
Dua hari kemudian di kampus....
"Rain, tuh anak sastra mau bayar DP katanya" kata Nunu.
"Oh iya nu, anaknya dimana ya?" tanyaku.
"Dia sama cowoknya nunggu di deket kopma. Tapi maaf ya aku gak bisa nemenin soalnya aku ada kelas abis ini" katanya.
"Iya gapapa, kamu masuk kelas gih! Aku aja yang samperin" jawabku.
Hanifa sedang tidak masuk kuliah karena sakit, dia terkena demam berdarah dan sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Arika sedang sibuk karena harus kumpul untuk praktikum hidrologi.
Akupun terpaksa berjalan sendirian menuju Kopma karena teman-teman yang lain sekelasku sedang sibuk masing-masing.
Setelah berada didepan Kopma, aku menelpon nomor anak sastra yang diberikan oleh Nunu barusan.
Ternyata anak sastra itu bernama Yasmin.
"Halo yasmin aku Raina" kataku.
"Halo raina, maaf ya jadi kamu yang nyamperin aku. Soalnya aku buru-buru tadi abis ketemu sama ibu kopma juga buat ngomongin konsumsi" jelas Yasmin.
"Iya gapapa nyantai aja" jawabku.
"Totalnya kan 230pcs totebag sama 100pcs pouch, nah harganya kan totebag 18rb terus pouch 8rb. Kalau aku bayar buat totebag dulu boleh gak? Maksudnya aku lunasin totebagnya dulu, jadi itungannya ntar tinggal buat pouch aja gitu" tanyanya.
"Oya gapapa, kalo totebag berarti totalnya Rp. 4.140.000" jelasku.
"Ini uangnya 2 juta tunai, sisanya aku transfer ya? Boleh minta norek kamu? Sekarang aku transfer" katanya.
"Iya boleh, ini nomer rekening aku .....
Kamipun jadi akrab dan bertukar stagram satu sama lain. Yasmin termasuk yang ekstrovert dan pandai berbicara. Pantas saja dia terpilih menjadi sekertarius utama seminar di jurusannya.
"Oh ya tadi kata Nunu, kamu nunggu sama pacar kamu disini" tanyaku.
"Iya, tapi pacar aku lagi ada perlu balikin buku ke perpus. Paling bentar lagi dateng" jelasnya.
"Hmm yaudah, aku duluan kalau gitu btw thanks ya nanti kukabarin kalau udah beres" kataku.
"Iya thanks juga ya karna kalian udah mau turun harga banyak, taulah anggaran mahasiswa gimana hehe" jelasnya.
"Iya sama-sama... Bye yasmin" pamitku.
Baru beberapa langkah saja setelah meninggalkan Yasmin, aku mendengar yasmin berteriak memanggil seseorang.
"Fasya!!!"
Aku berbalik karena respon cepatku, dan saat kulihat ternyata Fasya yang dipanggil Yasmin adalah Fasya temanku.
"Jadi Fasya pacarnya Yasmin? Tuh kan, bener kata aku. Fasya tuh baik ke aku bukan karena suka tapi emang karena baik aja" gumamku.
Tak lama, akupun melihat Yasmin menggandeng tangan Fasya dengan nyamannya. Lalu mereka pergi kearah fakultas Fasya.
------------------------------------
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
------------------------------------
Setelah menerima uang muka dari Yasmin, aku langsung menyetorkannya ke bank kampus untuk kemudian aku transfer ke orang pabrik sebagai biaya produksi.
Hari itu, sebenarnya kelasku selesai lebih cepat karena dosen mata kuliah terakhir hanya memberikan kami tugas rumah untuk dikumpulkan malam nanti lewat email.
Akhirnya, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendirian keluar kampus. Tanpa disadari, aku malah berjalan kearah kosan Andreas dulu.
Iseng, aku mengambil gambar kosan Andreas yang sudah berganti warna cat kepada Andreas.
"Liat deh ini kosan siapa dulu?" kataku.
Akupun membeli beberapa jajanan yang dijajakan di sekitaran kosan Andreas dulu. Sambil menikmati suasana sore yang ramai dengan mahasiswa yang baru pulang kuliah saat itu.
"Aku jajan ini, dulu kita juga suka jajan ini kan ka?" kataku lagi dalam chat yang kukirimkan pada Andreas.
Setidaknya, aku bisa membuatnya tahu bahwa hari itu aku beraktivitas sendiri dengan lancar.
"Rain, udah pulang yah? Naik apa?" tanya Arika dalam chatnya.
"Naik angkot ka, udah dijalan nih. Oya DPnya udah ada di rekening dan sebagiannya udah dibayar ke pabrik" kataku.
"Iya Rain, hati-hati ya? Aku sama Nunu baru aja bubar kelas. Kita mau langsung pulang juga" jawab Arika.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah, aku langsung mandi dan mengajak Recca makan bersama jajanan yang kubeli tadi di kampus.
"Teh, pulang dari kampus atau dari pasar bawa jajanan banyak banget" tanya Randy yang baru saja pulang.
"Kamu darimana baru pulang jam segini?" tanyaku.
"Habis dari museum, kunjungan sama tugas kelompok gitudeh. Oya nanti malem bantuin aku ya teh bikin analisis" katanya.
"Iya nanti ke kamar aja, mandi gih bau asem!" teriakku.
__ADS_1
"Ih gak usah teriak juga kali ngomong aku bau asemnya, eh kak tadi pagi aku ketemu Kak Fasya yang anak komplek atas. Dia sama cewek cantik banget, tapi pas liat aku dia kaya pura-pura gak liat" jelas Randy.
"Ceweknya rambutnya panjang kan? Berponi? Pake kaca mata?" tanyaku sambil menyebutkan ciri-ciri Yasmin.
"Salah, orang rambut pendek terus gak berponi terus gak pake kacamata" jelas Randy.
"Itu bukan pacarnya kali Ran, orang pacarnya rambut panjang tadi teteh liat sendiri ko" jelasku.
"Ih pacarnya yang aku liat teh, orang itu cewek manggil kak Fasya 'yang' ko" jelas Randy.
Aku sempat ragu dengan yang diceritakan Randy, tapi aku tahu betul adikku tidak pernah berbohong kalau urusan begini.
"Masa Fasya punya dua pacar sih? Atau Yasmin bukan pacarnya? Bisa aja sih Yasmin cuma sahabatnya yang deket banget jadi bisa gandengan tangan kaya tadi" pikirku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya....
Aku membantu Randy membuat laporan kunjungan. Selama mengerjakan tugasnya, Randy malah asyik video call dengan teman-temannya.
"Ran, kapan-kapan kerja kelompok di rumah kamu dong tapi pas teteh kamu ada dirumah" kata salah satu tema Randy.
"Eh teteh aku galak loh, mukanya aja ngademin aslinya ihhhh" ledek Randy.
Randy sesekali menanyakan tentang Fasya, dia juga memikirkan hal yang sama.
"Teh, hati-hati loh jangan terlalu deket sama kak Fasya haha playboy berarti tuh orang" kata Randy.
"Sssttt kita kan belum tahu kebenarannya kaya apa Ran, jadi kita gak boleh asal nyimpulin sendiri" kataku.
"Yah kaya gak tau cowok zaman sekarang aja, liat yang bening dikit lupa sama yang udah dia punya" jawab Randy.
"Hmm kamu kali itu mah, awas ya Ran kalau kamu ketahuan pacaran. Teteh gak setuju pokoknya! Kamu harus ranking dulu baru boleh pacar-pacaran" kataku.
"Iya nggak, lagian aku kan mau fokus dulu udah kelas 3 juga" jawab Randy.
Adikku ini badannya lebih tinggi dariku, kalau kami sedang jalan berdua keluar rumah tak jarang orang mengira Randy adalah pacarku atau mengira Randy adalah kakakku.
Kebanyakan dari mereka pasti bilang "Mas, adiknya cantik" atau "Dek, abangnya ganteng" atau "duh cocoknya"...
Randy selalu memintaku datang ke sekolahnya setiap ada panggilan orang tua/ wali murid.
"Teteh ajalah yang ke sekolah aku, kasihan kan kalau Ibu jagain grosir" katanya setiap kali membujukku untuk mewakili Ibu.
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))
Sebelum tidur, aku menelpon Hanifa untuk menanyakan keadaannya.
Aku menenangkannya dengan berjanji bahwa aku, Nunu dan Arika akan datang menjenguk lagi besok setelah kelas kami selesai.
"Gapapa? kalian kan kemarin udah jenguk padahal tapi aku beneran kesepian hahahaha" kata Hanifa.
Meskipun Hanifa tertawa saat berbicara denganku, tapi aku bisa merasakan kesepian yang tersembunyi dari suara tawanya.
Maklumlah, Papa dan Ibu Hanifa sudah pindah tugas di Wates, Jateng. Mereka hanya pulang sebulan sekali. Kebanyakan waktu Hanifa dirumah hanya dihabiskannya dengan asisten rumah tangga atau dengan adiknya Fanza.
Maka dari itu, aku berinisiatif untuk menjenguk Hanifa lagi besok sambil membawakan catatan kuliahnya yang tertinggal.
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))
Keesokan harinya dikampus, aku memutuskan untuk membawa motor sendiri ke kampus karena Randy mengalah dan kasihan padaku.
"Teteh aja lah yang bawa motor mulai hari ini, aku bisa dianterin Ayah sambil kerja terus kalau pulang tinggal nebeng temen" katanya.
Randy mungkin kasihan padaku, karena selalu mendengar keluhanku yang kesal karena terlalu lama menghabiskan waktu di perjalanan.
Ayah sempat bilang "nanti kalau kondisi keuangan kita sudah normal, Ayah beli motor satu lagi buat teteh. Jadi kalian gak rebutan"....
Akhirnya, karena aku datang terlalu pagi ke kampus... Aku harus menunggu kelas hampir setengah jam lagi kedepan.
Kuputuskan untuk menunggu di selasar sambil berburu wifi buat download drama korea terbaru.
Kulihat ada Yasmin di fakultasku, dia seperti sedang menunggu seseorang.
"Yasmin" teriakku.
"Eh Raina, lagi apa sendirian?" tanyanya.
"Lagi wifian haha aku kepagian nih datengnya" jawabku.
Aku penasaran, kenapa sepagi ini Yasmin berdiri sendirian di fakultas lain sambil membawa dua buah coklat.
"Kamu ngapain disini? Nunggu orang ya?" tanyaku.
"Iya nih nunggu cowok aku, katanya dia mau bantu temennya buat ngasihin coklat ini ke cewek yang dikeceng temennya. Aku diminta beliin coklatnya" jelas Yasmin.
"Cowok kamu anak mana sih? Anak fakultas aku?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Bukan, anak MIPA namanya Fasya" jawab Yasmin.
"Tuhkan bener, ceweknya Fasya itu Yasmin. Lah terus yang dilihat sama Randy siapa dong?" gumamku.
__ADS_1
"Yaudah Rain, aku samperin cowok aku dulu ya? Dia nunggu di belakang katanya" pamit Yasmin.
"Oh ya bye yasmin" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah kelas dimulai, aku mencatat materi sebegitu seriusnya karena ini materi terakhir sebelum kami berangkat Praktikum akhir minggu ini.
"Semoga aja ya Hanifa udah sembuh, soalnya bahaya juga kalau dia gak ikut Praktikum Pak Rohmat" pikirku.
"Rain, panitia praktikum disuruh ngumpul ke ruang dosen abis kelas ini. Kamu jangan lupa kabarin Nunu sama Arika ya?" kata Roby.
"Iya rain, kemungkinan nanti job kamu rangkap sama bendahara sekalian soalnya Hanifa kan belum bisa gabung" tambah Hasan.
"Oh iya, gak apa-apa selagi aku bisa bantu sih gak apa-apa. Cuma ngatur keuangan aja kan?" tanyaku.
"Iya rain sama paling nanti kamu sama Arika ngobrol sama dosennya buat ngomongin biaya dan anggaran-anggaran lain" sahut Gian.
"Semangat Rain!!!" teriak Iria dan Rima dari barisan belakang.
"Its ok Raina, it's ok!! kamu pasti bisa lewatin semuanya. Kamu cuma nambah tugas bendahara doang ko" kataku menyemangati diriku sendiri dalam hati.
Saat hendak keluar kelas, Fasya terlihat berdiri didepan tangga darurat sebelah ruanganku.
"Fasya?" kataku.
"Eh, aku baru aja mau chat kamu. Kebetulan aku lagi lewat sini hehe mau ketemu kamu" katanya.
"Ada perlu apa?" tanyaku.
"Ini tadi aku liat di minimarket lagi ada promo coklat gitu, terus aku beli banyak dan inget ke kamu. Ini aku sisain dua buat kamu, katanya coklat bisi bikin mood bagus" jelasnya.
"Loh ini kan coklat yang dibawa Yasmin tadi pagi, ko bisa dia kasih ke aku? apa coklatnya sama ya? tapi masa iya sih" pikirku.
Aku menatap wajah Fasya yang sangat rapi seperti baru saja habis mandi dan badannya juga wangi.
"Oh iya, makasih ya sya! aku pasti makan ko kebetulan otak aku lagi banyak banget pikiran tugas jadi bisa up mood hehe" kataku.
"Oh yaudah, eh kamu bawa motor gak? kalau pulangnya gak ada tebengan terus kebetulan aku udah beres kelas, mending kamu kabarin aku aja!" katanya.
"Aku bawa motor ko mulai hari ini hehe soalnya adek aku ngalah, tapi thanks ya tawarannya. Nanti deh kalau aku lagi gak bawa motor" jawabku.
"Rain, ayo ke lab kita kumpul" teriak Roby memanggilku.
Aku bersyukur saat itu Roby memanggilku, jadi aku tidak harus mengobrol lebih lama lagi dengan Fasya.
"Yah, aku ada rapat nih sya" kataku.
"Eh yaudah gak apa-apa, aku duluan deh kalau gitu. Dimakan ya coklatnya bye Rain!" katanya sambil menuruni anak tangga.
Aku segera berlari menuju Roby dan Hasan yang menungguku didepan kelas.
"Siapa tuh Rain? udah dapet coklat lagi aja kamu" tanya Roby.
"Hahaha ini dia nitip buat orang" kataku ngeles.
Aku berbohong pada Roby, karena kalau aku menceritakan cerita sebenarnya bisa sampai 2 jam lebih.
Didepan LAB kulihat sudah banyak panitia dari angkatanku yang berkumpul dan menunggu kehadiran dosen yang tidak lain adalah Pak Rohmat.
Nunu dan Arika juga sudah menunggu disana.
"Rain!" teriak mereka kompak memanggilku.
"Woy, jadi kan kita ke Hanifa pulangnya?" tanyaku.
"Ya jadilah, kamu bawa motor kan?" tanya Arika.
"Bawa dong! nanti Nunu sama aku aja deh" kataku.
"Oke rain!" jawab Nunu.
Suasana yang tadinya berisik oleh mahasiswa angkatanku yang mengobrol dan tertawa, menjadi sangat sepi saat Pak Rohmat datang.
"ssssssttttttttttt" kata Nirwan meminta kami diam.
Kamipun masuk ke aula dan mengikuti jalannya rapat dengan serius.
"Raina, Arika habis ini kalian ikut saya ke ruangan sebentar" kata Pak Rohmat.
Aku yang menggantikan posisi Hanifa sebagai bendahara sekaligus sekertaris, mau tidak mau harus menemani Arika yang saat itu menerima tugas sebagai assisten dosen karena kemahirannya dalam mata kuliah Hidrologi.
"Rain, ko aku tegang ya?" bisik Arika.
"Hahaha sama ka, tapi percaya ajalah kita paling cuma disuruh ngitung-ngitung atau kamu mungkin disuruh bikin soal hahahaha" jawabku.
Aku dan Arikapun langsung menuju ke ruangan Pak Rohmat setelah rapat selesai.
"Arika, kamu yang bener kerjanya hahaha" kata Nirwan meledek Arika.
"Jahat ih bukannya disemangatin malah diledek" jawab Arika ketus.
Sebelum masuk ke ruangan Pak Rohmat, aku memberikan satu coklat pemberian Fasya kepada Arika.
"Ka, mau gak coklat?" tanyaku.
__ADS_1
"Mau, eh dapet coklat darimana? tumben?" tanya Arika.
"Dari fasya, panjanglah ceritanya haha nanti dirumah sakit aku ceritain deh" jawabku