Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kehilangan


__ADS_3

Tak lama, kak Dhika menelponku. Belum apa-apa aku sudah menangis tersedu-sedu.


"Kak, aku mau kakak disini. Aku gak bisa liat kak Iyas nangis kaya tadi"


Kak Dhika terdengar jelas juga menangis saat itu tapi dia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam.


"Dengerin kakak sekarang, alamat lengkapnya udah aku kirim di chat. Kakak juga udah pesenin kamu tiket pesawat tapi kamu baru bisa terbang jam 9 malem karena flight yang tersedia cuma jam segitu aja. Kakak gak bisa nemenin kamu karena besok ada presentasi. Lusa baru aku nyusul ke Palembang, nanti kalau memungkinkan kakak kesana sama Hanifa. Dek, yang tabah dan sabar ya? Kamu satu-satunya sumber kekuatan Andreas sekarang. Disana, kamu jangan nangis! Bantu dia jadi lebih kuat dan jangan lepasin tangannya! Kakak titip Andreas ya? Kamu orang yang tepatin janji kan? Andreas itu luarnya aja keras, tapi dalemnya dia lebih rapuh dari kakak. Sekarang, kamu tarik nafas dalam-dalam. Telpon orang tua kamu, ceritain yang terjadi semuanya ke mereka dan minta izin untuk pergi ke Palembang 2 sampe 3 harian"


"Iya makasih ya kak... Aku pasti lakuin apa yang kakak minta. Kakak juga harus janji nyusulin aku kesana? Dia pasti lebih kuat kalau ada kakak" jelasku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku menelpon Ibu ke telepon rumah, dengan harapan Ibu akan membantuku minta izin pada Ayah untuk pergi ke Palembang.


Lagi-lagi setelah mendengar suara Ibu, perasaanku malah lebih hancur dari sebelumnya dan aku tak bisa menahan tangisanku lagi.


"Kenapa sayang?" tanya Ibu.


"Ibunya kak Iyas meninggal, tadi kak Iyas ngasih tau aku ke kampus tapi dia kaya mau pergi lama banget. Dia minta aku jaga diri, dia minta jangan nakal. Aku mau ikut kesana juga gak boleh bu, sementara dia gak punya siapa-siapa lagi kan? Aku mau nyusulin dia ke Palembang, dua sampe tiga hari aja bu. Ibu bantu aku bilang ke Ayah ya?" ......


"Sayang, tolong bilang ke Iyas... Ibu turut berduka cita ya... (suara Ibu mulai serak dan terdengar sangat berat)....


"Tolong kamu jagain dia juga, baru aja terakhir pas kita liburan itu Ibunya nelpon dan ngomong ke Ibu. Minta Ibu ngewanti-wanti kamu supaya gak ninggalin anaknya. Ibu Iyas bilang kamu anak yang cantik dan baik banget, gak nyangka ya takdir emang gak ada yang tau.....


"Iya kamu pergi aja, biar Ibu yang jelasin ke Ayah tapi inget ya kalau Ayah telpon kamu harus angkat! Jangan nangis disana, kamu harus nguatin Iyas bukan?" jelas Ibu.


"Iya bu makasih ya, nanti Arika sama Nirwan sebentar lagi sampe kayanya. Ibu tolong banget cariin baju teteh yang simpel buat dibawa kesana" pintaku.


"Iya sayang, Ibu siapin sekarang ya?"...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


.🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa jam kemudian.....


Hanifa masih saja memelukku dan tidak membiarkanku sendirian. Bahkan saat aku hendak ke kamar mandi saja, dia masuk dan menemaniku kedalam.


Tangannya tidak dia lepaskan sedetikpun dari tanganku.


Sesekali, aku melihat air matanya juga mengalir saat melihatku tak kuasa menahan tangis.


"Gapapa, nangis aja sepuasnya disini. Disana nanti kan kamu gak boleh nangis" katanya sambil mengelap pipiku yang basah.


"Maaf ya fa, mungkin acara date kalian gagal karena kejadian ini. Padahal kamu sama kak Dhika udah lama banget gak ketemu" kataku.


"Kamu ngomong apa sih Rain? Bahkan kalau bisa, aku juga mau nemenin kamu kesana sekarang. Tapi kak Dhika kan udah minta kalau aku pergi sama dia nanti" jawabnya.


Tiba-tiba saja, aku teringat uang yang sudah kutabungkan. Uang dari Andreas untuk tabungan liburan kami.


"Fa, aku transfer uang ya untuk gantiin uang kak Dhika yang udah beliin aku tiket pesawat? Jadi nanti uangnya bisa buat kalian beli tiket juga" kataku.


"Eh gak usah, itu uangnya kak Dhika beneran ko. Nanti dia marah kalau tau kamu malah mau ganti segala" katanya.


"Gapapa fa, harga tiket itu kan bukan jumlah sedikit. Ini juga uang Andreas, kemarin baru aja pencairan dana penelitian dan dia malah minta aku simpen uangnya di rekening aku. Katanya buat liburan semester nanti....


......


......


......


Saat menceritakan hal itu, aku sadar bahwa semua manusia hanya bisa berencana dan sisanya hanya Sang Pencipta yang bisa menentukan.


"Aku bahkan belum sempet ketemu Ibu lagi, belum sempet bilang kalau aku mau jadi menantu Ibu. Belum bisa jalan-jalan sama Ibu di Palembang, tapi Ibu malah udah ninggalin aku sekarang".....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pukul 8 malam....


"Ayo ke bandara, kita anterin kamu" kata Hanifa sambil beranjak.


"Gue aja sini yang bawa mobilnya, cewek-cewek duduk dibelakang ya?" kata Nirwan.


Arika memberikan tas gendong milikku yang sudah disiapkan Ibu tadi saat mereka berdya mengambilnya kerumah.


Didalam mobil, tidak ada satupun dari kami yang bersuara.


Gian dan Nirwan, duduk didepan dengan sangat santai dan senyap saja.


Hanifa masih tidak mau melepaskan tanganku...


Nunu dan Arika juga terlihat sangat terpukul dan hanya menunduk saja sambil sesekali melihatku dan mencoba untuk tersenyum.


Aku merasa beruntung, memiliki mereka...


Lagi-lagi, karena aku tidak pernah ditinggalkan...


....


....


Sesampainya di Bandara....


"Kamu hati-hati ya, instruksi kak Dhika udah jelas kan? Begitu turun dari pesawat, kamu bakalan dijemput sama Bani dan dia yang nganter kamu sampe depan rumah Kak Iyas" jelas Hanifa.


Perlahan, akupun berjalan masuk dan harus meninggalkan sahabat-sahabatku.


.......


Setelah masuk ke pesawat...


Sebelum mematikan ponsel, Bani sempat mengirimkan pesan.


"Kabarin aku nanti kamu nunggu dimananya ya? Soalnya aku udah otw nih.."


"Iya kak" jawabku.

__ADS_1


Bani adalah kakak tingkatku juga, dia dari jurusan Sastra. Bani sedaerah dengan Andreas dan sekosan juga dulunya.


Kak Dhika sengaja menelpon Bani untuk meminta bantuannya dan mengantarkanku ke rumah Andreas.


"Desa Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir" hanya itu saja yang aku tau.


.....................


Setelah tiba di Palembang.....


Kak Bani sudah menungguku dan mengajakku berjalan ke mobilnya.


"Dari sini masih harus naik kendaraan lagi, perjalanan sekitar 1 jam 30 menitlah" katanya.


"Iya kak, makasih ya kakak udah mau jauh-jauh jemput" kataku.


"Gapapa, tadi aku udah dari rumah Iyas dan jenazah Ibunya baru dateng dari rumah sakit soalnya nunggu Iyas sampe dulu. Dia sampe rumah sekitar jam 6an lah" jelas kak Bani.


"Iya kak, soalnya dia nemuin aku di kampus juga sekitar jam 1 siangan" jawabku.


"Kamu harus pinter-pinter temenin dia, dulu pas Bapaknya meninggal sifatnya berubah 180 derajat. Dia jadi jarang ketawa dan pemurung. Diajak maen futsal gak mau, maunya dirumah dan belajar terus. Katanya mau wujudin cita-cita Bapaknya. Sekarang, dia harus kehilangan Ibunya. Aku yakin, dia pasti hancur lagi tapi setelah tahu kalau ada kamu yang selama ini nemenin dia. Mungkin dia bisa lebih kuat" ....


"0ya, kamu tidur aja dek. Nanti saya bangunin kalau udah deket. Anggap aja ini waktu istirahat, belum tentu kan dirumah Andreas nanti kamu bisa tidur" jelas Bani.


"Iya kak, makasih banget ya sekali lagi. Ini kali pertama aku ke Palembang dan sendirian pula" kataku.


Fisikku memang lelah saat itu, bahkan sepertinya mentalku juga down.


Hanya saja, aku tetap tidak bisa tidur sedetikpun.


Aku hanya melihat kondisi jalanan Palembang saat malam hari....


Anginnya menusuk....


.....


.....


"Coba tujuanku kesini bukan untuk alasan berita duka kaya sekarang, mungkin Andreas ada disebelahku dan kita lagi menikmati suasana malam di Palembang" gumamku.


...


...


Hampir saja aku menangis lagi saking terbawa suasana...


Tapi seperti kata kak Dhika, aku tidak boleh cengeng dan harus lebih kuat dari Andreas. Dia sekarang harus tahu, kalau dia gak sendirian. Dia masih punya aku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah Andreas....


"Inu rumahnya, tuh masih banyak orang yang didalem. Kayanya Andreas dikamarnya atau mungkin masih nungguin jenazah Ibunya diruang tamu" kata kak Bani.


Kakiku terasa sangat berat saat kucoba melangkah dan masuk kedalam rumahnya...


Dia bahkan tidak melihat siapa yang datang malam itu, tatapannya benar-benar kosong.


Om dan Tante yang sempat datang saat wisudanya, menyambutku didepan pintu rumah. Tante bahkan memelukku dan seolah tak menyangka aku bisa ke Palembang malam itu.


Perlahan, aku berjalan mendekatinya. Hingga akhirnya dia melihat kakiku berhenti tepat disamping tempatnya duduk.


Dia melihatku....


Aku ikut terduduk dan memeluknya saat itu juga.


Dia menangis sejadi-jadinya...


Tangisan seorang anak yang sangat kesakitan saat harus ditinggalkan oleh orang tuanya.


"Ada aku sekarang, kakak gak sendirian ko" bisikku sambil memeluknya.


Kepalanya bersandar di dadaku. Rambutnya berantakan dan punggungnya terasa basah.


"Kamu sama siapa kesini?" tanyanya.


"Sendiri, diurusin kak Dhika terus dari bandara dijemput kak Bani" jawabku.


Setelah melepaskan pelukannya, Andreas memegang tanganku dengan sangat erat.


Kami sekarang berhadap-hadapan didepan jenazah Ibu.


Matanya menatap sangat tajam dan seperti ingin memberitahukan sesuatu.


"Permintaan terakhir Ibu udah terpenuhi, ibu mau didatengin sama kamu dan sekarang kamu ada dirumahnya. Tapi Ibu malah tidur, tolong kamu bilang sama Ibu suruh bangun. Bilang kamu udah dateng, ajakin Ibu jalan-jalan" katanya sambil menangis.


Aku mencoba menegarkan hatiku, layaknya membuat pagar-pagar besi didalamnya agar hatiku kokoh dan tak lagi menangis.


"Ssssh Ibu udah tenang, Ibu juga udah tahu aku dateng. Ibu pasti sekarang maunya kakak istirahat. Kakak cuci muka ya? Ambil air wudhu" kataku.


"Yas tidur gih, biar disini kan masih banyak orang. Istirahat" kata Tantenya.


Dia mau menurut, dan sekarang dia beranjak mengikuti tantenya.


Sementara aku, kini hanya ada aku dan Alm.Ibu yang berhadap-hadapan.


Aku mendekatkan diriku ke tubuh beliau, sembari berharap Ibu dapat mendengar ucapan perpisahan dariku.


"Bu, Raina ada disini.. Dirumah Ibu sekarang... Raina udah liat taneman Ibu yang katanya banyak dan bagus-bagus itu. Raina udah liat danau yang katanya mau Ibu ajak kesana. Raina udah liat foto keluarga Ibu diruang tamu. Maafin Raina ya bu? Raina datangnya telat. Harusnya pas Ibu bilang Ibu kangen sama Raina dan minta Raina kesini, Raina langsung dateng. Tapi takdirnya malah berkata lain, Ibu pergi sebelum kita bisa jalan-jalan. Ibu udah ketemu sama Bapak kan disana? Ibu pasti udah seneng sekarang, Ibu udah tenang. Oya, Ibu jangan khawatirin kak Iyas ya? Raina bakal perhatiin dia ko. Raina bakal buat kak Iyas sehat, ingetin dia makan sayur dan istirahat yang cukup. Ibu bisa ngandelin Raina ko buat jagain kak Iyas"...


Setelahnya, aku mengirimkan banyak sekali doa. Meminta agar Ibu dibersamakan dengan Bapak disana. Meminta kekuatan dan ketabahan untuk Andreas serta keluarga yang ditinggalkan.


Tak berapa lama, tante Dewi memanggilku.


"Temenin Iyas ya sayang, dia belum minum atau makan apapun sejak dateng kesini" kata Tante.


"Kak Iyas dimana sekarang tan?" tanyaku.


"Dikamarnya, habis cuci muka dan ganti baju" jawab Tante.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah 2 tahun lebih mengenal Andreas, akhirnya aku sekarang tahu kamarnya. Kamar yang menurutnya selalu jadi tempat paling memorable seumur hidupnya.


Aku mengetuk pintu kamarnya dan dia hanya menjawab dengan suara datar "gak dikunci".


Akupun masuk dan mendapatinya sedang duduk di atas ranjangnya.


"Kakak minum dulu ya? Mau aku mintain makan sekalian gak?" kataku.


Dia malah menarik tanganku dan membenamkan kepalaku ke dadanya.


"Aku cuma mau kamu terus disamping aku" katanya pelan.


"Aku gak akan pergi kemana-mana ko. Tapi kakak harus minum dan makan sesuatu dulu, sedikit aja ya?" bujukku.


Dia tetap tidak menggubrisku, kali ini pelukannya malah semakin kuat.


Aku mencoba melepaskan diriku dari pelukannya dan lalu menyentuh kedua pipinya.


"Minum dan makan dulu ya? Setelah itu baru boleh meluk aku lagi" kataku.


Dia mencium keningku dan meneteskan air matanya lagi.


"Kata kak Dhika, besok dia baru bisa kesini soalnya masih ada tugas presentasi. Oya Ibu sama Ayah juga tadi titip pesen, katanya kakak harus makan banyak" kataku mencoba menghiburnya.


Sedikitnya dia tertawa, meski hanya tertawa tipis tapi rasanya cukup menjadi pelipur laraku yang seharian tadi hanya melihatnya menangis.


"Aku mau minum dan makan asal kamu yang siapin" bisiknya.


"Iya, bentar ya aku ambilin" kataku.


Belum juga melangkah, dia sudah menahan tubuhku. Memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu kananku.


"Jangan lama-lama ya" bisiknya.


Setelah kejadian ini, aku jadi paham kenapa Andreas selalu terkesan marah jika sesuatu terjadi padaku. Bahkan hanya ketika aku sakit demam saja, dia akan sangat khawatir dan memintaku untuk selalu jujur tentang kesehatanku kepadanya.


"Iya-iya gak lama ko" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Saat aku keluar dari kamarnya, Om sudah menungguku.


"Gimana rain, Iyas mau minum sama makan gak?" tanya om.


"Mau, dapurnya kemana om?" tanyaku.


"Sini sayang" panggil tante.


Didapur, kulihat semua sedang sibuk memasak. Mungkin untuk acara pengajian besok.


"Sayang, makasih ya udah dateng kesini" kata Tante sambil menangis.


"Udah dong tante, jangan nangis. Raina kan emang udah seharusnya dateng kesini" kataku.


"Oya, tante sempet dititipin ini sama Ibunya Iyas katanya buat kamu" jelas Tante sambil memberikan kotak berukuran sedang berwarna merah tua.


"Nanti kamu buka ya? Tapi tolong sekarang bujuk Iyas biar mau minum dan makan dulu, setelah itu suruh dia tidur. Tante sama yang lain khawatir" katanya.


"Iya tante" jawabku.


....


.....


Entah apa yang disimpan Ibu didalam kotak ini...


Rasanya aneh sekali saat membawanya...


Pun sama beratnya dengan perasaanku...


Kalau isinya adalah ucapan perpisahan yang akan membuatku menangis, aku tidak mau membukanya didepan Andreas....


Akupun memasukkanya kedalam totebag yang kupakai saat itu. Lalu segera kembali ke kamar Andreas.


........


........


.....


Dia masih saja mematung dan duduk bersila diatas ranjangnya dengan tatapan kosong.


"Kak, kita makan dulu yuk?"....


Dia melirikku dan mencoba tersenyum.


"Kamu juga pasti belum makan kan? Kita makan bareng ya sepiring berdua" katanya.


Aku sangat senang saat mendengarnya mau berkata-kata agak panjang lagi.


"Iya" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


....


.....


.....


Gimana nih tanggapannya setelah baca episode ini?


Thor bela-belain nulis tengah malem loh buat dapet feel sedihnya. Biasanya kalau nulis eps yang sedih dan drama bombay begini, thor harus cari ilham dulu. Kadang thor harus menstimulus otak thor dengan dengerin lagu yang mellow dan sedih, nontonin MV yang sedih, dan nonton eps drama korea yang sedih juga.


Salah satu inspirasi thor nulis episode kali ini adalah drama Dr. Romantic 2 hahaha. Menurut thor sosok Ahnyeoseop disana Andreas banget, ala-ala tsundere yang cool tapi care.


Saat nonton scene pas Direktur rumah sakitnya meninggal dan ditangisin sama semua staff dirumah sakit itu, thor kepikiran deh alur cerita buat episode ini.


Terus MV dan Lagunya The Ark yang judulnya The Light juga sedikit banyak menginspirasi thor. Kalian harus nonton deh!!! Oya, Semoga kalian suka ya sama episode ini.


Thanks you sudah baca cerita-cerita thor... Jangan lupa like dan komentarnya ya buat mendukung thor supaya lebih rajin nulisnya hehehe... Stay Safe and Healthy everyone!!!!

__ADS_1


__ADS_2