Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Cerita dari Andreas


__ADS_3

Sebelum lanjut ke episode berikutnya, thor mau kasih kalian episode spesial yang berisi tentang curahan hati Andreas yang sempat ditulis dalam buku catatannya...


Di episode ini, ada banyak sisi lain Andreas yang muncul. Mungkin kalian bisa lebih mengenal sosok Andreas lewat episode ini hihihihi...


Thor sekali lagi mau bilang makasih karena kalian mau meluangkan waktu untuk baca cerita thor💕


Stayhealthy yaa semuanya!!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini, aku mengambil waktu senggangku untuk berdiam diri di rooftop kosanku..


Bukan waktu senggang sebenarnya, ini waktu dimana seharusnya aku istirahat dan tidur...


Setelah perjalanan melelahkan dan kurang jam tidur dua hari kebelakang...


Aku mau bertemu langit malam ...


Menatapnya dan mendalami semua yang terjadi padaku selama beberapa tahun ke belakang...


serta....


Melepaskan sedikit kepenatan yang selama ini rasanya terlalu menyiksa mentalku...


Ada banyak sekali kejadian yang terjadi dalam satu bulan ini....


Salah satu yang terberat buatku adalah kehilangan Ibu...


Bukan kehilangan, lebih tepatnya Ibu pergi lebih dulu dari aku....


Tuhan lebih menyayangi Ibu dibanding aku...


Ibu katanya lebih layak menyusul Bapak...


Daripada aku yang hina dan banyak dosa ini...


Entah sedang ada sekarang mereka berdua...


Bercanda mesra dan melepas rindukah?


Atau sedang asyik menatapku dari atas sana?


Ibu, pasti sedang mengkhawatirkanku...


Semua kulihat dari suratnya untuk Raina...


Ibu benar-benar menyukai Raina dari ujung rambut hingga ujung kakinya....


Bahkan kata orang rumah, sebelum dibawa ke rumah sakit, Ibu meminta menelpon Raina tapi saat itu Tante menolak...


Raina sama cintanya dengan Ibu... Berkali-kali dia akan menanyakan kondisi Ibu kepadaku, bahkan mereka sering saling mengirim pesan satu sama lain.


Banyak hal yang kupikirkan setelah kepergian Ibu...


Bisnis keluarga, kebun keluarga, rumah keluarga dan segalanya yang ada di desa....


Tapi bagaimana dengan Rainaku?


Aku tinggal sebentar saja, dia sudah didekati banyak pria. Terluka karena keteledorannya dan hampir melukai dirinya sendiri karena selalu lupa menebus obatnya.


Terakhir kali aku membawanya ke dokter, dokter sempat menjelaskan bahwa Raina menderita anemia defisiensi besi yang sewaktu-waktu bisa membuatnya pusing dan selalu merasa kelelahan.


Belum lagi dengan segala kesibukannya sekarang...


Mahasiswa semester lima yang berwira usaha, cantik, menarik dan calon duta kampus...


Aku sudah pernah bilang bahwa hanya ada satu hal yang akan membuatku marah padanya...


Yaitu saat dia lupa menjaga kesehatannya....


Tapi berkali-kali dia malah mengabaikan kemarahanku dan menganggap remeh peringatan yang aku berikan....


Posisiku sebagai yang lebih dewasa, selalu membuatku mengalah dan memberinya pengertian lagi dan lagi....


Kali ini dia terlihat lebih dewasa, bahkan saat hari dimana aku meninggalkannya sendirian di gate. Dia tanpa pikir panjang menyusulku sendirian ke Palembang.


Aku sangat kagum pada pacarku....


Banyak hal yang orang tidak tahu dari dia...


Dia sangat manis dan pengertian.....


Dia selalu berusaha menghiburku dengan segala sifat manjanya....


Kadang dia akan tiba-tiba memeluk atau bahkan mencium rambutku. Mengacak-acaknya lagi lalu dia sendiri yang akan merapikannya....


Dia tiba di Kayu Agung tanpa banyak permintaan...


Dia memahami desaku, bahkan dengan sukarela mau diajak ke kebun sawit....


Mandi air yang menurutku membuat gerah...


Makan masakan yang seadanya....


Tanpa keluhan sama sekali....


Tanpa terasa, angin malam menemaniku....


Ikut hadir menjelma menjadi teman kesepian....


Dalam keheningan malam ternyata banyak sekali suara-suara kecil yang kudengar.....


Gesekan dedaunan, goyangan pakaian yang dijemur dan jangkrik....


Lebih nyaman ditelinga rasanya daripada lantunan musik....


Ponselku kutinggalkan dikamar....


Bukan apa-apa, karena aku tidak mau seseorang menggangguku....


Bahkan Raina sekalipun...


Kau tahu, hanya mendengar namanya saja hatiku bisa berantakan saking rindunya....


Setiap ada dia disampingku, fokusku hanya pada dia saja....


Pantas awalnya aku sangat sulit menjelaskan apa itu cinta....


Karena hanya Raina saja yang bisa menerjemahkannya...


Senyumannya sesejuk senyuman Ibu....


Wajahnya seteduh wajah Ibu....


Tingkah polosnya membuatku kadang lupa bahwa dia belum menjadi istri sahku....


Berkali-kali aku hilang akal saat sedang berduaan dengannya...


Apalagi saat dengan dinginnya dia memintaku tidur disebelahnya....


Bisa kau bayangkan betapa terpacunya detak jantungku....


Melihat manusia dalam wujud yang sangat kucintai itu ada dalam genggamanku....


Tapi rasa sayangku selalu bisa menahan egoku...


Tadi saat aku mengantarnya pulang hingga depan gerbang rumahnya, hampir saja aku berlari lagi mengejarnya....


Saking tidak bisa membiarkannya pergi satu jengkalpun....

__ADS_1


Membayangkan betapa menyedihkannya aku di hari-hari dimasa yang akan datang saja, rasanya sangat menakutkan....


Menerima kenyataan bahwa telpon dari Ibu sehari lima kali akan mustahil kuterima nanti....


Menerima kenyataan bahwa di hari dimana rinduku memuncak, akan ada dua nisan yang menjadi pelabuhan rasaku....


Sekarang bayangkan jika aku kehilangan Raina????


Hilang jugalah alasanku untuk hidup....


Kuceritakan suatu kejadian paling menyakitkan selama aku hidup...


Waktu itu, aku nakal sekali....


Aku akan pulang sekolah tiap jam 6 petang dan dalam keadaan babak belur karena habis bertempur...


Ibu akan merawatku dengan sabar..


Sementara Bapak akan melempar tutup panci, asbak rokok atau koran yang ada didekatnya kearahku...


Lalu kemudian memarahiku dengan redaksi yang itu-itu saja....


"Andreas kamu besar mau jadi apa begitu terus?"


Lalu aku akan menjawab "mau menikah dengan perempuan cantik dan hidup kaya raya"...


Lalu Bapak akan menjawab "mana ada perempuan cantik yang mau sama budak nakal macam kamu"


Dan Ibu sebagai penjaga perdamaian akan menjawab "sudah-sudah, pak dulu kamu juga nakal sama seperti anakmu tapi saya mau menikah denganmu! Jangan begitulah pak, semua anak kan ada masanya"


Hingga akhirnya Bapak sakit-sakitan yang entah sakit apa itu, membuat mimpi-mimpi burukku satu persatu menjadi kenyataan...


Ibu menggantikan peran Bapak untuk bekerja di kebun....


Bapak lebih banyak berdiam diri dan beristirahat dirumah....


Sementara aku dengan bodohnya masih saja mengedepankan jiwa mudaku....


Dengan bermain sampai lupa waktu....


Hingga aku kehabisan waktu bersama Bapak....


Bapak dipanggil oleh yang kuasa....


Direnggut oleh pemilik abadinya....


Meninggalkan aku menjadi yatim....


Dan Ibuku menjadi janda.....


Semua kenangan yang kumiliki bersama Bapak, adalah harga yang sulit dibayar oleh apapun....


Aku merindukan Bapak, bahkan dalam setiap detik nafasku....


Semenjak itu aku berubah, mengurung diriku dan membeli banyak sekali buku-buku....


Tentang pengelolaan sawit kebanyakan...


Karena aku tidak mau Ibu kesusahan sendirian....


Aku mau meneruskan perjuangan keluarga....


Hingga aku menemukan geografi sebagai rumah keduaku....


Tempat dimana aku bertemu dengan bayanganku dan perempuan yang kucintai...


Tempat dimana aku menemukan alasan lain untuk bahagia dan melanjutkan hidupku senormal mungkin....


"Kak, makan ya? Kalau kakak gak makan aku juga gak akan makan" katanya.


Padahal saat itu kudengar perutnya berbunyi...


Sedikitpun aku tidak bernafsu...


Bagaimana bisa aku berselera makan saat Ibu tidak lagi menyiapkannya untukku.


Satu-satunya alasanku makan adalah untuk Raina...


"Kak, aku gak mau tidur kalau kakak juga gak tidur"


Kau tau apa yang aku lakukan?


Memejamkan mata semampuku, hanya untuk membuatnya yakin bahwa aku mengantuk dan lelah.....


Padahal itu hanya usahaku membuatnya tidur....


Baru setelah melihatnya terlelap, aku menjadi tenang dan ikut mengantuk....


Hobi baruku adalah memeluknya, meski kadang dia suka protes karena sesak nafas....


Itu hanya candaannya saja agar aku melepaskan pelukanku....


Setelah kulepas, malah dia yang memelukku...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Saat aku turun melihat ponselku, ada berpuluh-puluh panggilan dari Raina....


"Kakak dimana sih? Lagi apa? Kenapa gak ngangkat? Kakak pergi-pergian keluar ya?"


Hal semacam ini yang mampu membuatku tersenyum sendirian...


Maaf ya sayang, aku merokok.....


Saat sudah kutegaskan bahwa aku tidak merokok sama sekali, nyatanya malam ini hanya rokok yang membantuku sedikit bernafas lega.


Karena Raina tidak mungkin ada disisiku selama 24 jam, aku merahasiakan ini darinya....


Dia pasti kecewa kalau mengetahuiku merokok...


"Aku abis dari rooftop nyari angin" kataku.


Bukan Raina namanya jika langsung menyerah memercayaiku.....


"Coba pap" katanya.


"Oh iya, yaudah ya kakak tidur jangan kena angin malem lagi. Besok kan kakak udah mulai kerja" katanya.


Saat itu sebenarnya, kalau bisa aku ingin dia terus bersamaku...


Karena hanya melihatnya aku tau bahwa aku masih hidup....


Bercerita kembali tentang Ibu, membuatku sesak....


Bayangan saat Ibu dengan bangganya menyebut Raina sebagai calon istiriku dihadapan seluruh anggota keluarga kami selalu muncul di ingatanku....


Juga bayangan saat Ibu mencium keningku di momen wisuda.....


Ah sudahlah.... Terlalu manis untuk dilupakan.....


Masa depanku yang sudah kurancang sepertinya kembali menjadi abu-abu.....


Apa artinya aku mengejar kesuksesan saat Ibu tidak bisa menikmati hasil kerja kerasku?


Tapi kata Raina, dia mau melihatku sukses dan lebih baik dari sebelumnya.....


"Aku selalu bangga sama apa yang kakak perjuangin, kakak harus terus ngejar mimpi-mimpi kakak karena aku selalu siap jadi saksi hidupnya".....


Itulah kata-kata yang menjadi pelecut semangat buatku....

__ADS_1


Belum lagi catatan kecil yang baru dia sematkan dibawah lampu tidurku saat aku masih di Tangerang dulu....


Rasanya Raina terus menerus menyimpan banyak sekali kejutan untukku....


Bayangkan setelah sekian lamanya bersama, dia tidak pernah meminta foto bareng atau memamerkan kedekatan kami ke orang banyak...


Dia hanya akan sesekali mengambil candid fotoku....


Lalu mengeditnya seolah bersebelahan dengannya....


Dia tidak komplain keras, hanya sesekali bersikap jutek lalu setelahnya kembali normal...


Selama jadi pacarku, dia banyak mengalami kejadian malang....


Perundungan dari Rani, kejahilan Praya dan semua yang sampai membuat kepalanya


terluka parah....


Dia masih bertahan denganku, walau seringkali aku mengkhawatirkannya lebih dari aku mengkhawatirkan diriku sendiri......


Belum lagi barisan lelaki yang selalu mencoba mengganggunya....


Entah itu Fasya atau yang lainnya yang belum nampak....


Perempuanku memang menarik...


Wajar banyak yang melirik....


Ketika diam dia akan terlihat sangat dingin....


Tapi setelah tersenyum terasa sangat hangat....


"Raina, ada salam dari temenku"


"Raina, ditanyain tuh sama si A sama si B si C dan bla bla bla"


Tapi perempuanku hanya akan tersenyum dan bersikap biasa saja....


"Kakak jangan marah ya? Aku gak ngerespon mereka ko" katanya setiap kali aku mendengar ada salam yang dititipkan untuknya.


"Engga" jawabku sambil mengelus rambutnya...


Sebenarnya sekarang bebanku melihat wajah Raina sangat berat....


Semenjak rambutnya diextention atau disambung atau apalah namanya itu, dia makin mirip sosok Ibu saat muda...


Mungkin itu juga salah satu faktor, aku sangat betah berlama-lama menatap wajahnya....


Akhir-akhir ini kulihat Raina sering sekali pusing, Ibu bilang saat Ibu masih ada, kalau wajar untuk anak perempuan seusia Raina sangat bersemangat menjalani banyak aktivitas secara bersamaan dan menyukai kesibukan.....


Makanya aku agak melonggar dan tidak sekeras dulu untuk melarangnya mengambil banyak tawaran yang berdatangan....


Asal dengan satu syarat....


Kalau dia sakit dan merasakan kesusahan sekecil apapun, dia harus jujur padaku...


Lagi-lagi ini murni egoisme ku yang tidak mau ada sesuatu buruk terjadi pada Raina....


Alasannya tidak lain tidak bukan, karena aku tidak mau merasa kesepian atau kehilangan lagi....


................


..........................


....................................


 Beberapa hari setelah kepulangan kami dari Palembang.....


Aku masih belum terbiasa dengan keseharian baruku yang semakin sepi saja. Hanya ada Raina, Dhika dan beberapa sahabatku yang selalu dengan setianya menelpon atau mengirimkam pesan padaku.


Sayangnya, Raina semakin sibuk saja dan meski dia belum lupa bahwa dia punya pacar.


Tapi, dia semakin sering memberiku kejutan...


Mengirimkan voice note setiap malam sebelum tidur atau mengingatkanku banyak hal...


 


Suatu hari dia pernah berdiri tiba-tiba didepan kosanku untuk membawakanku sarapan.


"Kakakkkk" teriaknya...


Aku kira itu mimpi, karena pagi-pagi buta sudah ada makhluk yang muncul didepan mataku.


"Aku bawa sarapan! aku gak ada kelas hari ini katanya digeser besok" katanya sambil mencium pipiku.


Raina akhir-akhir ini sangat memperhatikan penampilannya, dia sering meminum vitamin dan suplemen pelangsing.


"Buat apa sih? itu kan gak ngaruh, kamu udah kurus begitu apa yang mau dilangsingin?" gerutuku.


"Ih kakak, aku takut gaun buat malam final duta kampus gak cukup nanti" jawabnya.


Melihat beberapa rekaman saat dia tampil bernyanyi dan membawakan puisi didepan juri selama seleksi, membuatku semakin sadar bahwa posisiku mungkim saja terancam saat Raina terpilih nantinya.


Cara bicara Raina sangat sopan dan perilakunya juga santun.


Dia hanya akan marah kepadaku... saat aku telat makan, telat mandi dan telat menjemputnya. Selebihnya bisa kujamin, Raina sangat sabar!


Itulah yang membuatku yakin bahwa Raina akan dengan mudahnya mengambil hati juri. Belum lagi karena kecantikannya yang natural, kulitnya yang kuning langsat dan rambut indahnya yang bergelombang asli.


Aku semakin sering memposting foto kami berdua di sosial media...


Ya karena aku harus memastikan bahwa Raina tidak didekati lagi oleh lelaki yang lain.


Hari itu dia bilang bahwa dia dan teman-temannya akan datang berkunjung untuk makan-makan.


Tapi, hingga menjelang sore hanya sahabat-sahabatnya dan Dhika yang berdatangan.


"Aku masih pembekalan duta kampus" katanya.


Ketika itu langit gelap dan mendung...


"Aku jemput ya, kamu tungguin di gate" kataku.


Entah kenapa, aku juga khawatir dan tak karuan. Hingga aku memacu mobilku dengan kencang.


Setibanya didepan gate, benar saja Fasya sedang merundungnya.


Tangan Raina ditarik dengan sekuat tenaganya.


Aku turun dengan semua emosi yang memuncak dikepalaku.


Rasanya berpuluh-puluh pukulanpun tidak bisa membalas apa yang sudah diperbuat Fasya padanya.


Melihat tubuh Raina gemetaran, basah kuyup dan ketakutan.


Seketika membuatku mengingat pesan Ayahnya...


"Raina itu sebenarnya manja, dia sangat takut dengan suara keras, bentakan dan wajah marah seseorang. Maklumlah, Raina punya trauma masa kecil"..


Aku memukul pipi Fasya dengan sekuat tenagaku. Hingga sakitnya kurasakan juga di tanganku.


Setelah melihat tangan Raina melebam, emosiku semakin menjadi.


Aku memukul lagi Fasya sebagai jalan mengeluarkan semua kepenatan dan emosi yang kutahan.


Aku ingin Fasya tahu, siapapun yang melukai Raina pasti berurusan denganku...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


ααααααααααααααααααααααααααααααα

__ADS_1


__ADS_2