Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Siasat


__ADS_3

Keesokan paginya....


Seluruh anggota tim evaluasiku datang dan melihat keadaanku.


"Dih ini anak ya beneran deh susah banget dikasih taunya, udah tau si Rani tuh belut licin masih aja mau nolongin" gerutu Hasan.


"Rain, kamu beneran ga ditarik atau diapain kan sama Rani? Masa dia yang jatoh duluan tapi kepala kamu yang luka begini sih?" tanya Rima.


"Gak, beneran ko aku jatoh sendiri" jawabku.


Mereka pun bergegas keluar setelah suara peluit berbunyi.


"Tunggu, aku mau ikut?" teriakku.


"Rain tapi....."


"Gak ada tapi-tapian, aku mau ikut. Kalau bener diluar sana ada yang mau buat aku celaka, aku harus buktiin sama dia kalau dia gagal" jawabku.


.....


...........


................


"15 menit lagi, maru bakalan baris dan siap-siap untuk olahraga pagi. Hasan sama Roby yang bergabung sama tim lapangan untuk ikut selama olahraga berlangsung, silahkan pergi. Sementara anggota yang lain sama aku, kita harus nilai hasil kerja sketsa dan peta wilayah kelompok untuk awarding di akhir acara nanti" jelasku.


"Iya, terus Rain kan ada acara lintas angkatan juga di deket tenda panitia. Buat pemilihan ketua alumni, angkatan kita belum ada yang turun. Nirwan tadi bilang katanya dari masing-masing divisi harus ngirim perwakilan 2-4 orang" jelas Ega.


"Firda? Udah sama angkatan 2012 ya?" tanyaku.


"Udah kak, aku sama angkatan 2012 jadi aku gak bisa bantu kakak penilaian" jawabnya.


"Oke gapapa Rima, Ega sama Risa boleh ikut ke acara itu. Sisanya sama aku disini" kataku.


"Oke" jawab mereka serempak.


Aku, Ellice, Dinni dan Iria kebagian tugas untuk penilaian dan menentukan pemenang awarding.


Kamipun mulai mengecek semua hasil kerja maru dan sesekali harus berdiskusi untuk memberikan point yang sesuai.


Hanifa dan Nunu terlihat mendatangiku, dan mereka bilang bahwa mereka punya jam kosong karena tidak mewakili komdis untuk olahraga pagi ataupun untuk kumpul lintas angkatan.


"Thankyou ya demi aku, kalian jadi harus nganggur" kataku.


"Sama-sama, kita pantau dari sekarang ya. Nu lu siap kan?" kata Hanifa.


"Siap dong!" jawab Nunu.


Beberapa saat kemudian ....


Hanifa dan Nunu berpindah tempat, mereka duduk didepan tenda logistik dimana ada Rani disana.


Selang beberapa menit, Hanifa dan Nunu menjalankan rencananya.


"Rain, gila ya masih ada aja loh yang pikirannya picil gitu. Untung aja kak Andreas peka dan cerita ke kamu ya" teriak Hanifa.


Dinni, Ellice dan Iria terlihat kebingungan saat melihat kami bertiga berkomunikasi dengan suara yang cukup keras.


"Lagi latihan pernafasan kita tuh" bisik Nunu.


"Aku juga gak ngerti fa, kenapa bisa ya orang berpikiran sedangkal itu?" sahutku.


"Tapi kamu percaya gak sih kalau si dia yang jahatin kamu?" tanya Hanifa lagi.


"Gak percaya, soalnya aku sama dia udah baikan waktu kita praktikum hidrologi kemarin" sahutku.


Kulihat Rani mulai terpancing dan mendekati Nunu entah membisikkan apa.


..............


.......................


"Rani barusan nanya, "emang ada apa sih Raina diapain?" trus aku jawab ke Rani "semalem Kayi ngaku kalau dia yang nyembunyiin toanya buat nyusahin kamu. Terus niatnya buat bikin kamu kena marah" hahaha kayanya rencana kita berhasil Rain" kata Nunu dalam chatnya.


"Oke lanjutkan langkah ke 2" balasku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Menjelang lintas angkatan, semua sibuk mempersiapkan terpal dan membersihkan daerah sekitar tenda panitia.


"Kayi, kamu siap ya?" tanyaku dalam chat.


"Siap Rain" jawabnya.


Beberapa menit kemudian, kulihat Praya datang dan duduk di tempat perkumpulan. Sementara aku dan timku harus pindah ke dekat saung konsumsi.


"Rain, hasilnya surat cinta terbanyak buat siapa?" tanya kak Jeje angkatan 2007 yang kebetulan melintas.


"Buat saya kak" jawabku.


Kak jeje malah berteriak mengumumkannya pada semua orang yang sudah berkumpul diatas.


"Wooy surat cinta terbanyak buat si Raina, pacar lu idola tuh yas! Tiati" teriaknya sambil melihat ke tempat duduk Andreas.


Kulihat dari bawah, dia hanya tersenyum dan mengacungka jempolnya seolah dia berkata "siap kak, gua bakalan hati-hati"...

__ADS_1


Hanifa dan Nunu terlihat melewati gerombolan angkatan 2007 untuk tebar pesona.


"Hanifa, mana si Dhika ko gak dateng?" tanya kak Desi.


"Iya ka, lagi kerja di sulawesi" jawab Hanifa.


Hanifa dan Nunu berhasil menarik perhatian seluruh orang yang hadir. Angkatan 2007 dan 2008 terlihat antusias menyambut mereka sebagai anggota komdis yang cantik.


"Parah cantik-cantik komdis judes kayanya" ledek kak Jeje.


Sementara itu, aku sudah hampir menyelesaikan penilaianku.


"Din, aku titip sebentar ya mau ke toilet" kataku.


"Iya rain, aku udah beres ko" jawabnya.


Kulihat, Rani sedang berusaha mengajak Kayi untuk berbicara. Aku tahu, mereka menuju ke arah belakang tenda medis.


"Fa, Nu... Ayo belakang tenda medis" ...


"Otw rain" balas mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya disana, aku mengintip dari sudut sempit.


Sambil celingukan takut ada yang melihat.


"Udah mulai pertunjukannya?" tanya Nunu yang mengikutiku berjongkok.


"Belum, ayo siap-siap kamera" bisikku.


"Ready raina" jawab Hanifa sambil memegang ponselnya.


"Jadi lu yang sembunyiin toa tadi malem? Maksud lu apa? Lu mau gue kena marah sama ketua logistik? Lu seneng gue kena masalah? Hah?" bentak Rani.


"Lo jangan asal nuduh ya, gue gak nyembunyiin toa sama sekali. Tau aja nggak itu toa dimana" jawab Kayi.


"Alah berisik lo! Gue tau dari si Nunu, kalau lu semalem dateng ke tenda medis dan cerita sama Raina soal kebusukan lu" balas Rani.


"Hahaha, baguslah kalau lu udah tau! Jadi gue gak usah jelasin apa-apa lagi kan? Gue enek sama kelakuan lu, kenapa sih lu ga bisa terima nasib kalau Raina itu lebih bagus dari lu?" bentak Kayi.


"Oh Kayi Kanita sekarang ada di pihak mereka? Lu harusnya masih di pihak gue, jadi semalem lu bisa liat gue nyelakain dia. Gue bikin dia kasihan sama gue, terus gue bikin dia celaka deh" kata Rani.


"Hah? Jadi lu yang udah buat Raina jatuh semalem?" tanya Kayi.


"Iya, gue sama Praya. Gue yang eksekusi, seperti kasus lu yang dengan mudahnya dia tolongin. Gue juga yakin, kalau dia bakal nolongin gue nyari toa. Ya meskipun gue tau sebenarnya tpa itu udah disembunyiin Praya. Gue malah gak tau kalau lu nyembunyiin lagi toa itu! Gapapalah gak ngaruh juga ke gue! Yang penting gue bisa bikin dia celaka dan buat Andreas tau sama siapa dia berhadapan" jelas Rani.


"Tahan rain, tahan! Tunggu sampe Andreas dan Praya dateng" bisik Nunu.


"Udah, itu mereka udah dibelakang ayo Rain kamu maju samperin si Rani" kata Hanifa yang ada dibelakang kami untuk menjaga jalur.


Aku mengumpulkan semua keberanianku, saat itu rasanya tidak masalah kalau aku berubah menjadi singa. Setidaknya untuk melindungi diriku sendiri.


"Oh gitu ya ran? Jadi kamu yang semalem celakain aku? Mancing aku supaya kasian sama kamu, terus pura-pura jatoh dan giring aku ke tempat berbatu? Gila ya kenapa masuk jurusan ini sih? Kenapa gak masuk sastra atau seni peran aja?" teriakku.


Rani terlihat kaget, sementara Kayi memang sudah tahu akan kehadiranku.


"Raina? Sejak kapan kamu ada disini?" tanyanya.


"Sejak tadi, bahkan semua percakapan kalian udah gue rekam" jawab Hanifa.


"Kamu gak mikir ya? Kalau semalem aku geger otak dan aku bisa aja tuntut kamu, apa kamu gak takut?" tanyaku.


Andreas dan Praya terlihat kaget mendengar pembicaraan jami.


"Tuntut apa emang kamu punya bukti?" tanya Rani sambil membentakku.


"Puter fa rekamannya" kataku.


"Iya, gue sama Praya. Gue yang eksekusi, seperti kasus lu yang dengan mudahnya dia tolongin. Gue juga yakin, kalau dia bakal nolongin gue nyari toa. Ya meskipun gue tau sebenarnya tpa itu udah disembunyiin Praya. Gue malah gak tau kalau lu nyembunyiin lagi toa itu! Gapapalah gak ngaruh juga ke gue! Yang penting gue bisa bikin dia celaka dan buat Andreas tau sama siapa dia berhadapan"


"Gimana? Masih kurang buktinya?" tanyaku.


Rani terlihat gemetar dan tidak berkata apapun.


"Lu keterlaluan, apa pernah gue Nunu Arika atau bahkan Raina bikin lu celaka? Apa pernah gue ngerusak hari lu? Apa sih salahnya Raina sama lu. Makanya iri sama dengki tuh jangan dipelihara" kata Hanifa.


"Kenapa emang? Bukan cuma gue ko yang gak suka sama Raina. Kak Praya juga! Ya kan ka? Malah kakak kan yang minta aku untuk bikin Raina tau rasa?" tanya Rani sambil melihat ke Praya.


"Gila ya, cewek secantik dan se hype kakak bisa juga punya akal picik. Gila gila" kata Nunu.


"Jangan sembarangan ya kamu, saya gak sepicik itu. Maksud saya kan cuma buat jailin Raina aja bukan buat Raina sampe celaka" jawab Praya.


Aku melangkahkan kakiku dan menatap Praya dengan tajam dalam jarak dekat.


"Padahal aku pikir ya, kakak tuh bener-bener sosok idola gitu. Tapi ko otaknya dangkal begitu, sekarang aku tahu kenapa Kak Andreas gak pernah ngelirik kakak. Mana bisa dia suka sama cewek yang licin kaya uler? Gak level!" kataku.


Praya mengangkat tangannya, seolah-olah ingin mendaratkannya di pipiku.


Andreas dengan cepatnya menahan ayunan tangan Praya.


"Lu jangan macem-macem ya sama cewek gue! Udah gue peringatin kalau lu ketahuan sekali lagi main dibelakang jailin Raina, gue bisa bongkar sosok lu yang sebenarnya!" bentak Andreas pada Praya.


"Gapapa kak, kita liat dia mau lakuin apa ke aku. Bahkan kalau dia ngelakuin kekerasan bukannya dia malah bongkar kedok dia sendiri?" kataku.

__ADS_1


"Oya kamu Ran, awalnya aku ngira kamu sama Kayi sama aja. Ternyata Kayi lebih beradab dari kamu, Kayi mau ngakuin kesalahannya dan berdamai dengan keadaan. Kayi bisa move on karena dia berpikiran maju dan terbuka, gak kaya pikiran kamu yang isinya Andreas, balas dendam, iri, dengki dan gak suka liat orang maju" kataku.


"Okelah fix kalau gini kamu sama kak Praya bikin geng aja Ran" kata Nunu.


"Hah? Geng apa Nu?" tanya Hanifa.


"GCCGMO" jawab Nunu.


"Apaan tuh nu?" tanya Hanifa lagi.


"Geng Cewek-cewek gagal move on hahahaha" ledek Nunu.


Praya berlari meninggalkan tempat dan Rani masih bertahan disana.


"Udahlah Ran, mending kamu akuin aja kalau kamu salah dan minta maaf sama mereka. Dipikir-pikir bener ko, mereka gak pernah cari masalah duluan ke kita selalu kita aja yang mulai dan itu karena semata-mata kita syirik" kata Kayi.


"Udahlah kay kalau dalem hatinya belum ada keikhlasan buat nerima kekalahan dan mengakui kesalahannya, ya susah" kataku.


Rani pun pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Hanifa dan Nunu langsung memelukku. Mereka terlihat lega karena semua perkara sudah terbomgkar didepan mata Andreas.


"Makasih ya Kay, kamu udah bantuin kita" kataku.


"Sama-sama Rain, anggap aja ini sebagai penebus kesalahan-kesalahan aku ke kalian. Makasih juga karena mau nerima aku sebagai teman" katanya.


"Iya kay, mulai sekarang kalau kamu gak ada temen kamu bisa gabung sama kita" kata Nunu.


"Iya Nu thanks ya, yaudah gue cabut soalnya harus siapin yang lain" kata Kayi pamit.


Andreas masih mematung dan seolah masih mencerna semua kejadian yang baru saja dilihatnya.


"Ayo kak, kita pergi dari sini. Kakak kan harus ikut lintas angkatan!" ajakku sambil menarik tangannya.


Dia malah menahanku dan memelukku dengan sangat keras.


"Maaf, karena sama aku banyak banget hal buruk yang terjadi ke kamu" katanya.


"Bukan salah kakak ko, itu karena mereka aja yang gak bisa nerima kenyataan. Udah yah semuanya udah selesai" kataku.


"Iya kak, udah yang penting kan Raina selamet dan kakak jadi tahu kebenarannya" kata Nunu.


Dia masih saja memelukku, kali ini kurasakan sepertinya dia menangis. Ada tetesan air yang jatuh di punggungku.


"Kak, i'm ok" .....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah kembali menjalani tugas kami masing-masing, aku melihat Andreas tetap diam dan tidak banyak berbicara selama kumpulan lintas angkatan.


"Dia pasti ngerasa bersalah karena semua hal buruk yang terjadi ke aku karena cewek-cewek yang suka ke dia" pikirku.


.............


.....................


.............................


Waktupun berlalu dan sudah saatnya awarding.


"Raina, kamu kan yang ngasihin awardingnya nanti?" tanya Nirwan.


"Ohya, tolong juga ya tambahin award buat kakak tingkat favorit" kata Agung.


"Loh, kan gak ada di angket" kataku.


"Emang gak ada, itu angket dadakan komdis yang bikin tadi selama olahraga pagi" jawab Nirwan.


"Kakak tingkat favorit kategorinya apa aja?" tanyaku.


"Kakak tercantik, terbaik, terjudes dan tersadis" jawab Gian.


"Terus juaranya siapa?" tanyaku.


"Oya ya kamu harus tau juaranya orang kamu yang ngumumin" kata Gian.


"Eh jangan-jangan dia yang ngumumin kalau itu harus orang yang netral" kata Nirwan.


"Minta Ketua DPM aja yang ngumumin" sahut Agung.


"Siapa? kak Andreas?" tanyaku.


"Iya diakan punya hak buat ngasihin awarding" jawab Nirwan.


Dalam keadaan kaya gini, memangnya dia mau saat diminta memberikan reward pada maru?


Melihat wajahnya yang sedari tadi kehilangan semangat saja rasanya tak memungkinkan untuk diajak berbicara. Apalagi kalau diminta untuk membacakan awarding.


"Udah sini biar aku yang ngomong ke kak Iyas buat minta dia bacain awarding nanti" kata Nirwan sambil mengambil lembar pemenang dari tanganku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2