Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Putus?


__ADS_3

"Kakak harus packing kan buat besok pulang ke Palembang?" tanyaku mengalihkan topik.


"Ayo ah kita ke kosan kakak, aku bantuin kakak packing" ajakku sambil menarik lengannya.


Dia pasrah dan mengikuti langkahku, meski sebenarnya aku tahu dibenaknya sedang banyak pertanyaan muncul tentang perubahan perilakuku.


Sesampainya di kosan....


Aku mau mencari buku catatan yang pernah kubaca di rak buku Andreas, dan buku itu masih ada disana.


"Kak, ini buku apa? Ko lucu sih sampulnya?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


Dia dengan cepat mengambilnya dari tanganku, menyembunyikannya dibalik punggung dan seolah tak mau aku mengetahui isinya.


"Hmm buku agenda kuliah gitu-gitu, coretan mahasiswa biasa ko" jawabnya.

__ADS_1


Aku berjalan kearahnya dan memeluknya.


"Kayanya kita udahan aja ya ka?" kataku pelan.


Entah kenapa aku merasa kecewa saja, banyak sekali hal yang kuharapkan akan dijawab jujur olehnya tapi ternyata dia masih menyembunyikan banyak hal-hal kecil. Apalagi hal besar seperti hubungannya dengan Rani yang akhir-akhir ini jadi dekat.


"Aku mau kita udahan ya kak, supaya kakak fokus ngejar cita-cita kakak. Mungkin selama ini aku cuma jadi benalu aja, ngerusak waktu kakak yang berharga" kataku.


"Kamu kenapa sih? Berubah begitu sekarang minta putus? Kita sebenarnya ada apa sih? Aku buat kesalahan?" tanyanya.


"Kamu bisa gak ngomong ke intinya? Aku bahkan gak ngerti kamu lagi bikin frase tentang apa sekarang? Raina.... Aku ini ada artinya gak sih buat kamu?" responnya.


"Aku gak suka kakak gak jujur, kakak gak cerita ke aku hal-hal kecil bahkan hal-hal besar. Pertama aku tau isi buku itu apa, aku baca pas kakak pergi malem-malem ke kampus. Kedua, aku mergokin kakak di perpus sama Rani. Kakak belajar sama dia disana, deketan dan kakak malah bilang ke aku kalau kakak lagi rapat sama anak UKM basket dan ketiga aku mergokin Rani nunggu kakak didepan kantor ketua jurusan dan setelah kakak keluar kalian pergi berdua ke arah yang sama" jelasku.


Dia malah terdiam seperti tidak merasa tuduhanku benar, padahal jelas-jelas itu perbuatannya yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.

__ADS_1


"Kak, aku bahkan cerita loh sama kamu pas aku kesel karena gak kebagian slot parkir. Pas aku sedih karena porsi kue yang dikasih Ibu lebih besar buat ade aku. Aku juga telpon kakak malem-malem cuma buat ngasih tau kalau aku jatoh di kamar mandi... Aku emang sih pernah gak jujur soal Gian tapi itu semua karena aku tau aku punya saksi dan aku gak pernah berdua sama Gian tapi kakak?" tambahku.


(Aku bahkan tidak sadar kalau barusan, aku memanggil Andreaa dengan sebutan 'kamu' untuk pertama kalinya... Mungkin saking aku merasa kesalnya)


"De, dengerin aku pertama aku berdua sama Rani di perpustakaan itu karena tugas dari dosen. Rani direkomendasiin ikut beasiswa mahasiswa kurang mampu dan aku jadi pembimbingnya. Rani malu kalau kalian tahu soal beasiswa ini, jadi dia minta aku rahasiain tentang semuanya. Kedua, pas kamu lihat aku sama dia di kantor jurusan itu juga karena aku bantuin dia melengkapi berkas-berkasnya. Ketiga, aku gak ada niat bohong sama kamu sedikitpun. Semua ini cuma masalah waktu, aku perlu tunggu sampe Rani bener-bener dapet beasiswanya dan kamu bakal tahu sendiri" jelasnya.


"Kenapa kakak gak bilang dari awal? Minimal ke aku aja, aku kan punya hak buat cemburu. Aku pacar kakak loh, kita bukan sekedar adik sama kakak tingkatnya. Aku tengsin pas sahabat-sahabat aku bilang posisi aku tergeser sama Rani" jawabku.


"Mana bisa cewek aku yang banyak fansnya kaya gini, cemburu sama Rani? Aku ngerasa aku punya pacar yang udah dewasa, karena kita jarang mempermasalahkan sesuatu bahkan aku pikir kamu gak akan marah sekalipun kamu tahu aku bantuin Rani karena aku percaya kamu bakalan ngerti tanpa harus aku jelasin apapun. Aku kadang iri sama sifat kamu yang susah marah, selalu senyum bahkan gak pernah keliatan dingin. Kamu selalu bisa bikin orang nyaman deket kamu, sampe aku lupa kalau kamu masih tetep anak yang dua tahun lebih muda dari aku" jelasnya.


"Tapi Rani... Aku tahu dia sesuka apa sama kakak... Aku tahu dia bakal ngelakuin apa aja buat bisa rebut kakak dan habis itu kakak pergi dari aku. Apapun alesannya aku paling gak suka dibohongin apalagi sama kakak" jawabku sambil membuang pandangan darinya.


Dia lalu duduk di kursi dan memintaku untuk ikut duduk disebelahnya juga.


"De, siapa yang mau rebut aku? Yang bisa mutusin aku untuk pergi atau tetep tinggal itu ya cuma kamu... Kalau kamu bilang kita putus, yaudah aku pergi tapi kalau kamu mau tetep bareng sama aku ya itu terserah kamu juga... Keputusan ada di kamu" jawabnya sambil menunduk.

__ADS_1


"Hmmm... Kalau kamu tetep gak suka dan mau putus sama aku karena aku udah bohongin kamu, ya aku bisa apalagi???" katanya.


__ADS_2