Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kali ini, kita pisah untuk berapa lama lagi?


__ADS_3

Setelah mendengar perkataannya yang memintaku menunggunya sebentar lagi itu, membuatku memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin dia mau lamar aku?"


"Apa mungkin dia mau aku nunggu sampe dia bisa seriusin aku?"


"Tapi aku kan masih kuliah, masih satu tahun setengah lagi menuju lulus. Itu juga kalau tepat waktu"


"Ihh nunggu apasih maksudnya? kebiasaan emang kalau ngomong gak pernah ada ujung yang jelasnya selalu aja gantung"


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


"Rain, aku tidur duluan ya? cape dan kenyang banget jadi tepar gini" kata Arika.


"Iya rain, aku juga ya?" tambah Nunu.


"Iya gih tidur, aku masih harus gantiin perban kak Andreas sekali lagi" jawabku.


Hanifa dan kak Dhika belum juga kembali, mungkin mereka sedang kangen-kangenan sebelum kak Dhika pergi ke Sulawesi.


"Rain, aku pulang agak malem ya? soalnya mau beli oleh-oleh sambil jalan-jalan malem dulu. Aku udah bawa kunci cadangan ko, tadi aku minta dari bawah" kata Hanifa dalam chatnya.


"Oke, take care!" jawabku.


Akupun menuju ke kamar Andreas, untuk mengganti perbannya dan mengingatkannya minum obat sebelum tidur.


"Toktoktok"....


"Masuk aja dek" teriaknya.


Andreas sepertinya sedang ganti baju, karena dia tidak ada di kamar.


"Kak, ganti perban dulu yu? terus abis itu kakak minum obat" teriakku.


"Iya bentar" sahutnya.


Setelah dia keluar dari kamar mandi, kulihat dia memakai kaus polos berwarna putih.


Rambutnya yang agak berantakan dan wajahnya yang basah membuatku terpana dalam beberapa detik.


Aku terus-terusan menatapnya tanpa tahu caranya untuk berkedip dan berhenti.


"Hey ngelamun" katanya mengagetkanku.


"Ah enggak, sini duduk disini" pintaku.


Sambil mengganti perban di kepalanya, aku menanyakan bagaimana kabar Ibu.


Entah kenapa semalam aku memimpikan beliau, mungkin aku kangen dan ingin bertemu.


"Ibu apa kabar? aku kangen" kataku.


"Ko bisa barengan, baru aja Ibu telpon nanyain kamu" jawabnya.


"Nanti aku mau telpon Ibu boleh gak?" tanyaku.


"Boleh, nanti aku sambungin ya" jawabnya.


Aku merasa saat itu Andreas tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari arah kakiku.


"Iya-iya nanti aku ganti pake celana panjang" kataku menggerutu.


"Habis mau tidur aja pake celana pendek, dingin loh pasti kalian nyalain AC kan?" tanyanya.


"Iya" jawabku singkat.


Setelah selesai mengurus keperluan Andreas, aku memintanya menyambungkan telepon pada Ibu.


"Nih, tunggu aja belum diangkat" katanya sambil memberikan ponselnya.


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Setelah menelpon Ibu....


"Kata Ibu akhir bulan ini kakak harus pulang, soalnya anaknya Om kakak mau nikah" kataku.


"Iya udah tau, anaknya Om udah bilang langsung ke aku" jawabnya.


"Anaknya om berapa umurnya?" tanyaku.


"Linda? 25 kayanya baru lulus ko" jawabnya.


"S1? apa S2?" tanyaku lagi.


"S1 sih cuma dia kuliahnya telat" jawabnya.


"Yaudah kakak pulang aja akhir bulan ini, kan keluarga kakak pada kumpul tuh kesempatan buat ngumpul dan istirahat juga" jelasku.


"Iya, tapi paling aku gak bisa ke Bandung lagi. Gapapa kan?" tanyanya.


"Gapapa kak, aku ngerti ko" jawabku.


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Sepertinya malam ini, jadi malam yang panjang buatku bisa berdua dengan Andreas karena mungkin kami baru bisa bertemu lagi bulan depan atau mungkin bulan depannya lagi. Aku juga belum tahu.


"Yaudah kakak istirahat ya, aku mau balik ke kamar" kataku.


"Iya, eits tunggu sebentar" katanya.


Dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan memberikannya padaku.


"Aku belum sempet beli kotaknya, soalnya dadakan. Ini buat kamu, aku pakein ya?" katanya.


Aku melihat yang dipegangnya sekarang adalah sebuah kalung berinisial A.


"A? ko a sih?" tanyaku.


"Biar kamu gak lupa inisial pacar kamu itu A Andreas, bukan F apalagi G atau mungkin R" jawabnya.


"Hahaha bagus, makasih ya. Eh tapi bentar deh, ini pasti mahal ya?" tanyaku.


"Aku nabung sih, abis waktu kita anniversary kemarin aku cuma kasih kamu bunga dan coklat. Jadi aku kepikiran untuk ngasih kamu sesuatu yang bisa kamu pake setiap hari dan bisa bikin kamu inget sama aku" jawabnya.


"Makasih banget pokoknya aku seneng" jawabku sambil mengecup pipinya dengan cepat.


Dia terlihat kaget dan langsung menarik tanganku.


"Tunggu, seenaknya aja udah cium-cium pipi langsung pergi gitu. Tanggung jawab" katanya.


"Tanggung jawab apa?aku kan udah bilang makasih" kataku.


Sekarang dia mendekatiku, pelan namun pasti langkahnya menuju kearahku.


Wajah kami saling berhadapan, mata kami juga bertatap-tatapan.


"Aduh gawat jantung aku berasa mau copot"...


Dia terus menatapku, sekarang wajahku dan wajahnya hanya berjarak 10 cm saja mungkin.

__ADS_1


"Kakak mau apa?" tanyaku.


Dia semakin mendekat dan tangannya mulai menyentuh kedua pipiku.


Jantungku detaknya semakin tidak karuan, pikiranku juga seperti mau meledak.


---------------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


---------------------------------------------


Andreas terdiam sejenak dan mulai mendekatkan kepalanya kearah wajahku.


Lalu secepat kilat dia menciumku, rasanya seperti sambaran petir. Hatiku meledak-ledak tak bersuara.


Aku bisa mendengar suara detak jantungku yang berpacu sangat cepat.


Tanpa sengaja aku malah memejamkan mataku, seolah ketakutan.


Setelah beberapa detik, dia lalu memelukku.


"Kamu cepetan pergi dari sini deh, aku takut" katanya berbisik di telingaku.


Aku lalu melepaskan diri dari pelukannya. Tanpa melihatnya, aku langsung berlari keluar kamar.


"Dia takut apa sih? aneh banget udah cium aku malah langsung ngusir" gumamku.


-----------------------------------------


🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤


-----------------------------------------


Sesampainya dikamar, aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari kejadian yang baru saja kualami.


"Ini beneran? aku baru aja firstkiss?" ....


Tanpa kusadari, Hanifa sudah datang dan duduk di ranjangnya.


"Rain, kamu ko ngelamun sih?" tanyanya.


"Sini deh fa, aku mau cerita tapi ini rahasia kita berdua ya?" kataku.


"Hahaha iya, apa?" tanyanya.


Akupun menceritakan kejadian barusan dan Hanifa responnya sama sepertiku. Dia kaget dan tertawa terbahak-bahak.


"Ihhh jangan berisik, nanti Nunu sama Arika denger gimana?" gerutuku.


"Maaf hahaha, abis lucu Andreas berani juga ya?" ledeknya.


"Udah ah, yu bobo jangan bahas itu lagi!" ajakku.


Hanifa masih saja menahan tawanya sepertinya jika saat ini bukan malam hari mungkin dia akan tertawa terbahak-bahak.


---------------------------------------------


****************************************


---------------------------------------------


Keesokan paginya.....


"Rain, semalem tidurnya nyenyak gak?" ledek Hanifa.


"Nyenyak ko" jawabku (berbohong).


Semalaman tadi, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kejadian itu.


"Lah emang kenapa rain? sakit?" tanya Nunu.


"Hmm bukan sakit lagi nu, sakit banget" ledek Hanifa lagi.


"Iya kambuh" jawabku.


Aku menjawab demikian untuk membuat ketiganya diam dan tidak menanyakan lagi hal-hal yang bisa membuatku ingat pada kejadian semalam.


"Tok tok tok tok"


"Tuh buka paling cowok kalian" kata Nunu yang sedang menonton tv.


Hanifapun beranjak dan membuka pintunya.


"Eh kak, Raina baru beres mandi tuh haha semalem dia gak bisa tidur hahaha" kata Hanifa.


"Faaaaaaaa apasih" teriakku.


Akupun berjalan keluar kamar untuk menemui Andreas.


"Kenapa? tumben pagi-pagi udah bangun" kataku.


"Makan dibawah yu?" ajaknya.


"Boleh, tapi aku mau ganti baju dulu. Baru selesei mandi nih" kataku.


"Yaudah aku tunggu disini" katanya.


-----------------------------------------


###############################


-----------------------------------------


Setelah selesai makan....


"Kalian mending otw sebelum jam 12 siang deh, biar sampe Bandung gak kemaleman. Weekend begini suka macet, cari aman aja" kata kak Dhika.


"Iya kak, rencananya kita mau pergi jam 11" jawab Hanifa.


"Rik? lu fit kan? gantian nyetir ya sama Hanifa" kata kak Dhika.


"Iya kak siap, aku semalem tidur nyenyak ko jadi fit hahaha" jawab Arika.


"Iya tuh yang gak tidur semalem si Raina" kata Nunu.


Nunu sebenarnya tidak tahu ceritaku, dia hanya mengatakan bahwa aku tidak bisa tidur semalaman seenaknya saja.


"Wah sama dong, si Iyas juga susah tidur semalem. Gatau deh mikirin apa, ngelamun terus" kata Kak Dhika.


"Hmm dasar jodoh!" sahut Hanifa.


"Apasih lu dhik? gue tidur juga" jawab Andreas.


"Gue liat ya lu susah tidur semalem hahaha jangan bohong deh lu" kata kak Dhika.


"Udah ah, mending kita packing yu? sejam lagi nih" ajakku.


Kami berempatpun masuk kamar dan membereskan barang-barang kami agar rapi dan tidak berantakan saat masuk mobil nanti.


------------------------------------------------------------------------


------------------------------------------------------------------------


Setelah selesai membereskan barangku, aku dan Hanifa mendatangi kamar Andreas dan kak Dhika.


Disana mereka ternyata sedang main game online.


"Kak, baju udah diberesin semua?" tanyaku.


"Hm apa?" jawabnya.

__ADS_1


"Baju, udah dimasukin ke tas semua belum?" tanyaku.


"Udah, eh gatau deh tolong liatin dong di kamar mandi takut ada yang ketinggalan" jawabnya.


Akupun melihat masuk ke kamar mandi.


Benar saja... Handuk, kaos putih polos dan sikat giginya masih ada didalam. Akupun segera membereskannya.


"Ini masukin, tasnya mana?" tanyaku.


"Dibawah tuh disana" jawabnya tanpa menunjuk.


"Dibawah mana sih?" tanyaku.


"Deket tv tuh" jawabnya lagi.


Aku kesal, kalau bermain game online begini dia pasti sulit diajak bicara. Dia akan asyik dengan dunianya, bahkan sedari tadi dia tidak melihatku sama sekali.


Kak Dhika juga sama menjengkelkannya dengan Andreas. Dia mengabaikan Hanifa dan asyik dengan gadgetnya. Sesekali mereka berdua akan berteriak satu sama lain.


"Parah lu sembunyi"


"Muncul dong lu kalau berani"


Aku dan Hanifapun menjalankan drama favorit kami.


"Showtime" gumamku.


Aku dan Hanifa memainkan ponsel juga secara bersamaan.


"Fa, liat deh si Fariz mantan kamu barusan update foto di stagram haha lagi di Singapura kayanya keren deh" kataku keras.


"Wah iya? coba ah aku liat" jawabnya.


"Eh rain, ini Fasyapradipta itu bukannya anak MIPA yang temen les kamu kan? dia add aku loh di stagram. Hahaha cakep juga ya? foto-fotonya estetik keren juga deh" sahut Hanifa.


"Wah iya? kayanya dia liat dari mutualan aku deh fa. Acc aja trus follback lumayan kan nambah temen" jawabku.


Aku dan Hanifa sengaja memancing perhatian Andreas dan kak Dhika.


Tak lama setelah beberapa scene berlangsung, mereka berdua langsung menaruh ponselnya masing-masing.


"Fa, balik yu ah ke kamar. Kita siap-siap" ajakku.


"Ayo" jawab Hanifa.


Dengan cepat, mereka berdua menghalangi kami dan berdiri didepan pintu keluar masuk itu.


"Kamu mau kemana? mau stalking ig si Fasya itu? aku kan udah bilang, aku gak bolehin kamu berhubungan sama Fasya" kata Andreas.


"Kamu juga, kamu mau stalkingin ig mantan kamu hah?" tanya Kak Dhika.


Aku dan Hanifapun lirik-lirikan dan kemudian tertawa.


"Hahahahahaha kepancing kan makanya kalau aku lagi ngomong tuh dengerin bukannya asyik aja maen game" gerutu Hanifa.


"Iya nih, giliran kita pancing dikit aja soal cowok lain langsung marah" jawabku.


"Beda dong, kita kan nge game kalau kalian itu stalkingin ig cowok. Dua hal yang berbeda" bela kak Dhika.


"Iya, kita mana pernah stalking ig cewek lain ya dik? eh kalian malah berani-beraninya. Depan kita lagi" kata Andreas merespon.


------------------------------------------


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


------------------------------------------


Setelah drama selesai, kamipun kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk pulang.


Sesampainya di parkiran mobil.


"Kakak, nanti naik apa pulang?" tanyaku.


"Gampang, pake mobil kantor aja nanti aku minta supir jemput kesini" jawabnya.


Andreas menatapku dengan mata sayunya, seolah tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan.


"Yaudah, hati-hati ya? jangan lupa abisin obat yang dikasih dokter waktu itu. Terus kalau lukanya kering jangan lupa potong rambut biar gak kegores-gores" kataku.


"Iya bu, siap laksanakan" jawabnya sambil hormat.


Dia memelukku dalam beberapa detik dan rasanya dalam sekali.


"Gih sana masuk, hati-hati ya fa jangan ngebut santai aja bawanya yang penting selamat!" katanya sambil melihat Hanifa.


"Siap kak, nanti princessnya aku anterin sampe rumah dengan selamat" sahut Hanifa.


"Kak makasih banyak ya buat dua hari ini, kita nyenyak kenyang dan bahagia banget" teriak Nunu dari dalam mobil.


"Iya kak lain kali lagi ya?" sahut Arika.


"Iya sama-sama" jawabnya.


"Yaudah bye kak bye kak Dhika" kataku sambil melambaikan tangan.


Kak Dhika terlihat mengelus rambut Hanifa dan mencium keningnya.


"Kamu hati-hati ya? jangan ngebut dan kabarin kalau udah sampe rumah!" kata Kak Dhika.


------------------------------------------


-------------------------------------------


-------------------------------------------


-------------------------------------------


Kami berempatpun pulang menuju Bandung....


Ketiga sahabatku baru menyadari bahwa aku memakai kalung saat itu. Nunu yang duduk disampingku bahkan menarik kepalaku untuk melihatnya dari jarak dekat.


"Bagus banget rain" kata Nunu.


"Ih rain lucu simpel, dari kak Andreas ya?" tanya Arika.


"Ya iyalah, lu kira dari siapa lagi inisialnya A hahaha" jawab Hanifa.


"Semalem ya pas dia ngasih ini, masa dia bilang tunggu aku sebentar lagi" kataku.


Ketiga sahabatku kaget, bahkan Hanifa sampai rem mendadak.


"Serius kak Andreas bilang gitu?" tanya Hanifa.


"Hmm serius beneran deh" jawabku.


"Wah siap-siap dilamar Rain" kata Nunu.


"Ngaco ah, masa dia secepet itu lamar aku?" kataku.


"Eh gak percaya, kalau bukan mau ngelamar ngapain coba dia bilang 'tunggu aku sebentar lagi' hahaha itu pasti dia mau ngelamar kamu" sahut Arika.


Setelah mendengar analisa mereka yang begitu yakin kalau maksud Andreas berkata demikian adalah untuk melamarku, aku terdiam dan memikirkan sesuatu.


Sampai akhirnya, ponselku berbunyi.


beep beep beep beep beep beep


Andreas mengirimkan chat padaku. Aku segera membukanya dan langsung tersenyum setelah membaca dan membalasnya.


"Makasih ya udah rawat aku dua hari ini, maaf buat semalem. Itu bener-bener diluar kendali aku makanya aku langsung minta kamu keluar. Kamu jangan mikir macem-macem ya! Take care there please! i love you 🖤"

__ADS_1


"I love you too"


__ADS_2