Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Bosscha I


__ADS_3

Pagi hari sekali aku sudah bangun. Lekas mandi dan sarapan. Aku punya janji untuk menyerahkan laporan penelitian kepada Gian dan Rima. Mereka berdua yang akan menyusun laporan untuk kelompok kami.


"Rain, bab 2 ditunggu sekarang ya di lobby" kata Gian dalam chatnya.


"Oke otw ya!" balasku.


Aku sengaja naik ojek online hari ini, karena aku punya janji untuk menemani seseorang sambil mengirimkan pesanan totebag ke beberapa costumer online.


Hari ini hari sabtu, aku libur kuliah karena memang tidak ada jadwal perkuliahan sabtu untuk mahasiswa baru. Hanifa sedang ada jadwal dengan pacar LDRnya Faraz yang sedang pulang ke Bandung. Arika juga lagi asyik pasang story dengan cowonya Endrik. Kalau si Nunu sih palingan masih tidur di kosannya.


Aku cukup bersemangat kali ini, karena aku akan mengunjungi salah satu tempat yang sering muncul dalam mimpiku. Bosscha!!!!


Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda.


Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektare, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari dataran tinggi Bandung.


Alasan kenapa Bosscha selalu muncul dalam mimpiku adalah karena aku dibesarkan dengan film "Petualangan Sherina". Aku tumbuh dengan karakter Sherina yang riang dan pemberani serta Sadam yang manja.


Sesampainya di kampus.


"Gian aku beneran gak usah bantuin kalian ngedit kan?" tanyaku saat menghadap Gian di lobby untuk menyerahkan bab-ku.


"Kamu kan udah buat tabel grafik sama diagram juga, malah bab 4 kamu yang banyak bikinnya jadi udah gak usah. Biar aku sama yang lain aja yang beresin!" jelasnya.


"Iya raina, gak papa makasih ya udah bantu banyak!" kata Rima.


Akupun pamit kepada mereka untuk segera menunggu seseorang di depan parkiran.


"De?" teriaknya dari kejauhan.


"Hai kak!" sapaku.


Aku melihat penampilan orang tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Tunggu deh, kakak pake jaket dari aku ya? Haha ternyata emang ya warna navy tuh gak pernah salah di kakak" kataku.


"Hahaha lebay! Ini sih faktor jaketnya aja yang bagus!" ngelesnya.


"De, kamu beneran mau ikut aku? Nanti kita jalan lumayan jauh loh soalnya aku mesti survey track juga disana" tanyanya seolah tak yakin bahwa aku akan ikut.


"Iyahaha aku yakin, lagian kaki aku udah sembuh ko" kataku.


"Okey, tapi aku punya satu syarat kalau kamu mau bantuin aku beneran. Kamu sanggup gak?" tanyanya serius.

__ADS_1


"Syarat? Kaya mau daftar apa aja pake syarat segala?" keluhku.


"Gampang ko syaratnya! Gimana? Kalau kamu mau mundur masih ada waktu ko!" ledeknya.


"Ish ish ish... Yaudah... Apa syaratnya?" gerutuku.


"NO HANDPHONE FOR TODAY!" katanya sambil melihat lurus kearahku.


"Deal!" jawabku.


"Meski sebenarnya aku tidak tahu pasti alasan kenapa hari itu aku sama sekali tidak boleh melirik hapeku,tapi aku sudah terlanjur bilang sama kak Andreas kalau hari ini aku mau bantuin dia" batinku.


Andreaspun meminta hapeku untuk disimpan olehnya.


"Sini hapenya de, aku taro di saku aku. Kalau ada telpon baru kamu boleh angkat" katanya.


"Iya deh iya" kataku pasrah.


Kamipun segera berangkat sebelum matahari mulai meninggi.


Di perjalanan...


"Kak, aku excited banget tau gak sih?" kataku.


"Iyahaha, kalo siang gini observatoriumnya gak buka kan? Itu atapnya juga gak bisa kebuka kan?" tanyaku.


"Ya enggalah, lagian siapa yang mau neropong bintang siang-siang de hahaha ada-ada aja" ledeknya.


"Kak, lain kali ajak aku kesana pas malem ya? Soalnya kayanya seru aja gitu seumur hidup aku ya baru kali ini loh aku ke bosscha" kataku.


"Orang bandung baru kali ini ke bosscha? Hahaha hidup kamu sungguh kurang faedahnya de!" sahutnya.


"Ya gapapa, rezekinya baru sekarang kali bisa kesana sama kakak haha" jawabku.


Pepohonan rimbun dan jalan yang cukup berliku mulai menyambut kami, meski matahari sudah hampir diatas kepala tapi hawa sejuk masih sangat terasa. Angin yang berhembus sepoi-sepoi, suara dedaunan menari dan juga wangi khas desa sangat menarik perhatianku.


"Wangi desa ya?" kataku sesaat setelah kami memarkirkan motor didepan dan berjalan masuk menuju ke observatorium.


"Wangi desa tuh gimana sih maksudnya? Haha" tanyanya kebingungan.


"Aku juga gak bisa jelasinnya, pokoknya cium aja wangi daerah ini beda gitu sama wangi kota" jelasku.


"Indera penciuman kamu unik ya? Bisa merasakan wangi desa sampe ke kota haha" ledeknya.

__ADS_1


Perjalanan kali ini cukup menguras tenaga, karena aku hanya berjalan berdua diantara rimbunnya pepohonan. Andreas lebih banyak tersenyum dan mengeluarkan keahliannya dalam menjelaskan tata guna lahan, alih fungsi lahan dan tak lupa andalannya yaitu cuaca dan iklim.


"Bulan ini, planet yang terdekat letaknya dengan bumi adalah Mars. Makanya kalo matahari naik, gambaran langit semburat kemerahan" jelasnya.


"Mungkin gak sih bener kata teori-teori konspirasi itu kak, soal Mars yang berpenghuni" tanyaku.


"Ngeliat dari spesifikasi planetnya sih mungkin aja, karena letak mars tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan matahari. Jadi kemungkinan mars masih bisa merasakan dan mendapatkan suplai cahaya yang cukup sebagai aspek penunjang adanya kehidupan disana" jelasnya.


"Tapi emang di mars ada air?" tanyaku.


"Yey makanya baca buku dong haha masa yang begitu aja kamu gak tau!" ledeknya sambil menjitak kepalaku.


Kamipun sudah sampai didepan observatorium, Andreas langsung menemui petugas yang jaga untuk membicarakan agenda kunjungan mahasiswa di angkatannya dalam rangka perkuliahan Astronomi dan Kosmografi.


Aku diminta menunggu diluar.


Atap ajaib bosscha ternyata memang benar adanya, atapnya bisa terbuka kalau-kalau ada yang sedang meneropong bintang. Panjang teropongnya juga bukan main-main, lensanya bisa keluar dari atap.


"Wah keren!!!" pikirku.


Bangunannya juga khas dengan arsitektur agak mirip Belanda. Halamannya juga luas. Tidak heran kenapa Bosscha dibangun disini, karena wilayah ini termasuk dataran tinggi dan asri sehingga kemungkinan untuk melihat objek lebih besar dibandingkan dengan observatorium yang letaknya dekat engan pusat kota. Asap-asap kendaraan bermotor bisa menghalangi pandangan menuju objek.


"De, ayo masuk!" teriak Andreas mengajakku.


"Aku boleh masuk? Serius ka?" sahutku.


"Iya, kamu kan mau liat didalem ada apa... Ya kan?" tanyanya.


"Iya, mau banget haha" jawabku kegirangan.


Ternyata benar saja... Bosscha masih sama penampakannya seperti pada film petualangan sherina dulu. Hanya saja mungkin sudah dicat dan pergantian furniture beberapa kali. Selebihnya, Bosscha masih sangat menarik untuk dikunjungi.


Sepanjang koridor, aku menemukan banyak sekali penjelasan tentang rasi bintang, orbit planet dan sejarah antariksa Indonesia.


"Kak, gimana syaratnya biar bisa pake teropongnya selain dari kita harus dateng malem?" rengekku.


"Harus datang minimal 10 orang sih terus mereka juga nerima kunjungannya secara kelompok atau rombongan gitu" jelasnya.


"Oh haha yaudah batal deh" jawabku sambil cemberut.


"Nanti aku cari cara deh" gumamnya pelan.


"Cari cara apa kak?" tanyaku.

__ADS_1


"Engga" jawabnya.


__ADS_2