buat besok make up lah" jawab Ibu.


"Bu, Raina tuh jago make up loh. Meskipun dia natural banget tapi aslinya dia bisa, tiap-tiap ada acara di jurusan juga pasti dia yang bantu make up'in" jelasnya.


"Ya ampun, syukurlah kalau udah bisa dandan sendiri jadi Ibu gak usah ngantri ke salon juga.. Raina make up'in Ibu juga kan?" kata Ibu.


"Raina belum sejago itu sih bu, cuman Raina bisa kalau buat make up sederhana mah. Kalau Ibu mau sama raina, ya gapapa tapi kalau Ibu mau hasilnya pro mungkin lebih baik Ibu ke salon" jelasku.


"Enggalah sayang, Ibu mau kamu aja" jawab Ibu.


Aku memang cukup suka mempelajari make up, buatku sama halnya dengan membuat sketsa yang juga pekerjaan favoritku.


Meski Nunu lebih bisa diandalkan karena lebih jago dan pro, tapi ya hasilku juga tidak mengecewakan..


Karena tidak mau mengganggu keasyikan Ibu, aku dan Andreas menunggu di teras belakang.


Pemandangan kota yang gemerlap dari ketinggian benar-benar menjadi peraduan yang pas buat kami.


Ya menurutku ini adalah upacara menuju hari-hari penuh rindu...


Aku memandangi siluet wajah Andreas yang terpantul oleh binar. Rasanya sangat tenang, melihat postur tubuh ini ada disampingku.


Tangan kami beradu saat tak sengaja kugeserkan tanganku kesamping. Mata kami kemudian bertemu, bertatapan dalam beberapa detik saja. Bahkan detik itu terasa jauh lebih berharga daripada detik-detik yang lain.


"Kalau aku boleh minta satu hal, aku maunya aku jadi temen seangkatan kakak" kataku.


"Kenapa emangnya?" tanyanya.


"Biar bisa wisuda bareng kakak, biar kakak gak usah nunggu aku lulus ataupun aku yang nunggu kakak kerja" jawabku.


"Dek, kamu masih kepikiran ini?" keluhnya.


"Aku minta kalau kakak mau putusin aku, sekarang ajalah jangan pas kakak beres wisuda nanti" gerutuku.


"Ya ampun, aku harus apa sih biar kamu percaya kalau aku gak akan putusin kamu?" tanyanya sambil memegang kedua pipiku.


"Aku belum tenang aja, kakak kan susah ditebak" jawabku.


Dia sekarang terlihat mendalami perkataanku, tidak lagi tertawa seperti respon pertamanya. Mungkin sekarang dia benar-benar memikirkan apa sebaiknya kami memang harus putus dulu...


Selang beberapa detik saja, kami memilih hening dan hanya saling bertatapan satu sama lain.


Dengan secepat kilat, dia mencium kedua pipiku. Kali ini wajahnyapun serius, bukan asal mencium.


"Kalau kamu masih bahas soal ini, aku bisa aja cium kamu di tempat lain... Kamu ngerti kan?" katanya.


Aku semakin salah tingkah dan mencoba menarik diriku dari pelukannya lalu lari kedalam.


"Ibu, mau makan lagi gak? Raina masak ya?" tanyaku.


"Emangnya ada bahan masakannya?" tanya Ibu.


"Belum sih paling Raina beli di supermarket, deket ko dari sini. Raina bisa jalan kaki" jawabku.


"Yaudah kita kesana yu? Kita aja berdua, Andreas jangan diajak" kata Ibu.


"Ayok!" jawabku.


Dia kami tinggalkan sendiri di hotel, aku kesal soalnya bagaimana bisa dia mencuri ciuman di kedua pipiku tanpa izin? Pake mengancam segala lagi katanya bisa mencium di tempat lain?


Kenapa sih obrolanku hari ini selalu dianggap candaan tak berisi, aku kan serius memperjuangkan perasaanku.


Aku dan Ibu pergi ke supermarket dengan berjalan kaki...

__ADS_1


"Raina, kapan mau ke Palembang?" tanya Ibu.


"Gak tau bu, tapi Raina beneran mau banget kesana. Denger cerita kakak kayanya rumah Ibu enak banget" jawabku.


"Yah gak sebagus rumah kebanyakan di Bandung sih, tapi Ibu mau aja kedatengan calon menantu" kata Ibu.


Aku mematung seketika, mendengar betapa Ibu menganggapku sebagai calon menantunya.


"Ibu bicaranya kejauhan, kak Iyas kan belum pasti mau aku jadi calonnya. Jujur ya bu, kak iyas wisuda aja aku masih takut diputusin" jelasku.


"Ibu dulu juga gitu, Ibu takut diputusin soalnya Ayahnya Iyas dulu orang luar pulau juga. Pas dia wisuda duluan, Ibu galaunya bukan main. Belum lagi Ibu gak mau LDRan karena banyak contoh yang gagal. Tapi, Ayahnya Iyas punya komitmen loh dia beneran gak putusin Ibu malah sebulan sekali selalu nengok Ibu. Akhirnya pas Ibu wisuda, dia lamar Ibu. Setelah Ibu dapet pekerjaan yang layak dan bisa bahagiain kedua orang tua, barulah kita memutuskan menikah" jelas Ibu.


Dalam hati aku memaklumi kisah cinta mereka, bagaimana tidak? Pemikiran anak dan orang tua zaman dulu kan memang lebih praktis... Boleh menikah dengan syarat sudah lulus dan mapan...


Tapi sekarang? Cowok yang mapan itu pasti banyak penggemarnya dan hanya yang mampu bertahan dirilah yang setia pada satu wanita saja.


Selesai berbelanja....


"Belanjaannya ko sedikit sih bu?" tanya Andreas yang menunggu kami dilobby hotel.


"Banyak juga buat siapa yas? Kita kan cuman bertiga mubadzir" jawab Ibu.


Aku dan Ibupun memasak sambil mengobrol satu sama lain. Ibu menanyakan banyak hal padaku, sementara kulihat Andreas malah tertidur di sofa.


"Bu bentar ya aku kasih bantal dulu buat kak Iyas, tuh liat tidurnya sembarangan begitu" kataku sambil menunjuk sofa tempat dia tertidur.


"Iya hahaha aduh anak itu" jawab Ibu.


Aku mendatanginya, memberikannya bantal sambil mengangkat kepalanya pelan-pelan.


Dia menyadari kehadiranku dan malah menahan tanganku.


"Kenapa kamu cantik banget sih kalau lagi masak?" bisiknya.


"Kakak diem, kakak cape kan? Tidur dulu ya nanti kalau masakannya udah jadi aku bangunin" kataku.


"Iya sayang" jawabnya sambil kembali menutup kedua matanya.


Nunu dengan baik hatinya mengirimkan baju gantiku, sepatu pinjamannya dan alat-alat make upnya ke hotel, sesaat setelah aku menelponnya.


"Aku pinjem ya buat besok make up'in Ibunya Andreas" kataku saat kami bertemu di depan hotel.


"Iya pake aja, oya aku langsung cabut ya soalnya banyak job make up juga besok" katanya.


Setelah masakan jadi, Ibu memintaku membangunkan Andreas.


Aku mencoba membangunkannya, tapi dia malah mengigau tidak jelas.


"Bu, aku mau nikah sama Raina" katanya mengigau.


Ibu tertawa lepas mendengar ngigauannya.


"Ih Ibu ini kan ngigau doang bukan asli" jawabku


"Tapi itu tandanya dia tidurpun otaknya selalu mikirin kamu" kata Ibu


Kamipun makan dengan lahapnya, makanannya sederhana sih hanya capcay sayur dan ayam katsu buatanku.


Karena seingatku Andreas sangat menyukai chicken katsu, makanya aku membuatkannya yang sederhana.


Tepat pukul 9 malam, Ibu sudah masuk kamar dan tertidur. Sementara aku masih menonton acara tv sambil menyisir rambutku yang basah karena bekas keramas barusan.


Andreas sedang sibuk dengan dunianya, dia berbicara dengan seseorang dalam telepon dengan sangat serius.


"Aku dapet job" katanya .


Tak lama setelah merasa mengantuk, aku memutuskan untuk tidur di sofa. Meskipun Ibu memintaku untuk tidur bersamanya tadi, tapi rasanya belum senyaman itu saja dekat dengan Ibu. Lagipula aku takut cara tidurku aneh dan memalukan.


Keesokan paginya saat alarm di ponselku berbunyi, aku sadar bahwa semalaman tadi Andreas tidur beralaskan selimut dibawah sofaku.


"Kak bangun, udah jam 6 nih. Kakak siap-siap yu?" kataku.


Dia malah menarik tubuhku hingga jatuh dan bersandar di sebelahnya. Aku segera bangkit tapi tenaganya semakin kuat menahanku.


"Kakak bangun ih mandi" kataku.


"Iya nanti sepuluh menit lagi, diem dulu kamu disini" jawabnya sambil menahan tanganku.


"Nanti Ibu bangun loh tau rasa" kataku.


"Kata kamu benci hari ini dateng kan? gimana kalau kita gak usah berangkat aja? kita tidur lagi aja yu" katanya sambil bergumam.


"Kakak aku siram nih" teriakku karena kesal.


Diapun bangun meski dengan sikap malas-malasannya.


Ibu sudah selesai mandi sepertinya, aku langsung bersiap merias Ibu setelahnya.


"Tuh mandi sana, aku terakhir aja nanti" kataku.


Ibu tersenyum melihat tingkah laku kami saat itu.


Setelah selesai merias Ibu, akupun pergi mandi dan langsung merias diriku juga.


"Kakak pasti banyak yang minta foto nanti, awas ya jangan kecentilan" kataku sambil mengeringkan rambut.


"Kamu ngomong kaya gitu harusnya ke diri kamu sendiri, awas ya kamu dandan cantik-cantik nanti banyak yang ngelirik" sahutnya.


"Duh ampun deh kalian, deket berantem mulu jauh malah kangen terus tiap hari" ledek Ibu sambil tertawa.


Setelah siap, kamipun bergegas menuju aula tempat wisuda diselenggarakan. Diluar aku sempat bertemu Hanifa dan kedua orang tua kak Dhika, kamipun sempat berkenalan dan berfoto bersama termasuk Andreas dan Ibunya.

__ADS_1


"Duh cantiknya" pujiku pada Hanifa.


"Ribet tau ih pake ginian" jawabnya.


Sesaat sebelum prosesi wisudanya, Andreas menelpon Om dan Tantenya yang ternyata sudah sampai di gerbang utama kampus.


"Om, duh susah nih kalau nyari soalnya orangnya banyak banget" katanya dalam telepon.


Aku menyela sesaat obrolannya, aku bilang biar aku saja yang menjemput om dan tantenya ke gate utama.


"Gak usah, kesana kan jalannya jauh juga terus kamu pake heels lagi?" jawabnya.


"Gapapa, atau kakak minta om sama tante kakak parkir di deket fakultas aja jadi nanti aku bisa nyamperin kesana" kataku.


"Yaudah, aku bilang om ya" jawabnya.


Tak berapa lama, aku menjemput om dan tantenya ke fakultas.


"Halo, ini omnya Andreas ya?" kataku saat hendak menyalami omnya yang menunggu di fakultas kami.


"Iya, oh ini Raina ya? Cantik sekali" katanya.


Om sangat welcome dan baik, sementara tante lebih aktif lagi mengajakku berkenalan.


"Duh emang ya Andreas sekalinya punya cewek langsung bibit unggul" katanya sambil merangkulku.


"Tante sama Om berdua aja?" tanyaku.


"Iya, soalnya anak kita lagi sakit" jawabnya.


"Yaudah om, kita ke gedung yu soalnya acaranya 15 menit lagi dimulai" ajakku.


Nama Andreas pasti dipanggil di awal-awal karena IPKnya yang cumlaude.


Sesaat setelah namanya dipanggil, diikuti oleh tangisan Ibunya yang dengan erat menggenggam tanganku seraya berkata "Pak, Iyas udah wisuda... Tugas Ibu beres ya, tinggal tugas Iyas ke bapak yang belum"....


Aku melirik Ibu, menggenggam tangannya dan menghapus air matanya.


"Ibu terharu ya? Nanti kalau Raina wisuda ibu dateng juga ya?" kataku membangun suasana.


"Iya sayang, kalau Ibu sehat pasti Ibu dateng" jawab Ibu sambil tersenyum.


Om dan tante juga terharu melihat keponakannya lulus dengan predikat terbaik di jurusannya.


Andreas menghampiri kami, memperlihatkan ijazah dan toganya yang sudah berpindah haluan.


"Habis ini kita foto keluarga ya?" ajaknya.


Aku ikut bangga melihat pacarku tumbuh menjadi seorang lelaki yang menyayangi keluarganya, meski anak yang lain mungkin diantar oleh banyak anggota keluarga mereka dan meski pacarku harus merasa kesepian karena sedikit anggota keluarganya yang hadir, aku yakin dia akan tetap bahagia dengan adanya para sahabat dan teman-teman seperjuangannya diluar gedung nanti.


Aku sudah menyiapkan sebuah banner besar dengan foto dan nama beserta gelar namanya yang baru.


"Kak, diluar banyak yang nunggu kakak" bisikku.


"Iya kita keluar dulu terus samperin mereka sebentar ya" jawabnya sambil memegang tanganku.


"Om makasih loh udah dateng, oya om kita foto keluarga ya?" ajaknya.


"Ayok, nanti pake mobil om aja" jawab Om.


"Aku udah sewa mobil sih" kata Andreas.


"Yaudah, Ibu kamu ikut sama om aja ke mobil duluan kasian capek.. Kalian mau kumpul-kumpul dulu kan?" kata Tante.


"Iya ngerti aja om haha bentar ko nanti aku telpon kalau udah beres. Apa om ke hotel aja dulu sama tante?" katanya.


"Gak lah, om mau nunggu depan fakultas kamu aja adem" jawab Om.


Setelah berpisah dengan Om, Ibu dan Tante yang terlebih dahulu ke mobil. Aku dan Andreas mendatangi pos penyambutan yang dijaga oleh mahasiswa baru.


"Gak kerasa ya dek, kamu udah punya adik tingkat... Aku udah wisuda, dan kita udah semakin tua" katanya sambil terlihat menahan air mata.


"Kakak nangis ya?" ledekku.


"Waah, itu banner gede banget" katanya terkejut melihat banner buatanku yang dipegang oleh Nunu dan Arika.


"Kak selamat!!!!!" teriak semua mahasiswa baru yang ada disana.


Mereka menyalami Andreas dan memberikan ucapan selamatnya satu persatu.


"Ciyeee, jadi anggun hahahaa cantik deh rain" ledek Arika dan Nunu.


Aku memeluk mereka, melepaskan kelegaan sekaligus keharuan yang kusembunyikan sejak tadi pagi.


"Sedih ya?" bisik Nunu.


"Hhmmmm sedih" jawabku.


"Nih kasiin sana kadonya ke kak Andreas" kata Arika sambil memberikan titipanku.


"Makasih ya ka udah bawain" kataku.


Aku menatap Andreas yang sedang dimintai foto oleh mahasiswa baru, dia terlihat sangat bahagia. Tersenyum dan lepas seperti beban yang selama ini menimpa punggungnya sudah berguguran seluruhnya.


"Kak, selamat wisuda!!!!".....


-TAMAT-


Episodenya tamat sampai disini, makasih buat semua yang sudah baca cerita ini... Tapi, nanti akan ada enam episode spesial yang aku posting untuk menceritakan enam sudut pandang orang-orang yang terdekat dengan Raina yaitu Andreas, Dhika, Hanifa, Arika, Nunu dan Gian Insyaallah aku akan buat chapter keduanya.....


Thankyouuuu.....

__ADS_1


__ADS_2