Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Hanifa yang bercerita II


__ADS_3

Raina kutinggal dengan Nunu dirumah, mereka palingan akan bergantian mandi dan baca komik atau novel. Aku sengaja menaruh komik conan di meja belajarku, karena Raina adalah anak yang pemalu jadi dia tidak mungkin berani menarik buku lain dalam rak seperti yang dilakukan Nunu dan Arika. Hahahaha mereka berdua sih sudah tidak tahu malu.


Aku bilang pada Raina untuk menunggu sebentar karena aku harus ke supermarket, padahal saat itu aku hendak menemui kak Andreas yang sudah diantar Arika hingga depan komplek rumahku.


Maklumlah, Kak Dhika yang sudah tahu letak rumahku masih ada urusan di kampus. Sementara Arika masih harus membeli kado dari hasil patungan kami bertiga untuk Raina.


"Gua ajalah yang beli, lu berdua mah lama milihnya" kata Arika pada grup chat rahasia kami.


Arikalah yang sangat cocok untuk tugas beli kue dan memilihkan kado, karena wawasannya tentang shopping paling lumayan diantara kami berempat.


Aku, Nunu dan Arika sudah mengklaim Raina sebagai yang paling pendiam diantara kami. Tapi, sekali Raina berbicara semua akan terdengar sangat jelas dan bisa dipahami. Raina memiliki keahlian dalam hal mempengaruhi orang lain, memberikan semangat serta membuat orang mampu merasakan apa yang dia rasakan.


Contohnya: saat kupikir Raina bisa saja berpaling pada kak Dhika yang lebih terang-terangan, terbuka dan apa adanya. Tapi, kami bertiga dengan mudahnya bisa membedakan sudut pandang Raina kepada lelaki lain selain kak Andreas.


Sepulang dari menjalankan "misi" aku melihat Raina baru saja beres mandi. Aku sempat khawatir kalau Raina akan sulit mengantuk dan tertidur, tapi akhirnya Nunu memiliki inisiatif untuk pura-pura tidur supaya bisa memancing Raina tidur juga.


"Nu, nanti elu beneran ya tidurnya harus meyakinkan biarinlah nanti aku bangunin" kataku pada Nunu.


"Oke fa, santay!" jawabnya.


Nunupun benar-benar tertidur saat itu, dan tak lama Raina dengan keibuannya mengecek seluruh tirai jendela di ruanganku. Dia memastikan semua tirai sudah tertutup dan jendela sudah dikunci.


Aku pura-pura fokus pada hapeku, mungkin Raina berfikir saat itu aku sedang chat dengan Fariz. Padahal, aku sedang asyik chat dengan kak Dhika. Kak Dhika yang mampu mencairkan suasana, yang selalu membantuku dan ketiga sahabatku saat kami ada yang mengganggu.


Kuceritakan satu kejadian, saat kami berempat pulang larut malam sehabis sidang penutupan acara latihan kepemimpinan. Aku menyetir saat itu, kondisi jalan sudah sangat sepi dan tiba-tiba saat baru keluar dari komplek universitas, mobilku dihadang oleh dua orang pengguna sepeda motor. Mereka jelas bukan orang baik, karena di tangannya memegang senjata serupa pisau.

__ADS_1


Raina sudah gemetar ketakutan, dia duduk di sebelahku dan berusaha menelpon polisi. Sementara entah ada bisikan darimana, aku malah meminta Raina menelpon kak Andreas atau kak Dhika. Saat itu ternyata Raina menelpon kak Andreas, dan aku berusaha mengulur waktu untuk tetap aman didalam mobil.


"Fa, mereka berdua mau kesini" katanya sambil menenangkanku.


Akupun memberanikan diri menginjak pedal gas, dan kutakuti begal tersebut seolah-olah aku berani menabrak mereka. Tapi, disaat yang tepat kak Andreas dan kak Dhika datang dengan empat kakak tingkat yang lain.


Mereka berkelahi dengan begal itu, hingga akhirnya begal itu kabur dan dilaporkan oleh kakak tingkatku kepada satpam yang bertugas di gerbang kampus.


Aku masih ingat ekspresi khawatir kak Andreas, yang langsung membuka pintu ditempat Raina duduk dan memeluknya. Raina mungkin lupa saat itulah pertama kulihat dia menangis ketakutan.


Sementara kak Dhika, dia malah menjitak kepalaku. "Duh gimana sih driver handal ko ngalah sama begal? Padahal tabrak aja!" gerutunya.


Entah kenapa saat kak Dhika bilang begitu, aku jadi merasa itulah bentuk kekhawatiran terdalam yang tidak bisa dia ungkapkan padaku dan ketiga sahabatku. Melihat kak Andreas dan kak Dhika yang begitu mengayomi adik-adiknya, meski aku sendiri tidak tahu alasan pastinya apa... Tapi itulah alasan pertama, kenapa aku mendukung kak Andreas untuk jadi pacar Raina dibandingkan Gian.


"Udah-udah kalian masuk pelan-pelan deh kerumah, aku gak kunci pintu ko. Duduk aja dulu disitu nanti setelah aku bangunin si Nunu, aku turun" kataku.


"si Nunu tidur beneran? Hahaha" ledek Arika.


"Beneran tidur dia, efek terlalu menghayati peran kayanya" jawabku sambil menahan tawa.


Akupun dengan sangat hati-hati mencoba membangunkan Nunu. "Nu bangun ayoo udah jam segini" bisikku.


"Hahaha iya-iya" sahutnya sambil beranjak duduk.


Aku melihat jam sudah menunjukan pukul 10 malam.

__ADS_1


Kami berduapun menuruni tangga dengan sangat pelan menuju keruang tamu, tempat dimana yang lain sudah menunggu.


" 15 menit lagilah ya kasian Raina baru tidur banget" kataku.


"Sejam lagi aja kalo gitu biar dia istirahat dulu" jawab Andreas terlihat khawatir karena menurutnya sedari tadi bicara di telepon Raina sudah terdengar kesap dan marah.


"Santai dong lo yas hahaha kaya mau perang aja" ledek kak Dhika.


"Gue gak enak hati takut dia keburu ngambek karena telat gini" jawab kak Andreas sambil terlihat berfikir.


"Tenang kak, Raina tuh ibu peri dia gak akan marah karena hal-hal kaya gini" kata Nunu.


Sejam kemudian...


Kami berjalan pelan ke kamarku, tempat Raina tertidur.


"Happy Birthday to you!!!!" sorak kami bersama-sama sambil membangunkan Raina.


Raina terlihat kaget sekaligus bahagia, karena ada kak Andreas dan kami sahabatnya yang ternyata ingat tanggal lahir Raina.


Kulihat kak Andreas sangat menyayangi Raina, dari ekspresi wajah Andreas yang mengelus rambut Raina dan hampir memeluknya dihadapan kami. Semakin membuat aku yakin, kalau Raina berada di tangan yang tepat.


"Selamat ulang tahun, sahabat baruku...!!! Maaf karena udah buat kamu bete dan kesel seharian ini, lagi-lagi karena kamu ibu peri kamu gak pernah keliatan marah dan kesel depan aku. Raina, semoga apa yang kamu inginkan terkabul di tahun ini. Kita sayang kamu!"...


Meski perayaan ulang tahun Raina lewat satu hari dari tanggal, tapi aku berharap doa dan harapan Raina tidak ada yang terlewatkan.

__ADS_1


__ADS_2