
Aku menuntunnya, setelah kulihat dia berjalan seperti kesakitan.
"Duduk dulu yuk dimobil" ajaknya.
"Ngapain ih? Kakak harusnya tidur tau gak?" kataku.
"Yaudah duduk diteras aja. Aku mau ngobrol sama kamu" katanya.
Kamipun duduk di teras. Rasanya aneh tengah malam ada diluar rumah. Apalagi sekitaran rumah Enin itu[ kebun. Aku tidak berani melihat ke depan. Hanya memfokuskan mataku pada kak Iyas.
"Kenapa gak pake kursi roda sih?" tanyaku.
"Gak mau ah repot. Lagian udah enakan ko" jawabnya.
"Yaudah aku ambilin minum ya?" kataku sambil beranjak.
Dia melarangku, katanya dia tidak ingin minum. Dia malah beralasan bahwa sekarang dia hanya ingin melihatku.
Beberapa detik kemudian, aku merasakan pandangan matanya mulai aneh. Seperti seseorang yang gugup. Kalau aku tidak salah menebak, dia pasti hendak mengatakan sesuatu yang penting padaku.
"Apasih ko ngeliatnya gitu banget?" tanyaku.
Kak Iyas malah tersenyum dan lalu menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, dia menatap lurus kedepan. Tatapan matanya seperti kosong.
"Kakak sakit ya? Aku pijit kakinya ya? Kita ke dalem yuk?" ajakku.
"Gak ko, aku cuma lagi mikirin gimana ya mereka yang lagi penelitian. Sebenernya aku gak enak karena udah ngebatalin janji. Kalau bukan karena kondisi kaki aku, pasti aku ikut ko" jelasnya.
Penelitian yang dimaksud Kak Iyas pasti penelitian Pak Yana yang dipercayakan padanya. Seingatku, harusnya dia pergi malam ini. Namun karena kondisinya tidak memungkinkan, dia membatalkan rencananya.
Herannya lagi disaat sedang sakit saja dia masih memikirkan penelitian itu.
"Aku marah lagi nih kalau kakak malah mikirin penelitian itu. Kakak tuh pasien loh dan lagi sakit. Wajar dong kakak batalin" gerutuku.
Dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Ekspresinya kini terlihat kaget.
"Pacar aku jadi galak banget pulang dari Bali" katanya.
Aku berjongkok dihadapannya. Meletakan kedua tanganku di lututnya. Lalu mencoba jujur dan meminta maaf.
"Maaf kak, sebenernya aku sedih banget gagal liburan ke Lombok. Tapi aku lebih sedih, waktu aku tahu kakak sakit dan aku gak bisa nemenin kakak langsung. Perasaan aku campur aduk banget. Belum lagi dijalan pas mau ke rumah sakit, aku ketemu Fasya. Untungnya ada Randy.....
Kuceritakan segala yang ada di pikiranku saat itu padanya. Berharap bahwa diantara kami tidak akan ada lagi penghalang yang membuat kami harus berjarak satu sama lain.
Aku ingin dia tahu segala sesuatu yang aku alami dan aku rasakan. Lewat hal itu, kuharap dia akan mengerti betapa pentingnya keberadaan dia di hidupku sekarang.
Aku ingin bukan hanya aku yang membagi keluh kesah padanya, tapi dia juga harus melakukan hal yang sama padaku.
"Aku ngerti ko, aku jadi berasa buruk banget jadi cowok kamu. Semua rencana kamu berantakan gara-gara aku. Pokoknya aku janji, setelah aku sembuh dan kamu ada libur, kita pergi ke Lombok ya?" katanya.
"Aku gak mau kakak buat janji, seperti biasa aku pingin kita mengalir aja. Jadi kita gak berharap sama sesuatu satu sama lain. Aku udah seneng ko bisa terus sama kakak. Kakak gak usah ngejanjiin hal yang lebih" jawabku.
Dia menepuk kepalaku, mengelus rambutku dan lalu terlihat seperti hendak menangis.
"Uhhh, aku beruntung banget punya cewek kaya kamu. Semoga kita bener-bener berjodoh ya dek?" katanya.
Aku bisa lihat dengan jelas, mata Kak Iyas berkaca-kaca. Muncul kekosongan paling nyata diantara celah tatapannya. Aku juga bisa melihat, bahwa yang ada didepanku sekarang adalah sosok laki-laki yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang sebesar yang aku berikan setelah kedua orang tuanya pergi.
Hatiku lebih sakit dan tersayat. Melihat orang yang kusayangi begitu tersentuh atas apa yang aku katakan. Rasanya aku juga ingin kembali menangis. Aku mau dia tahu, bahwa aku lebih beruntung memiliki dia sebagai pacarku.
"Yaudah yu masuk, nanti kita masuk angin loh" ajakku.
Belum selangkahpun aku maju, dia kembali menahan tanganku.
"Apalagi kak?" gerutuku.
Aku kesal karena dia masih tidak sadar bahwa udara malam itu sangat dingin, dan dia juga sedang sakit. Aku hanya khawatir akan kondisi tubuhnya.
"Aku kangen Ibu sama Bapak" katanya.
Perkataan yang sangat menusuk hatiku. Seperti ada luka dalam yang kembali berdarah, aku menyadari ekspresi wajahnya yang seketika berubah.
Tubuhku meringan, aku bahkan kesulitan mengatur kakiku yang hampir saja tidak seimbang dan jatuh terkulai. Saat dia bilang bahwa dia merindukan kedua orang tuanya, adalah saat-saat yang paling sulit buatku.
Saat itu, aku tidak bisa menasehatinya, memberinya semangat atau bahkan merayunya. Segala macam jurus tidak akan mempan untuk membuatnya melupakan kesedihan ataupun mengobati kerinduannya pada Bapak dan Ibunya.
"Sssttt, mending kita doain mereka aja. Bapak sama Ibu pasti kangen juga ke kakak" kataku.
Aku tidak ingin memeluknya saat itu, karena kupikir dia akan semakin sedih jika aku justru memeluknya. Aku hanya menepuk pundaknya sambil membantunya berdiri.
..........................................
__ADS_1
..........................................
Aku mengantarnya hingga ke kamar tamu, sementara aku akan kembali kekamar Enin.
"Kakak tidur ya, aku juga mau tidur ko. Nanti pagi aku bangunin" kataku.
"Iya, sini cium dulu" katanya.
Aku mengarahkan pipiku kearahnya, tapi dia malah mencium jidatku.
"Mmmmuah, ih ko bau sih rambut kamu" ledeknya.
"Ngaco, aku di Bali keramas tiap hari tahu!" gerutuku.
Diapun tertawa lalu merebahkan dirinya kekasur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan Paginya....
Aku yang kesulitan tidur karena kedinginan, memaksakan bangun pagi-pagi sekali.
"Masih jam setengah 5 hahaha belum bisa tidur aja. Dingin banget" gumamku.
Suara ayam berkokok dan bersahutan sudah terdengar di halaman rumah Enin. Aku sangat rindu suasana semacam ini.
"Yang, udah bangun?" tanya kak Iyas dalam chat.
"Aku baru bangun, gak bisa tidursih sebenernya" jawabku.
"Jalan-jalan yuk? Kita keliling" ajaknya.
Akupun bergegas mandi meskipun sebenarnya aku sangat malas, karena air di kamar mandi Enin pasti sangat dingin. Tapi, aku harus mandi karena ada kak Iyas.
Setelah mandi, aku menuju ke kamar tamu untuk melihat kak Iyas. Ternyata dia sedang menyisir rambutnya.
"Udah gantenglah" kataku meledeknya.
"Eh hahaha, kayanya aku mau cukur rambut deh" katanya.
Kamipun berkeliling disekitar rumah Enin. Hingga baru tersadat bahwa Abah juga sudah bangun dan sedang memberi makan ayam-ayamnya.
Abah yang keheranan melihat kami berdua datang langsung terkaget. Beruntungnya kak Iyas langsung menyalami Abah dan memperkenalkan dirinya.
"Oh datengnya malem banget ya kemarin? Abah gak liat" kata Abah.
"Iya bah malem banget, adakali jam 12an" jawabku.
"Yaudah, kalian mau ngasih makan ikan gak di kolam Abah? kalau mau ambil pakannya di belakang" tanya Abah.
"Mau bah mau" jawabku antusias.
Aku menarik tangan kak Iyas menuju dapur belakang untuk mencari pakan dan memberi makan ikan di kolam Abah.
Dia juga terlihat antusias melihat aku bersemangat sekali pagi itu. Sesekali dia akan meledekku karena aku tidak sabar untuk melihat ikan-ikan peliharaan Abah.
"Dulu kamu gede disini?" tanyanya.
"Aku SD disini tahu, jadi aku paham banget daerah sini" jawabku.
"Punya temen masa kecil dong?" tanyanya.
"Ada, tapi mereka pada kuliah ke luar kota. Aku juga cuma berhubungan sama beberapa orang doang" jawabku.
Setelah selesai memberi makan ikan...
Aku membuatkan teh manis untuk semua anggota keluarga dan menggoreng singkong yang sudah dipotong-potong oleh Enin semalam.
Sementara Kak Iyas sedang mengobrol dengan Abah di teras depan.
"Udah baikan cu?" tanya Enin.
"Iya nin hehe" jawabku.
"Cakep loh anaknya, Enin kayanya kalau seumuran kamu juga bakal suka" jelas Enin.
"Ih Enin genit ya?" ledekku.
Enin menasehatiku untuk mempertahankan seseorang yang memang layak untuk dipertahankan. Menurut Enin, setelah beliau mendengar cerita tentang Kak Iyas dari Ibu dan Ayah, Enin jadi paham kenapa aku sangat menyukai kak Iyas.
__ADS_1
"Seorang anak yang sudah kehilangan dua orang tuanya, dia akan sangat menyayangi orang yang masih dimilikinya. Enin paham betul perasaan Iyas gimana, dia pasti akan jadi super protektif terhadap kamu" kata Enin.
Mendengar penjelasan Enin, membuat aku merasa bersalah. Bagaimana tidak, aku bahkan bisa marah dan meninggalkannya hanya karena hal-hal kecil. Tapi, aku lupa bahwa dia selalu menjadi pengertian dan perhatian terhadapku.
Dia bahkan lebih mengutamakan perasaanku daripada perasaannya sendiri. Aku berjanji pada diriku saat itu, bahwa aku akan lebih dewasa dan memposisikan diriku sebagai pacar yang pengertian untuknya.
Setelah Ayah, Ibu, Recca dan Randy bangun, kami berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama.
Pemandangan yang sangat manis buatku, melihat kak Iyas bisa berbaur dengan seluruh anggota keluargaku.
"Mungkin dengan adanya keluarga aku, kakak gak akan ngerasa sendirian lagi" gumamku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lima hari kemudian......
Hanifa dan yang lain sudah dalam perjalanan pulang ke Bandung. Aku dan kak Dhika akan menjemput mereka ke Bandara. Kak Dhika sudah membawa mobil Hanifa dari rumahnya.
"Dek, kakinya Iyas gimana?" tanya kak Dhika.
"Baikan sih, karena dua hari sekali terapi sama dia juga udah gak boleh berdiri lama sampe kakinya pulih" jawabku.
"Bagus lah, soalnya di outlet Iyas tuh workaholic banget emang. Disuruh gantian buat istirahat gak mau" katanya.
Kami berduapun membicarakan kebiasaan kerja kak Iyas yang terlalu keras. Hingga tak terasa sampailah kami di Bandara.
---------------------------------
"Rain, seru banget tau ih! Gila ya aku pertama kalinya liat pasir pantai seputih dan sebersih itu" kata Nunu antusias.
"Next time beneran kamu harus kesana deh rain!" sahut Gian.
Semua sahabat-sahabatku menceritakan keseruan selama mereka liburan di Lombok. Lalu setelah kami masuk kedalam mobil, kak Dhika tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang membuat kami semua terdiam.
"Oke, kalian semua udah kuliah lapangan terakhir bahkan kalian juga udah ada yang liburan. Mulai besok kalian harus buat laporan untuk ekspose" ....
"Apaan sih kak, baru juga sampe masa udah disuruh buat laporan aja" kata Hanifa.
"Eh liat makanya kalender akademik, minggu depan kalian udah UAS dan minggu depannya lagi kalian ekspose terus udah gitu kalian bakal resmi jadi mahasiswa tingkat akhir" jelas Kak Dhika.
Kami saling lirik-lirikan satu sama lain. Menyadari bahwa kami sudah termasuk angkatan tua. Akhirnya, sebentar lagi aku KKN dan PKL. Rasanya tidak sabar untuk segera lulus. Aku ingin segera bekerja dan juga membahagiakan kedua orang tuaku. Lalu setelahnya, ah sudahlah urusan itu sepertinya aku tidak perlu menceritakannya lagi.
"Kita gak usah kumpul dulu lah, mending kalian hibernasi aja seharian ini sampe besok biar gak terlalu cape. Lusa kan kita ke kampus buat kerja kelompok" kataku.
Mereka setuju dengan saranku, aku dan kak Dhika mengantarkan mereka ke kosannya satu persatu. Hingga akhirnya tinggal aku, Hanifa dan kak Dhika di mobil.
"Kak, anterin aku ke outlet ya? Aku mau ngecek kak Iyas" kataku.
"Oke" jawabnya.
Menuju outlet, aku menceritakan kondisi kak Iyas pada Hanifa. Dia juga khawatir dan memintaku untuk terus mengawasi pola makan sekaligus pola kerjanya.
"Kak dhika bisa aja ngomong kak Iyas workaholic, padahal dia juga sama aja loh Rain" ledek Hanifa.
"Iya bener sih hahaha, emang mereka cocok karena semuanya mirip. Ya gak sih?" tambahku meledek kak Dhika.
"Oke oke, nyonya-nyonya. Cukup ya jangan ngetes kesabaran saya!" jawabnya pasrah.
Sesampainya di outlet, kak Dhika lanjut untuk langsung mengantarkan Hanifa kerumahnya. Sementara aku akan mengecek kak Iyas lalu pulang bersama dengannya.
Outlet masih ramai, meski tidak seramai pada saat launching. Aku melihat kondisi pajangan dibagian depan, agak membosankan. Pilihan warna jaket dan celananya terkesan darkmode.
Menurutku, kurang sedap dipandang oleh mata. Apalagi ketika hari sudah gelap, aku jamin pasti pajangannya tidak terlihat jelas.
Ketika masuk, kak Iyas sedang duduk sambil mengobrol dengan kepala outletnya. Namanya Pak Fikry. Usianya lima tahun lebih tua dari kak Iyas. Aku sempat mendengar cerita tentang Pak Fikry dari kak Iyas.
Aku kurang paham sistematika outlet ini, setahuku di outlet ini menjual pakaian outdoor dengan banyak merk. Dari mulai lokal dan luar negeri. Menurut kak Iyas dia hanya menanamkan modal dan lalu mendapatkan satu outlet sebagai pegangan. Mungkin sama dengan sistem ketika hendak membuka minimarket.
"Sayang" teriaknya sesaat setelah melihatku.
Aku duduk di sebelahnya setelah menyalami Pak Fikry. Mereka sepertinya sedang mengobrol santai tentang pendapatan outlet dan barang.
"Yasudah kalau gitu, mending si Dhika diizinin aja buat buka outlet baru. Mungkin dia mau mandiri. Tinggal nanti saya ajukan buat lokasi penempatannya dimana" kata Pak Fikry.
Menurut dugaanku, pasti mereka sedang membicarakan rencana kak Dhika untuk membuka outlet barunya di Jakarta. Dengan alasan, dia ingin tinggal bersama kedua orang tuanya lagi di Jakarta.
Maklum, Papa Kak Dhika sudah sering sakit-sakitan. Mamanya juga jadi kesepian karena tidak ada teman. Mayoritas keluarga mereka tinggal di Sulawesi. Kak Dhika pasti ingin menjaga kedua orang tuanya lebih baik.
Tak lama kemudian, Pak Fikry pamit untuk mengontrol outlet yang lainnya.
__ADS_1
Aku dan kak Iyas saling bertatap-tatapan sekarang. Sepertinya kami memikirkan hal yang sama. Aku dan Kak Iyas memikirkan Hanifa. Bagaimana perasaan Hanifa saat tahu kalau kak Dhika akan pindah permanen ke Jakarta?
"Kata si Dhika sih, sebelum dia pindah ke Jakarta secara permanen, dia mau ngomong ke Papanya Hanifa soal rencana seriusnya sama Hanifa. Kita tunggu aja" katanya.