Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Malam sastra I


__ADS_3

Seminggu berlalu, aku mulai sangat sibuk di kampus. Dengan semua tugas mata kuliah, persiapan praktikum dan juga kesibukan menjadi duta kampus menjelang penerimaan mahasiswa baru.


Seminggu ini, kulihat Arika dan Nirwan belum juga membaik. Mereka hanya terkesan bersandiwara dengan mencoba terlihat "baik-baik saja". Hanifa dan Nunu sudah mencurigai perbedaan gerak-gerik mereka.


Hingga akhirnya, mereka menanyakan pendapatku. Aku tidak bisa berbohong lagi dan menceritakan semua yang kuketahui pada mereka berdua.


"Rain, kenapa dipendem sendiri sih? Kamu kan tahu si Arika tuh berlarut-larut kalau udah gak suka sama orang" kata Nunu.


Aku meminta maaf, karena sudah merahasiakannya dari mereka.


"Yaudah, gini deh mending sekarang kita temuin si Nirwan. Kita aja yang nanya ke dia, sebenarnya mau dia gimana" kata Hanifa.


"Percuma fa, si Nirwan tuh gak gentle. Kalau dia beneran sayang sama Arika harusnya udah dari seminggu yang lalu dong dia dateng ke kita dan minta bantuan kita buat jelasin ke si Arika" kataku.


Kami bertigapun, sepakat untuk menjebak Nirwan dan Arika dalam satu tempat yang sama. Sehingga mereka bisa benar-benar mengobrol dan menyelesaikan masalah mereka dengan kepala dingin satu sama lain.


"Ka, ketemu di kosan Nunu ya? Kita lagi ngangkut barang nih mau packing" kataku dalam telpon.


"Iya rain, aku otw. Maaf tadi habis ketemu sama Pak Rohmat dulu" jawabnya.


Nunu menyarankan kosannya yang dipakai untuk mempertemukan Arika dan Nirwan. Tentu saja yang menjebak Nirwan kesana adalah Gian. Dia meminta Nirwan membantunya mengangkat gulungan kertas kalkir yang dibelinya di sebuah toko buku didekat kosan Nunu.


"Ya gue tunggu ya, berat nih kalau sendirian" kata Gian.


"Oke gue otw" jawab Nirwan.


Tak lama, Nunu membuka pintu kosannya. Membiarkan kosannya dalam kondisi tak terkunci agar Nirwan dan Arika bisa masuk.


Sementara kami menunggu di kamar salah satu teman Nunu yang terletak dibawah.


Tak lama, kami melihat Arika datang dan membuat kami segera lari untuk bersembunyi.


Kami mengintip dari jendela kamar temannya Nunu, berharap bahwa Nirwan juga akan segera datang.


"Rain, kamu dimana? Ko kosan Nunu kosong sih?" tanya Arika dalam pesannya.


"Lagi beli makan bertiga, kamu mau nitip gak? Tungguin ya" jawabku.


"Gak usah, yaudah aku tunggu ya" katanya.


Selang beberapa menit kemudian, suara motor Nirwan terdengar dari parkiran kosan.


"Gian, matiin aja hape kamu. Biarin si Nirwan langsung naik aja" kata Nunu.


"Oke" jawabnya.


Nirwanpun terlihat berusaha menelpon seseorang, pasti dia menelpon Gian. Mungkin karena lama dan kesal menunggu, Nirwan naik menuju ke kamar kos Nunu.


Pertemuan merekapun tak bisa dihindarkan lagi...


Aku dan sahabat-sahabatku yang lain juga ikut naik dan masuk ke kamar kos Nunu.


Mereka berdua terlihat kaget, saat melihat kami datang bersamaan.


"Udah saatnya lah kalian selesain masalah kalian berdua, mau sampe kapan kalian diem-dieman tanpa mau ngejelasin satu sama lain?" tanya Gian membuka topik.


"Iya, kalaupun lu berdua mau putus ya putuslah baik-baik. Jangan kaya gini, lu berdua kan sejurusan dan pasti sering ketemu tiap harinya. Gak lucu lah kalau diem-dieman terus" tambah Nunu.


Kami memberikan Nirwan dan Arika waktu untuk mengobrol berdua, sementara kami menunggu diluar sambil membicarakan kuliah lapangan tahap akhir.


"Fix nih ke Bali?" tanyaku.


"Kemungkinan iya deh, soalnya budgetnya lebih murah daripada kita harus ke Pulau Weh" jawab Hanifa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tak lama kemudian, Arika dan Nirwan keluar dan mata Arika terlihat sembab seperti habis menangis.


"Gue cabut duluan ya? Sorry gue nyusahin kalian" kata Nirwan pamit.


Arika memelukku dan menangis. Sepertinya, kali ini Nirwan tidak bersalah.


Gian mengejar Nirwan, sementara kami berempat masuk ke kamar Nunu.


Hanifa meminta kami tidak memaksa Arika untuk bercerita kalau memang belum siap, Arika juga masih menangis.


"Rik? Gue gak akan nanya ko apa yang terjadi ke lo dan Nirwan.. Cuma gue mau lu semangat aja" kata Nunu.


Arika kemudian menceritakan kronologi versi Nirwan, katanya pagi itu Nirwan sengaja menemui Bella untuk menjelaskan bahwa dia dan Bella mungkin pernah memiliki perasaan yang sama dulu tapi kenyataan bahwa Bella ternyata adalah sepupu jauh Nirwan memaksa Nirwan untuk memberi tahu hal itu pada Bella.


Bella adalah anak dari adiknya kakak ipar Papanya Nirwan, dan Nirwan sudah tahu itu dari dulu. Sayangnya Bella tidak pernah mengetahui hal itu karena Ibu dan Ayahnya sudah bercerai sangat lama.


Rumit memang, tapi semuanya masuk akal. Mengingat bagaimana Nirwan selalu berusaha menjaga Bella saat banyak orang menyangka Bella adalah perempuan yang tidak baik. Maklum, karena Bella besar sendirian. Dia tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Dia tinggal bersama saudara Ibunya hingga sekarang.


Nirwan mengalah, karena baginya akan sangat sulit menjelaskan pada Arika apalagi kalau harus meminta Arika untuk tidak membatasi kedekatannya dengan Bella.


Maka dari itu, Nirwan seolah-olah memihak Bella dalam kasus ini. Mungkin semuanya bersumber dari rasa prihatinnya terhadap nasib Bella.


"Berarti gue dong yang selama ini jadi orang ketiga dalam tanda kutip" kata Arika.


"Cowok gue bersikap baik sama dia karena kasihan tapi gue malah menilainya sepihak" tambahnya.


"Sepenuhnya bukan salah lu ko, gimanapun Nirwan juga salah karena telat cerita ke lu. Bahkan si Gian aja sahabat dekatnya gak tau tentang ini, apalagi lu kan?" jawab Nunu.


"Ya rik, udahlah yang penting kan lu sama Nirwan udah clear. Terus kelanjutan hubungan kalian gimana?" tanya Hanifa.


"Dia putusin gue, katanya mending kita udahan aja dulu. Kita sama-sama intropeksi diri dan mendewakan diri dulu. Kita juga udah semester enam, mending kita fokus dulu aja di jalan masing-masing" jelas Arika.


"Yaudah, ini saatnya lah kalian sama-sama berfikir. Entah kedepannya gimana kan gak ada yang tahu. Terpenting bagi aku, kalian udah sama-sama menjelaskan beban yang kalian sembunyiin satu sama lain. Kalau udah gini kan kalian gak perlu canggung, menghindar atau gak saling sapa kaya kemarin-kemarin" kataku.


Sore itupun, kami berempat merasa lega karena akhirnya semua sudah dalam kondisi yang terkendali. Sehingga kami bisa kembali berjualan dan belajar tanpa ada rahasia yang harus disembunyikan lagi tentang masalah Arika dan Nirwan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya di kosan Kak Iyas, aku dan Hanifa mampir untuk memberikan es mochi sisa jualan kami yang belum habis.


"Rain, kamu daftar jadi tim apa nanti kuliah lapangan?" tanya Kak Dhika.

__ADS_1


"Gak tau, belum ada bayangan" jawabku.


"Jadi PDD aja sih rain, kamu kan lumayan ngerti fotografi" sahut Hanifa.


"Emang kamu jadi apa Fa?" tanya Kak Iyas.


"Diamah bendahara umum angkatan kak, mana boleh ikut ke tim" jawabku.


Sejam berlalu.....


Kak Dhika mengajak Hanifa pergi jalan-jalan, sementara Kak Iyas malah asyik bermain game.


"Kita gak jalan-jalan dulu ya, soalnya aku mau selesain gameku" katanya.


"Iya silahkan!" jawabku.


Aku menanyakan tentang rencananya pulang ke Palembang, dia bilang bahwa bulan ini dia pasti pulang selama beberapa hari setelah ujian tengah semester selesai.


"Kalau ajak Ayah, Ibu sama adik-adik kamu kira-kira mereka mau gak ya?" tanyanya.


"Ajak kemana?" tanyaku.


"Ke palembang lah, nginep disana. Kita bisa naik kapal laut biar lebih murah ongkosnya" katanya.


"Gak tau deh, kalau pas Ayah bisa libur dan Randy sama Recca juga libur kayanya sih mau-mau aja" jawabku.


"Tapi kasian sih lebih cape emang kalau naik kapal laut" katanya.


"Eh aku lupa bilang sama kakak, katanya tante Dewi sih Om punya voucher tiket pesawat gitu dari kantornya" jelasku.


Kak Iyaspun menceritakan bahwa Om dan Tante Dewi bekerja di kantor pemasaran obat-obat herbal dan selalu mendapat hadiah liburan gratis ke Bandung, Jakarta maupun Bali setiap tahunnya.


"Paling mereka dapet vouchernya buat 4 orang, sisanya kita beli sendiri" kata Kak Iyas.


"Yaudah coba cek aja harga tiketnya lagi di kisaran berapa, nanti kan kita bisa ngira-ngira" saranku.


Kisaran harga tiket ke Palembang sedang agak tinggi mungkin karena faktor menyambut libur panjang.


"Kalau harganya segini sih berarti kita butuh sekitar 10 juta untuk sekali perjalanan. Kayanya mending gak usah ajak keluarga aku deh" kataku.


"Kita berdua lagi aja ya?" ajaknya.


"Gak mau, kakak aja sendiri. Lagian sama aku malah mahal lagi nanti. Kalau sendirian kan bisa gratis itungannya" kataku.


"Kamu gak apa-apa emang aku tinggal?" ledeknya.


Kamipun membicarakan rencana kepulangan Kak Iyas ke Palembang sambil mengingat masa lalu. Mengulang kembali cerita kejadian-kejadian yang pernah kami alami bersama.


Saat aku pura-pura tidak menyukainya dulu, saat dia pura-pura tidak peduli padaku. Hingga kami merayakan hari ulang tahun satu sama lain dengan saling datang ke acara yang diadakan teman-teman dekat kami masing-masing.


"Hahaha eh bentar deh berapa bulan lagi kita ulang tahun?" tanyanya.


"Kenapa emang?" tanyaku.


"Gak apa-apa, kita kan deketan ultahnya nanti kita syukurannya barengan ya?" ajaknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pada hari-hari yang telah berlalu...


Juga waktu yang senantiasa berpacu....


Aku mengikat hatiku....


Dengan untaian tali bertuliskan namamu..


Demi apa lagi aku bisa berkata?


Demi bumi dan seluruh isinya kah?


Atau demi bulan dan bintang yang menemani langit kita?


Rasanya tidak cukup mewakilkannya...


Betapa lengkapnya diriku saat kamu ada...


Dan betapa kosongnya aku saat kamu tidak ada...


Bayanganmu saja sudah mampu membuatku tenang, apalagi suara dan dekapanmu....


........................


.................................


Setelah pukul 10, Kak Iyas mengantarkanku pulang. Di jalan dia bilang bahwa dia akan menemaniku hingga acara malam sastra selesai besok.


"Yeayyyy!"


Keesokan harinya....


Setelah perkuliahan selesai, aku bergegas ke gedung umum bersama Irish. Kami berdua ada jadwal pemotretan untuk kalender akademik edisi semester yang akan datang.


"Rain, katanya kita foto sama alumni duta kampus tahun kemarin tahu. Jadi kaya photoshootnya berpasangan" kata Irish.


"Sama kak Nicko dan Kak Abbi?" tanyaku.


Nicko dan Abbi adalah juara dan runner up duta kampus tahun yang lalu. Mereka angkatan 2010, setahuku Kak Nicko dari jurusan teknik dan kak Abi dari jurusan Fisika.


Kami sempat bertemu di malam puncak dan saat sesi foto bersama keluarga besar duta kampus.


"Iya, mereka bentar lagi dateng" jawabnya.


Tak lama kemudian, kami mengganti kostum dan dirias oleh tim make up artist. Hingga akhirnya kak Nicko dan Kak Abi datang.


"Gimana kalian udah siap?" tanya kak Nicko.


"Tinggal hair do kak" jawabku.

__ADS_1


"Raina sama aku ya nanti" kata kak Nicko.


"Iya dan Irish sama aku" sahut kak Abi.


Setelah siap, kamipun melangsungkan pemotretan dengan serius supaya cepat selesai karena aku dan Irish harus segera briefing untuk menjadi pembawa acara malam sastra kampus.


Ini pemotretan pribadi pertamaku, meski kami berempat tapi rasanya masih canggung saja saat aku harus terbiasa bergaya didepan kamera. Apalagi saat harus berfoto dengan Kak Nicko.


Aura kak Nicko yang kalem dan wajahnya yang menarik membuatku agak malu. Bukan karena aku tertarik, hanya saja aku tidak berfikirkan bahwa hari ini aku akan melakukan foto bersama dengan pemenang duta kampus sesi sebelumnya.


"Tolong ambil foto behind the scene pemotretan ya? Buat miss taruh di stagram duta kampus" kata Miss.


"Oke miss" jawab Irish.


Ketika itu, aku hendak berdiri untuk mengambil foto selfie dengan Irish tapi tidak sengaja kakiku kehilangan keseimbangan karena menginjak sepatu hak milik Irish. Hingga akhirnya aku hampir terjatuh tepat sebelum kak Nicko menahan tubuhku.


"Nah bagus nih buat video behind the scene" kata kak Abi yang secara tidak sengaja merekam kejadian barusan.


"Sakit gak dek?" tanya Kak Nicko.


"Gak kak, makasih ya" kataku.


Aku melihat video yang direkam kak Abi dan menemukan ekspresi lucu kak Nicko yang terlihat menghela nafasnya saat menahan tubuhku.


"Aku seberat itu ya ka?" tanyaku.


"Gak ko gak hahaha, aku cuma campur kaget aja barusan jadi gitu ekspresinya" jawab kak Nicko.


Selesai pemotretan, aku dan Irish merapikan tas kami dan berganti pakaian dengan t-shirt malam sastra berwarna hitam yang diberikan oleh salah satu panitia acara tadi pagi.


Dengan memakai celana bahan, heels dan selempang duta kampus rasanya sangat membanggakan saja. Apalagi setelah sadar bahwa aku bisa mencapai titik dimana wajahku akan dilihat banyak orang nantinya meski hanya terpampang didalam kalender akademik universitas.


"Yu kita briefing, nanti tugas aku yang ajarin kalian" kata kak Abbi.


Tatapan kak Abbi terlihat berbeda pada Irish, dia terlihat kagum pada wajah Irish yang sangat cantik dan putih itu.


Sesekali kak Abbi akan tersenyum karena tingkah polos Irish yang meniup-niup poninya yang basah karena keringat.


Entah kenapa, aku malah yang merasakannya bukan Irish sendiri.


"Dek, bulu mata kamu ada yang jatoh tuh di pipi" kata Kak Nicko.


Aku segera mengambil kacaku untuk melihat nya tapi tangan Kak Nicko lebih cepat menyentuh pipiku dan menghilangkannya.


Aku sempat kaget saat matanya dengan tajam menatap mataku.


"Pantes aja ya kakak juara duta kampus, orang kakak ganteng" kataku.


Kak Nicko tertawa dan menjawab "Makasih loh, aku baru kali ini dipuji sama cewek cantik banget"...


"Bohong ah, palingan kakak keseringan dipuji kan?" sahut Irish.


"Hahaha gak beneran, kalau dipuji sama cewek secantik Raina gak pernah" katanya.


"Udah lu usaha mulu lu, mending kita cepetan ke ruang siaran yu?" ajak kak Abbi.


Hari itu masih pukul 3 sore, tapi para penonton malam sastra sudah berdatangan. Mereka sangat antusias menonton para bintang tamu yang akan memeriahkan acara. Salah satunya, band indie kenamaan Bandung yang mengusung lagu-lagu horor pada setiap penampilannya.


Apalagi teman sekelasku, mereka hampir semua akan datang ke acara malam sastra untuk menyaksikan band tersebut dan untuk mendukungku sebagai MC acaranya.


Sesampainya diruang siaran, ponselku berbunyi berkali-kali sepertinya ada banyak notifikasi yang masuk.


"Wey, liat deh heboh banget yang komen di video postingan kita barusan" kata Irish.


"Video Raina sama Nicko rish?" tanya kak Abbi.


"Iya kak, banyak yang komen katanya mereka cocok" sahut Irish.


"Hahaha mana bisa cocok, kak Nicko seganteng itu sama upik abu kaya aku" kataku.


"Aduh bi, lu denger secantik ini aja ngerada dirinya upik abu. Kamu ini merendah untuk meninggi ya dek?" sahut kak Nicko.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian, briefing selesai dan semua panitia diminta bersiap pada posisi dan tugasnya masing-masing.


Aku dan Irish diberikan waktu 10 menit untuk makan dan memperbaiki riasan.


Setelahnya, aku curi-curi waktu untuk melihat notifikasi yang masuk terus menerus dari ponselku sejak tadi itu.


Banyak sekali teman-teman kelas dan jurusanku yang mengomentari video singkatku dengan Kak Nicko.


"Awww manisnya kak Nicko"


"Gila dia gentle banget disini"


"Aaah rain, ngiri deh liat tangannya kak Nicko ngelingkar di pundak kamu"


"Ihhh raina apa-apaan sih sama pacar masa depan aku"


Komentar-komentar macam itu yang ditandai pada akun stagramku sejak tadi membuat tawaku pecah.


Hingga ada salah satu pesan yang membuatku malah terharu.


"Kaki kamu gak apa-apa kan?" ...


Pesan dari Andreas yang segera kubalas pertama kalinya.


"Gak apa-apa ko, kakak dimana? Jadi dateng kan? Acara udah mau mulai nih" kataku.


Dia menelponku dan bilang bahwa dia dan sahabat-sahabatku sudah duduk di tribun.


Aku menundukan kepalaku seraya berdoa tepat sebelum aku naik panggung.


"Haloooooooo semuanya!!!! Selamat malam!!!!" ..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2