Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Tidak bisa lagi ditoleransi


__ADS_3

Sepuluh hari kemudian.......


"Rain, bener ya kamu mau nyamperin Pak Yana awas loh kalau ngga?" kata Hanifa dalam telponnya.


"Iya, aku samperin ko nanti abis kelas" jawabku.


"Pokoknya, kamu harus bilang kamu mau daftar jadi duta kampus" katanya.


...........


...........


...........


Setelah kelas selesai...


Kayi menemaniku saat itu, kami langsung menuju ruang Kajur untuk memenuhi janjiku dan Hanifa tentang keputusan kami terkait penelitian dan menjadi duta kampus.


Meski sudah diwanti-wanti oleh Hanifa, aku tetap tidak siap kalau harua mengiyakan tawaran Pak Yana.


"Aku bohong aja ah ntar aku mau bilang kalau pak Yana udah punya calon lain aja" kataku.


Sebenarnya, aku, Nunu, Arika dan Hanifa sudah membicarakan ini matang-matang. Tepat sehari sebelum Hanifa izin ke Wates untuk menghadiri acara pelantikan Papanya.


"Rain, beneran kamu mau nolak jadi duta kampus?" tanya Kayi.


"Iya kay beneran, lagian aku gak sanggup kalau harus hactis terus di semester 5 hahaha" jawabku.


"Iyasih rain, tapi kesempatan kan gak dateng dua kali? Lagian dengan ini kamu bisa naikin pamor jurusan, siapa tau aja kan kamu masuk 10 besar atau mungkin bahkan jadi juara" katanya.


Seperti kata Hanifa, Nunu dan Arika kalau aku yang lebih kompeten untuk maju, entah kenapa aku justru masih ketakutan. Aku takut berbuat kesalahan dan membuat para pendukungku kecewa nantinya.


Tapi, Hanifa sudah bilang kalau dia akan mati-matian membantuku, Nunu juga bilang "kamu bakalan aku jadiin cantik banget di setiap acaranya" dan Arika juga menjamin dukungan untuk suaraku dalam voting nanti.


Orang yang tidak ingin kukecewakan adalah mereka bertiga....


Hanifa menolak tawaran ini karena dia juga harus fokus pada bisnis aksesorisnya yang semakin pesat, pesanan demi pesanan dan tuntutan untuk memperbanyak desain setiap bulannya mulai menyita waktu Hanifa.


Belum lagi, Hanifa harus mendesain totebag dan pouch kami.


"Aku kan gak sepinter kamu kalau ngebagi waktu. Apa kabar ip aku kalau aku daftar jadi duta kampus? Bisa terjun bebas haha" katanya.


Aku menolak juga karena alasan yang jelas, aku takut kegiatan duta kampus akan menyita banyak waktuku yang sudah sangat terbagi-bagi ini. Beruntungnya, kegiatan BEM sudah agak longgar. Kami hanya sesekali harus menjalankan proker di bidang umum masing-masing.


Aku tetap di bidang wawasan dan pendidikan, sementara Nunu, Arika dan Hanifa ada di bidang Bakat dan Minat.


"Rain, itu Pak Yana udah masuk" kata Kayi


"Yaudah kamu ikut masuk yu?" ajakku.


"Gak usah Rain, kamu aja sana! Sini tas sama barang-barang kamu biar aku yang jagain" katanya.


Akupun masuk keruangan Pak Yana, dan beliau terlihat sangat senang.


"Eh Raina silahkan masuk" katanya.


"Bagaimana keputusan kamu?" tanya beliau.


"Begini pak, kalau untuk penelitian itu saya sudah bicarakan dengan yang lain kalau kami siap membantu pelaksanaannya. Hanya saja, kami minta satu asisten dosen untuk membantu kami" jelasku.


"Oke, masuk akal sepertinya kalian sudah ada pikiran bahwa bapak tidak bisa menemani kalian selama penelitian berlangsung ya?" tanyanya.


"Iya betul pak, karena bapak kan super sibuk" jawabku.


"Lalu soal tawaran yang kedua?" tanya beliau lagi.


"Hmmm sebenarnya, saya dan Hanifa belum punya jawaban yang pasti. Maksud saya Hanifa sudah bilang bahwa dia menolak dan saya......


"Kamu yang terima? Oke selamat! Bapak kirim formulirnya ke email kamu ya? Silahkan tulis alamat email kamu disini" kata beliau memotong pembicaraanku dan buru-buru memberikan selembar kertas dan pena padaku.


"Raina, ini bisa jadi kesempatan kamu untuk berkembang. Yang nonton kamu nanti bukan hanya satu jurusan loh tapi satu kampus ini. Kamu bisa dikenal luas, mendapat achievement pribadi dan lagi kegiatan duta kampus ini bersertifikat. Hanya dengan kamu ikut serja saja, maka kamu sudah menerima minimal 1 sertifikat untuk menambah penilaian akhir saat kamu di wisuda nanti" jelas beliau.


"Yasudah pak, ini alamat email saya" kataku.


"Bagus, untuk detail acaranya masih sebulan lagi ko. Hanya saja kamu harus seleksi lebih dulu untuk babak penyisihan" jelas beliau.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak sampai satu jam setelah aku keluar dari ruang Kajur, Hanifa sudah menelponku.


"Kamu mau dibeliin apa? Aku mumpung mau ke jogja nih" tanyanya.


"Gak usah, nanti aku ngerepotin" jawabku.


"Sudah kuduga, aku udah kirim tuh foto-foto aksesoris sama t-shirt lucu gak mau tau pokoknya kamu harus pilih satu buru" gerutunya.


"Iya nanti aku pilih, oya fa aku udah dari ruangan Pak Yana" kataku.


"Bagus dong, terus gimana? Kamu terima kan tawarannya?" tanya Hanifa.


"Terima, katanya acaranya masih sebulan lagi tapi ada seleksi dulu buat babak penyisihan gitu" jelasku.


"Hmm baguslah, seenggaknya selama satu bulan itu kamu bisa belajar catwalk, public speaking dan lain-lain" jelasnya.


.....


...........


.................


"Kay, kita tunggu Nunu sama Arika disini ya?" kataku.

__ADS_1


"Oh iya rain, tapi kayanya aku mau ke perpus dulu deh" katanya.


"Gak sekalian bareng aja?" tanyaku.


"Gak usah aku duluan aja" jawabnya.


Kayipun pergi terlebih dahulu ke perpustakaan, dia masih kelihatan canggung bergabung dengan ku dan teman-temanku yang lain.


Padahal, aku sudah meminta Kayi untuk menganggap semua kejadian di masa lalu tidak pernah terjadi. Agar Kayi tidak lagi memiliki beban mental kedepannya, tapi sepertinya masih sulit bagiku untuk meruntuhkan dinding pemisah yang menghalangi kami.


"Mungkin Kayi masih tidak bisa menerimaku sebagai teman barunya"...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Rain, kita nonton yu?" ajak Nunu.


"Bertiga?" tanyaku.


"Yah kaya gak tau aja, berlima lah" jawabnya.


"Hmm kalian aja double date sana!" gerutuku saat melihat Nirwan dan Gian sudah ada dibelakangku.


"Hahaha, ikut aja sih rain gapapa?"ledek Nirwan.


"Diem ya pasangan baru! Udah gih kalian aja pergi, aku mau ke perpus aja cari referensi" kataku.


"Serius? Terus nanti pulangnya gimana?" tanya Arika.


"Gapapa aku bisa naek angkot" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Akupun pergi ke perpustakaan berharap Kayi masih ada disana dan kami akan membaca buku dan mencari referensi tugas makalah bersama-sama.


"Rain" suara Kayi memanggilku.


Benar saja, dia sudah duduk di dekat rak buku sub jurusan IPS.


"Ko sendiri?" tanyanya.


"Nunu sama Arika ada acara sama cowok-cowok mereka" jawabku.


"Hm sama Gian sama Nirwan?" tanyanya.


"Iya, kamu udah tau?" tanyaku.


"Udahlah rain, kelihatan kali Gian jadi lebih terbuka dan selalu senyum sekarang. Nirwan juga lebih bahagia kayanya" jelas Kayi.


"Kalau gitu kamu juga harus bahagia dong? Semua orang aja bisa nemu menciptakan kebahagiaan mereka masing-masing" kataku.


Kayi menatap wajahku dan seolah mengerti makna yang kuselipkan dibalik perkataanku barusan.


Setelah itu, aku coba mencari-cari judul buku yang menarik.


Saat aku tiba di pojokan koridor, ada bayangan yang mengikutiku.


Aku melihatnya, itu Fasya.


Aku mencoba mengabaikan kehadirannya dan terus fokus mencari buku di rak-rak atas.


Hingga aku harus berjinjit untuk mengambil buku, ada seorang perempuan yang menyenggolku dari belakang. Aku hampir terjatuh, karena tubuhku tidak seimbang. Namun, Fasya menahan tubuhku dari samping..


Aku merasakan moment canggung yang aneh, seketika saja kulepaskan tangannya dari bahuku dan mencoba pergi tanpa sepatah katapun.


Fasya mengejarku, menghentikan langkahku dengan cara menghalangi jalan dengan badannya.


"Aku mau bicara sebentar" katanya.


"Aku sibuk maaf" jawabku.


"Rain, aku cuma mau minta maaf" katanya.


"Udah aku maafin, sekarang juga kamu pergi dari hadapan aku" jawabku.


Fasya malah tertawa dan meletakkan tangannya di kedua pinggangnya.


"Apa lagi?" tanyaku.


"Aku gak ngerti kenapa cewek se populer kamu malah milih Andreas yang kuno dan gak gaul itu?" katanya.


"Emang kenapa? Andreas baik ko, dia sayang sama aku. Dia bukan orang yang suka manfaatin orang kaya kamu" jawabku.


"Hah? Gak ada orang yang sempurna di dunia ini. Kamu inget ya Rain, Praya aja secantik itu dia tinggalin. Berarti kamu, masih ada kemungkinan juga kalau kamu hmmmm gausah aku bilangin lah yah... Kamu pasti ngerti sendiri" jelasnya.


"Udah ngomongnya? Kamu buang waktu aku aja tau gak" kataku sambil meninggalkannya.


Sebenarnya, saat itu aku takut melihat Fasya. Tangan dan kakiku gemetaran. Aku tidak tahu harus melawan Fasya dengan cara apa, jelas Fasya adalah orang yang licik dan pintar memanfaatkan situasi.


"Rain, kamu kenapa? Kaya ketakutan gitu?" tanya Kayi.


"Gak apa-apa ko kay, aku cuma ketemu orang stress" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai dengan tugas kami, aku dan Kayi memutuskan untuk pulang. Kosan Kayi terletak di arah bawah Kampus, jadi aku ikut jalan kesana sekalian agar aku tidak jalan sendirian.


Kami berpisah didepan fakultas teknik, tepatnya disamping parkiran motor selatan.

__ADS_1


"Yaudah ya rain, aku jalan sini" katanya.


"Ya bye" jawabku.


Saat aku hendak berjalan menuju gerbang samping kampus untuk keluar tepat didepan jalan raya, ada dua orang laki-laki yang mengikutiku dari belakang.


Aku mempercepat jalanku dan berpikiran mungkin saja mereka hanya sekedar berjalan ke arah yang sama. Tapi, kemudian aku merasakan langkah mereka secepat langkahku.


Sekitarku terasa sepi, karena memang jalan yang kulewati itu adalah jalan pintas menuju jalan raya.


"Raina, jangan buru-buru dong!" teriak seseorang dibelakangku itu.


Aku mengenal suaranya, itu suara salah satu teman Fasya yang saat itu membicarakanku di tempat makan.


"Kak, aku takut" gumamku.


Seketika saja aku mengambil ponselku dan mengirimkan lokasi pada Andreas dengan harapan dia akan menjemputku tepat di persimpangan menuju jalan raya.


Terakhir kali, dia bilang kalau dia sudah pulang mungkin setengah jam yang lalu.


Dia juga memintaku untuk menunggunya sampai dia datang ke kampus.


Aku bilang bahwa aku ada perlu ke perpustakaan dan minta bertemu di depan gerbang utama kampus saja.


Tapi, karena situasinya begini rasanya aku takut sekali. Perasaanku tidak enak.


Mereka berdua sekarang ada didepanku, dan benar saja itu temannya Fasya.


"Kalian siapa ya? Ada perlu apa?" tanyaku pura-pura tidak mengenal mereka.


"Oh iya, kita lupa belum ngenalin diri. Gue Gerri dan ini temen gue Hans. Kita temennya Fasya" jelasnya.


"Fasya mana ya?" tanyaku.


"Wah parah nama Fasya aja dia gak inget, mana mungkin dia pacaran sama Fasya kan hans?" kata Gerri.


"Udah gue bilang, si Fasya tuh bohong. Mana mungkin sih cewek sebening gini nerima Fasya gitu aja" kata Hans.


"Fasya ini, dia temen les kamu kan waktu SMP terus katanya beberapa bulan ini kalian pdkt dan kaliam udah jadian seminggu yang lalu" jelas Gerri.


"Dia emang temen les aku, tapi aku gak pdkt apalagi jadian sama dia. Bukannya dia pacaran sama Yasmin ya?" kataku.


"Tuh kan, gue bilang apa bohong kan dia pokoknya kita harus tagih uang taruhan kita" kata Hans.


"Taruhan? Taruhan apa?" tanyaku.


"Gak usah taulah, lu dan kebanyakan mahasiswi cantik yang lain bukannya seneng dijadiin objek bisnis? Lu pasti suka kan direbutin oleh banyak cowok dan populer karena berhasil ngegebet cowok ganteng yang banyak fansnya?" kata Hans.


"Aku gak sepicik itu" kataku.


"Oh ya? Emangnya darimana lu bisa menuhin semua gaya hidup lu kalau bukan dari duit cowok lu haah?" bentak Gerri.


"Aku cari uang sendiri lah, gimanapun caranya" jawabku.


"Hahaha basi cari uang sendiri? Dengan cara apa? Jual diri?" teriaknya.


Tiba-tiba saja, ada Kayi yang berlari dari arah belakang dan menampar pipi Hans dengan sangat keras.


"Woy siapa lu? Beraninya lu nampar temen gue?" kata Gerri.


"Daripada temen lu yang cuman beraninya bentak dan ngerendahin harga diri cewek, lebih baik gue yang berani nampar cowok yang mulutnya busuk kaya lu pada!" bentak Kayi.


"Gue udah manggil temen-temen cowok gue kesini, jadi gue saranin mendingan lu minggat atau gue gak ngejamin bakal jadi apa lu pada entar" kata Kayi lagi.


Hans dan Gerripun melarikan diri..


Kayi memelukku dan membawaku ke tempat yang agak ramai dan aman.


"Rain, kamu gak apa-apa kan?" tanyanya.


Aku masih belum bisa menjawab pertanyaan Kayi, yang ada di telingaku saat itu hanyalah tuduhan keji dari kedua laki-laki tadi tentang diriku.


"Rain, sini aku telpon Kak Andreas" katanya sambil mengambil ponsel dari tanganku yang gemetaran.


Aku mencoba menarik nafas panjang... Menenangkan diriku dan melihat Kayi.


"Iya kak, aku temenin Raina sampe kakak dateng" kata Kayi sambil menutup teleponnya.


Kayi memberikanku sebotol air minum, membukakannya dan memegangi tanganku.


"Rain tenang ya? Mereka udah gak ada ko, kamu udah aman" katanya.


Aku malah menangis tak karuan karena hanya menangis rasanya aku bisa melepaskan segala rasa sesak di dadaku.


"Gapapa nangis aja biar lega" katanya.


"Aku tadi balik lagi nyari kamu karena kartu mahasiswa kamu keselip di buku aku, takutnya kamu perlu buat ngambil uang makanya aku buru-buru nyari kamu karena aku yakin kamu pasti lewat jalan tikus dan belum jauh" jelasnya.


"Makasih ya kay untung ada kamu, aku gak tau kalau posisinya kamu gak ada" kataku.


"Iya rain, katanya kak Andreas udah deket ko. Aku temenin sampe dia dateng ya?" katanya.


"Makasih ya kay" jawabku.


Tak lama kemudian, Andreas datang dan memarkirkan mobilnya di pinggiran toko.


"Dek, kamu gak apa-apa kan?" tanyanya sambil berlutut didepanku.


"Udah kak, mendingan anterin Raina pulang sekarang. Urusan cowok berandalan itu, lu bisa urus entar kebetulan gue kenal salah satu dari mereka" kata Kayi.


"Beneran kay? Gue bakal minta tolong ke lu nanti" kata Andreas.


Diapun membawaku masuk ke mobilnya,


Selama perjalanan, aku hanya diam dan menggenggam tangan Andreas seerat yang aku bisa.

__ADS_1


Hingga tiba-tiba, pikiranku seolah menuntun mulutku untuk berkata.


"Aku mau kakak bales perbuatan mereka! dan aku juga mau kakak buat perhitungan sama mereka!" kataku.


__ADS_2