
Malam harinya ternyata adik Hanifa pulang, katanya dia minta izin pulang lebih cepat untuk merawat kakaknya.
"Kak Raina pulang aja istirahat, kakak biar aku yang jagain" kata adik Hanifa.
"Iya neng, neng pulang aja lagian neng juga harus istirahat kan capek?" tambah Bibi.
"Iya rain, aku gak apa-apa ko. Kamu juga harus tidur dan siap-siapin buku buat besok kan?" kata Hanifa.
"Iya udah, aku pulang kalau gitu. Kamu besok jangan dulu masuk kuliah lah kasih surat dokter aja dulu" kataku.
Sebelum pulang, akupun memberi kabar pada kak Dhika kalau adiknya Hanifa sudah pulang.
"Yaudah, makasih ya udah jagain Hanifa" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
****************************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah....
Aku langsung mengolah data, membuat kerangka Bab 1 dan Bab 2 untuk laporan sambil mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk besok kuliah.
Ketika sedang fokus mengetik, notifikasi WA sangat menggangguku. Itu pasti Fasya yang sedari tadi siang terus menerus mengirimkan foto selebaran bazzar-bazzar di kampus-kampus.
Aku hanya membaca pesannya tanpa membalasnya satu kalipun.
Fasya menelponku dan basa-basi menanyakan apa aku sudah pulang dari praktikum atau belum.
"Udah ko sya" jawabku singkat.
"Gimana? Ada rencana gak mau buka stand di kampus sebelah?" tanyanya.
"Belum kepikiran, soalnya kita lagi pada sibuk di jurusan" jawabku.
"Hmm yaudah, kalau ada rencana bisa telpon aku kebetulan aku kenal sama panitianya" jelasnya.
Untuk alasan apapun, aku merasa Fasya tidak perlu sampai menelponku semalam itu. Apalagi hanya untuk menanyakan tentang bazzar, itupun yang menjadi panitianya bukan dia tapi mahasiswa dari kampus lain.
Mataku sudah mengantuk, tapi tugasku masih banyak. Sesekali aku nyaris tertidur didepan laptop.
"Ayo raina, kamu harus selesai bab 1-2 hari ini biar besok kamu bisa ngerjain yang lain" jeritku dalam hati.
Besok sudah banyak kegiatan menantiku....
"Merekap hasil kerja Maru untuk tugas buku kaderisasi, mengumpulkan data, membagi tugas laporan dan merekap pesanan yang masuk di stagram"...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
********************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari berlalu, aku masih dengan kesibukanku. Sekarang setelah satu persatu tugas mingguan ku selesai, aku harus menyambut awal bulan ini dengan sedikit ketegangan.
"Rain, bapak minta kelompok PKM kalian kumpul secepatnya untuk menentukan tema umum" kata Pak Nandy.
Pak Nundy adalah dosen mata kuliah Geografi Pembangunan... Beliau adalah dosen muda lulusan Jerman dan baru kembali mengajar di Jurusan selama hampir sebulan ini.
"Pak Nundy idola banget ya?" kata Nunu saat kuberitahu bahwa kelompok kami menjadi tanggung jawabnya.
"Iya tapi berasa pressure gak sih kita? Dapet dosen pembimbing nya Pak Nundy?" kata Hanifa.
"Bumerang sih lebih tepatnya, kita bisa aja tertekan kalau kita pilih judul yang salah dan gak sesuai sama bidang dia" jawabku.
"Terus gimana Rain? Kamu ada ide gak buat judul penelitian kita? Secara aku Nunu dan Hanifa, kurang suka sama mata kuliah pembangunan" tanya Arika dengan wajah pasrahnya.
Diantara kami berempat, yang paling menguasai mata kuliah bersifat visioner dan teoritis adalah aku. Aku cukup mampu melakukan analisa terhadap kebijakan dan cukup baik dalam teori. Sehingga aku cenderung lebih menyukai mata kuliah Geografi desa kota, geografi pembangunan dan geografi lingkungan. Pokoknya semua yang berhubungan dengan teori dan visi misi.
Sementara Hanifa, dia lebih menyukai geografi terapan yang lebih praktikal dan kekinian. Hanifa sangat baik dalam membuat peta sebaran, peta DAS dan lain-lain dalam bidang kartografi.
Nunu yang aktif dan pandai berbicara, lebih menyukai mata kuliah sistem informasi, media pembelajaran dan geografi masyarakat.
Sementara Arika, dialah yang paling menonjol diantafa kami. Dia menyukai hitung-hitungan, rumus dan segala hal yang paling sulit dalam lingkup geografi seperti meteorologi dan klimatologi, astronomi, kosmografi dan terakhir hidrologi.
"Yaudah, kalian baca dulu deh gambaran dari lima judul yang udah aku pikirin dan kebetulan Andreas juga kasih saran ke aku lima judul lagi. Siapa tau bakal ada yang cocok" jelasku.
"Oke boleh, ayo kita bacain dulu" kata Arika sambil mengambil hasil print outku.
Mereka bertiga sangat serius saat membaca rekomendasi judul itu. Sepertinya mereka benar-benar mau proposal kami lulus kembali.
"Bayangin deh, proposal kita lulus terus dibiayain dan kita ke desa buat realisasinya hahaha keren ya?" kata Nunu dengan antusiasnya.
"Iya nu, kebayang gak sih kita bisa bantu warga desa dan berguna buat mereka" sahut Hanifa.
Aku menatap ketiganya dengan bahagia, mengingat bagaimana kami tumbuh dan berkembang menjadi dewasa selama 2 tahun ini. Rasanya waktu berjalan dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Hmm guys, maaf banget ya tapi kayanya harapan kalian berdua buat jadiin desa target penelitian kita harus segera direalisasikan" jelas Arika.
"Lah kenapa ka? Lu udah dapet ide jenius" tanya Nunu.
"Gue lebih masuk ke judul rekomendasinya Kak Andreas tentang Pemanfaatan sampah organik dan plastik dalam pembangunan Desa swadaya" jawab Arika.
"Tapi gue suka judul Raina yang perencanaan paket wisata. Bagus gak sih? Kita bisa ngerencanain tentang paket wisata di desa deket-deket bandung aja" jelas Hanifa.
"Yaudah, gini deh jalan tengahnya kita kombinasi aja dua judul itu. Gimana?" kataku.
"Setuju!!!" jawab mereka serentak.
Kamipun melakukan pembagian tugas perbab untuk memudahkan pengerjaan dan mempersingkat waktu kerja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
*******************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat sedang sibuk begini, aku selalu merindukan suara Andreas. Sesekali aku akan memutar rekaman suaranya untuk menaikkan moodku. Meski hanya rekaman suaranya yang berkata
"Udah malem, tidur gih. Kamu pasti capek kan?"
Berkali-kali dalam sehari, dia akan sangat sering mengirimkanku foto kaki, tangan, rambut dan suasana kantornya. Tapi, dia tidak pernah mengirimkan satupun foto yang memperlihatkan wajahnya.
Kalau sedang videocall, dia juga tidak pernah memperhatikanku. Matanya hanya akan sesekali melihat wajahku lalu dia alihkan ke arah lain.
Maka dari itu, aku sangat merindukannya. Karena Andreas sangat berbeda di kehidupan nyata dan mayanya. Dia selalu memanjakanku setiap kali kita dekat, tapi saat sedang jauh begini dia hanya akan khawatir dan bersikap manis disaat-saat tertentu saja.
Sudah hampir tiga minggu, kami tidak bertemu...
"Rain, pulangnya aku ada perlu sama kamu soalnya Mama nitip sesuatu buat kamu. Nanti aku ke fakultas ya!" kata Fasya.
Aku pikir daripada aku terus-terusan menolaknya secara halus, inilah saatnya aku melihat sendiri apakah dia punya perasaan lebih atau tidak kepadaku.
Semalam, Fasya sempat mengirimkan pesan dan bercerita padaku bahwa Mamanya menanyakanku dan memintaku mampir kerumah kalau ada waktu senggang.
Karena ini berkaitan dengan Mamanya, aku jawab saja "0ya salam balik ya buat tante, nanti kapan-kapan aku mampir"...
Mama Fasya dan Ibuku juga teman arisan dulu, aku merasa tidak enak kalau tidak merespon.
"Iya sya" jawabku.
Akupun menceritakan kepada ketiga sahabatku kalau Fasya akan menemuiku nanti.
Duahari yang lalu, Nunu sudah memberi tahu Yasmin tentang Fasya. Dia sama sekali tidak percaya pada kami, menurutnya Fasya adalah lelaki yang baik dan jujur.
Kami tidak berbicara lebih jauh kepada Yasmin, hanya saja sekarang mungkin waktu yang tepat untuk memancing Fasya agar membuka topengnya sendiri didepan Yasmin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**********************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah kelas selesai....
Aku segera menemui Fasya dan sahabat-sahabatku mengikuti dari belakang.
Fasya sudah menungguku di belakang fakultas, dia duduk sambil membawa kotak berwarna biru tua.
"Sya, ada perlu apa?" tanyaku.
"Duduk dulu rain" katanya.
Dia menarik nafasnya dalam-dalam seolah sedang berusaha melepas ketegangan.
"Aku tau ini dadakan banget dan aku harusnya gak boleh kaya gini....
Aku beneran gak ada persiapan, tapi aku juga gak bisa boongin diri aku....
Sejak papasan sama kamu di gerbang, sejak aku tau kamu juga kuliah disini dan sejak kita deket lagi... Aku diam-diam suka sama kamu....
Aku beneran gak tau sejak kapan, tapi aku gak bisa nolak perasaan aku sendiri kalau aku selalu seneng saat deket kamu" jelasnya.
Kali ini Fasya seperti berlutut didepanku, dia menatap wajahku lurus.
"Aku udah bilang sama Mama kalau aku mau nembak kamu, mama dukung aku dan bilang kalau aku harus merjuangin kamu...
Jadi sekarang aku mau tanya sama kamu, apa kamu mau jadi pacar aku?" tanyanya...
Aku sudah menduga hari ini akan datang, setelah Yasmin menceritakan kejanggalan sikap Fasya selama hampir sebulan ini. Aku yakin, Fasya sedang mencari mangsa barunya. Selain dari perempuan yang terlihat bersamanya oleh Randy juga Yasmin, pasti Fasya masih memiliki rahasia lain yang belum terungkap.
Aku mencoba memainkan peranku, seperti kata Hanifa aku harus terlihat seakan-akan aku juga menyukai Fasya. Aku harus menahan waktu sampai Yasmin datang dan melihat kami.
"Tapi sya, aku punya pacar" kataku.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku gak apa-apa ko jadi yang kedua. Kamu bisa sembunyiin aku, pacar kamu jauh kan?" tanyanya.
Aku kaget, betapa Fasya terlihat seperti lelaki yang sangat buruk sekarang dihadapanku.
"Kamu kenapa berubah sih sya?" gumamku.
"Aku cuma ngerasa perlu jujur ke kamu, supaya kamu bisa mempertimbangkan aku. Aku bisa jadi yang kedua, atau aku bisa nunggu sampai kamu putus sama pacar kamu" katanya.
Fasya terlihat semakin gila sekarang, bagaimana bisa seorang lelaki sepertinya mau menjadi yang kedua?
"Kamu bisa jawab aku sekarang kan Rain?" tanyanya.
"Oiya, ini dari Mama anggap aja katanya ini hadiah buat kamu" tambahnya sambil memberikan kotak biru tua itu padaku.
Dari belakang kulihat Yasmin dan ketiga sahabatku sudah datang dan sepertinya sedari tadi mereka menguping pembicaraan kami.
"Bagus ya!!! Kamu bilang Mama kamu ulang tahun dan kamu ajak aku beliin kado buat dia, ternyata kadonya buat nembak Raina?" teriak Yasmin.
Fasya terlihat kaget saat menyadari Yasmin ada dibelakangnya.
"Yang, aku bisa jelasin" kata Fasya sambil menarik tangan Yasmin.
"Jelasin apa lagi? Kamu jelas-jelas nembak Raina depan mata kepala aku sendiri. Aku pikir selama setahun ini kamu berubah sya, tapi ternyata kamu sama aja. Kamu tukang mainin perempuan" jelas Yasmin.
"Ini gak seperti yang kamu bayangin yang, aku sama Raina... Kita temen dari kecil, kita deket dari SMP. Aku juga gak ngerti kenapa Raina bisa deketin dan godain aku, padahal aku udah bilang sama dia kalau aku udah pacaran sama kamu" jelas Fasya memutar balikan fakta.
"Eh nyadar dong lo, lo yang deketin Raina duluan. Lu yang udah tau raina punya pacar tapi lu yang gila masih aja deketin cewek yang udah taken" sahut Nunu membelaku.
"Lu jangan ikut campur ya, lu gak tau kan kalau Raina ini cewek penggoda? Dia ngegodain gue, nyuruh gue kerumahnya lah dan minta gue anter jemput dialah. Sayang, kamu harus percaya sama aku" kata Fasya.
Yasmin tidak menggubris penjelasan Fasya, dia malah mengusir Fasya.
"Udah, aku gak mau denger penjelasan kamu. Mulai sekarang kita putus!"....
Fasya pergi dengan menahan rasa malunya.
Aku menenangkan Yasmin bersama dengan ketiga sahabatku.
Yasmin tampak kuat dan tidak menangis sedikitpun, dia hanya kelihatan gemetaran karena harus menahan amarahnya.
"Kalau ini bukan dikampus, udah aku tampar dia" kata Yasmin.
"Udahlah yas, kamu jangan mau dibodoh-bodohin sama cowok" kata Nunu.
Yasmin berterimakasih kepada kami dan meminta kami untuk berhati-hati karena Fasya merupakan tipekal cowok pendendam yang akan membalas seseorang yang sudah menghalangi jalannya.
"Kalian, terutama kamu Raina harus hati-hati dia pasti ngelakuin sesuatu nantinya. Dulu, dia juga pernah ngelakuin kekerasan ke aku. Aku maafin dia karena udah terlanjur sayang, aku mergokin dia selingkuh dan aku masih maafin dia juga sampe akhirnya sekarang aku gak bisa lagi maafin dia" jelas Yasmin.
"Kamu kan cantik yasmin, kenapa mau sih sama cowok yang model begituan? ganteng sih, tapi kalau suka kekerasan dan suka selingkuh gitu mah penyakit akut pasti susah sembuhnya" jelas Arika.
"Iya, aku juga gak tau kenapa aku bisa sampe sepercaya itu sama Fasya. Aku beliin dia banyak barang, selalu nurut apa kata dia dan malah mengabaikan nasihat sahabat-sahabat aku yang minta aku putus sama dia" kata Yasmin.
"Maaf banget yasmin, bukannya aku mau memperkeruh suasana tapi beberap hari yang lalu juga adik aku mergokin Fasya sama cewek disekitaran rumahnya dan ciri-cirinya gak berponi dan rambutnya pendek" jelasku.
"Udah aku duga, dia gak pernah bisa komit sama satu orang. Makasih ya infonya, akhirnya sekarang aku bisa tenang karena udah tau kalau maksain terus berhubungan sama Fasya gak akan pernah ada ujungnya" kata Yasmin pasrah.
"Tenang yas, habis ini sahabat-sahabat kamu pasti masih mau nerima kamu ko walaupun kamu sempet gak percaya sama cerita mereka. Asal habis ini kamu cerita aja sama mereka sejujur-jujurnya" kata Hanifa.
Yasmin mengangguk dan kami mengantarkannya kembali ke jurusannya.
"Yasmin, boleh gak kita beli tiket seminar itu hehe soalnya si Raina suka banget sama dee" tanya Nunu.
"Oh, boleh! aku kasih kalian setengah harga deh... besok ambil aja tiketnya kesini dan sekalian aku mau bayar uang pouch ke kalian" jawab Yasmin.
"Tuh Rain, kita bisa ko dateng ke seminarnya hahaha kamu bakal ketemu dee" kata Nunu bersemangat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***********************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah....
Aku menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada Andreas, dia mendengarkan setiap ceritaku dengan serius. Matanya juga kali ini tidak berhenti menatapku.
"Tumben kakak serius banget dengerin aku cerita" kataku.
"Aku lagi mikirin cara buat kasih pelajaran ke Fasya, kalau dia udah biasa kasar sama cewek dan pendendam kaya yang dibilang mantan pacarnya ke kamu itu. Bahaya juga buat kamu, gimanapun kamu yang udah buka topengnya dia didepan mantannya. Aku jadi khawatir" katanya.
"Aku juga agak takut sih, tapi aku bakalan hati-hati ko dan aku juga udah blokir nomor sama semua sosmednya dia" jelasku.
"Kamu selalu aktifin maps kamu ya, biar aku bisa akses dan bisa selalu tahu kamu dimana. Ini perintah bukan permintaan" katanya.
"Dih serem takut" ledekku.
"Jangan bercanda, kamu cewek loh dia cowok. Kalau kasusnya kamu ada masalah sama cewek lagi sih aku percaya kamu bisa ngatasin sendiri. Tapi kalau ada cowok yang berani ngusik kamu, aku yang harus turun tangan" katanya.
__ADS_1