
โฌ๐ถ๐๐๐ถ๐ ๐ฝ๐ถ๐ ๐๐ถ๐โ ๐โฏ๐๐ฟ๐ถ๐น๐พ ๐น๐พ ๐น๐๐๐พ๐ถ ๐น๐ถ๐๐ถ๐ ๐โฏ๐๐พ๐ถ๐ ๐นโฏ๐๐พ๐๐๐๐ถ... ๐ฆโฏ๐ฝ๐พ๐๐ถ๐โ๐ถ๐, ๐โฏ๐โฏ๐๐๐๐ถ๐, ๐โฏ๐โ๐ถ๐๐ถ๐๐พ, ๐โฏ๐โ๐ถ๐๐ฝ๐พ๐๐พ, ๐โฏ๐๐๐ถ๐๐พ๐๐พ, ๐น๐พ๐๐ถ๐๐พ๐๐พ, ๐โฏ๐๐ถ๐ถ๐ป๐๐ถ๐, ๐น๐พ๐๐ถ๐ถ๐ป๐๐ถ๐, ๐โฏ๐๐พ๐๐ถ๐ฝ, ๐ โฏ๐๐ธโฏ๐๐ถ๐พ๐ถ๐, ๐ โฏ๐๐๐ถ๐๐๐ถ๐, ๐ โฏ๐๐ โฏ๐ธ๐ถ๐ฝ๐ถ๐, ๐โฏ๐ท๐ถ๐ฝ๐ถโ๐พ๐ถ๐ถ๐ ๐น๐ถ๐ ๐โฏ๐โฏ๐น๐พ๐ฝ๐ถ๐.. ๐ฎโฏ๐๐๐ถ๐๐๐ถ ๐ท๐ถ๐ ๐น๐๐ถ ๐๐ถ๐๐ถ ๐ ๐พ๐๐ถ๐ ๐๐ถ๐โ ๐ทโฏ๐๐โด๐๐ถ๐ ๐ทโฏ๐๐ถ๐๐ถ๐โ ๐๐ถ๐๐๐ ๐ ๐ถ๐น๐ถ ๐ฝ๐ถ๐๐พ๐๐ถ๐๐๐๐ถ ๐ทโฏ๐๐ฟ๐ถ๐๐ถ๐ ๐ทโฏ๐๐พ๐๐พ๐โ๐ถ๐... โฌ๐พ๐๐ถ ๐ฟ๐ถ๐น๐พ ๐๐ถ๐ถ๐ ๐๐พ๐๐ถ ๐ท๐ถ๐ฝ๐ถโ๐พ๐ถ ๐น๐พ๐๐ถ๐๐ถ ๐ถ๐น๐ถ ๐โฏ๐น๐พ๐ฝ ๐โฏ๐โฏโด๐๐ถ๐โ ๐๐ถ๐โ ๐โฏ๐๐โฏ๐๐ท๐๐๐๐พ๐๐ถ๐.. ๐ถ๐๐ถ๐ ๐ ๐ถ๐น๐ถ ๐๐ถ๐ถ๐ ๐๐พ๐๐ถ ๐โฏ๐โฏ๐๐๐๐ถ๐ ๐โฏ๐โฏโด๐๐ถ๐โ, ๐๐๐โ๐๐พ๐ ๐ถ๐น๐ถ โด๐๐ถ๐โ ๐๐ถ๐พ๐ ๐๐ถ๐โ ๐โฏ๐๐ถ๐๐ถ ๐โฏ๐ฝ๐พ๐๐ถ๐โ๐ถ๐....
Banyak juga hal yang ditakutkan padahal terjadi atau tidaknya belum pasti. Contohnya : berjauhan dengan seseorang.
Raina akan menjalani kerja lapangannya untuk tahun pertama menjadi mahasiswa. Aku cukup khawatir, mengingat bagaimana nanti dia akan benar-benar tinggal di lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk dalam waktu yang cukup lama.
Raina memang bukan anak yang manja, bukan sama sekali. Hanya saja ini tahun pertamanya, aku banyak sekali memberikannya nasihat dan saran agar dia benar-benar membawa barang yang dia benar-benar perlukan.
"Iya, aku gak bawa yang aneh-aneh ko" katanya.
Sampai aku memintanya membuat notes berisi daftar barang yang akan dia beli. Maklum, aku harus berangkat lebih dulu dari angkatannya.
Selama perjalanan menuju ke Lombok, fisikku kelelahan. Aku fikir juga tetap harus menjaga kondisiku, karena aku ketua pelaksana. Beruntung ada Dhika yang selalu mengingatkanku "Lu tidur deh bentaran take down"...
Aku bahkan sedikit melupakan Raina saat itu, karena aku takut dia akan marah saat jarang ku hubungi. Aku selalu menyisakan waktu sebelum tidur malam untuk menelpon dan menanyakan apa yang dilakukan seharian tadi. Dia hanya akan menjawab, "aku dirumah, aku maen ke mall sama Hanuka atau aku baca buku"...
Pacarku memang bukan cewek yang neko-neko, dia bahkan memilih menjaga grosir Ibunya daripada main keluar rumah.
Waktu berlalu...
Kuliah lapanganku sudah selesai, aku sudah tiba di Bandung lebih dulu.
Hari ini Raina akan pulang dari kuliah lapangannya, aku mencoba bangun pagi dan merapikan kamar kosku. Dengan maksud, kalau Raina dan sahabat-sahabatnya sampai di Bandung larut malam mereka bisa menginap di kosanku. Tunggu jangan negatif thinking dulu, sementara aku menginap di kosan Dhika misalnya.
Pagi tadi dia bilang "wilayah kajian terakhir ko, tapi kenapa ya kak Ibu sama Ayah aku kaya khawatir banget haha masa mereka terus-terusan nanyain aku udah sampe mana" katanya.
"Ya bagus, mereka perhatian berarti" jawabku.
Sebenarnya, aku juga khawatir kepadanya. Apalagi setelah aku dengar hampir tiap hari Raina harus berinteraksi dengan Gian. Bukan Raina yang tidak aku percaya, tapi Gian. Aku tahu dia menyukai wanitaku, sedalam itu...
"Yas, bisnya Raina kecelakaan di tol" teriak Dhika.
Aku bangkit dari kursiku dan segera menuju kampus. Perasaanku tidak karuan, dengkulku juga lemas. Aku terus menerus menelpon Raina, tapi tidak ada jawaban. Nada sambungnya terdengar, tapi tidak ada suara yang menyambutku disana.
"Dek, kenapa kamu gak angkat?" gumamku.
"Dhik, lu dapet kabar gak dari Gian?" tanyaku.
Belum, oya lu ambil hp gue di saku trus lu telpon sekarang mereka satu bis kan?" jawabnya.
Aku mengambil ponsel dari saku Dhika, mencari nomor Gian dan menemukannya.
"Iya kak, gue udah di tkp ko. Sorry kak gue gak bisa bicara banyak dulu soalnya gue harus nolongin yang lain. Nanti gue kabarin" jelas Gian.
Jawaban Gian semakin membuatku tidak karuan, dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku "gimana Raina?"...
Padahal aku jamin, dia juga akan memprioritaskan Raina dibanding teman-temannya yang lain.
"Entah gue harus seneng atau gimana, tapi dari suaranya si Gian baik-baik aja dhik" kataku.
"Hanifa? Raina? gimana?" tanyanya.
"Dia keburu tutup teleponnya" kataku.
Sesampainya di Kampus, aku dan Dhika menunggu di kantor jurusan. Berharap petugas disana akan memberikan kami informasi.
"Tenang aja, bis lain yang gak kena dampak sudah dalam perjalanan pulang. Mending kalian berdua bantu angkat logistik gih. Sambil nunggu kabar selanjutnya" kata sekertaris jurusan.
"Oya pak, mereka sampe kampus jam berapa kira-kira?" tanya Dhika.
"1 jam lagi lah" jawabnya.
Aku bisa melihat usaha Dhika untuk menenangkanku saat itu. Dia terus menerus tersenyum saat melihatku, padahal aku sendiri tahu bahwa dia juga pasti sangat mengkhawatirkan Hanifanya.
"Tenang yas! Raina pasti gak kenapa-kenapa" katanya sambil menepuk bahuku.
Beberapa saat kemudian....
"Kayanya mereka udah nyampe deh, lu tunggu sini aja ya biar gue yang kesana?" kata Dhika.
Aku hanya mengangguk..
"Pak, emang gak ada kabar siapa aja yang luka dan gimana kronologinya?" tanyaku.
__ADS_1
"Biar nanti yang jelasin, dosen yang membimbing supaya gak simpang siur beritanya" jawabnya.
"Kak!!" teriak seseorang.
Suaranya sangat familiar di telingaku.
Aku eranjak dan mendekat ke arahnya seketika. bahkan memeluknya tanpa aba-aba sedikitpun.
"Ini pasti karena doa Ayah sama Ibu tadi pagi dan karena doa kakak juga" katanya
"Emang aku doain apa?" tanyaku sembari menyadari betapa leganya aku melihat lagi wajahnya saat itu.
"Pas aku nanya kakak mau oleh-oleh apa, kakak cuma jawab kalau kakak gak mau oleh-oleh dan kakak cuma mau aku segera pulang dengan selamat" jelasnya sambil tersenyum
"Bodoh, bahkan setiap pacar yang ditinggalin pacarnya pasti doain pacarnya pulang dengan selamat" gumamku sambil melihat senyumnya yang akhir-akhir ini sangat aku rindukan itu.
"Kak, aku laper... Oya kayanya aku nginep di Nunu deh malam ini" katanya.
"Jangan di Nunu kan sempit, nginep di kosan aku aja nanti biar aku nginep di kosan Dhika" jawabku.
Entah perasaan macam apa yang kurasakan saat itu, lega dan tenang serta rindu yang menemukan akhir pencariannya.
Pengalaman mengkhawatirkan seseorang saat itu adalah yang paling tidak mengenakan buatku, makanya aku tidak mau berjarak lagi dengan Raina bahkan dalam waktu yang sebentar sekalipun. Aku mau didekatnya, selalu.
Hari demi hari berlalu...
Sidangku selesai dan tinggal menunggu waktu untuk wisuda. Raina juga semakin beradaptasi dengan status mahasiswanya. Aku senang melihatnya tumbuh dan berkembang dengan cepat. Pacarku memang punya banyak sekali pesona.
Dia manis, nyaman dilihat dan bisa membuat siapa saja merasa dekat dengannya.
Seringkali aku khawatir, memikirkan bagaimana nantinya jika aku meninggalkan Raina di Bandung. Apa bisa kami LDR?
Tak terasa perpisahanpun didepan mata....
Aku harus pergi selama sebulan karena jadwalku sudah selesai di Bandung, tujuan utamanya sih untuk menjemput Ibu dan keluarga lain untuk mengabari acara wisudaku.
Malam hari sebelum keberangkatanku, Raina sangat manja. Dia tidak mau melepaskan tanganku, selalu duduk disampingku tapi lebih banyak diam. Senyumnya menyimpan banyak sekali kesedihan.
Aku mencoba mengiyakan dengan maksud membuat kesedihannya berkurang. Tapi dari tatapan matanya, aku tahu bahwa dia sangat takut berpisah denganku.
Keesokan harinya di bandara....
Raina, Hanifa dan Dhika mengantarku. Tentu saja rasanya berat, untuk pertama kalinya berpisah dengan Raina dalam waktu yang cukup lama..
Raina menangis... Rasanya sedih sekali... Seperti ada kepingan dari hati yang ikut terlepas saat melihat orang yang kita sayangi menangis dihadapan kita.
Aku menggenggam tangannya, bahkan di detik-detik menjelang keberangkatankupun rasanya sangat sulit melepaskan tangan mungil yang selalu menjadi tempat ternyamanku untuk kembali setelah tangan Ibu.
Menuju sebulan penuh rindu....
Ada doa yang diam-diam kupanjatkan...
Semoga sebulan itu berlalu...
Hingga aku kembali kepadamu....
Selama sebulan penuh itu, aku semakin tahu artinya rasa kangen.. Sangat bisa aku rasakan tapi entah bagaimana sulit rasanya untuk menjelaskan.
Gian juga sempat membuatku hampir pulang ke Bandung mendadak, setelah dia mengabariku bahwa dia meminta waktu untuk mengobrol berdua secara langsung dengan Raina.
Aku bukannya tidak menyetujuinya, hanya saja banyak faktor yang membuatku tidak percaya pada Gian. Namun, Gian kali ini serius "terakhir kalinya" dia ingin memberitahukan perasaan terdalamnya untuk Raina.
Aku dengan gentle menjawab "Oke!" tanpa kutambahi iming-iming apapun dibelakangnya. Aku bahkan tidak menanyakan kronologisnya kepada Raina, karena aku percaya bahwa Raina tidak akan goyah begitu saja.
Selama di Palembang, Ibu juga tidak hentinya memintaku menceritakan sosok Raina yang sebenarnya. Kubilang "dia gak lebih cantik dari Ibu ko" tapi Ibu bersikeras menjawab "Cantikan pacarmu lah yas"...
Ibu selalu bilang kalau beliau tidak sabar ingin segera bertemu dan memeluk Raina.
"Yaudah nanti secepatnya dilamar ya?" kata Ibu sambil menepuk bahuku.
"Ngaco, Raina kan masih kuliah" jawabku.
"Yaudah, tunangan aja dulu. Iket dulu!" kata Ibu.
__ADS_1
"Iket? emang pacar Iyas kambing?" ledekku.
Ibu sepertinya sangat antusias tentang pacarku, segala sesuatu tentang Raina katanya menarik dan membuat penasaran.
Suatu hari saat dirumah sepi, saat angin sepoi meniup tirai kamarku. Aku mendengar selentingan suara gelas kopi yang diaduk di teras belakang. Perasaan haru dan rindu mulai menyeruak, mataku menjadi agak berat untuk menatap sekeliling.
"Bapak!!" jeritku dalam hati.
Segera mungkin aku berlari keluar rumah, mengendarai motorku menuju pusara penuh rindu yang selalu terbayang dalam setiap sujudku.
"Pak, Anakmu sudah lulus kuliah. Sudah akan wisuda dan punya gelar sarjana. Pak, Anakmu cumlaude biar Ibu gak usah nunggu lama nunggu anaknya dipanggil. Pak, Anakmu juga sudah punya pacar cantik mirip Ibu. Pak, Anakmu juga kangen berat... Ibu kayanya lebih kangen... Nanti juga akan ada anggota baru yang bakal kangen sama Bapak... Bapak, semoga tenang ya disana"....
Wisudapun didepan mata....
Ibu sangat antusias pergi ke Bandung, bahkan Ibu yang sudah lama tidak berdandan saja sibuk sekali menata bajunya.
"Mau kemana sih bu? cantik banget tumben" ledekku.
"Kan mau ketemu calon menantu" ledek Ibu.
Sesampainya di Bandung....
Kulihat Raina sangat gugup berhadapan dengan Ibu, aku menggenggam tangannya dan tersenyum.
"Lega sekali rasanya melihat kembali Raina ada disampingku" batinku.
Aku menepati janjiku untuk mengajak Ibu dan Raina berjalan-jalan dan makan bersama. Pacarku memang super, baru beberapa jam saja langsung bisa akrab sama Ibu.
Rasanya anak kandung Ibu adalah Raina, sampai-sampai Ibu tidak melepaskan pandangannya dari Raina sedikitpun.
"Pak, liat deh lucunya Ibu sekarang. Ibu kelihatan bahagia banget kan? sudah lama rasanya Ibu gak begini semenjak Bapak gak ada" gumamku.
Kamipun menginap di hotel.
Lucunya Raina sempat khawatir tentang hubungan kami. Raina takut aku memutuskan hubungan dengannya setelah harus pindah kembali ke Palembang.
"Kakak mau putusin aku sekarang?" katanya dengan ekspresi polos.
Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum karena keluguannya. Bagaimana mungkin Raina berpikiran tentang putus saat aku justru diminta Ibu segera mengikat hubungan dengannya.
"Aku harus dapet kerjaan tetap dan mapan dulu baru bisa dengan percaya diri bilang ke Raina" pikirku.
Wisuda terasa sangat mengharukan, melihat dua wanita yang paling kucintai di dunia ini duduk bersebelahan tepat di belakangku dan bertepuk tangan saat namaku dipanggil.
Apalagi saat tangan keduanya melingkar di tanganku dalam sesi foto wisudawan, rasanya bermimpipun aku tidak pernah merasa seindah itu.
"Selamat ya sayang" kata Raina berbisik.
Kedua matanya memerah dan berkaca-kaca, memperlihatkan betapa bahagia dan leganya dia melihatku wisuda. Tapi jauh dari itu, aku juga melihat kecemasan yang dia sembunyikan lewat senyumannya.
Ibu, pun sangat bahagianya. Beliau menangis dan mencium pipiku berkali-kali. Apalagi saat beliau tahu bahwa putranya saat itu adalah lulusan terbaik universitas.
"Iyas, Ibu dan Bapak bangga sama kamu!!"...
Kata-kata impian yang selalu ingin kudengar keluar dari mulut Ibu dan Bapak akhirnya Ibu ucapkan juga saat itu.
Aku memeluk Ibu dan dalam diam aku memanggil nama Bapak dengan sangat lirih.
"Pak, terimakasih karena sudah mengizinkan Iyas menjadi anak Bapak dan Ibu" kataku.
-
-
-
-
Haloo pembaca semua, gimana kabarnya sehat kan? thor gak bosen ingetin kalian untuk jaga kesehatan dan semakin waspada ya:) Semoga kita semua diberikan perlindungan oleh Allah...
Oya, gimana nih? menurut kalian thor update part 2 nya nyambung sama part 1 ini atau thor bikin judul baru??? bingung juga loh mikirin ini dari beberapa hari yang lalu... hehehe....
thor minta sarannya ya:) thankyouuuu๐
__ADS_1