Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Bali i'm coming!


__ADS_3

Pagi hari sekali kak Iyas menjemputku, meski masih dengan wajah bantalnya. Dia terlihat tidak rela saat aku hendak turun dari mobilnya sesaat setelah kami sampai di bandara.


"Aku ikut masuk ya? Siapa tahu kalian butuh aku" katanya.


"Butuh? Buat apa?" ledekku.


"Aku mau ngecek aja kalian udah ready semua atau belum" jawabnya.


Kak Iyas ikut masuk hingga ke tempat kami berkumpul di lobby. Dia mengobrol dengan Aji, Nirwan, Gian, Agung dan lainnya. Sementara itu aku sibuk mengecek perlengkapan tim dokumentasi.


Hingga para dosen pembimbingpun berdatangan.


"Eh yas, nganter kesini?" tanya Pak Yana.


"Iya Pak, nganter Raina" jawabnya.


Kak Iyas mengobrol dengan para dosen hingga tak terasa akhirnya kami harus segera melakukan boarding.


"Yu siap-siap" ajak Nirwan.


Sebelum masuk, aku mendatanginya dan mencubit kulit perutnya.


"Sakit ih" gerutunya.


"Nanti kangen loh aku ilang berhari-hari" jawabku.


Kak Iyas spontan ingin memelukku, tapi aku menahan tangannya.


"Malu ih di tempat umum loh" kataku.


Diapun tersenyum karena menyadari sekeliling kami ada banyak orang.


"Yaudah gih masuk, kabarin aku kalau bisa. Sesampainya disana aku mau kamu fokus ya? Jangan terlalu mikirin aku" katanya sambil tertawa.


"Hahaha GR, emangnya aku bakal segitu kepikirannya? Kakak kali yang bakal kepikiran aku terus" ledekku.


"Itusih udah pasti, jangan lupa tidurnya yang bener dan makan yang bener juga" katanya.


Akupun meninggalkannya perlahan, langkahku menjauhi tempatnya berdiri sekarang. Dia masih disana sampai saat wajahnya tertutupi oleh kerumunan orang.


.....................


Katanya perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu.


Aku tak sabar menyambutnya.


Bukan karena ingin meninggalkanmu.


Tentu karena ingin segera mengakhiri upacaranya.


Untuk kemudian kita bisa saling bertemu.


Memeluk mesra seperti biasanya.


Aku tahu ini tak akan berlangsung sewindu.


Namanya berpisah pasti hanya sementara.


Yang selamanya itu rasa sayangku.


Menjelma menjadi abadi hanya untukmu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kursi sebelah kananku diduduki oleh Gian. Entah kenapa sebelahnya malah bukan Nunu melainkan Afrani. Ya si Rani.


Aku dan Gian lirik-lirikan menyadari betapa canggungnya kami saat itu. Meski Rani duduk dipojokan dekat jendela, aku masih saja merasa tidak nyaman.


Apalagi saat membayangkan harus sekamar dengannya seminggu penuh.


"Udah mau take off ya? Berdoa ya sayang, semoga disana lancar ya?" tulis Kak Iyas dalam pesannya.


"Iya sayangku, see u soon. Miss u already😭" balasku.


Gian mengintip isi percakapan kami saat itu lalu dia meledekku dengan suara keras.


"Heuh baru mau pisah seminggu aja lebay banget" katanya.


Rani menyadari kegaduhan yang kami buat dan dia terlihat memakai headsetnya.


Gian malah sengaja makin berisik dengan mengobrol keras bersama Nunu. Mereka sibuk dengan dunianya, beruntungnya saat itu di belakang semua penumpangnya adalah teman-teman seangkatan. Sisanya hanya beberapa penumpang lain saja.


"Rain, aku kemarin beli jaket loh di Rainfa. Lumayan dapet diskon 30%" kata Gian.


"Iya sebulan pertama katanya bakal diskon terus" jawabku.


"Hebat ya kak Iyas bisa bikin outlet sendiri" katanya.


"Iya itusih gak murni dia sendiri, sama kak Dhika dan dua orang temennya gitu deh kalau gak salah" jelasku.


.................................

__ADS_1


Tak terasa sampailah kami di Bandara Ngurah Rai. Bandara nomor satu tersibuk di dunia. Banyak sekali rombongan turis luar negeri yang berkeliaran disini. Aku sampai pangling setelah sadar bahwa ini masih di Indonesia.


Aku dan ketiga sahabatku menunggu koper sambil duduk-duduk. Aku juga sempat mengirimkan pesan pada Kak Iyas.


"Aku sampe di ngurah rai, huhu i'm so excited" kataku.


Tak lama kemudian, koper sudah kuambil dan kami diminta segera menuju bis travel yang sudah menunggu kami.


"Nomor bisnya sesuai sama yang digrup ya? Kita langsung ke hotel dulu" teriak Agung.


"Siap" jawab kami serempak.


Perjalanan menuju Jimbaran sangat indah, kami melewati jalan tol laut pertama yang dibuat di Indonesia. Dengan penampakan hamparan laut di sekelilingnya.


Sepanjang jalan juga banyak patung-patung yang terlihat sangat megah. Mayoritas warga di Bali memang memeluk agama Hindu dan membuat Bali terasa sangat berbeda nuansa kotanya dengan yang selama ini kami lihat.


Aku teringat saat pesawat hendak landing tadi, patung Garuda Wisnu Kencana terlihat menjadi bangunan yang paling menonjol. Di Bali sendiri memang terdapat peraturan mengenai pembangunan rumah dan hotel maupun segala bangunan yang hendak dibuat disana. Ada batas ketinggian tersendiri yang harus dipatuhi. Sehingga membuat Bali menjadi terlihat sangat rapi dari atas udara.


"Patung GWK itu kan belum jadi, nanti kalau udah 100% bisa dipastikan itu jadi yang paling terlihat dari atas pesawat" kata Gian.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di kamar hotel...


Aku bergegas menempati single bed yang tersedia disana. Sementara Ega harus menerima nasibnya satu kasur dengan Rani.


Beruntungnya Ega tidak protes dan menerima nasibnya dengan lapang dada.


"Rain, habis ini kita kemana dulu?" tanya Ega.


"Wah gak tau ga, aku kan bukan tim acara. Gak liat rundown juga" jawabku.


"Eh iya yah, harusnya aku nanya tim acara dulu" katanya.


Tak lama, roomchat angkatan berbunyi berkali-kali.


"Habis ini kita ke kantor dinas pariwisata dan kebudayaan ya. Ketemu di lobby dalam 15 menit" kata Agung.


Aku dan Ega bergegas masuk kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan diri. Bagaimanapun ini adalah kunjungan ke lembaga formal, kami harus menampilkan citra mahasiswa yang baik dan rapi ketika berkunjung kesana.


Setelah aku dan Ega selesai, Rani lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan sangat keras. Mungkin dia kesal karena sejak tadi aku dan Ega tidak mengajaknya berbicara.


"Tolong nanti kunci pintunya ya Ran dan bawa kuncinya sama kamu aja" teriak Ega sesaat sebelum kami meninggalkan kamar untuk menuju tempat berkumpul.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk mendiamkan Rani, hanya saja Kak Iyas memintaku untuk tidak mencoba berbicara dengannya terlebih dahulu.


"Aku tahu kamu pasti bakal baik sama dia, tapi demi menjaga mood kamu supaya gak berantakan selama kuliah lapangan ini mending kamu jangan sentuh-sentuh dia deh" kata Nunu menyarankan.


Sesampainya di lobby...


"Curang ih masa cantik banget gitu. Pasti tadi make up dulu ya?" kata Nunu saat aku duduk disampingnya.


"Cuci muka doang sama bedakan dikit" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kamipun sampai di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, rasanya sangat nyaman ketika mendapat sambutan yang baik dan ramah disana.


"Terima kasih atas kunjungannya, terima kasih karena sudah memilih Bali sebagai wilayah kajian kalian. Semoga Bali bisa memberikan kalian pelajaran terkait ilmu pengetahuan dan ilmu hidup tentunya. Selamat berkeliling di Kota Bali, sampai bertemu di lain kesempatan" kata Bapak yang menyambut kami.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Perjalanan kami lanjutkan menuju monumen Bajra Sandi. Kami melakukan kunjungan sekaligus wawancara dengan petugas dan warga disana.


Kami juga sempat mengambil foto kelas dan foto angkatan disana.


Aku juga sempat mengambil banyak foto dan video untuk laporan kami nanti.


Meski melelahkan, sangat seru sekali rasanya bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Bali.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya


Aku dan tim dokumentasi duduk-duduk di sebelah kamarku, dimana ada galon air dan banyak colokan disana.


Kami mendiskusikan tentang tugas kami esok hari, melihat dari rundown acaranya, kami akan menuju daerah Kintamani. Kemudian menyebrangi danau Batur dan berkunjung ke Pemakaman Adat Desa Trunyan.


"Besok kita full sampe sore loh, kalau ada kendala apa-apa cepet share di grup ya. Kamera harus full baterainya!" kata Hasan ketua tim dokumentasi.


Setelah selesai berdiskusi, aku kembali kamar dan melihat Ega sedang asyik main ponsel sambil minum didepan meja cermin.


"Busetdah, bukannya tidur" kataku.


"Aku udah nyoba sih cuman gak ngantuk" jawabnya.


Sementara itu Rani sudah tertidur di single bed yang seharusnya milikku.


"Bangunin aja tuh Rain, suruh pindah" kata Ega.

__ADS_1


"Gak usah ah kasihan, biar aku sekasur sama kamu aja ya? Gak apa-apa kan?" kataku.


"Yaudah lebih baguslah" jawabnya.


Ega memberitahuku bahwa sedari tadi ponselku berbunyi, maklumlah aku meninggalkan ponselku yang sedang ku cas di kamar.


Kulihat Kak Iyas menelponku sebanyak lima kali. Aku memang belum mengabarinya lagi semenjak mengatakan bahwa aku sudah sampai di Bali siang tadi.


Akupun menelponnya saat itu juga.


"Ya ampun kamu ko baru ngabarin sih?" gerutunya.


"Aku habis diskusi sama timku terus tadi hapenya aku tinggal" kataku.


"Pantes susah banget dihubungin, gimana hari pertamanya?" tanyanya.


"Baik ko, semuanya lancar. Aku seneng deh tadi kita disambut baik sama orang Dinas Pariwisata" jawabku.


Obrolanpun berlanjut hampir lima menit lamanya. Kak Iyas memintaku untuk segera tidur dengan segala ceramahnya yang memintaku untuk mengalah pada Rani.


"Iya aku ngalah ko, ini aku tidur sama Ega" jawabku.


"Bagus deh, gak usah buang tenaga buat ladenin dia. Yaudah ya aku tutup. Tidur gih!" pungkasnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya...


Aku bangun pukul empat pagi, karena banyak hal yang mengganggu pikiranku semalaman tadi. Aku melihat Rani tidak tidur dan melamun terus. Kadang dia akan masuk ke kamar mandi dan keluar lagi lalu masuk lagi. Entah untuk alasan apa.


Suara keran air yang menyala membuatku tidak bisa tidur, belum lagi aku sudah memikirkan kegiatan padat untuk esok hari.


Sepertinya Rani juga baru benar-benar tertidur sekitar pukul 3 pagi. Akhirnya, aku bangun dan segera mandi kemudian mempersiapkan kamera dan tas gendong kecilku untuk kubawa beraktifitas hari ini.


Sejam kemudian, aku memberanikan diriku untuk keluar dari kamar.


Setelah kudengar suara beberapa teman laki-lakiku yang sedang mengobrol di ruang tunggu sebelah kamarku.


"Lah udah bangun aja Rain" kata Agung.


"Iya haha lagi rajin, kamarnya Hanifa dimana sih?" tanyaku.


"Sebelah kanan pojok nomor 8A" jawab Aji.


Akupun berniat membangunkan Hanifa dan Nunu ke kamar mereka. Ternyata, mereka sama sekali belum bangun. Iria sih sudah beres mandi.


"Woy bangun, jam 5 nih!" teriakku.


Mereka masih saja tidak bergerak sama sekali. Nunu malah dengan nyamannya mengorok.


Aku mengambil air dalam gelas dan menyipratkannya ke wajah mereka. Hingga akhirnya akupun berhasil membangunkan mereka.


"Lah ko kamu disini?" tanya Nunu keheranan.


"Aku udah bangun dari sejam yang lalu, udah mandi juga. Ayo bangun sih udah jam 5 loh" kataku.


Merekapun kaget menyadari perkataanku dan berlarian berebutan masuk ke kamar mandi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Perjalananpun kami mulai untuk menuju ke Kintamani.


Membaca dari hasil pencarianku di internet, Kintamani adalah salah satu dataran tinggi yang memiliki suhu cukup rendah dan dingin di Bali. Disana ada hewan khas yang terkenal yaitu anjing kintamani. Setahuku, disana juga ada sebuah restoran yang pemandangannya sangat indah dan menghadap ke Danau serta Gunung Batur.


Sesampainya di desa adat Trunyan ...............


Aku sangat penasaran tentang Pemakaman Adat Trunyan. Setelah membaca penjelasan singkat di buku panduanku di perjalanan tadi, katanya semua warga yang meninggal secara wajar akan dimakamkan di Trunyan tanpa dikuburkan kedalam tanah.


Jenazahnya hanya akan ditaruh diatas tanah lalu ditutup sedemikian rupa. Pertanyaan yang muncul di pikiranku saat itu adalah apakah tidak ada bau busuk disana? Lalu sudah ada berapa tengkorak manusiakah yang ada disana?


Satu pembelajaran yang sedari kemarin bisa kuambil dari perjalananku ke Bali kali ini adalah, orang yang secara jiwa sedang tidak bersih seperti perempuan yang sedang berhalangan, tidak bisa masuk ke tempat-tempat tertentu. Termasuk ke pemakaman adat Trunyan ini.


Teman-teman perempuanku yang sedang berhalangan hadir juga hanya menunggu di desa tanpa bisa ikut menyebrang danau menggunakan perahu menuju wilayah pemakamannya.


Betapa takjubnya aku mendapati puluhan bahkan ratusan tengkorak manusia yang tersusun rapi di atas gundukan tanah yang tinggi. Serta yang paling menyita perhatianku adalah sebuah pohon yang tinggi dan sangat besar menjulang seolah menutupi seluruh wilayah pemakaman ini.


Trunyan, diambil dari dua suku kata. Tru itu artinya pohon dan Nyan adalah nama pohonnya, kebanyakan sumber mengatakan kemenyan.


Pohon ini usianya dipercaya sudah ratusan tahun. Melihat dari akar dan ranting pohonnya yang sudah menjalar kemana-mana. Aku tertarik mendengarkan penjelasan dari Bapak Sesepuh Adat yang sedari tadi menerangkan asal usul pohon dan tempat pemakaman ini.


Aku juga baru sadar, sedari tadi aku sama sekali tidak mencium bau tidak sedap atau bau yang kurang nyaman yang berasal dari jenazah. Indera penciumanku biasa saja dan tidak terganggu sama sekali.


Pak Ketua Adat menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena adanya Pohon Kemenyan. Pohon inilah yang menyerap segala macam bau di daerah pemakaman ini hingga kita tidak akan merasa terganggu sekalipun ada jenazah yang baru saja dimakamkan disana.


Nunu sempat heran setelah melihat betapa banyaknya barang-barang yang terkesan pribadi berserakan di tanah. Setelah dia menanyakannya, Pak Ketua Adat menjawab bahwa semua orang yang meninggal secara wajar dalam artian bukan korban kecelakaan yang dimakamkan disini boleh membawa barang-barang yang disukainya semasa hidup dulu.


"Ah, pantes tadi aku liat perhiasan bahkan sampe alat makan loh" kataku.


"Iya Rain, katanya sih sampe koin dan baju-baju kesayangan juga ada" jawab Hanifa.

__ADS_1


Aku sangat senang dapat menginjakkan kakiku di Trunyan, setidaknya ada ilmu dan pengetahuan baru lagi yang bisa kuceritakan pada anak dan cucuku kelak.


__ADS_2