
Halloooo semua, apa kabarnya? Semoga baik-baik aja ya. Mengingat ini masih kondisi pandemi, semoga kalian tetap menjaga kesehatan dan kebersihan juga ya:)
Jangan lupa sering cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak. Oya, Indonesia lagi banyak ditimpa musibah juga. Jangan lupa selalu doakan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah agar diberi ketabahan dan kesabaran.
Stay safe ya kawan-kawan semua❤
Author mau meminta maaf dulu nih sama pembaca, yang menunggu cerita ini lanjut dengan sabarnya. Jangan marah ya kalo thor jarang up malah udah hampir dua bulan lebih gak update sama sekali.
Bismillah deh, ini thor coba lanjutin ceritanya yaa. Semoga suka❤ kalo episodenya tembus 50 komen dan 50 likes nanti thor up part selanjutnya...
Have a fun guys....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di selasar kampus setelah pertengkaran Hanifa, Arika dan Nunu....
"Udah lah fa, Nunu lagi ada masalah kali makanya ngomongnya agak naik barusan" kataku menenangkan Hanifa.
Hanifa terlihat menunduk dan memikirkan sesuatu. Sementara Arika terkesan tidak mau ikut campur dengan permasalahan kami. Arika hanya fokus membaca bab dan mengoreksi makalah tugas salah satu mata kuliah di laptopnya.
"Rain, kamu aja deh yang pegang bisnis ini sekarang. Modal semuanya di kamu dan tanggung jawab besar semuanya sama kamu. Aku udah gak mau jadi leader" kata Hanifa.
Arika baru bereaksi sekarang, dia melihat ke arah kami.
"Apa sih lu fa, si Nunu kan udah gak aneh kalo marah-marah begitu. Palingan nanti sore juga minta maaf sama elu. Tenang lah!" sahut Arika.
Hanifa memahami maksud perkataan Arika. Akhir-akhir ini, Nunu memang moodnya sedang tidak bagus. Dia sering terlihat diam, tertawa sekeras mungkin lalu kemudian terdiam lagi. Sepertinya sedang ada masalah yang dialami oleh Nunu.
"Coba deh nanti aku tanya Gian, aku mau cari tahu si Nunu kenapa. Siapa tahu kan dia ada masalah yang gak mau dia share ke kita?" jelasku.
"Iya rain gitu aja, bilangin sama Gian didik tuh si Nunu biar gak meledak-ledak gitu jadi orang" sahut Arika lagi.
Tidak terasa langit mulai berubah gelap, angin petang menyapa ke sekujur tubuh. Kak Andreas sudah menelponku sedari tadi, memintaku menunggunya di parkiran.
"Gue balik duluan deh, ada tugas yang belum selesai nih" teriak Arika sambil berlari menuju parkiran.
"Buru-buru banget si Arika" kata Hanifa.
"Dia kejar target seminar proposal kali fa" jawabku.
Tak lama kemudian, kak Andreas menelpon kembali dan mengabari bahwa dia sudah sampai di parkiran depan fakultasku.
"Aku duluan ya Fa, kamu gak mau pulang?" tanyaku.
"Bentaran lagi lah Rain, aku lagi download nih nanggung" jawabnya.
"Huu pejuang wifi dasar!" ledekku.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Diatas mobil bersama kak Andreas...
"Kak, aku mau cerita deh"...
"Cerita apa sayang?" tanyanya.
"Kalau sahabat kita berselisih paham, terus kita mau jadi penengah tapi kita gak mau terlihat membela salah satu pihak caranya gimana ya?" tanyaku.
Dia menghentikan laju mobilnya, menepi kepinggiran jalan dan menatapku.
"Siapa yang berantem? Nunu sama Hanifa lagi?" tanyanya.
"Iya sayang, tapi aku bingung yang sekarang kayanya Nunu marahnya serius deh. Masa dia bilang ke Hanifa "jangan kamu terus yang megang".. jelasku.
Kak Andreas mengernyitkan dahinya, sambil tersenyum dia melihat seperti gemas ke arahku.
"Tadi kamu manggil aku apa?" bisiknya tepat di samping telingaku.
"Kakak" jawabku.
"Idih pikun, barusan kamu manggil aku sayang" ledeknya.
"Aaaahhh jangan ngeledek gitu dong, aku kan belajar manggil kakak sayang" kataku.
"Hahaha iya sayang, makasih ya untuk usahanya. Ayo lebih ditingkatkan lagi manjanya" jawabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari kemudian di kampus...
Arika sudah akan melakukan seminar proposalnya, Hanifa sedang bersikeras merevisi makalahnya di selasar sementara aku sedang sibuk meminta tanda tangan dosen untuk ikut menyusul Arika.
Nunu? Sudah dua hari ini dia tidak ada kabar. Katanya dia pulang ke kampungnya. Aku sempat menelponnya dan dia bercerita bahwa dia sedang sakit dan harus bed rest dalam beberapa hari kedepan.
Aku tidak percaya dengan penjelasan Nunu, menurutku semuanya serba mendadak. Nunu menghilang disaat angkatan kami sedang sibuk-sibuknya kejar target seminar proposal.
Aku mendatangi Hanifa ke selasar dan dia langsung memberikanku minuman yang baru saja dia beli.
"Fa, kamu percaya gak sih si Nunu sakit? Masa mendadak gini sih?" tanyaku.
__ADS_1
"Hmmm iya kali sakit, aku mau nanya juga gak enak takutnya dia masih marah sama aku" jawabnya.
"Gian dimana ya? Aku mau nanya dia ah" kataku.
"Gih tanya, aku tadi liat Gian didepan jurusan" jelasnya.
Aku berjalan menuju kantor jurusan, lalu melihat Gian Nirwan dan yang lainnya sedang asyik dengan laptopnya masing-masing.
"Hallooooo" sapaku.
"Ehhhh Rain, ada perlu apa?" tanya Nirwan.
"Gian. Aku ada perlu sama Gian.. Boleh gak Gi kita ngomong bentar?" pintaku.
Gian melirikku dengan tatapan yang berbeda. Lalu dia beranjak dan berjalan mengikuti langkahku.
"Kenapa rain?" tanyanya.
"Nunu, aku mau tanya soal dia. Kalian berantem?" tanyaku.
"Hmmm? Berantem? Nggak rain, dia putusin aku tiba-tiba juga kemarin" jawabnya.
"Apa? Dia putusin kamu? Kemarin? Gara-gara apa?" tanyaku memburu.
Gian menunduk dan tidak banyak berekspresi. Matanya menatap kosong ke tanah. Aku berusaha duduk disampingnya, namun canggung rasanya saat harus menepuk bahu teman laki-laki secara langsung. Hingga akhirnya, aku hanya bisa memberinya sebotol minuman baru dari dalam tasku.
"Nih, minum dulu gih. Aku gak nuntut kamu cerita ko kalau kamu belum siap" jelasku.
"Gimana ya rain? aku bingung jelasin ke kalian. Aku tahu sesuatu yang besar, tapi Nunu minta aku rahasiain itu dari kalian" terangnya.
Penjelasan Gian kali ini membuat jantungku berpacu cepat, entah darimana datangnya perasaan khawatir yang begitu terasa menjalar ke seluruh tubuhku.
"Apa sih Gian? rahasia apa?" tanyaku sedikit berkata lantang.
"Soal penyakitnya Nunu" jawabnya memelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa jam kemudian....
"Ada apa sih Rain? kita ngumpul disini?" tanya Arika.
"Iya nih, bukannya ke tempat makan aja sekalian laper tau" gerutu Hanifa.
"Iya nanti abis dari sini makan, kita tunggu Nirwan sama Gian dulu ya" kataku.
"Gian sama Nirwan mau ikutan makan?" tanya Arika.
"Iya, barengan. Gian tadi bilang katanya ada yang perlu diomongin masalah penyakitnya Nunu cuma dia gak mau jelasinnya ke aku doang dan harus ke kita bertiga langsung katanya" jelasku.
__ADS_1
Raut wajah Arika dan Hanifa berubah, mereka sama cemasnya dengan aku sore tadi. Menunduk dan menahan rasa penasaran yang menggebu tentang apa sebenarnya hal yang membuat Nunu berubah dan terkesan menjauh dari kami dan belum lagi masalah penyakitnya yang Gian rahasiakan.
"Tuh Gian sama Nirwan dateng" teriakku melihat keduanya berjalan ke arah kami.