
Andreas berlari secepat mungkin kearahku, membangunkan tubuhku yang tersungkur ke tanah. Telapak tanganku berdarah mungkin tergesek, daguku juga berdarah karena terbentur.
"De!!!" teriaknya.
"Sakit!" rengekku.
"Kamu kek anak kecil banget lari-larian begitu!" katanya dengan nada marah.
"Ish ish tolongin dulu sih ka" gerutuku.
Dia bukannya membangunkanku, malah langsung menggendongku. Dia mendudukanku di pos tempat bayar retribusi tadi.
Tanpa aba-aba dia juga membuka sepatuku bahkan kaos kakiku. Kakiku bergerak-gerak karena ada bagian yang sakit bekas terjatuh tadi yang tersentuh oleh tangannya.
"Aku cek siapa tau ada yang memar, mana yang sakit?" tanyanya.
"Itu..." rengekku sambil menunjukan bagian di kakiku yang agak sakit.
"Tunggu sini jangan kemana-mana?" tegasnya.
Dia lalu berlari entah kemana, entah mau apa. Aku cuma menurut saja saat disuruh menunggu.
Tak lama dia datang dengan obat merah, kapas dan perban.
"Kakak dapet dari mana?" tanyaku.
"Minta ke ibu-ibu yang rumahnya disana" jawabnya.
"Ko bisa? Emang kenal?" tanyaku.
"Kenal, sama-sama warga negara Indonesia" jawabnya dingin.
Kak Andreas sepertinya cukup terlatih merawat luka. Kak Andreas terlihat serius sekali membersihkan lukaku, dalam hati aku cuma tertawa melihat orang sedingin kak Andreas bisa dengan baik merawat seseorang.
"Perih sedikit sih tahan ya?" katanya saat hendak membersihkan luka dan memberikan obat merah di daguku.
"Gak usah ka, sama aku aja sini!" bantahku.
"Diem!" jawabnya sambil tetap membantuku.
Aku sesekali merasa pipiku memerah karena perlakuan Andreas. Tapi, sebisa mungkin aku mencoba menjadi diriku yang normal.
__ADS_1
"Udah! Beres yu pulang!" ajaknya sambil berdiri.
Aku berjalan tertatih-tatih menuju motor, lalu setelah siap Kak Andreaspun memacu motor cukup cepat untuk menghindari kabut yang sebentar lagi akan turun.
"Kak, nyalain aja lampunya" teriakku karena jalan sudah cukup gelap padahal baru jam 4 sore.
"Iya!" sahutnya.
"De, kalo hari ini hujan lagi. Aku kayanya jadi suka hujan" teriaknya.
"Loh kenapa?" sahutku.
"Ya suka aja, suka kan gak perlu alasan".. jawabnya.
Entah roh mana yang datang dan menetap pada Andreas sekarang ini, aku hanya merasa jawaban yang barusan tidak mungkin keluar dari mulut Andreas yang pedas dan tegas. Seorang Andreas mana mungkin bisa mengatakan hal-hal yang menggelikan seperti tadi.
Di satu sisi, aku senang saat itu berada didekat orang yang kusukai. Di sisi lain, aku masih ingat bagaimana Gian dengan berani mengungkapkan perasaannya kepadaku.
Bagaimana kalau Kayi tahu bahwa Gian ternyata memang benar menyukaiku?
Bagaimana kalau Kayi menanyakan padaku respon Gian setelah aku berjanji akan membantunya mendekati Gian?
Bagaimana aku bisa menjadi orang baik bagi keduanya?
"Pokonya besok aku harus cerita sama Hanifa dan yang lainnya tentang ini, siapa tau mereka bisa kasih jalan keluar" batinku.
Sesampainya di kampus.
"Kak, kita ke kosan kaka aja langsung!" kataku.
"Hah?" jawabnya terheran.
"Maksud aku, aku anterin kakak ke kosan biar kakak gausah jalan kaki lagi. Lumayan kan tas kakak berat?!" sahutku.
"Emangnya gak apa-apa?" katanya seperti tidak enak.
"Iya gak apa-apalah deket ini" jawabku.
Akhirnya, kami sudah sampai didepan gerbang kosan Andreas.
"Makasih ya kak!" kataku.
__ADS_1
"Akulah yang makasih dianter sampe depan kosan" jawabnya.
"Akulah, udah dibantuin bersihin luka juga tadi kan haha.... Yaudah aku pamit ya?" kataku sambil memutar balikkan motorku.
"Kaki kamu?" sela nya.
"Udah mayan ko dahhhh" jawabku sambil melambaikan tangan dan pergi.
Malam harinya dirumah .....
Bulan.... Kenapa bisa seseorang menyukai orang yang bahkan tidak suka kepadanya?
Bintang..... Mana bisa orang yang menyukai kita adalah seseorang yang kita anggap sebagai sahabat baik?
Pelangi... Apakah bisa kita memilih untuk menyukai orang yang juga suka kepada kita?
Ketika sedang asyik mengetik sebuah tulisan di laptop, tiba-tiba handphoneku berdering.
"Hanifa!!!"
"Kenapa fa?" tanyaku.
"Rain, ka Dhika masa barusan telpon aku. Nanyain kamu sama Andreas dijalan keliatan gimana katanya ceritain dong" jelasnya
"Huh? Terus kamu jawab apa?" tanyaku.
"Aku bilang aja cuma papasan dijalan sama kalian dua kali, dan ya aku liat kalian biasa-biasa aja" jawabnya.
"Hahaha terus terus ka Dhika bilang apalagi?" tanyaku penasaran.
"Yaah kirain udah ada kemajuan gitu dong" jawab Hanifa.
Akhirnya seperti disambut, aku diberi jalan untuk cerita tentang Gian dan Andreas kepada Hanifa.
Hanifa bilang "yang kamu lakuin bener ko! Cuma ya gitu mungkin kamu harus agak jaga jarak sama Gian, takutnya muncul salah paham lagi sama Kayi"...
Hanifa juga menanyakan "gimana kak Andreas gak bilang apa-apa soal perasaan dia ke kamu?"...
Aku jawab "Boro-boro, kayanya dia gak tertarik ke aku deh. Dia anggap aku anak kecil kayanya terus gak mungkinlah aku masuk kriterianya faaa"...
Setelah obrolan ngulon ngidulpun, aku mengantuk dan menutup telepon duluan.
__ADS_1
"Fa, udah dulu ya? Besok deh kita cerita-cerita lagi" kataku.
"Iya rain, daaah".....