
Hari-haripun berlalu....
Kini rindu tak pernah menjadi penghalangku...
Kala ingin bertemu, aku hanya tinggal melangkah ketempatmu....
Menyadari jarak kita semakin dekat, rasanya membuat hubungan kita semakin erat...
Membiarkan banyak sekali waktu dipenuhi oleh kenangan yang seolah-olah terlanjur menjadi genangan....
Menerbangkan banyak sekali angan....
Tentang harapan-harapan di masa depan....
Katamu, aku adalah poros utama hidupmu...
Kehadiranku mengubah segala cara kerja duniamu...
Kini aku jadi tahu, rasanya menjadi yang dicintaimu...
Kini aku jadi sadar, rasanya saat takut kehilanganmu...
Bagimu diriku adalah dunia ...
Tempatmu mendapat suka dan duka cita...
Bagiku dirimu adalah galaksi...
Tempatku melihat semesta dan merangkai mimpi...
Aku suka caramu menatapku...
Seperti hanya ada aku didalamnya...
Aku juga suka caramu menghiburku....
Seperti hanya aku yang terpenting di dunia...
Bukankah setiap perempuan ingin diperlakukan spesial?
Yang lebih berharga dari sekedar diberikan barang-barang mahal?
Bukankah setiap perempuan ingin diperlakukan baik?
Agar mereka merasa dirinya selalu menarik...
Aku mencintaimu, bahkan jika seluruh dunia tidak...
Aku menyayangimu, bahkan jika seluruh orang menolak....
Syukurku saat semua orang terdekatku juga menerimamu...
Membiarkan kamu selalu jadi bagian di hari-hariku...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Teh, yakin udah mau mulai masuk kuliah?" tanya Ibu.
"Yakin ko bu, lagian kan aku juga udah bener-bener sehat" jawabku.
"Yaudah, dijemput Iyas kan?" tanya Ibu lagi.
"Iya dijemput Kak Iyas, kayanya dia udah didepan deh" jawabku.
Akupun berangkat kembali ke kampus setelah hampir satu bulan libur. Bersama Andreas yang juga memulai kuliah pasca sarjananya siang ini.
Melihatnya kembali dengan pakaian seperti mahasiswa, menjemputku kerumah, tersenyum dan tertawa bersamaku. Rasanya hariku dimulai dengan benar. Aku seperti mendapat banyak suntikkan energi. Paling utama dari senyumannya.
Dalam perjalanan menuju kampus....
"Aku nanti mau ngurusin dulu berkas di pasca, terus mau nemuin Pak Yana dan Pak Nanda. Semalem mereka nawarin aku jadi asisten dosen reguler di jurusan ya sambil s2 juga" jelasnya.
Aku kegirangan mendengar ceritanya, betapa dia juga mendapat hari yang baik di awal kuliah pasca sarjananya ini.
"Selamet ya kak!" teriakku.
.....................
Aku merasa kali ini Tuhan begitu baik padaku dan Kak Iyas....
Ada banyak hal yang terjadi diantara kami....
Aku sudah melihatnya tertawa tanpa sebab hingga menangis terjatuh rapuh....
Dia juga sudah sering melihatku tersenyum dan menangis, bahkan nyaris mati....
Siapa sangka? Dari sekian ratus juta manusia di dunia....
Aku dan dialah yang menerima jalan cerita ini....
Bahkan, aku pikir alurku akan datar dan biasa saja...
Kuliah, tugas, kesulitan ekonomi, skripsi dan lulus...
Tapi ternyata ada banyak kejadian lain didalamnya....
Banyak spot tak terduga, yang membuatku selalu merasa alurku ini istimewa....
..............................
Sampailah kami di gate utama. Ahhh perasaan macam ini, rasanya aku terharu. Bukankah hanya sebulan berlalu? Kenapa rasanya seperti mahasiswa baru?
__ADS_1
Kami berpisah didepan fakultas, dia melanjutkan jalan ke Gedung Pasca Sarjana. Entah siapa yang akan ditemuinya nanti saat perkuliahannya dimulai, teman-teman baru, relasi baru atau bahkan calon sainganku. Aku sudah cukup terganggu dengan pemikiran-pemikiran itu. Hanya saja, aku percaya pada Andreas.
"Rain!" teriak teman-teman kelasku yang sedang berkumpul di depan lift.
Aku bergabung bersama mereka, menceritakan banyak hal tentang liburan kami masing-masing. Tak lama, notifikasi muncul dari ponselku.
"Rain, ada meet dadakan buat radio kampus. Siang ini jam 2 ya?" tulis Irish.
Aku menepuk jidatku, menyadari bahwa kehidupanku benar-benar sudah dimulai lagi.
"Cabut yu ah, udah mau masuk nih" ajak yang lain.
Mata kuliah baru bagi kami saat itu adalah Geografi masyarakat. Dalam mata kuliah ini, gambaran besarnya kami lebih banyak mempelajari perbedaan culture dan adat istiadat pada masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.
Aku baru tahu, kalau lingkungan sekitar pemukiman menentukan bagaimana watak masyarakat terbentuk.
Dosenku Pak Waluya, menjelaskan bahwa masyarakat pesisir pantai cenderung berbicara dengan nada tinggi dan suara yang keras. Itu karena lingkungan mereka sekitaran laut, dengan suhu yang tinggi dan hampir selalu panas tiap harinya. Kebanyakan nelayan juga punya kemampuan mendengar yang kurang karena sering melaut. Akhirnya, mereka jadi terbiasa berbicara keras dan cepat.
Sementara masyarakat yang tinggal di pegunungan, memiliki kecenderungan berbicara pelan dan teratur temponya. Hal ini disebabkan oleh suhu di sekitar pegunungan yang relatif stabil, sejuk dan membentuk masyarakatnya menjadi lebih pelan saat berbicara.
Aku pikir, semua itu hanya karena sifat dan watak yang terbentuk karena faktor nenek moyang.
Misal, orang Batak terkenal dengan rahangnya yang tegas dan cara bicaranya yang lantang.
Lalu, orang Sunda yang terkenal dengan lemah, lembut dan santun tutur kata dan perilakunya....
Aku jadi merasa lebih mengenal bangsaku setelah tahu bahwa di semester enam ini akan ada mata kuliah baru yang benar-benar baru dibuat di masa perkuliahan angkatanku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini, kami hanya mendapat jadwal dua mata kuliah saja. Maklum SKS yang tersisa tinggal sedikit lagi.
"Rain, abis kelas ada acara gak?" tanya Hanifa.
"Ada, aku ada meet sama Irish biasa duta kampus" jawabku.
"Ah jobdesk dimulai ya? Yaudah deh, aku tunggu Nunu sama Arika aja" jawabnya.
"Lah emang mau kemana? Mau ngapain?" tanyaku.
"Ada perlu buat survey bis, disuruh sama Nirwan dan Agung buat nanti kuliah lapangan" jelasnya.
"Ah iya, bendahara angkatan sudah mulai kerja juga. Semangat ya fa!" kataku.
Mata kuliah kedua hari itu adalah Mitigasi Bencana....
Sebenarnya, sejak memutuskan untuk mengontak mata kuliah ini. Aku agak ketakutan, karena judulnya saja sudah terdengar sulit.
"Mitigasi bencana"
Dunia geografi memang erat kaitannya dengan membaca fenomena-fenomena alam, contohnya sejak masuk geografi aku jadi tahu posisi matahari tiap bulannya. Waktu-waktu terjadinya bulan purnama, perubahan iklim dan banyak lagi.
Seperti saat Ibu sedang dirumah Kakek beberapa waktu lalu, Recca mengirim swafotonya dengan latar lantai keramik rumah kakek. Aku melihat lantai keramiknya retak dan saat itu juga aku menanyakan apa ada lantai lain yang ikut retak tiba-tiba.
Aku segera meminta Ibu dan anggota keluarga yang lain untuk pindah dari rumah itu. Mengungsi ke tempat lain atau pulang segera ke Bandung.
Kalau aku tidak salah menduga, itu salah satu indikator terjadinya tanah longsor.
Benar saja, malam harinya didaerah sekitar rumah Kakek terjadi pergeseran tanah dan di kaki bukitnya terjadi longsor.
Mungkin, di mata kuliah mitigasi bencana ini. Kami selaku mahasiswa yang mempelajari fenomena alam, diharapkan bisa menjadi garda terdepan saat kami nanti hidup di masyarakat dengan wilayah yang rawan bencana alam. Seperti di kaki gunung, di pesisir pantai atau daerah sekitaran hilir sungai.
Kami benar-benar disiapkan dan ditempa untuk mengambil bagian menjadi agen perubahan dalam masyarakat.
Aku merasa otakku ini sedikit demi sedikit terisi oleh banyak sekali ilmu dan pengalaman yang berharga, apalagi saat aku turun ke lapangan. Rasanya aku jatuh cinta dengan calon profesi masa depanku nanti.
"Mitigasi bencana tidak hanya dibutuhkan untuk masyarakat yang bertempat tinggal di desa atau di tempat-tempat seperti gunung, sungai dan pesisir. Potensi bencana terbesar yang mungkin saja bisa merenggut korban jiwa massal adalah potensi bencana gempa bumi yang terjadi di kota atau daerah penyangga kota. Seperti kita tahu, dataran rendah dan dataran tinggi berhubungan satu sama lain. Ada koneksi diantara mereka yang saling berhubungan yaitu saat mereka terletak dalam satu patahan bernama sesar"...
Penjelasan awal yang diberikan Prof. Malik sangat menarik minatku, aku mendengarkan beliau dan melihat presentasinya dengan sangat bersemangat.
Maklumlah, kata Andreas di semester enam inilah biasanya mahasiswa memilih jalan karirnya. Apakah dia akan mengambil jalur pekerjaan umum atau spesifik? sesuai dengan mata kuliah yang dipelajari dan dia gemari selama perkuliahan.
Aku menaruh banyak sekali perhatian pada mata kuliah geografi pedesaan dan geografi lingkungan, tapi setelah mendengar dua penjelasan umum tentang mata kuliah baru. Rasanya, aku menjadi cukup galau.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah perkuliahan selesai.....
Andreas menelponku, menanyakan apakah aku sudah selesai.
"Aku mau meet sama Irish sebentar buat ngobrolin radio kampus, kakak pasti baru mau mulai kelas ya?" tanyaku.
"Iya nih, sepuluh menitan menjelang kelas pertama di pasca sarjana. Doain ya?" katanya.
"Gak usah diminta, aku udah doain kakak ko dari tadi. Yaudah nanti berkabar lagi ya?" kataku.
"Oke. Take care ya sayang!" pungkasnya.
Setelah sampai di fakultas Irish, aku dan Irish membicarakan banyak hal. Jadwal siaran kami yang akan dimulai seminggu lagi, jadwal kunjungan ke kampus lain dan permintaan dari yayasan untuk kami ikut di ajang lomba debat dan menulis.
"Gila sih, padet banget jadwalnya" keluh Irish.
"Nikmatin ajalah haha, oya kalau debat kayanya aku gak ikut deh Rish. Aku gak suka berdebat hahaha, kalau kamu debat terus aku yang nulis gimana?" bujukku.
"Iya, aku kebalikan kamu. Aku malah gak suka nulis" jawabnya.
"Sisanya sih gak ada yang perlu diomongin kan,jadwalnya udah jelas hahaha" tambahnya.
"Siaran 2 kali seminggu, pelatihan buat jadi pembawa acara Orientasi seminggu sekali dan lomba itu untuk bulan depan kan?" tanyaku.
"Iya, betul. Yaudah ah makan yu rain?" ajak Irish.
__ADS_1
"Ayo!" jawabku.
Seperti biasa, saat aku berdua dengan Irish. Semua mata tertuju pada kami. Mungkin saat itu, mereka melihat kami sebagai duta kampus. Jujur ini adalah tantangan sekaligus kadang menjadi beban buatku.
Pakaianku diperhatikan setiap harinya, harus selalu rapi dan enak dilihat. Apalagi, saat aku berdampingan dengan Irish. Kalau aku tidak rapi, aku akan terlihat seperti upik abu.
"Halo Raina" sapa seseorang.
Dia seorang laki-laki, mungkin seumuran denganku.
"Ya, maaf siapa ya?" tanyaku.
Dia mengulutkan tangannya, mengajakku berkenalan.
"Kinan, aku anak Bisnis semester 6 juga" jawabnya.
"Oh ya kinan salam kenal" kataku.
"Aku follow stagram kamu loh, kamu cantik" katanya.
Irish yang mendengar hal tersebut, menyenggol tanganku dan tertawa.
"Oh ya makasih" jawabku.
Kinan meminta nomorku, aku bilang saja bahwa nomor itu sifatnya pribadi dan tidak bisa dibagi ke setiap orang. Kinan bilang dia punya urusan bisnis denganku. Dia mau membeli totebag untuk acara jurusannya.
Akhirnya, aku memberi nomorku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah selesai makan bersama Irish....
Aku menunggu Andreas didepan gedung pasca sarjana. Sambil membaca materi yang kupelajari dikelas.
"Aku ko tertarik ya sama geografi masyarakat?" gumamku.
Kusadari, gedung pasca sarjana ini lebih sibuk dari fakultas biasa. Orang-orang berlalu lalang dengan penampilan yang lebih rapi. Mungkin kebanyakan dari mereka sudah bekerja kantoran dan sambil berkuliah lagi.
Hampir satu jam aku menunggunya, akhirnya dia muncul dari lift.
"Hai" sapanya dari jauh.
Kulihat juga kak Dhika ada bersamanya, bergerombol dengan teman sebayanya.
"Dedek gemes" ledeknya saat melihatku.
"Kalian satu kelas lagi?" tanyaku.
"Iya dong, sebelahan malah kursinya. Enak hahaha soalnya dosennya tadi dari s1 juga" jawabnya.
Kak Dhika menanyakan Hanifa padaku, aku jawab saja kalau Hanifa sedang sibuk untuk membicarakan kuliah lapangan terakhir.
"Mungkin masih di kantor jurusan, sama ketua angkatan dan yang lain" kataku.
"Yaudah, gue pamit ya nyamperin Hanifa" pungkasnya.
Andreas duduk disebelahku, membaca buku catatan baruku dan seperti terkejut.
"Kalau aku boleh tebak, kayanya kamu tertarik sama geomas. Catatan kamu rinci bagus!" katanya.
"Hebat! Aku beneran suka tau kak, soalnya cara Prof. Waluya ngejelasin tuh enak dan banyak banget contoh yang langsung aku pahami. Kakak dulu suka gak?" kataku.
"Kamu kebalikan aku, kalau ngukur suhu dan tanah yang pasti-pasti aku suka. Tapi kalau wawancara dan turun di masyarakat justru aku kurang suka" jelasnya.
"Bagus dong, artinya kita saling melengkapi" kataku merayunya.
"Nackal ya ngerayu" ledeknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Andreas mengajakku ke perpustakaan, katanya aku harus meminjam beberapa buku untuk tugas pertamaku di semester enam ini.
"Cari buku yu? Aku juga udah ada tugas nanti kita kerjain bareng" ajaknya.
Dijalan, banyak sekali adik-adik kelasku yang mengenalnya dan menyapanya. Mereka yang belum tahu, bahwa aku ada pacar Andreas juga terlihat kaget.
"Tuhkan aku bener, kak Raina pacarnya kak Andreas" kata salah seorang adik tingkatku.
"Iyahaha jangan ada yang deketin Kak Iyas lagi ya" kataku pada mereka.
Andreas seperti tersipu dan menarik tanganku untuk pergi dari mereka.
"Duluan ya dek adek" katanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di perpustakaan, bukan lagi. Petugas yang melakukan scan buku pinjaman saja mengenal Andreas.
"Dari mana aja? Baru liat lagi. Kerja dimana" pertanyaan semacam itu dilontarkan banyak sekali orang yang berpapasan dengannya.
Saat ada teman perempuannya yang menyapanya, dia akan secara spontan menarik tanganku dan memegangnya. Seperti ingin menunjukan pada mereka bahwa aku ini pacarnya.
"Kak ih emang gapapa kalau mereka tahu aku pacar kaka?" tanyaku.
"Hahahaha kenapa emang? Harusnya aku yang nanya ke kamu, apa ngga apa-apa duta kampus ketahuan pacaran?" ledeknya.
Akhirnya, hari pertama setelah kembali kuliahpun selesai..
Aku dan Andreas baru kembali kerumah hampir petang hari. Ibu dan Ayahpun meminta Andreas mampir dan makan bersama, dia tidak menolak untuk bergabung.
"Dek, kalau makan disini terus kayanya aku bisa kaya haha" bisiknya.
__ADS_1
"Ditabung uangnya!" gerutuku.
"Iya buat ngelamar kamu" jawabnya.