
Aku dan Nunu menunggu Hanifa yang sedang berbelanja sambil membaca novel. Nunu memilih novel dewi lestari yang tersusun rapi di rak buku dikamar Hanifa. Kalau aku memilih novel detektif conan yang sudah terlantar di atas meja belajar Hanifa.
"Nu, telpon dong si Hanifa kan gak enak nunggu lama-lama disini berdua" kataku.
"Palingan dia beli banyak cemilan buat aku rain haha tenang aja sih orang kita juga kagak bakalan maling" jawab Nunu bergerutu.
Akupun kembali membaca komik dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 8 malam.
"Nu, aku pulang dulu ya ganti baju tidur dulu nanti balik lagi" kataku.
"No way! Jangan ya! Masa aku sendiri sih rain? Udah pilih aja punya Hanifa. Tadi dia bilang gak apa-apa ko, ganti aja gih kalau gak salah dia udah nyiapin tuh di kamar mandinya" jelas Nunu dengan wajah panik karena takut ditinggalkan sendirian.
"Okedeh aku mandi dulu ya?" kataku sambil berlalu.
Didalam kamar mandi, kudengar suara Hanifa yang sudah kembali.
"Rain, bajunya udah aku siapin ya di gantung tuh.. Ada kan?" teriaknya dari luar.
"Iya, gak apa-apa aku pinjem?" sahutku.
"Gapapa santai, maaf kalau buluk!" sahutnya lagi.
"Hanifa...hanifa...mana bisa baju bagus kaya gini dibilang buluk hahaha... Baju tidur aku lebih buluk kali" batinku.
Hanifa memang anak yang punya passion, dia akan sangat tertarik melakukan hal-hal yang berkaitan dengan keahliannya termasuk dengan pemilihan outfit yang berbanding lurus mengikuti selera fashionnya yang up to date tapi tidak begitu mencolok.
Aku kadang iri dengan Hanifa yang serba luar biasa, cantik, menarik, pintar dan jujur. Yang paling membuatku iri adalah karena Hanifa memiliki pacar sebaik Fariz. Mereka sudah bersama dari masih SMP. Terbayang kan betapa setianya mereka satu sama lain?....
Sehabis mandi, kulihat Hanifa dan Nunu sedang asyik berbisik-bisik sesuatu.
"Ngomongin apa sih bisik-bisik segala?" tanyaku.
"Kepo huuu" jawab Hanifa sambil memberikan pelembab rambut kepadaku.
"Kata Hanifa kamu seksi hahaha kamu gak kurus tapi juga gak gendut, proporsi badan kamu pas hahaha!" sahut Nunu.
__ADS_1
"Iya, raina cantik deh kalau rambutnya lagi basah gitu. Pantes ya Andreas kepincut" kata Hanifa.
"Dih, gak punya uang recehan ah gak usah muji" kataku.
Kamipun memutuskan untuk menonton film horor saat itu. Nunu yang penakut berkali-kali menjerit dan memelukku bahkan dia berani memukul kaki Hanifa kalau-kalau ada penampakan yang muncul di layar.
"drdrtdrsrrrrttrr" suara handphoneku bergetar.
"ANDREAS!!!!"
"Halo dek, lagi dimana?" tanyanya.
"Nginep dirumah Hanifa" jawabku datar.
"Loh ko bete gitusih?" tanyanya.
"Gak apa-apa" jawabku singkat lagi.
Sebenarnya aku kesal, memang iya sih dia sudah bilang bahwa dia hari ini tidak bisa mengirimkan kabar kepadaku. Tapi kan kalau sekedar chat sebentar, mungkin tidak butuh waktu lama. Kupikir dia tidak bisa begitu mudahnya menanyakan "kamu dimana" sebelum dia bilang "maaf".
"Kaki kakak sakit lagi? Kakak gimana sekarang? Ko bisa sih nyerempet? Siapa yang bawa motornya?" tanyaku juga tanpa jeda.
Aku khawatir, bagaimanapun aku tahu Andreas punya riwayat kurang bagus dengan kondisi kakinya. Akhir-akhir ini dia malah sering survey jalan kaki, mungkin kakinya kambuh karena itu.
"Gak tau sih, lumayan darahnya. Tadinya mau ke rumah sakit, cuma kamu kan tau haha aku gak mau minum obat, akhirnya aku ke pak ibun aja" jawabnya.
"Berdarah? Ada-ada aja... Nyerempet begimana ceritanya sampe kakak yang berdarah?" tanyaku keheranan.
"Ya gitulah, nanti aku ceritain besok. Maaf ya gak bisa lama soalnya hape aku juga lowbat, hape si Dhika malah udah mati dari tadi" jelasnya lagi.
"Yaudah, kakak istirahat langsung pulang habis itu. Jangan banyak keluyuran dulu!" kataku ketus.
"Jangan marah ya?" katanya dengan suara yang agak berat.
"Gak apa-apa..." jawabku.
__ADS_1
"Yaudah bye de!"....
Saat Andreas menutup teleponnya, sebenarnya aku masih mau mengobrol banyak hal dengannya. Aku mau bilang kalau aku ulang tahun.
Tapi... Yasudahlah... Mungkin belum saatnya aku merayakan ulang tahun bersama orang yang aku sayangi....
"Telepon dari siapa?" tanya Hanifa.
"Andreas" jawabku.
"Ditelpon pacar ko malah suram gitu sih mukanya" ledek Nunu.
"Hahaha yagitulah kesel" jawabku.
Sebenarnya aku mau cerita ke mereka, kalau saat itu aku kesal karena Andreas tidak tahu hari ulang tahunku. Tapi, aku takut mereka akan merasa tidak enak dan bahkan mungkin merasa bersalah karena merekapun melakukan hal yang sama.
Wajarsih, kami kan baru berkenalan kurang lebih empat bulan yang lalu.
"Coba aja kalian tau kalau hari ini aku ulang tahun, pasti hari aku gak seboring ini" batinku.
Sejam kemudian....
Nunu sudah tertidur lelap didepan tv.
Akupun mengambilkan Nunu bantal dan menggeserkan posisi tidurnya agar lehernya tidak sakit. Sementara itu didepan meja belajar kulihat Hanifa terlihat sibuk dengan hapenya, mungkin dia sedang chat dengan Fariz.
"Fa, tidur udah malem" kataku.
"Ya rain, duluan aja nanti aku mau ngunci dulu gerbang sama pintu" jawabnya.
"Aku aja yang kunci sini" kataku.
"Jangan, udah biarin aku aja" katanya.
Akupun memutuskan untuk mengambil posisi tidur di sebelah Nunu, diatas karpet tebal bermotif keroppi.
__ADS_1
Hingga tak lama akupun terlelap...