
Setelah ikut rapat koordinasi bersama kak Reka dan ditunggui oleh ketiga sahabatku, kami pergi ke kosan Nunu untuk menginap disana.
Malam harinya di kosan Nunu...
"Serius loh Na, si Gian tadi keringetan parah gendong kamu naik tangga" kata Arika.
"Aku harus berterimakasih sama dia" kataku.
"Kamu sebenernya ngerasa gak sih, dia tuh masih punya perasaan ke kamu?" tanya Hanifa.
"Gak tau fa, emang sih dia baik banget ke aku. Tapi ya belum bisa disimpulin kan kalo dia masih punya rasa atau nggak ke aku, lagian tau sendiri posisi aku gimana" jawabku.
"Yaudahlah, Gian juga harusnya sadar diri Raina sama siapa sekarang. Boleh ajasih dia punya perasaan tapi kan jangan sampe maksain" kata Nunu.
Aku mendengarkan saran dan nasihat dari sahabat-sahabatku, mereka keukeuh memintaku menjelaskan pada Gian tentang semua yang selama ini menggantung.
"Apalagi minggu depan kita kan pengabdian pada masyarakat ke Subang, kayanya bakal lebih gak enak deh kalau kamu sama Gian masih awkward kaya sekarang" kata Hanifa.
"Iya, kecuali kalau kamu udahan sama Andreas bisa aja kamu jadian sama Gian kan?" celetuk Nunu.
"Nu, apaan sih malah doain orang putus? Mentang-mentang jomblo sih lu" ledek Arika.
Akhirnya, tibalah giliran Arika untuk menceritakan siapa laki-laki yang sedang disukai dan diincarnya akhir-akhir ini.
"Nirwan!!" katanya.
"Hah nirwan?? Kenapa bisa? Sejak kapan?" tanya kami.
__ADS_1
"Gak tau sejak kapannya, tapi dia perhatian ke aku. Suka ingetin tugas, ingetin makan sampe akhirnya pas weekend dia ngajak aku jalan-jalan cari angin. Aku sih gak tau ya, dia maksudnya kaya gitu ke aku karena suka atau iseng aja. Tapi, jujur aja aku udah suka sama dia" jelasnya.
"Hmm pantesan, tiap ada Nirwan suka benerin rambut ya?" kataku.
Entah kenapa senang rasanya bisa berkumpul dan curhat-curhatan lagi malam itu dengan mereka. Meski aku harus sakit dulu untuk memancing mereka mengkhawatirkanku, tapi aku tidak masalah. Mereka juga punya kesibukan, dan dalam kesibukannya mereka tetap mengingatku. Kami masih sering chat di grup, meski sekarang Arika dan Nunu berbeda kelas denganku dan Hanifa.
"Rain, kamu belum mau ngobrol sama kak Andreas?" tanya Hanifa.
"Mau, tapi nanti kalau dia udah gak marah haha lagian hape aku mati ko. Nanti lah agak malem aku telpon dia" jawabku.
Setelah yang lain tidur, aku belum tenang karena harua menelpon Andreas untuk menjelaskan kejadian tadi sore.
👩 : Halo kak?
👦: Akhirnya kamu nelpon, gimana kondisi kamu sekarang? Enakan?
👦: Dhika tadi jelasin, mungkin kamu kecapean juga katanya. Jadi nanti pas pengabdian pada masyarakat, kamu gak usah ikut. Biar aku yang bilang sama Gian.
👩: Tapi kak, Hanifa Arika sama Nunu aja ikut. Masa aku enggak?
👦: Ya kamu mau sampe kapan porsir diri kamu ikut kegiatan terus-terusan kaya gitu? Kamu kan bukan robot!
👩: Tapi kak, ini tahun pertama aku ikut pengabdian loh. Aku pingin banget ikut, kak aku janji deh aku bakal sehat. Apa besok aku ke dokter deh, periksain minta vitamin dan konsultasi biar aku sehat lagi ya ka?
👦: Terus tadi kenapa gak mau diajak ke dokter sama Dhika?
👩: Karena hmmmm masih pusing kak
__ADS_1
(padahal aku berbohong)
👦: Yaudah kalau gitu, besok kamu ke poliklinik kampus aja. Terus minta dokter jaganya telpon aku, dia kenal aku ko. Aku harus tau kondisi kamu sebenernya.
👩: Wah hebat pacar aku kenal sama dokter kampus hahaha???
👦: Kamu jangan coba ngalihin topik, aku masih marah loh karna kamu bohong gak bilang mau donor darah ke aku..
👩: Maaf, abis aku penasaran rasanya ngedonor gimana. Kakak lagi apa? Udahan dong marahin akunya.
👦: Aku lagi diluar tadi abis cek tiket pesawat besok, aku mau nyusulin kamu tadinya. Aku takut aja kamu parah dan kenapa-kenapa, tapi si Dhika nelpon aku berkali-kali yakinin aku kalau dia bisa jagain kamu.
👩: Iya ka, kak dhika jagain aku ko. Kalau aku dideketin kak Bram dia langsung ada, kalau aku dikerumunin maru dia juga suka nolong. Dia jagain aku kaya adenya banget...
👦: Gian juga kan? Dia jagain kamu kan?
👩: Gian? Ko jadi ngomongin Gian...
👦: Tadi yang nolongin kamu Gian kan?
Obrolan pun berlanjut dengan Gian sebagai topik utamanya, menurut Andreas dia tidak masalah kalau Gian selalu membantuku. Malah harusnya dia berterimakasih pada Gian karena sudah menggantikan tugasnya selama dia tidak ada.
Andreas memintaku untuk berterimakasih secara langsung juga kepada Gian, sekalian memperbaiki hubungan kami yang sempat renggang karena kesalah pahaman.
Belum lagi karena Kayi yang memperkeruh suasana. "Pokoknya kamu harus jelasin sama Gian, semuanya yang kamu tau. Biar Gian paham dan ngerasa 'clear' aja" katanya.
Aku senang karena Andreas semakin dewasa dan mau menerima Gian sebagai sahabatku, karena bagaimanapun Gian adalah orang yang baik.
__ADS_1